Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 16 Tipu Muslihat


__ADS_3

Charlotte berada di taman istananya mengadakan acara minum teh. Judith diundang oleh Charlotte untuk menemaninya. Sebenarnya Leticia juga diundang, tetapi ia tidak bisa datang karena ada tamu. Charlotte tidak mempermasalahkan Leticia yang tidak bisa datang. Tanpa adanya Leticia rencananya membuat Judith berada di pihaknya akan berjalan lancar.


Meskipun Leticia dikenal bodoh di istana, ia terus tidak menerima bantuan dari Charlotte. Sikap berhati-hati Leticia membuat Charlotte kesusahan dalam melaksanakan rencananya. Charlotte sempat berpikir bahwa mungkin Leticia tidak sebodoh yang ia kira. Braun mengatakan bahwa Leticia adalah orang yang penurut dan bodoh. Charlotte tidak menyangka ada orang yang senang hati merelakan suaminya untuk menikah lagi. Leticia sama sekali tidak marah melihat Braun menikah lagi. Meskipun ia tidak datang pada pernikahan Braun dan Charlotte, Leticia tidak memusuhi Charlotte. 


Charlotte melihat postur tubuh Judith saat meminum teh. Cara memegang cangkir teh dan tubuhnya yang tetap duduk tegak membuat Charlotte heran. Sikap yang sempurna. 


'Bukankah Leticia tidak memanggil guru untuk Judith? Dari mana ia belajar semua itu?' batin Charlotte.


"Sikap Anda sangat sempurna, Tuan Putri. Apakah guru tata krama Anda yang mengajarinya?" tanya Charlotte berpura-pura tidak tahu tentang masalah guru Judith.


"Tidak Ibu yang mengajari saya, Permaisuri. Guru yang sebelumnya tidak mengajari saya dengan benar."


Charlotte terkejut dengan jawaban Judith. Namun, ia menjaga raut wajahnya agar terlihat tenang. Ia mengira Leticia akan kesulitan untuk mengajari Judith. Ia tahu bahwa pendidikan Leticia menjadi Putri Mahkota sangat ketat. Sudah sepantasnya pendidikan tata krama Leticia sangat bagus, tetapi Charlotte tidak tahu bahwa Leticia bisa mengajari putrinya sesempurna ini. Apalagi Leticia harus membagi waktunya dengan menjalankan tugas permaisuri. Leticia juga dapat melakukan tugas permaisuri dengan baik. Ia tidak menambahkan beban tugas baru pada Charlotte. Sudah seharusnya ia merasa kelelahan. Tidak ia pasti lelah, tetapi ia berhasil menutupinya. Hanya tinggal menunggu waktu.


"Permaisuri Leticia sangat hebat, ya," puji Charlotte. Dalam hatinya ia merasa geram. Ternyata Leticia bukanlah orang yang bisa dikalahkan dengan mudah.


"Benar, Ibu adalah orang paling hebat," jawab Judith bersemangat. Sebenarnya ia ingin mengangguk, tetapi karena berjumpa dengan orang lain, Judith bersikap sopan selayaknya Putri Kekaisaran. Judith hanya bersikap manja dan kekanak-kanakan ketika bersama dengan ibu dan ayahnya. Ibunya mengajarkan untuk berhati-hati dengan sikapnya, karena apa yang ia perbuat dapat mempengaruhi citra keluarga Kekaisaran. Beberapa hari yang lalu ia sempat bersikap tidak dewasa, saat bertemu dengan guru pedang barunya karena terlalu takut dan senang. Ia berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama.


"Apakah Anda mau bertemu dengan Louis, Putri Judith?"


"Jika Anda mengizinkan, saya ingin melihat Pangeran Louis, Permaisuri."


Sudah lama Judith tidak melihat Louis sejak kelahiran Charlotte. Ia tidak sabar ingin melihatnya. 


Charlotte berjalan di depan Judith mengantarkannya ke kamar Louis. Sepanjang perjalanan ia memusatkan pandangannya ke depan pada punggung Charlotte. Rambut ungu muda Charlotte yang biasanya terurai, digulung hari ini.

__ADS_1


Charlotte masuk ke kamar Louis diikuti oleh Judith. Pengasuh Louis membungkuk memberikan salam kepada Charlotte dan Judith. 


Charlotte mengendong Louis yang semula berada ranjang bayi. Ia memperlihatkannya kepada Judith.


Judith yang terpana karena wajah Louis yang menggemaskan tanpa sadar memegang tangan kecil Pangeran. Charlotte tersenyum. Judith segera melepaskan pegangannya, karena merasa tindakannya tidak sopan. Namun, ia masih melihat Louis lekat-lekat. Louis mempunyai rambut hitam seperti ayahnya dan mata ungu kelam seperti Permaisuri Charlotte. 


Berbeda dengan Charlotte yang berambut pirang dan memiliki mata berwarna emas seperti ibunya. Banyak orang yang mengatakan bahwa ia sangat mirip dengan ibunya. 


"Dia anak yang lucu, bukan?" tanya Charlotte.


"Benar, Permaisuri."


"Saya harap ke depannya Anda dan Louis bisa akur, Putri Judith. Saya harap Putri bisa melindunginya. Kaisar pasti merasa senang melihat ke dua anaknya akur."


"Tentu saja, Permaisuri. Pangeran Louis adalah adik saya juga."


Charlotte menyeringai. Walaupun sulit mengalahkan Leticia. Ia masih bisa membuat Judith berada di pihaknya. Judith yang masih polos tidak tahu niat tersembunyi dari Charlotte. Ia akan sedikit demi sedikit memisahkan Leticia dan Judith. Perlahan tapi pasti, ia yakin bisa memenangkan hati Judith.


***


Leticia sedang menunggu tamu di kamarnya. Hari ini ia dan Judith diundang Charlotte untuk minum teh bersamanya. Ia tidak bisa datang karena pertemuan dengan Grand Duke Faust lebih penting. Apabila Leticia tidak datang, kerjasama di antara mereka bisa gagal. Ditambah, Isabella mungkin akan tidak mempercayainya lagi.


Sejujurnya ia ingin datang memenuhi undangan Charlotte. Bukan karena ingin berbincang dengannya. Ia tidak ingin meninggalkan putrinya sendirian dengan Charlotte. Ia tidak tahu apa yang direncanakan Charlotte. 


Leticia berusaha menenangkan dirinya. Tidak mungkin Charlotte bisa mencelakai putrinya di dalam istana. Masih banyak mata yang melihat. Menempatkan Dean menjadi pengawal, membuat hati Leticia sedikit lega. Ada orang yang bisa melindungi putrinya saat ia tidak ada.

__ADS_1


Pintu kamar Leticia terbuka. Seorang wanita berambut merah jambu memakai jubah penyihir kekaisaran berdiri di sana. Ia segera masuk. Leticia berdiri untuk menyambutnya. Ia tersentak melihat pria yang memakai jubah penyihir menara mengikuti di belakang wanita itu.


"Aku tidak menyangka kalau kamu mengundang Dale, Rose," kata Leticia


"Aku tidak mengundangnya. Dia memaksa untuk datang." Rose mengacungkan jarinya kepada Dale 


"Aku tidak bisa membiarkan dirimu berada di kandang musuh, Leticia," kata Dale sambil menurunkan jari Rose.


"Aku sedang bekerja sama dengan Grand Duke Faust, Dale. Tolong percayai dia," ujar Leticia meyakinkan Dale.


Dale menghembuskan napas panjang. Tindakan temannya ini terlalu gegabah. Ia akan melindunginya jika terjadi sesuatu.


"Baiklah aku akan mempercayainya, tetapi aku akan tetap ikut. Kau perlu untuk sihir teleportasi ke kediaman Faust bukan? Aku bisa melakukannya. Aku takut orang ini akan mengacau." Giliran Dale mengacungkan jarinya kepada Rose.


"Apa katamu? Aku bisa melakukan sihir teleportasi dengan benar." Rose menepis jari Dale dengan kasar. Ia dan Dale memang tidak bisa akur.


"Sudahlah, berhentilah bertengkar. Ayo kita berangkat." Leticia memegangi kepalanya. Ia berharap mereka tidak membuat runyam pertemuan dengan Grand Duke Faust.


"Sebelum itu, aku akan membuat sihir ilusi." Dalam sekejap Dale menciptakan sebuah ilusi seolah-olah Leticia, Rose dan Dale sedang mengobrol.


"Ini untuk mengantisipasi ada orang yang curiga apabila kau tidak ada di kamar, Leticia," lanjut Dale.


"Biar aku saja yang menggunakan sihir teleportasi. Kau harus mempertahankan ilusimu agar bertahan lama. Jika kau menggunakan sihir teleportasi juga, aku tidak yakin kita dapat sampai di tujuan dengan selamat," ujar Rose tidak bersahabat.


Dale melihat Rose dengan tajam. Sebelum Dale sempat membalas ucapan Rose, Leticia berkata, "Ayo kita pergi."

__ADS_1


Leticia tidak bisa membuang-buang waktu lagi, mereka hampir terlambat. Semoga dengan hadirnya kedua temannya ini tidak menimbulkan masalah baru bagi dirinya. 


__ADS_2