Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 8 Guru Dipecat


__ADS_3

Ini bukan pertama kalinya Leticia datang ke tempat itu. Namun, entah mengapa ia merasa seperti bertahun-tahun tidak pernah ke tempat itu. Ruang kerja Braun terasa asing baginya.


Leticia mengucapkan salam kepada suaminya. Braun sama sekali tidak melihat Leticia. Barun sibuk menatap dokumen-dokumen yang ada di mejanya. Kaisar tidak peduli lagi terhadap Permaisuri pertama, dan ia tidak berniat menutupinya dengan kebohongan.


Leticia segera mengatakan maksud kedatangannya. "Apakah saya bisa memecat guru Judith, Yang Mulia?"


"Kenapa?" tanya Braun masih melihat berkas yang ada di tangannya.


Braun sama sekali tidak menghiraukan Leticia. Baginya keberadaan Leticia sekarang mengganggu pekerjaannya. Leticia menyadarinya dari sikap Braun yang sama sekali tidak melihatnya.


"Mereka menggunakan kekerasan dalam mengajar Judith. Mereka juga mengajarkan hal yang salah," kata Leticia dengan tegas. Mata Leticia menunjukkan kegeraman atas tindakan yang dilakukan guru itu.


"Lakukan sesuka hatimu, Leticia," kata Braun dingin.


Braun bukan hanya tidak peduli kepada Leticia, ia juga tidak peduli pada putrinya. Ia tidak marah mendengar putrinya disakiti oleh orang lain. Mungkin bagi Braun anaknya adalah putra yang dilahirkan Charlotte. 


"Baik, terima kasih Yang Mulia." Leticia membungkuk lalu segera pergi. Braun sama sekali tidak menatap Leticia. 


Suaminya hanya peduli kepada Charlotte dan Louis. Apabila Louis yang menerima hukuman dan siksaan dari gurunya, Braun pasti akan marah. Ia akan menghukum orang itu dengan balasan yang setimpal. Perbedaan perlakuan antara Judith dan Louis terlihat jelas. 


Leticia mendatangi perpustakaan di istana permaisuri pertama. Judith berada di sana sedang membaca buku pemberian Leticia. Judith baru bisa memahami bahasa buku yang sederhana. Leticia mendekati anaknya. 


"Mulai sekarang, kamu tidak perlu bertemu dengan guru-guru itu, Sayang," kata Leticia.


"Kenapa?" Judith menoleh pada Leticia. Terlihat tanda tanya besar terlukis di wajahnya


"Ibu yang akan mengajarimu, Sayang," ujar Leticia lembut. 


"Benarkah?" Mata Judith berbinar-binar. Ibunya sendiri yang akan mengajarinya.

__ADS_1


"Tentu saja." Leticia mengelus-elus kepala Judith. "Apa yang kamu dapat dari buku itu, Sayang?"


"Kekaisaran dibentuk oleh Kaisar Keith. Beliau adalah Kakek Buyut. Kaisar Keith mempunyai dua putra. Putra pertama menjadi Kaisar yaitu Kakek. Sedangkan putra kedua menjadi Grand Duke Faust," kata Judith dengan semangat


"Kamu benar Sayang. Jadi lupakanlah semua yang diajarkan oleh gurumu ya. Ini adalah pengetahuan yang benar. Ibu juga akan mengajarimu tata krama."


Judith menggangguk dengan semangat. 


Putrinya bukanlah anak bodoh. Guru-guru Judith hanya tidak mau mengajarinya. Statusnya sebagai putri tidak akan mendapatkan pengaruh yang besar di masa depan.  Meskipun begitu, Judith tetaplah putri kekaisaran. Ia perlu dididik dengan baik. 


Leticia tersenyum dan melanjutkan pelajarannya.


Grand Duke Faust memiliki seorang putra yang mewarisi gelarnya. Orang yang memiliki darah kekaisaran seperti Braun. Grand Duke Faustman adalah satu-satunya orang yang berhak duduk di tahkta selain Braun. Ia adalah orang yang hebat. Pasukan yang ia pimpin selalu menang dalam pertempuran. Namun, ia terkenal kejam dan bengis.


Judith mendengar cerita ibunya dengan seksama. Ia perlu mempelajari semuanya untuk masa depannya nanti. Braun lepas tangan terhadap masa depan Judith. Leticia tidak ingin masa depan putrinya tidak menentu. Ia akan balas dendam kepada Braun. Ia akan membuatnya turun tahkta dengan cara apapun. Demi dirinya dan putrinya. Kenyamanan yang mereka rasakan di istana bisa hancur kapan saja. 


***


Kabar Leticia yang memecat guru Judith terdengar oleh Charlotte. Charlotte mengunjungi Leticia di taman istana permaisuri ke dua. 


Leticia sedang minum teh bersama Judith. Mereka berdua menoleh menyadari kehadiran Charlotte.


"Maaf, saya datang mendadak Permaisuri Leticia. Saya dengar guru Judith dipecat?" tanya Charlotte. Mata Charlotte menunjukkan keprihatinan. Semua orang di situ bisa melihatnya.


"Itu benar Permaisuri Charlotte. Saya tidak bisa mempekerjakan orang yang tega melukai seorang anak." Leticia menatap Charlotte dengan tegas. Meskipun terlihat prihatin, menurut Leticia Charlotte sedang berpura-pura. 


"Maaf, saya mendengar kabar yang tidak mengenakkan. Saya bisa membantu Anda mencarikan guru baru untuk Judith." Charlotte mengulurkan tangan untuk menyetuh pipi Judith.


"Tidak perlu, Permaisuri Charlotte. Saya bisa mengajari Judith sendiri." Leticia ingin menepis tangan itu. Ia menahannya, tidak baik menunjukkan permusuhan di depan putri, dayang dan pengawal.

__ADS_1


"Baiklah, Permaisuri Leticia. Saya siap membantu apabila Anda memerlukan bantuan. Judith adalah kakak Louis, tentu saja saya peduli kepadanya." Charlotte mengelus-elus pipi Judith. Ia menyunggingkan bibir kepada Leticia. Leticia membalasnya. "Terima kasih atas kebaikan Anda, Permaisuri Charlotte."


Charlotte menurunkan tangannya dari pipi Judith. Ia pamit undur diri.


Punggung Charlotte perlahan menghilang. Judith kembali memakan camilan. Ia menoleh kepada ibunya sambil menghabiskan camilan itu.


"Permaisuri Charlotte ternyata baik ya, Bu?" tanya Judith. Ada remah-remah camilan tersisa pipinya.


Leticia mengambil sapu tangan mengusap pipi Judith menyingkirkan camilan itu. "Benar, Sayang." 


"Maafkan aku, Ibu. Aku belum bisa makan dengan benar." Judith terlihat murung, karena remahan yang ada di pipinya.


"Tidak apa-apa Sayang, dulu ibu awalnya juga sepertimu. Jika belajar lama-kelamaan kita akan terbiasa. Lalu melakukannya dengan benar." Leticia menyemangati anaknya.


"Jangan merasa terbebani atau takut. Ibu tidak akan marah padamu," lanjutnya.


Acara minum teh bersama putrinya ini sebenarnya adalah pembelajaran tata krama saat makan. Namun, tidak terkesan seperti pembelajaran karena Leticia mengajari Judith dengan santai.


Meskipun begitu terasa ketegangan dalam diri Judith. Masih tersisa ketakutan akibat ajaran gurunya yang kejam. Tanpa sadar ternyata perlakuan itu membekas di hati Judith yang masih murni. Leticia tahu apa yang dipikirkan putrinya. Ia berusaha mencari cara agar putrinya kembali riang.


"Bagaimana kalau kita belajar memegang cangkir dengan benar?" ajak Leticia.


"Baik," jawab Judith dengan cepat.


Leticia memegang gagang cangkir dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Jari kelingkingnya menyentuh dasar cangkir untuk menopang cangkir itu.


Judith mengikuti Leticia. Ia berhasil melakukannya, meskipun tangannya terlihat gemetar. Judith melakukannya berkali-kali hingga tangannya tidak gemetar. Ia gembira bisa melakukannya dengan benar. 


Leticia kemudian menyesap tehnya dengan perlahan. Lalu menaruh cangkir itu tanpa bersuara. Begitu pula dengan Judith. 

__ADS_1


Putrinya cepat belajar. Ia akan melindungi putrinya yang masih polos. Judith belum tahu dunia bangsawan yang kelam. Banyak kepura-puraan dan tipu muslihat di dalamnya. Mereka akan melakukan hal keji untuk mendapatkan keuntungan. Menurut anak kecil, sikap Charlotte terlihat baik.


Namun, bagi Leticia kebaikan Charlotte terasa mencurigakan. Charlotte ingin terlihat baik di depan semua orang. Ia seolah-olah menyembunyikan dan merencanakan sesuatu. Apapun rencana Charlotte, Leticia siap menghadapinya.


__ADS_2