
"Jadi apa yang akan kau lakukan Leticia?" tanya Dale yang tidak terlihat. Ia masih memakai tudung sihirnya.
"Aku akan mulai dengan berbicara dengan wanita yang menyelamatkanku," jawab Leticia. Ia menatap ke depan seolah-olah Dale berada di depannya.
"Bagaimana jika aku juga ikut mencari informasi? Tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu bukan? Sihir pelindung itu masih aktif. Jika ada yang melukaimu aku akan segera datang.
"Ide yang bagus Dale. Aku tidak apa-apa sendirian. Terima kasih sudah mau membantuku."
"Dengan senang hati, Permaisuri."
Dale ke luar melalui pintu. Meskipun tidak terlihat, tubuhnya tidak dapat menembus bebda. Dari sudut pandang Leticia pintu itu terbuka dan tertutup sendiri. Jika ada orang yang melihatnya pasti mengira ada hantu. Seandainya ada orang yang melihatnya di luar, Dale akan menghapus ingatan orang itu.
Wanita berambut cokelat itu kembali dengan membawa gelas. Lalu memberikan gelas berisi air putih itu kepada Leticia. Ia meminumnya karena haus. Berlari dari kereta kuda ke sini membuat tenggorokan Leticia kering.
"Apakah Anda sudah tenang, Nyonya?" Wanita itu duduk di samping Leticia.
"Saya sudah sedikit tenang, terima kasih," jawab Leticia sedikit lesu.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Sebelumnya maaf apabila Anda tidak nyaman karena kedai ini kotor." Wanita itu mengedarkan pandangan di kedai miliknya, merasa malu karena belum bersih-bersih.
"Tidak apa-apa." Leticia menggeleng pelan. "Kenapa kedai ini tutup? Tadi saya melihat papan bertuliskan tutup di luar," lanjutnya.
"Saya masih mencari anak saya yang hilang hampir dua minggu yang lalu, Nyonya. Saya tahu kalau ini sia-sia, kemungkinan besar dia telah tiada. Namun, setidaknya jika menemukan mayatnya saya bisa memberikannya pemakaman yang layak." Mata wanita itu berkaca-kaca.
Ternyata wanita yang peduli kepada Leticia adalah ibu dari anak laki-laki yang hilang. Leticia tidak menyangka dapat memperoleh sumber informasi secepat ini.
"Saya minta maaf mendengar hal ini."
"Tidak apa-apa, hati saya sedikit lega karena telah berbagi kisah dengan Anda, Nyonya. Baru pertama kali saya bertemu dengan bangsawan yang ramah seperti Anda." Wanita itu mencoba tersenyum walaupun masih tersirat kesedihan di matanya.
"Kalau boleh tahu, bagaimana anak Anda bisa hilang?" tanya Leticia ragu-ragu.
"Dia termasuk anak yang nakal, sering pulang malam. Hari itu saya kira seperti malam sebelum-sebelumnya, tetapi dia tidak kembali. Saya sudah mencarinya ke manapun, tetapi hasilnya sia-sia." Air mata mulai menggenangi mata wanita yang berada di sisi Leticia. Tanpa sadar membasahi pipinya.
Leticia terdiam sebentar. Sebenarnya ia tidak ingin mengingatkan hal menyedihkan. Namun, ia harus terus mengorek informasi dari wanita itu.
__ADS_1
"Apakah Anda sudah meminta bantuan kuil?" tanya Leticia.
"Sudah, Nyonya. Pihak kuil sudah melakukan pencarian, tetapi kami masih belum menemukan anak saya." Wanita itu menyeka air mata yang jatuh ke pipinya.
Leticia memberikan sapu tangan kepada wanita itu. Dengan senang hati wanita itu menerimanya. Ia berusaha menenangkan diri dengan mengambil napas dan mengeluarkannya secara perlahan.
Setelah merasa tenang Leticia melanjutkan pertanyaannya, "Apakah pernah ada kejadian semacam ini sebelumnya?"
"Sebenarnya bukan cuma anak saya yang hilang, beberapa anak lain juga hilang."
"Sejak kapan anak-anak itu hilang?"
"Sekitar satu tahun yang lalu. Setiap bulan setidaknya ada satu anak yang hilang. Mereka tidak pernah ketemu hingga sekarang."
Kejadian yang mengerikan. Keamanan di desa yang lemah membuat penculik itu bertindak leluasa.
"Apakah sebelumnya kuil juga ikut membantu mencari anak-anak hilang itu?"
"Sudah, Nyonya awalnya mereka mencari dengan semangat, tetapi semakin ke sini pencarian mereka tidak terlalu membantu."
Entah karena penculik itu terlalu ahli atau pihak kuil tidak melakukan pencarian dengan sungguh-sungguh. Kemungkinan terburuk adalah pihak kuil ada sangkut pautnya dengan anak-anak yang hilang itu.
"Mungkin ini hukuman bagi anak-anak yang nakal."
"Apa maksud Anda?" tanya Leticia bingung.
"Pernah ada khotbah di kuil bahwa anak-anak nakal akan menerima hukuman. Anak-anak yang hilang semuanya nakal. Saya tidak menyangka kalau anak saya salah satunya. Seharusnya saya mendidiknya dengan benar."
Tangis dari wanita itu pecah. Rasa bersalah menggerogoti hatinya. Bayangan anak laki-lakinya yang tersenyum masih terlihat jelas di kepalanya. Apabila ia mendidik anaknya dengan baik, pastinya putra tercintanya masih berada dengannya di sini
Leticia berusaha menenangkan wanita itu. Perasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya, ia tidak ingin merasakan hal yang sama. Ia tidak ingin kehilangan Judith. Ia akan melindunginya.
Suara kegaduhan terdengar di luar. Mereka berdua keluar dari kedai untuk melihat keadaan.
Pengawal Leticia sudah sampai di desa. Sekarang ia harus bersandiwara lagi dengan merasa takut bercampur lega.
__ADS_1
Pengawal berambut hijau melihat Leticia. Ia segera berlari menuju ke tempat Permaisuri Pertama berdiri.
"Maafkan, saya Permaisuri. Anda tidak perlu khawatir keadaan sudah aman," kata pengawal itu sambil menunduk.
"Apakah perampok-perampok itu berhasil dikalahkan?" suara Leticia sedikit bergetar.
"Mereka sudah melarikan diri, Permaisuri. Anda bisa melanjutkan perjalanan ke istana."
"Apakah ada yang terluka?"
"Tidak ada luka serius, Permaisuri."
"Syukurlah." Leticia bernapas lega.
Leticia dikejutkan dengan pemandangan yang ada di depannya. Wanita yang berusaha menghibur Leticia tadi, bersujud di hadapan Permaisuri Kekaisaran.
"Saya minta maaf tidak mengenali Anda, Permaisuri."
Wanita itu benar-benar terkejut bangsawan yang ia ajak bicara daritadi adalah Pemaisuri. Ia sudah bertindak tidak sopan kepada Permaisuri Kekaisaran.
"Tidak apa-apa." Leticia menyentuh pundak wanita itu.
Ia mengeluarkan kantong yang berisi uang. Lalu memberikannya kepada wanita itu. "Anda sudah membantu saya. Sebagai imbalan saya berikan hadiah untuk memperbaiki rumah Anda."
"Terima kasih, Permaisuri." Wanita itu menerimanya dengan kedua tangannya. Air matanya terus mengalir karena merasa terharu.
Leticia berbalik menjauhinya. Haruskah Leticia menyelidiki desa itu lebih lanjut? Tindakan yang berlebihan akan membuat Braun dan Charlotte curiga. Namun, informasi yang ia dapatkan belum cukup.
"Kau bisa kembali Leticia, biar aku saja yang menyelidiki desa ini. Aku akan mengabarimu lewat batu sihir nanti," bisik Dale ke telinga Leticia. Hanya Leticia yang mendengarnya.
"Ayo kita kembali ke istana. Aku sudah lelah. Cepat panggilkan kereta kuda ke sini."
"Baik, Permaisuri." Pengawal berambut hijau itu segera
Itu balasan Leticia yang bisa ia sampaikan kepada Dale. Ia tidak bisa membalasnya dengan anggukan. Itu akan membuat orang-orang curiga.
__ADS_1
Sihir perlindungan yang Dale berikan kepadanya perlahan menghilang. Sekarang ia menunggu kereta kuda datang. Semua mata tertuju kepadanya. Semua tindakannya akan dilihat. Ia tidak boleh bertindak ceroboh dengan menyelidiki desa lebih lanjut.
Tidak lama kemudian, kereta kuda datang. Leticia masuk dibantu oleh salah satu pengawalnya. Ia melihat desa itu lekat-lekat. Perlahan pemandangan desa itu semakin menjauh.