Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
S2 Bab 3 Pemberontak Mulai Datang


__ADS_3

"Apa kamu tahu kalau pemberontakan ini sangat berbahaya, Ana?" tanya Duchess Hillbright.


Ariana tidak menjawabnya. Ia sudah tahu jawabannya dari awal. Kemarin malam ia mendapatkan surat dari Duchess Hillbright. Duchess memintanya bertemu pagi-pagi sebelum penyerangan.


"Apa Ayah dan Ibu mengetahui hal ini?" tanya Duchess sekali lagi.


"Tidak, mereka tidak tahu." Ariana menggeleng pelan.


Duchess menghela napas panjang. "Sesekali kamu harus menemui Ayah dan Ibu atau setidaknya memberi mereka kabar. Mereka sangat khawatir dengan keadaanmu," ucap Duchess.


"Baik, Duchess." Ariana tertunduk.


"Jangan memanggilku seperti itu ketika berdua saja, Ana."


"Baik-"


Leonard muncul menengahi mereka berdua. "Hei, jangan memarahi pendeta ini mentang-mentang kau seorang Duchess."


Ariana melihat Duchess dan Leonard secara bergantian. Ia merasakan permusuhan di antara mereka berdua.


"Aku tidak tahu apa masalahmu, tetapi berhentilah menjadi pahlawan kesiangan jika tidak tahu perkaranya."


"Kemarin aku menyelamatkanmu tetapi kau sama sekali tidak berterima kasih padaku." 


"Tanpa bantuanmu aku bisa mengalahkan mereka semua."


"Dasar bangsawan sombong."


"Hentikan, Leonard," tegas Ariana tiba-tiba. Ia menarik Leonard menjauh agar tidak terkena amarah Duchess. Leonard semula masih terdiam di tempatnya, tetapi karena tidak ingin Ariana dimarahi lagi akibat kesalahan prajurit bayaran ini, Leonard akhirnya mengikutinya.

__ADS_1


Setelah hanya mereka berdua Leonard mulai bersuara. "Apa yang dikatakan Duchess kepadamu?"


Ariana tidak ingin menjawabnya karena percakapannya dengan Duchess menyangkut hal pribadinya.


"Jika dia berbuat semena-mena padamu katakan saja padaku. Akan kubalas perbuatannya," ujar Leonard dengan penuh percaya diri. Meski kemungkinan menangnya masih sedikit setidaknya ia bisa membuat Duchess Hilbright kesal.


"Ini tidak seperti yang kamu lihat Leonard, jangan berprasangka buruk pada Duchess."


"Kamu tidak seharusnya membelanya orang seperti itu, Ariana."


"Duchess adalah orang baik. Kuharap kamu bisa melihatnya," ucap Ariana sambil tersenyum.


Leonard mendadak kesal karena Ariana terus menerus membela Duchess Hillbright. Mungkin Ariana diancam sehingga tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya. Itulah yang diyakini Leonard, meski keyakinannya salah.


"Leon, sudah waktunya bersiap-siap," panggil Will yang tadi mencari-cari Leonard.


Tak terasa waktu berkumpul telah tiba. Orang-orang mulai bangun mempersiapkan diri. Sebelumnya, para pemberontak dikabarkan telah mendekati perbatasan antara wilayah istana dengan County Tris. Hari ini dipastikan pemberontak akan sampai di perkemahan pasukan Duchess Hilbright. Leonard menoleh ke arah Will. "Baik." 


"Terima kasih, Leonard." Ariana tertunduk. Ia pun kembali ke tendanya.


Leonard menghampiri Will. Mereka menuju tenda untuk memakai perlengkapan perang. Di sela-sela berganti pakaian Will bertanya.


"Siapa gadis tadi?"


"Ariana, pendeta yang menyembuhkanku saat bertarung dengan Duchess kemarin," balas Leonard sambil memakai baju zirah.


"Kenapa kau menemuinya pagi-pagi? Jangan-jangan kau menyukainya? Tidak kusangka tipemu anak-anak di bawah umur." Will menyandarkan lengan di bahu Leonard sambil menggodanya.


Leonard menyibakkan bahu menatap Will tajam. "Jangan mengada-ada. Aku tidak sengaja bertemunya saat latihan tadi pagi. Dia dimarahi oleh Duchess jadi aku berusaha menyelamatkannya. Dan dia kuanggap sebagai adik, tidak lebih."

__ADS_1


"Baik, baik. Dasar pemarah." Will menepuk-nepuk bahu Leonard.


Leonard mengabaikannya menuju pasukan prajurit bayaran yang sudah berkumpul di formasi. Will pun mengikutinya.


Inilah formasi yang dibuat oleh Duchess. Prajurit bayaran dan kesatria berada di bagian paling depan, di belakang mereka para penyihir siap membantu melontarkan sihir jarak jauh. Para pendeta berada di barisan paling belakang untuk menyembuhkan orang terluka. 


Jebakan pun sudah disiapkan dengan matang untuk memporak-porandakan formasi musuh. Hanya tinggal menunggu waktu pemberontak datang.


"Kau beruntung masih hidup setelah berani-berani menantang Duchess Hillbright," ujar Will yang berada di samping Leonard.


"Memangnya dia orang yang seperti apa?"


"Dia orang tanpa belas kasih, ditakuti musuh-musuhnya. Dia sama sekali tidak bersungguh-sungguh saat melawanmu. Jika bersungguh-sungguh kurasa kau mati."


"Aku bukan orang yang mudah mati."


Duchess mengangkat sebelah tangannya. Semua orang yang ada di sana terdiam dan menggenggam senjata mereka dengan erat. 


"Itu tanda apa?" Bisik Leonard yang tidak mengerti.


"Tanda bersiap-siap. Ternyata kau tidak mendengarkan kemarin," balas Will menggelengkan-gelengkan kepalanya.


Duchess Hillbright menajamkan penglihatannya dengan aura. Pasukan pemberontak mulai terlihat. Ia mengayunkan tangannya.


"Itu tanda untuk menyerang," ujar Will.


Leonard mengeluarkan pedangnya sambil menerjang ke depan. Namun, ia kebingungan, kericuhan terjadi di depan matanya. 


Bukannya menyerang musuh, beberapa prajurit bayaran malah mengayunkan pedang ke arah kesatria dan prajurit bayaran lain. Teman-temannya saling bertarung sama lain. Menurutnya pemandangan di depannya ini sangat bodoh. Will pun ikut menyerang kesatria lain. Leonard menatap semuanya penuh ketidakpercayaan. 

__ADS_1


"Will, apa yang kau lakukan?"


__ADS_2