Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 12 Isabella


__ADS_3

Suara pedang yang saling beradu terdengar di lapangan. Seorang wanita berambut merah  berhasil memojokkan pria berambut hitam. Pria berambut hitam tetap tenang, seolah-olah serangan dari wanita itu tidak mempengaruhinya. Ia menunggu kesempatan wanita itu lengah.


Wanita itu berusaha mendesak pria itu dengan serangan yang semakin cepat. Ia melihat celah di bagian kiri tubuh pria itu. Ia segera melancarkan serangan. 


Brak...


Salah satu pedang terjatuh. Pedang yang masih bertahan terarah pada salah satu leher dari dua orang yang berlatih itu. Pria berambut hitam menurunkan pedangnya dari leher wanita berambut merah.


Wanita itu menghembuskan napas panjang. Ia sudah menduga tidak bisa menang dari tuannya. Pria terkuat di kekaisaran yang ia kagumi. Pria yang menyelamatkan hidupnya.


"Kita sudahi dulu latihannya."


"Baik, Tuan."


Wanita itu menunduk lalu membereskan peralatan latihan yang sudah tidak mereka gunakan. Pria itu langsung pergi meninggalkan wanita itu sendiri. 


Isabella melihat punggung Grand Duke Faust yang perlahan menghilang. Entah sejak kapan rasa kagum yang ia rasakan mulai berubah. Ia berharap setidaknya pria itu melihat Isabella sebagai seorang wanita, bukan bawahan. 


Namun, berada di samping pria itu sudah membuat Isabella bahagia. Membantu Gerald melakukan pekerjaan sehari-hari tidak melelahkan bagi Isabella.


Ini hari yang cerah. Ia berharap latihan pagi yang baik menjadi pertanda hari yang menyenangkan. Ia berharap tidak ada masalah yang terjadi hari ini.


Rumor-rumor buruk tentang Gerald selalu bertambah dari hari ke hari. Mulai dari Grand Duke yang kejam yang suka membantai musuh maupun teman, suka memecat bawahan yang tidak kompeten, yang paling parah meminum darah manusia agar menjadi kuat. Semua rumor itu membuat Isabella dan Gerald kewalahan. Gerald berusaha mengembalikan reputasinya. Tindakannya sia-sia. Sifatnya yang dingin membuat rumor tentang dirinya semakin bertambah buruk. Kesalahpahaman yang terjadi semakin bertambah pelik, hingga membuat mereka menyerah. 


Namun, Isabella belum menyerah. Ia berharap bisa memulihkan reputasi Gerald yang sudah jatuh. Ia ingin membalas budi kepada orang yang sudah menyelamatkan nyawanya.


Isabella segera membersihkan diri dan mengganti bajunya yang basah karena keringat. Sudah waktunya ia bekerja.


Ia memeriksa surat-surat yang ditujukannya kepada Tuannya. Ada satu surat yang ditujukan kepada dirinya. Tidak ada nama pengirimnya. Segel lilin dan amplop dari surat itu terkesan mewah. Ia menyimpan surat itu dalam saku baju.

__ADS_1


Isabella datang ke tempat kerja Gerald. Gerald belum datang. Sambil menunggu tuannya datang, ia membuka jendela agar terjadi pertukaran udara. Surat-surat yang ditujukan pada Gran Duke Faust ia taruh di atas meja kerja Gerald.


Isabella penasaran siapa orang yang mengiriminya surat. Ia merogoh sakunya. Amplop berwarna kuning dengan segel lilin berwarna merah berada di tangan Isabella.


Ia membuka surat itu. Sejenak matanya melebar. Ia tidak menyangka akan mendapat surat dari teman lamanya. Sahabat yang tidak pernah ia temui selama bertahun-tahun, tiba-tiba menghubunginya. Sahabat yang ia benci. 


Pasti ada alasan khusus orang itu mengajak ia bertemu. Entah apa yang akan orang itu bicarakan. Haruskah Isabella datang? Haruskah ia menemui orang yang membuatnya menderita?


Keluarga Isabella dan keluarga orang itu merupakan teman karib. Isabella pertama kali berkenalan dengan orang itu saat mendiang Count Wollard berkunjung ke kediaman keluarga orang itu. Orang itu anak yang sedikit pendiam. Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan. Bahkan Isabella terkadang kesulitan untuk memahaminya. Kepintaran yang orang itu punya membuat Isabella terkagum-kagum. 


Orang itu tidak memiliki banyak teman seperti Isabella. Mungkin karena mereka berbeda dari anak bangsawan lain. Isabella berperilaku seperti laki-laki. Ia sering berlatih pedang dan berimpian menjadi kesatria wanita. Orang itu menghormati impian Isabella. Ia mendukung Isabella. Bahkan orang itu berharap bisa menjadi kesatria wanita bersama Isabella. Isabella mengajari orang itu berpedang diam-diam karena ayah orang itu tidak menyukainya. Mereka tertawa saat melakukan kesalahan kecil dan menangis saat salah satu dari mereka merasa sedih. Itulah saat-saat mereka bahagia bersama.


Begitu bisnis mendiang Count Wollard mengalami kerugian yang sangat besar, sikap keluarga orang itu berubah. Ayah orang itu tidak pernah membalas surat dari mendiang Count Wollard. Mendiang Count Wollard sampai mendatangi kediaman orang itu untuk meminta tolong, tetapi mereka diusir. Mereka tidak mau menolong keluarga Isabella. 


Isabella hanya memandangi wajah orang itu yang bersembunyi di balik jendela. Saat itu, Isabella belum membencinya. Ia masih mengganggap mereka berteman.


Ayah Isabella berjuang sekuat tenaga untuk memulihkan kembali bisnisnya. Namun, ia tidak berhasil. Ayah Isabella jatuh sakit karena kelelahan. Keluarga mereka tidak mempunyai uang lagi. Semua permata dan perabotan yang berada di kediaman Isabella sudah terjual satu persatu. 


Penyakit ayah Isabella semakin parah karena tidak diobati, hingga ia meninggalkan Isabella dan ibunya terlebih dahulu. Ibu Isabella yang tidak sanggup menahan kepergian mendiang Count Wollard, menenggak racun. Ibu Isabella meninggalkan Isabella sendirian.


Isabella menghubungi keluarga ayah dan ibunya untuk meminta bantuan. Namun, mereka semua tutup mata atas kemalangan yang diterima oleh keluarga Wollard. Isabella mulai mengutuk setiap orang yang tidak mau membantu keluarganya. Mereka secara tidak langsung membunuh keluarganya.


Saat itu, Isabella merasa putus asa. Ia berjalan menuju ke kediaman orang itu, berharap orang itu akan keluar dan membantunya. Namun, ia berhenti di tengah jalan. Tidak mungkin orang itu akan membantu Isabella. Orang itu hanya diam saja saat keluarga Isabella diusir dari kediamannya. Isabella semakin membenci orang itu. Ia tidak bisa memaafkannya.


Isabella yang kelelahan bertemu dengan Grand Duke Faust yang sedang melintas. Isabella meminta bantuan kepada Grand Duke Faust. Ia akan melakukan apapun untuk bertahan hidup. 


Gerald membawa Isabella ke kediaman keluarga Faust. Gerald memberi Isabella makan dan tempat tinggal sementara. Ia bahkan mengajari Isabella berpedang. Isabella membalas budi Gerald dengan menjadi tangan kanannya.


Lamunan Isabella runtuh ketika terdengar suara pintu terbuka. Isabella memasukkan kembali surat itu ke sakunya. Gerald segera duduk di kursi kerjanya. 

__ADS_1


"Tidak seperti biasanya kau mendapat surat, Isabella."


"Surat dari teman lama, Tuan."


"Kukira kau tidak mempunyai teman sejak bekerja untukku."


"Benar, dia teman saya sebelum bertemu dengan Tuan."


Sejak menjadi ajudan Gerald, Isabella tidak pernah berteman dengan orang lain. Rumor buruk tentang Gerald ikut mempengaruhi reputasi Isabella di mata bangsawan lain. Tidak ada orang tang berani mendekatinya.


"Apa yang dia inginkan?"


"Dia ingin bertemu dengan saya, Tuan."


Gerald mengetuk-ngetukkan jarinya. Ia sedang berpikir sambil melihat surat-surat yang berada di depannya.


"Apa kau ingin bertemu dengannya?"


Isabella terdiam. Ia ragu. 


"Aku akan memberimu cuti sehari. Saat hari pertemuan kalian berdua."


"Tidak perlu, Tuan."


"Beristirahatlah, setidaknya sehari."


Isabella sebenarnya enggan. Namun, ia tidak ingin menolak permintaan Gerald.


"Baiklah, terima kasih Tuan."

__ADS_1


Isabella menundukkan kepala. Ia akan bertemu dengan sahabatnya. Permaisuri Leticia dalam dua hari di salah satu restoran di ibu kota.


__ADS_2