Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 44 Orang Kuil yang Terlibat


__ADS_3

Isabella sampai di kuil. Ia berpura-pura berdoa sambil mengamati keadaan di daerah kuil. Wilayah aula doa dan tempat tinggal pendeta dipisahkan oleh sebuah pintu yang dijaga oleh dua pendeta. 


Pintu itu terletak di luar ruangan dan dipagari oleh tembok yang cukup tinggi. Isabella menunggu kesempatan yang tepat untuk membuat kedua pendeta itu pingsan dan masuk ke dalam tanpa membuat orang curiga. Kedua pendeta itu menguap. Merasa ini kesempatan yang tepat, Isabella hendak memukul tengkuk mereka. Namun, tubuhnya tertahan, seperti ada orang yang menarik tangannya.


Tangannya seperti dituntun ke arah pohon yang berada ada di dekat tembok yang jauh dari pintu. Seseorang tiba-tiba muncul sambil memegang tangan Isabella. Isabella sangat terkejut melihat wajah orang itu.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dale sambil melepas tangan Isabella.


"Tidak, apa yang kamu lakukan?" tanya Isabella balik.


"Aku hanya menghentikanmu dari tindakan yang bisa menimbulkan orang curiga, Countess," jawab Dale.


"Kalau begitu kenapa kamu ada di sini?" Isabella merasa risih karena sepertinya Dale mengikutinya ke mana pun ia pergi.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Ini benar-benar kebetulan. Aku sedang menyelidiki pihak kuil dan melihat orang yang akan menimbulkan kekacauan," sindir Dale.


"Aku tidak akan menimbulkan kekacauan," jawab Isabella ketus.


"Dengan membuat pendeta yang menjaga di sana pingsan akan menimbulkan kekacauan, Countess. Lalu, kamu akan cepat tertangkap."


Isabella tidak bisa membalas ucapan Dale. Semua ucapannya benar. Ia tidak bisa masuk secara sembarangan. Meskipun Dale terlihat senang bermain-main, tetapi ia orang yang cerdik.


Dale melepas jubahnya lalu memakaikannya pada Isabella. Isabella berjengit atas tindakan Dale.


"Apa ini?" Isabella menepis tangan Dale yang berusaha mengaitkan jubahnya yang ia pakaikan pada Isabella.


"Ini adalah jubah yang bisa membuat orang tidak terlihat." Dale berusaha mengaitkan jubahnya kembali.


"Lalu, bagaimana denganmu? Apa kamu akan pergi menyerahkan penyelidikan ini padaku?" Isabella segera menyingkirkan tangan Dale, dan mengaitkannya sendiri.


"Tidak, aku akan melakukan penyelidikan bersamamu. Aku bisa menggunakan sihir penghilang walaupun tidak bisa bertahan lama."


"Baiklah, kita sedang menyelidiki hal yang sama bukan? Mencari orang yang memiliki kartu wine itu."


"Benar sekali."

__ADS_1


Isabella segera pergi menuju tembok itu. Ia sudah berada di depannya. Dale mengulurkan tangannya. Isabella kebingungan dengan tindakan penyihir menara ini. Merasa Isabella tidak mengerti isyaratnya. Dale langsung menggenggam tangan Isabella. Isabella kaget menyaksikan tindakan Dale. Isabella berusaha melepas tangan penyihir menara ini. Namun, genggaman itu tidak terlepas.


"Kenapa kamu memegang tanganku?" tanya Isabella sinis.


"Walaupun tidak terlihat bukan berarti kita dapat menembus benda. Apa kamu akan memanjat tembok ini? Aku sedang membantumu menggunakan sihir agar bisa berada dibalik tembok ini. Oh ya kamu bisa pakai kudungnya sekarang agar tidak terlihat, Countess."


Isabella menggerutu sambil melakukan apa yang diminta Dale. Ia menjadi tidak terlihat. Dale mengikuti Isabella dengan mengaktifkan sihirnya. 


Penyihir menara menaruh tangannya yang bebas ke tembok. Ia segera menggunakan sihir agar berpindah ke balik tembok.


Tembok yang berada di depan Isabella menghilang menjadi pelataran rumput luas. Tembok tersebut kini berada di belakangnya.


"Jadi apa ini bisa dilepas sekarang?" Isabella mengangkat tangannya yang dipegang Dale.


"Tentu saja." Dale melepas tangannya dari Isabella.


"Haruskah kita berpencar?" tanya Isabella.


"Lebih baik kita menyelidiki bersama-sama saja. Sihir ini memang membuatku tidak terlihat, tetapi ada batas waktu. Aku butuh orang yang bisa menjauhkanku dari bahaya, jika aku tiba-tiba terlihat," saran Dale.


"Baiklah," jawab Isabella singkat.


Mereka berjalan menuju gedung tempat tinggal para pendeta. Isabella menggunakan auranya untuk merasakan keberadaan Dale agar mereka tidak saling bertabrakan. 


Dale berjalan di depan Isabella, ia sesekali menengok ke belakang untuk memastikan Isabella masih mengikutinya. Ia menggunakan sihir agar matanya bisa melihat orang yang tembus pandang. 


Mereka sudah sampai di gedung dan melewati sebuah lorong masuk ke dalam. Dale mulai terlihat dan ia tidak menyadarinya tetap berjalan lurus ke depan menuju persimpangan. Isabella menariknya tanpa aba-aba untuk bersembunyi. Badan Dale terbentur dinding. Dale sempat terkejut, tetapi memaklumi tindakan Isabella karena menyelamatkan dirinya. Isabella tidak meminta maaf karena manganggapnya sebagai balasan karena selalu menganggunya. Isabella melihat keadaan sekitar, masih banyak orang yang yang berlalu-lalang. 


Mereka menunggu tetapi keadaan tidak semakin aman. Hingga Dale bisa menggunakan sihir menghilangnya lagi. Butuh satu menit agar ia bisa menggunakannya. Ia menepuk pundak Isabella dan berjalan di depan. Mereka sampai di depan ruang makan. Dikarenakan Dale takut tiba-tiba menghilang ia bersembunyi sebentar di tempat yang sepi. Lalu membatalkan sihirnya untuk beristirahat. Isabella berbisik kepadanya, "Aku akan ke dalam."


"Aku akan menyusulmu nanti," balas Dale sambil berbisik.


Dengan mudahnya Isabella masuk ke ruang makan karena pintunya terbuka. Ia mendengar percakapan di sana.


"Piere, di mana teman sekamarmu?" tanya orang berambut abu-abu.

__ADS_1


"Dia sedang tidak enak badan, aku akan membawakannya makanan nanti ke kamar," kata orang bersambut cokelat gelap. Dia adalah Piere


"Dia terlihat kacau, aku tidak pernah melihatnya berbicara dengan orang lain beberapa hari ini. Saat berdoa dia juga terlihat gelisah," tambah orang berambut abu-abu itu.


"Aku akan mencoba berbicara kepadanya," kata Piere segera menghabiskan makanannya lalu keluar. Ia membawa roti dan semangkok sup.


Isabella baru menyadari keberadaan Dale yang daritadi berdiri di sampingnya. Ia terlalu fokus mendengar percakapan orang tadi. Ia berusaha mengikuti orang itu, begitu pula Dale. 


Teman sekamar Piere mencurigakan. Tiba-tiba menarik diri dari orang banyak seolah-olah ketakutan.


Mereka sampai pada kamar Piere. Piere sudah masuk. Dale segera memegang tangan Isabella lagi agar mereka berdua berpindah ke dalam. Isabella sebenarnya enggan bergandengan tangan tetapi terpaksa demi melakukan penyelidikan.


Mereka sudah berada di dalam. Di sana terdapat dua tempat tidur. Yang satu kosong, sedangkan yang lain ditiduri oleh seseorang yang sedang meringkuk.


"Aku membawa makanan, Paul," kata Piere sambil menyodorkan makanan.


Orang itu sama sekali tidak bergerak dan masih meringkuk. 


"Kumohon habiskan makanannya dan keluarlah jangan berada di kamar terus semua orang mengkhawatirkanmu," ujar Pierre prihatin.


"Di mana barang itu?" ucap orang itu tiba-tiba.


"Barang apa yang kamu maksud? Kalau makanan ini." Piere yang kebingungan menunjuk makanan yang ada di hadapannya.


"Bukan makanan tetapi sesuatu yang membuatku tenang."


Isabella dan Dale langsung tahu apa yang dimaksud orang itu. Obat terlarang. Kini mereka tahu siapa orang di kuil yang menggunakan obat itu. 


"Lebih baik kamu makan dengan begitu kamu akan lebih tenang. Aku akan pergi jagalah dirimu." Piere sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud oleh temannya itu.


Isabella dan Dale segera meninggalkan ruangan itu. Mereka berniat kembali dan melaporkan hal ini pada Gerald dan Leticia. 


"Siapa kau?" teriak Piere sambil menunjuk Dale.


Sihir Dale sudah hilang. Siapapun dapat melihatnya. Isabella tidak bisa menyelamatkannya dari keadaan ini. Ia sudah ketahuan.

__ADS_1


__ADS_2