Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 43 Malaikat Penyelamat


__ADS_3

Sebelum bibir Braun tepat mendarat di bibi Leticia, terdengar suara ketukan pintu dan pintu terbuka. Leticia menghindari ciuman Braun, mengakhiri waktu mesra mereka berdua. Braun melepas tangannya dari tubuh Leticia. Leticia segera berbalik melihat siapa orang yang menyelamatkannya dari keadaan menjijikan ini. Ia ingin berterima kasih pada orang itu. 


Sosok mungil berdiri di depan pintu. "Ini pertama kalinya aku melihat Ayah di kamar, Ibu," ujar Judith bersemangat.


Braun terkejut akan gangguan yang tidak ia duga, tetapi ia bersikap tenang. Ia mendekati putrinya. "Ayah merindukan Ibumu, Judith."


'Kebohongan demi kebohongan terlontar dari mulutmu' batin Leticia sambil menatap Braun.


"Kalau begitu hari ini Ayah akan tidur di sini? Aku boleh ikut?" tanya Judith bersemangat. 


Braun menoleh pada Leticia, seakan butuh persetujuan dari Leticia. Leticia mengangguk sambil merekahkan senyum palsunya.


"Tentu saja, Sayang," jawab Braun sambil mengelus kepala putrinya.


"Hore." Senyum lebar tampak di wajah Judith.


Braun menggendong putrinya. Lalu membaringkannya di tengah ranjang. Braun tidur di sisi kiri Judith sedangkan Leticia di sisi kanan.


Leticia mengira-ngira alasan Braun datang ke sini. Mungkin untuk mengawasinya. Mungkin untuk membuat Leticia berpikir bahwa Braun masih mencintai dirinya.


"Hari ini, Ibu tidak banyak bicara," ujar Judith tiba-tiba. Ia berbaring menghadap ibunya.


Leticia tersentak pada ucapan Judith. Ia memikirkan banyak hal hingga lupa untuk menanggapi Judith dan Braun.


"Ibu hanya terkejut dan senang secara bersamaan, Sayang. Ibu kehilangan kata-kata." Leticia tersenyum membelai kepala anaknya.


Ia memalingkan kepala pada Braun. Braun membalasnya dengan senyuman. Leticia mengecup kening Judith diikuti Braun.


Judith lama kelamaan mengantuk dan tertidur. Leticia pura-pura tertidur.


Leticia membuka matanya perlahan, melihat Braun masih berada di kasur memeluk Judith sambil memejamkan mata. Sepertinya Braun tidak berniat pergi dari sini.


Braun berpura-pura peduli kepada Judith, Leticia menyadarinya. Yang diperlukan Braun hanyalah Charlotte dan putranya. Di dalam keluarganya tidak ada Leticia dan Judith. Mereka hanya pajangan.


Braun melakukan semua ini hanya demi mendapat perhatian dari Leticia dan Judith. Leticia mengingat kenangan mereka berdua yang berupa kepalsuan. Amarah memenuhi hatinya. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melampiaskannya. Ia akan menunggu sampai pemberontakan tiba.


Leticia melihat putrinya yang tertidur dengan pulas. Leticia berutang pada Judith yang selalu datang pada saat-saat genting. Judith adalah malaikat penyelamatnya. Ia berjanji akan melindungi putrinya.


Paginya Braun bangun terlebih dahulu. Judith ikut terbangun. Leticia yang masih berbaring membuka matanya. Braun mengecup keningnya.


"Selamat pagi, Sayang. Aku akan menunggumu nanti di ruang makan bersama Judith."

__ADS_1


"Selamat pagi, Braun," ujar Leticia terpaksa tersenyum.


Braun juga mencium kening putrinya yang duduk di samping Leticia.


"Apa Ayah akan datang ke sini lagi?" tanya Judith sambil menatap Braun.


"Sebisa mungkin ayah datang ke sini. Beberapa hari ini ayah sangat sibuk. Kemungkinan ayah akan bisa datang bulan depan," jawab Braun.


Leticia bersyukur Braun baru akan datang pada bulan berikutnya. Ia bisa keluar istana diam-diam pada bulan ini. Judith terlihat bersemangat ayahnya akan datang ke sini walaupun masih lama.


"Tidak apa-apa bukan, Leticia?" tanya Braun menatap wajah istrinya.


"Tentu saja, tidak apa-apa. Aku sangat senang kamu bisa datang ke sini, Braun," jawab Leticia berbohong.


Braun pergi meninggalkan mereka berdua. Leticia mulai menegakkan badannya.


"Ada keperluan apa kamu ke sini kemarin malam, Sayang?"


"Aku hanya ingin tidur berdua dengan Ibu. Kebetulan Ayah datang jadi kita tidur bertiga," jawab Judith bersemangat.


"Begitu ya... kamu bersiap-siaplah dulu di kamarmu untuk makan pagi, Sayang. Nanti ibu akan menjemputmu."


"Baik, Ibu." Judith langsung berlari keluar kamar dengan bersemangat. Begitu sampai di luar, ia berjalan seperti biasa. Di depan orang lain, ia tidak boleh bersikap tidak sopan.


"Jika aku pergi malam-malam, bisakah kamu berjaga di depan, Emilia?" perintah Leticia.


Leticia tidak ingin apabila ia pergi diam-diam Braun atau Judith masuk ke kamarnya.


"Baik, Permaisuri." Emilia menunduk.


"Ulur waktu selama mungkin agar orang di luar tidak masuk," tambah Leticia.


"Baik, Permaisuri." Emilia mulai terbiasa dengan kepergian Leticia diam-diam. Ia tidak lagi takut. Ia yakin bahwa Leticia akan kembali dengan selamat.


***


Gerald berada di kediaman Rainster. Kediaman ini sama sekali tidak terawat. Banyak debu yang menempel di dinding dan sarang laba-laba di sudut ruangan. Tak terlihat pelayan yang berkeliaran di kediaman ini. Kondisi keuangan keluarga Rainster pasti sangat buruk. Keluarga yang hebat berubah drastis menjadi seperti ini.


"Ada keperluan apa Anda kemari, Grand Duke?" tanya Marquis Rainster tanpa basa-basi.


"Saya dengar Anda pernah marah di pertemuan milik Count Blaire. Kalau boleh tahu kenapa Anda marah?" Gerald langsung memberi tahu maksudnya.

__ADS_1


"Kejadian itu sudah tidak ada dibenak saya. Bukankah Count Blaire sudah dieksekusi? Hal itu tidak ada hubungannya dengan kasus Count Blaire," jawab Marquis ketus.


Tingkah laku Marquis sangat mencurigakan. Matanya terlihat sayu dan merah. Ia terlihat sangat gelisah. Ia terlihat menyembunyikan sesuatu.


"Saya harap Anda jujur, Marquis." Gerald memberi tekanan pada kata-katanya.


"Pergilah dari sini, Grand Duke! Aku sudah mengatakan semuanya!" teriak Marquis Rainster.


Gerald sedikit terkejut dengan tingkah laku Marquis yang sangat tidak ramah dan meledak-ledak. 


"Baiklah, saya akan kembali lagi selama Anda tidak membuka mulut, Marquis," jawab Gerald dingin. 


Ia langsung meninggalkan ruangan itu. Ia berkeliling di kediaman Rainster. Marquis sama sekali tidak memedulikan tindakan Gerald asal tidak menganggunya.


Semuanya terlihat kotor. Terlihat ada orang yang mengintip dari balik pintu. Gerald bukanlah orang yang ramah, jadi orang itu ia abaikan. Tidak ada yang terlihat mencurigakan dari tempat ini, kecuali Marquis sendiri. 


Gerald melihat dari jendela seseorang berambut pirang yang berlatih sendirian. Sepertinya orang itu adalah putra Marquis Rainster. Ia memutuskan untuk pergi ke tempat latihan itu.


Ia sampai pada tempat latihan. Orang itu masih belum menyadari keberadaan Gerald. Orang itu berumur sekitar 17 tahun dan berwajah sama dengan Marquis Rainster bila dirinya masih muda. Gerald yang memperhatikan gerakan orang itu. Orang itu mempunyai teknik yang hebat tetapi dasarnya masih kurang.


"Kamu menggenggam pedang terlalu kuat dan langkah kakimu terlalu pendek," kata Gerald.


Putra Marquis Rainster terkejut, lalu menghentikan latihannya. Ia menyapa Gerald.


"Kamu bisa lanjutkan latihanmu."


Putra Marquis merasa tidak enak tetap menghentikan latihannya. Ia terlihat ragu-ragu untuk bertanya. 


"Apa Anda habis menemui Ayah saya, Tuan Grand Duke?"


"Benar," jawab Gerald singkat.


"Maaf, atas kelancangan Ayah saya. Beliau seperti itu sejak Ibu meninggal. Keuangan keluarga kami juga mulai menurun semenjak Ibu tidak ada," jelas Putra Marquis.


Gerald menatap putra Marquis Rainster. Ada kesamaan antara dirinya dan orang yang ada di depannya. 


"Siapa namamu?" 


"Saya, Clovis, Tuan Grand Duke."


"Aku akan melatihmu. Aku akan datang ke sini lagi besok."

__ADS_1


Clovis menunduk. Lalu, mendongak melihat punggung Grand Duke Faust yang semakin mengecil. Berharap dengan dilatih oleh orang yang hebat, ia akan menjadi orang yang mampu memulihkan keluarganya kembali.


__ADS_2