Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 70 Hubungan Darah


__ADS_3

Kaisar dan Permaisuri Kedua berdansa. Judith menyadari pandangan ibunya pada mereka berdua. Pasti ibunya merasa cemburu. Judith mendekati ibunya yang berada di sebrang.


Charlotte dan Braun selesai berdansa. Judith menggenggam tangan ibunya. Tidak bisa. Ia malah menyentuh tangannya sendiri. Ia mengibas-ngibaskan tangannya pada tubuh ibunya. Ia hanya menggapai udara.


Judith merasa khawatir bila ibunya diculik lagi. Namun, mungkin saja ibunya merasa lelah dan berada di balkon belakang untuk menenangkan diri. Tempat itu biasa dikunjungi ibunya bila pesta. Terkadang Judith mengikutinya tanpa sepengetahuannya. 


Judih berjalan menuju balkon itu. Bila ibunya tidak berada di sana ia akan melaporkan ini pada ayahnya. Ia sudah sampai di pintu balkon. Terlihat ibunya bersama dengan seorang pria sambil tersenyum. Senyum yang tidak pernah ibunya tunjukkan pada siapapun. Senyum yang terlihat sangat bahagia.


Judith meragukan penglihatannya membuka pintu balkon itu. Ia melihat ibunya berpelukan dengan pria yang bukan ayahnya. Senyum bahagia ibunya segera memudar digantikan dengan keterjekutan begitu melihat Judith.


Judith ternganga, mengepalkan tangannya lalu berteriak, "Apa yang ibu lakukan?!"


Tanpa sadar air matanya menetes. Ia tidak percaya ibunya melakukan hal itu. 


Gerald dan Leticia segera melepas pelukan mereka. 


Judith segera melarikan diri. Leticia mengejar putrinya.


"Judith, tunggu dengar penjelasan ibu!"


Ia menghentikan putrinya. Langkah Leticia yang lebih lebar tentunya dapat mengejar Judith dengan mudah. 


"Jangan sentuh aku!" Judith menepis tangan Leticia yang berada di pundaknya.


Leticia tersentak, ia memegangi tangannya yang ditepis Judith. Memang tidak sakit tetapi hatinya terasa sakit. "Ibu mohon dengarlah penjelasan Ibu, Sayang."


"Aku bisa melihat semuanya Ibu. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Ibu tidak pernah tersenyum sebahagia itu saat bersamaku atau ayah." Suara Judith gemetar. Air mata terus mengalir di pipinya.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Sayang." Leticia berusaha mendekati putrinya. Judith melangkah mundur.


"Sekarang aku tahu alasan Ibu merasa Ayah tidak mencintai Ibu dan aku! Ibu tidak melihat perhartian dan kasih sayang Ayah karena pria itu!" teriak Judith sambil menunjuk balkon tempat Gerald berada tadi.


"Ayahmu tidak pernah mencintai Ibu. Dia sudah berhubungan dengan Permaisuri Charlotte jauh sebelum Ibu menikah dengan Ayahmu. Mereka berdua merencanakan semuanya lalu membuat Ibu sulit untuk melahirkan lagi. Ibu bisa membuktikannya dengan obat penyubur di kamar ibu. Ibu mohon percayalah pada ibu." 


Leticia segera memeluk Judith. Ia tidak ingin putrinya menjauh lagi.


Entah mengapa pelukan yang selalu membuat Judith tenang dan senang, sekarang terasa asing.


"Aku tidak percaya lagi pada Ibu. Jangan temui aku beberapa hari ini."


Judith melepas pelukan Leticia sambil mengusap air matanya yang terus keluar.


Air mata membanjiri pipi Leticia. Bukan hanya rencananya yang gagal, putrinya juga ikut membencinya. 


Mendengar keributan yang Leticia dan Judith buat, banyak bangsawan yang mendekat.

__ADS_1


Tak ada yang bersimpati dengannya. Bangsawan-bangsawan yang melihat kejadian itu saling berbisik. Charlotte menyeringai melihat hal ini. 


***


Leticia berada di kamarnya melamun melihat pemandangan di luar kamarnya. Hari sangat cerah, berbeda dengan hatinya yang terasa gundah. Skandal tentang dirinya dan Gerald sudah tersebar di Kekaisaran.


Emilia merasa cemas mendekati Leticia. "Permaisuri Anda harus makan."


"Aku tidak ingin makan Emilia," jawab Leticia lirih. Ia masih memandang dari jendela.


"Bagaimana keadaan Judith, Emilia?" tanya Leticia.


"Tuan Putri tidak makan beberapa hari ini. Beliau juga tidak keluar kamar," jawab Emilia sambil menunduk.


Sebulir air mata mengali di pipinya. Ia segera mengusapnya. 


Leticia berbalik segera menuju kamar putrinya. Tidak ada yang mengawal Leticia sekarang. Ini artinya suaminya tidak peduli terhadap keselamatan Leticia lagi. 


Dean berjaga di depan kamar Judith dengan wajah yang murung. Ia menyadari bahwa hati Permaisuri Pertama dan Tuan Putri jauh lebih terluka daripada dirinya.


Leticia telah sampai di depan kamar Judith mengetuk pintu. Ia berusaha membuka pintunya tetapi dikunci. Leticia sudah menduganya.


"Sayang, ini Ibu. Tolong buka pintunya," pinta Leticia.


Tidak ada jawaban. Leticia memejamkan matanya. Ia mengatur napasnya agar tidak menangis.


Judith masih marah kepada Leticia. Ia berada dibalik pintu sedang meringkuk. Seluruh perjuangannya untuk menyatukan kembali ibu dan ayahnya sia-sia. Ibu yang ia sayangi, hormati dan teladani ternyata seperti itu.


Leticia kembali ke kamarnya karena semua tugas Permaisuri kepada Charlotte. Ia tidak memiliki kewenangan apapun di istana. Bagaikan tawanan belaka.


Leticia duduk termenung menatap lacinya yang kosong. Batu sihir komunikasinya telah disita oleh Braun. Untungnya batu sihir itu hanya bisa digunakan oleh Leticia. Braun tidak tahu siapa saja orang yang dihubungi Leticia.


Hubungan ke dunia luar sudah diputus. Leticia juga tidak dapat mengirim surat. Bahkan surat yang Emilia tulis kepada keluarganya diperiksa dulu oleh pengawal. Dean pun sama. Rose diawasi dengan ketat karena dicurigai oleh Braun. Mereka semua dilarang keluar istana.


***


Duke Hilbright datang ke kamar Judith. Judith membukakan pintu kepada Kakeknya. Ia hanya tidak ingin bertemu dengan Ibunya.


Duke Hilbright langsung mengatakan tujuannya tanpa basa-basi. "Ibumu tidak bisa diandalkan."


Judith tidak menjawab.


"Bukan cuma tidak bisa memiliki pewaris takhta, dia melakukan tindakan bodoh," lanjut Duke Hilbright.


Judith mendengar kakeknya sambil menunduk.

__ADS_1


"Masih ada satu cara. Judith, jadilah Kaisar berikutnya. Jika kamu memiliki kemampuan yang lebih hebat daripada Louis pasti Kaisar akan mempertimbangkan potensimu. Aku akan membantumu untuk menjatuhkan Louis bila perlu," tutur Duke Hilbright.


Judith tercengang terhadap ucapan Kakeknya. Sebelum, ia dapat mencernanya. Kakeknya pergi meninggalkannya. Sebenarnya bagi kakeknya dia ini apa?


Leticia terbangun karena suara ketukan pintu.


Duke Hilbright datang mengunjunginya langsung duduk di kursi tamu. Leticia segera duduk di depannya dan meminta Emilia keluar agar ia bisa bicara berdua dengan ayahnya. 


"Kamu sangat bodoh, Leticia," kata Duke Hilbright geram.


Leticia tidak menjawabnya, ia lelah.


"Aku sudah tidak bisa mengharapkanmu lagi," lanjut ayahnya.


Leticia masih diam.


"Sebagai gantinya aku akan mengandalkan Judith. Mungkin dia bisa menjadi Kaisar apabila lebih kuat dan hebat dari pada Louis. Seandainya pun dia tidak bisa menjadi Kaisar, Judith bisa menjadi istri dari raja kerajaan lain. Aku juga sudah memberitahu Judith hal ini."


Kemarahan Leticia memuncak. Ayahnya selalu ikut campur dalam hidupnya. Ia tidak ingin Duke Hilbright ikut campur dalam hidup putrinya juga.


"Apa tidak cukup Ayah memperalat aku?! Haruskah memperalat Judith juga?!" teriak Leticia.


"Aku tidak memperalatmu atau Judith. Itu semua demi Kekaisaran dan Keluarga Hilbright yang lebih baik," jawab Duke Hilbright dingin.


"Apa Ayah pernah menyayangiku dan menganggapku sebagai anak?" tanya Leticia lirih.


"Tentu saja, aku menyayangimu dan menganggapmu sebagai anak. Aku ingin yang terbaik untukmu." 


Tatapan Duke Hilbright sama sekali tidak terasa hangat. Tidak ada kepedulian di dalamnya.


Leticia tersenyum kecut. "Yang terbaik untukku atau untuk Ayah? Aku tidak pernah bahagia sekalipun! Ayah selalu menuntutku dan mendikteku tentang hal ini atau itu! Tak pernah sekalipun aku bebas!"


"Jika kamu terlalu bebas, maka jadinya seperti ini! Kamu mempermalukan dirimu sendiri, aku dan Judith!" Duke Hilbright marah sambil menunjuk-nunjuk Leticia.


Leticia memejamkan matanya. Tangannya yang mengepal gemetar. Sebagian yang ayahnya katakan benar. Tanpa sadar ia menyakiti Judith.


"Aku akan pergi. Tidak ada gunanya aku bicara dengan anak sepertimu." Duke Hilbright mendekati pintu.


Leticia membuka matanya. "Apa Ayah pernah mencintai Ibu?"


Tiba-tiba Leticia teringat akan buku harian ibunya. Isinya adalah Duke Hilbright tidak pernah mencintai ibunya. Duke Hilbright hanya mencintai kekuasaan.


"Pernikahanku dengan ibumu hanyalah pernikahan politik. Yang kami perlukan bukan cinta melainkan anak. Itulah kewajiban seorang bangsawan yang paling penting," jawab Duke Hilbright sinis.


"Begitu ya, kalau begitu aku ingin memutus hubungan darah ini," kata Leticia dingin.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bilang begitu. Mulai sekarang, jangan pernah memanggilku ayah, Leticia." Duke Hilbright membuka dan menutup pintu.


Leticia tertawa keras hingga tawanya berubah jadi tangisan. Sekarang ia tahu mana yang akan dipilih di antara Ayahnya atau Isabella.


__ADS_2