Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 35 Blaire Heaven (1)


__ADS_3

Leticia berada di kamarnya. Ia menunggu kabar dari Dale. Beberapa hari ini Dale tidak menghubunginya, sepertinya pencarian informasi kali ini cukup sulit. Salah satu batu sihir bersinar. Leticia mengambil batu sihir itu lalu mengaktifkannya.


"Apa sekarang kau seorang diri Leticia?" bisik Dale.


Seperti biasa Dale pasti berbisik ketika menghubungi Leticia pertama kali.


"Iya aku sendirian. Informasi apa yang kamu dapatkan Dale?" tanya Leticia tanpa basa-basi.


"Aku sudah mencari tahu bisnis baru Count Blaire. Count membuka restoran bernama  'Blaire Heaven' yang terletak di pinggiran ibu kota. Awalnya aku sempat ragu, tetapi semua bangsawan yang kutanyai menyampaikan hal yang sama. Ini juga dapat dibuktikan dari perkataan orang yang tinggal di sekitar Blaire Heaven. Tempat ini baru dibuka sekitar satu bulan yang lalu," tutur Dale dengan suara normal. 


"Jadi apakah ada yang aneh dari bisnis Count?"


"Tidak ada. Aku sudah mencicipi makanannya tidak ada yang aneh. Aku juga sudah menyelidiki semua bisnis yang dijalankan oleh Count Blaire, tidak ada yang ganjal. Aku belum sempat bertanya pada pegawai yang bekerja pada Count Blaire. Kurasa mereka tidak tahu apa-apa, karena mereka hanya menerima perintah Count."


'Apa perkiraanku salah' batin Leticia.


"Kalau begitu kenapa Countess Blaire menutupi bisnis yang dijalankan suaminya?" tanya Leticia pada dirinya sendiri.


"Jika mereka menjalankan bisnis dengan bersih, seharusnya mereka langsung menerima tawaranmu," jawab Dale meskipun pertanyaan itu tidak ditujukan kepadanya.


"Benar, disamping itu mereka tidak mungkin dapat keuntungan yang sangat besar dalam waktu yang singkat. Keuntungan mereka sangat melebihi bisnis restoran."


"Aku akan mencoba mencari informasi lagi."


"Terima kasih, Dale."


"Jangan berterima kasih dulu, aku masih belum mendapat informasi yang berguna."


"Bagiku informasi seperti ini cukup berguna."

__ADS_1


Leticia menutup komunikasi mereka berdua. Ia mengambil batu teleportasi untuk ke kediaman Wollard. Hari ini adalah hari pertamanya berlatih dengan Isabella. Ia sudah tiba di depan kediaman Wollard. Sudah lama ia tidak datang ke sini. Kediaman Wollard sama sekali tidak berubah, seperti ia ke sini terakhir kali.


Isabella telah menunggunya. Ia mendekati Leticia yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya.


"Apa yang kamu lihat, Leti?"


Leticia sempat tersentak.


"Tempat ini sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Kamu membangunnya dengan baik, Bella."


"Aku ingin merasakan keadaan tempat ini sama seperti dulu. Perbedaannya adalah tak ada Ayah dan Ibuku."


"Aku minta maaf, Bella."


"Aku mengatakan itu tidak untuk  menyalahkanmu. Ayo kuantar ke tempat latihan."


Mereka sampai di tempat latihan. Isabella memberi pedang pada Leticia. Leticia memegang pedangnya dengan erat dan mengikuti arahan Isabella. Mengayunkan pedang dari atas ke bawah, ke samping dan menguhunuskan pedang. Setelah itu mereka bertarung satu sama lain. 


Selesai latihan, mereka duduk di kursi tempat pelatihan. Leticia terlihat kelelahan. Ia melihat Isabella masih terlihat bugar. Leticia mengatur napasnya yang tidak teratur. Lalu menceritakan informasi yang didapatkan Dale kepada Isabella. Isabella sesekali mengangguk mendengar penjelasan Leticia. 


"Ternyata Pemimpin Penyihir Menara hebat juga bisa mendapat informasi seperti ini. Dari mana dia mendapat informasi ini?"


"Soal itu, aku tidak bisa mengatakannya, karena dia bilang ini rahasia," jawab Leticia kikuk. Ia tidak mungkin menjawab bahwa Dale mencari informasi dengan mendekati wanita keturunan bangsawan. Isabella bisa salah paham bahwa Leticia tidak mempercayainya. Alasan sebenarnya Leticia membiarkan Dale mendekati Isabella adalah mungkin Dale bisa mendapat informasi mengenai Grand Duke Faust. Leticia memang percaya kepada Grand Duke Faust sebagai rekan kerja sama, dan karena ia menyelamatkan Isabella. Namun, Leticia belum mempercayainya sepenuhnya karena tidak mengenalnya dengan baik. Ia tidak mungkin menanyakan perihal Grand Duke Faust kepada Isabella langsung. Hubungan mereka mungkin akan merenggang akibat dirinya tidak mempercayai orang yang menyelamatkan nyawa Isabella.


Isabella menghela napas, memaklumi temannya. "Baiklah, tentang Count Blaire mungkinkah semua informasi yang didapatkan Penyihir Menara salah? Count Blaire bisa jadi sangat pintar dan tidak mengatakan bisnis barunya kepada siapapun. Bisnis restoran hanya sebagai pengalih."


"Itu adalah satu kemungkinan. Kalau begitu kenapa Countess Blaire tidak langsung menjebakku dengan mengatakan letak bisnis restoran barunya. Dengan begitu, dia akan mendapat aliran dana yang besar. Menurutku ada sesuatu dalam restoran itu yang ditutup-tutupi."


Isabella memegangi kepalanya. Ia berpikir keras, tetapi tidak menemukan jawaban yang tepat.

__ADS_1


"Jadi apa yang harus kita lakukan, Leti?"


"Aku akan mencoba menyelidiki restoran itu. Grand Duke Faust dan dirimu bisa mencoba menyelidiki kemungkinan bisnis baru Count Blaire yang asli, Bella." 


"Baiklah, aku akan menyampaikannya besok pada Tuan."


"Sudah waktunya aku pulang, jaga dirimu Bella." Leticia berdiri.


Isabella ikut berdiri. "Kamu juga jaga dirimu, Leti. Jika terjadi sesuatu, kamu bisa menghubungiku." 


Leticia membalas perkataan Isabella dengan anggukan dan senyuman. 


***


Keesokan harinya, Leticia tidak mempunyai waktu untuk menyelidiki Blaire Heaven. Ia bangun kesiangan hingga Judith lama menunggunya. Judith memaklumi tindakan Leticia karena ibunya mungkin kelelahan. Setelahnya pekerjaan Permaisuri menunggunya. Ia baru menyelesaikan semuanya sore hari.


Tiba-tiba langit menggelap. Leticia ingin menyelidiki tempat itu besok. Namun, tidak ada salahnya ke tempat itu sekarang. Setidaknya ia ingin tahu letak restoran itu.


Leticia menyamar lalu pergi ke pinggiran ibu kota. Jalanan sangat sepi karena sudah malam. Tak ada orang yang berlalu-lalang. 


Leticia berjalan menuju Blaire Heaven. Terlihat bangunan yang diberitahukan oleh Dale. Leticia mendekatinya, tetapi langkahnya terhenti dan bersembunyi di salah satu gang. Leticia mengerjapkan matanya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia memastikan kembali apakah ia berada di tempat yang benar. Ia mendongak melihat papan nama bertuliskan Blaire Heaven, artinya ia berada di tempat yang benar.


Ada banyak bangsawan yang mengantre untuk masuk ke tempat itu. Mereka semua memakai topeng yang menutupi wajah di sekitar mata dan menunjukkan sebuah kertas kepada orang yang berjaga di depan. Meskipun bangunan itu terlihat seperti restoran, tetapi tidak mungkin bangsawan rela berdiri di luar hanya untuk mengantre restoran yang penuh. Mereka pasti marah-marah karena harus menunggu lama. Tak satupun di antara mereka yang terlihat marah.


Salah satu bangsawan memakai topeng tidak membawa kertas seperti yang dibawa bangsawan lain terpaksa pulang. Bangsawan yang pulang itu terlihat kesal. Leticia membutuhkan kertas itu untuk masuk dan sebuah topeng. Ia berniat mengambilnya dari salah satu bangsawan yang keluar dari sana. 


Namun, begitu melihat ke bawah, niatnya hilang. Ada bangsawan yang menjatuhkan kertasnya, sepertinya bangsawan yang pulang tadi. Kertas yang bergambarkan wine. Ia segera mengambilnya sebelum ada orang yang tahu.


Leticia ingin masuk ke dalam, tetapi ia tidak memiliki topeng dan merasa lelah. Ia menjauh dari sana lalu berteleportasi menuju ke kamarnya. Ia menyimpan kertas itu. Lalu beristirahat sambil otaknya terus berpikir. Blaire Heaven pada siang hari adalah restoran biasa. Namun, pada malam hari tempat itu menjalankan bisnis yang lain. Bisnis hiburan malam.

__ADS_1


__ADS_2