Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
S2 Bab 33 Hari Bahagia (End)


__ADS_3

Arion menunggu ayah dan ibunya di depan kereta kuda. Kemeja berbalut jas disertai lencana kekaisaran bertengger di dadanya. Tidak mungkin ia tidak memakai baju yang layak pada pesta ulang tahun kakaknya. 


Tengkuk Arion terasa panas seolah-olah ada orang yang menatapnya. Arion menggunakan aura untuk memeriksa sekitar. Helaan napas keluar dari mulut Arion mengetahui orang yang ia kenal mengamatinya dari tadi.


"Aku sudah baikan, Sylvie. Tidak perlu memeriksa keadaanku tiap waktu," ujar Arion.


Sylvie muncul tiba-tiba, membuka tudung sihir. "Aku hanya khawatir padamu, Rion."


"Aku tahu, tetapi kita akan bertemu nanti di pesta kakakku. Kamu bisa memeriksaku nanti, Sylvie," balas Arion.


"Baiklah, maaf mengganggumu, Rion." Sylvie menghilang seketika.


Arion mengernyitkan dahi. Bukan maksudnya untuk mengusir Sylvie, tetapi ia tidak ingin temannya itu membuang-buang waktu hanya untuk menemuinya setiap saat. Ia bisa menjaga diri dengan baik.


Arion melihat ayah dan ibunya berjalan berdampingan. Mereka pun menuju kediaman Hillbright.


***


Ariana melihat pemandangan di luar jendela kereta kuda. Ia memakai gaun seadanya karena tak sempat membeli gaun baru. Ia beristirahat selama beberapa hari setelah insiden peracunannya, tetapi begitu kembali ke bekerja sebagai Saintess banyak orang yang datang untuk meminta berkat. 


Ia kewalahan menghadapi mereka.


Di depan Ariana, Raymond duduk berhadapan dengannya. Kemarin Raymond menawarkan diri untuk menjadi pendampingnya di pesta Duchess. Ia pun menyetujuinya karena tak ingin pergi sendirian.


"Apa saya boleh mengatakan sesuatu Saintess?" tanya Raymond.


Ariana mengalihkan pandangannya pada Raymond. "Silakan saja, Kak Raymond."


"Saya tahu kalau ini lancang, tetapi bolehkah saya berharap bisa di samping Anda selamanya?" Raymond menatap Ariana lurus-lurus. 


Ariana melebarkan matanya. Wajahnya memanas. Kepalanya tertunduk pelan. Ia tidak tahu kalau Raymond melihatnya sebagai lawan jenis. Kepedulian yang terbungkus seperti persahabatan ternyata di dalamnya terdapat perasaan yang lebih mendalam.


Selama ini, Ariana merasa dibantu oleh kehadiran Raymond. Hatinya merasa tenang dan nyaman bersama kesatria suci itu. 


Ariana mengangkat kepalanya. Raymond dengan sabar menunggu jawabannya. Mulut Ariana mulai terbuka.


"Apakah Kak Raymond bisa menungguku jawabanku saat dewasa?"


"Tentu saja, Saintess."


Ariana menggeleng pelan. "Jangan memanggilku Saintess. Panggil saja seperti biasa."

__ADS_1


"Baik, Ana."


Raymond tersenyum simpul. Setidaknya ia mempunyai harapan. Ariana memalingkan wajah, ia tidak sabar memberikan jawaban pada Raymond.


***


Leonard menunggu Judith di depan kamar Duchess. Ia tidak sabar memberikan hadiahnya pada sang kekasih. Sebenarnya, Leonard ingin memberi kado pada pagi hari, tetapi ia ingin Judith menantikan dan bertanya-tanya kado pemberiannya.


Terdengar suara pintu terbuka. Leonard menoleh ke arah Judith yang terlihat sangat cantik. Bibirnya melengkung ke atas. Ia menyerahkan sarung pedang yang sebelumnya disembunyikan di balik punggung.


"Selamat ulang tahun, Judith." 


Judith menerima hadiah itu seraya tersenyum. "Terima kasih, Leon."


Judith kembali ke kamar. Dengan cepat, ia mengganti sarung pedangnya lama. Ia menatap sarung pedang pemberian Leonard dengan berbinar-binar.


Tumpukan kado berada di sudut kamar Judith. Beberapa masih terbungkus rapat, hanya hadiah dari keluarga dan orang terdekatnya yang telah dibuka. 


Leonard terkekeh lantas menyodorkan lengannya pada Judith. "Mari, Duchess."


Judith merangkul lengan Leonard menuju ke aula pesta. Ia menatap Leonard yang terlihat gugup. Judith akan mengumumkan hubungannya dengan Leonard nanti. 


Judith memasuki ruangan pesta. Pandangan terkejut tertuju padanya. Para bangsawan tak menyangka Duchess akan berpasangan dengan rakyat jelata. Judith menghiraukan tanggapan bangsawan-bangsawan itu. Mereka memang suka membicarakan keburukan orang.


Judith memberi kata sambutan di pestanya. Ia berterima kasih pada bangsawan yang hadir dan mengumumkan pertunangannya. Para bangsawan tidak berani berbisik ataupun mencela karena Kaisar terus memandangi mereka dengan tatapan membunuh. 


Leticia dan Gerald menghampiri Judith, memberi selamat. Arion dan Ariana menyusul Kaisar dan Pemaisuri. Begitu pula yang lain.


Dansa dimulai dengan meriah. Ariana terus menyunggingkan bibir selama berdansa dengan Raymond. Berbeda dengan Arion yang tidak memiliki pasangan. Ia menatap Sylvie yang berdiri di dekat jendela. Arion melangkah mendekat untuk menebus rasa bersalahnya.


"Maukah kamu berdansa denganku, Sylvie?" Arion mengulurkan tangannya.


Sylvie menatap Arion ragu-ragu. Namun, tangannya bergerak sendiri untuk menggapai ajakan pangeran satu itu.


"Tentu saja, Rion."


Mereka bergabung dengan tamu yang berdansa. Tak mampu menutupi kegembiraannya Sylvie terus tersenyum.


"Kenapa kamu terus tersenyum seperti itu, Sylvie?" 


Senyum Sylvie tiba-tiba memudar tetapi cepat kembali lagi. "Bukan apa-apa, Rion." 

__ADS_1


"Maafkan aku, bukan maksudku untuk mengusirmu tadi."


"Aku tahu."


Keheningan terjadi di antara mereka. Hanya terdengar langkah kaki dan suara alunan musik. Arion mendekatkan kepalanya ke telinga Sylvie.


"Apa kamu mau menjadi Putri Mahkota?" 


Sylvie terbelalak. Matanya mengikuti wajah Arion yang mulai menjauh. 


"Kenapa kamu memilihku, Rion?"


"Jadi kamu tidak mau?"


"Bukannya tidak mau, tapi-"


Arion menyela Sylvie. "Intinya mau."


Sylvie semakin kebingungan dengan sikap Arion. Apakah Arion memilihnya karena Sylvie adalah temannya? Bukankah Putri Mahkota akan menjadi pasangan dari Putra Mahkota hingga berlanjut ke jenjang pernikahan?


"Pernyataan cintamu waktu itu, inilah jawabannya." Arion tersenyum simpul.


Ternyata pangeran satu itu pura-pura tertidur. Tidak lebih tepatnya ia hanya memejamkan mata, tetapi pernyataan dari Sylvie membuatnya bingung. Ia belum punya jawaban yang tepat dan meminta pendapat dari kakak dan orang tuanya. Keputusan Arion adalah mengikuti kata hatinya. 


"Terima kasih, Rion." 


Sylvie menahan tangisnya. Ia tidak ingin mengacaukan hari bahagia Duchess. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


Duchess mengakhiri pesta dansa. Ia mempersilakan para tamu menikmati sajian yang tersedia. Tatapannya tertuju pada Leonard di sebelahnya. Tunangannya itu sudah berjuang keras untuk berlatih dansa meski masih kaku. Leonard menuntunnya menuju balkon, membebaskan diri dari kerumunan itu.


Sebuah kotak dikeluarkan dari saku Leonard. Ia membuka kotak itu menampilkan cincin dengan permata kuning. Kakinya bersujud di hadapan Judith. Ia menggenggam tangan Judith dengan erat.


"Apa kamu mau menikah denganku, Judith?"


"Tunggu sebentar."


Judith mengeluarkan kotak berisi cincin polos. Mereka saling terkekeh karena mempunyai pemikiran yang sama. Mereka saling menyematkan cincin pada jari pasangannya.  


Leonard meraih tengkuk Judith. Sebuah kecupan mendarat di bibir Duchess. Judith tersenyum lantas membalas kecupan Leonard. 


"Akan kukabulkan permintaanmu menjadi seorang bangsawan. Akan kujadikan dirimu sebagai Duke setelah kita menikah."

__ADS_1


"Dengan senang hati aku akan menunggu." Leonard mengecup Judith berkali-kali hingga dihentikan Leticia yang memergoki mereka berdua. Leticia menjauh, berpura-pura tidak melihat mereka.


Leonard menganggap itu sebagai persetujuan untuk melanjutkan tindakannya tadi. Judith terus tersenyum membayangkan kehidupannya bersama Leonard. Kehidupan damai yang ia dambakan akan terwujud.


__ADS_2