
Istana 3 tahun yang lalu
"Salam pada Putri Judith," sapa Marquis Loid.
Judith dalam perjalanan menuju kamarnya untuk berganti baju karena tubuhnya bersimbah keringat setelah berlatih dengan Arion. Ia teringat hari itu diadakan pertemuan bangsawan yang membahas pemberontakan. Tidak aneh bila berpapasan dengan seorang Marquis.
"Ada keperluan apa Marquis?" tanya Judith.
"Ada yang ingin saya bicarakan, Putri."
"Baiklah, tunggulah sebentar, Marquis. Antarkan Marquis ke ruang tamu," perintah Judith pada salah satu pelayannya.
Marquis Loid menuju ruang tamu, sedangkan Judith cepat-cepat mengganti baju latihannya dengan gaun. Ia tak sempat berdandan, karena tak ingin tamunya menunggu lama.
Judith sampai ruang tamu duduk berseberangan dengan Marquis Loid yang tersenyum. "Maaf telah menunggu, Marquis."
"Tidak apa-apa, Putri."
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan, Marquis?"
"Saya adalah pengikut setia ayah kandung Anda. Saya dan pengikut yang lain akan membantu Anda menjadi Kaisar berikutnya, Putri," tawar Marquis Loid.
Judith berusaha tidak terlihat terkejut. Ia mengepalkan tangannya dengan erat.
"Saya tidak tertarik menjadi Kaisar, Marquis," balas Judith ketus.
"Hanya Anda yang pantas menjadi Kaisar, Putri. Pangeran Arion tidak sehebat Anda. Kami siap menjadi bidak, asalkan Anda menjadi Kaisar."
Judith bangkit dari tempat duduknya. Berbicara dengan Marquis Loid menyulut amarahnya. Bila diteruskan ia akan memukul Marquis itu. Yang diinginkan Marquis Loid adalah kekuasaan setelah Judith menjadi Kaisar, bukanlah membuktikan kesetiaannya. Buktinya Marquis tidak membantu Kaisar sebelumnya saat pemberontakan Gerald. Yang dibutuhkannya hanyalah Kaisar yang bisa dimanfaatkan.
Sebelum Judith keluar dari ruang tamu, Marquis Loid melanjutkan perkataannya. "Tawaran kami berlaku untuk selamanya, Putri."
"Aku tidak akan menerima tawaranmu, Marquis."
***
Di meja makan, Judith tak menyentuh makanannya. Leticia dan Gerald saling berpandangan melihat gelagat Judith yang aneh.
"Ada apa Judith?" tanya Leticia.
__ADS_1
Judith tersentak. Ia menatap keluarganya secara bergantian, lantas tertunduk kembali.
"Apa tidak bisa peraturan tentang Kaisar harus berjenis kelamin laki-laki kembali lagi?"
Gerald telah merubah peraturan jenis kelamin Kaisar. Siapa pun dapat menjadi Kaisar meskipun perempuan. Ia mengubahnya sebelum Leticia hamil, tujuannya tentu saja agar Judith dapat menjadi Kaisar. Banyak bangsawan yang menentangnya tetapi ia tidak peduli. Namun, bila mengubahnya sekali lagi, ia akan dianggap sebagai Kaisar yang tidak dapat mengambil keputusan dengan bijak.
"Para bangsawan akan mempertanyakan keputusan ayah selanjutnya, bila mengubahnya, Judith," jelas Gerald selembut mungkin.
"Kenapa kakak ingin peraturan itu kembali? Bukannya dulu kakak berjanji padaku akan bersaing denganku untuk menentukan Kaisar selanjutnya?" tanya Arion tahu apa yang dipikirkan kakaknya. Judith ingin Arion yang menjadi Kaisar.
Judith menoleh ke arah adiknya. Ia tidak ingin bertarung memperebutkan takhta dengan adiknya. Terlebih bangsawan seperti Marquis terus mendatangi Judith beberapa hari yang lalu, mereka pasti tidak segan-segan memakai cara licik menjatuhkan Arion.
"Aku tak mau bila Kakak mengalah demi diriku," lanjut Arion.
"Sudahlah, biar Ayah yang menentukan siapa di antara kalian yang akan menjadi Kaisar," ujar Gerald menenangkan anak-anaknya.
Judith menggenggam garpu dan pisaunya dengan erat. Ia ingin mengungkit soal darah yang mengalir dalam tubuhnya, tetapi Leticia dan Gerald pasti marah. Ada cara lain untuk menghindari pertumpahan darah di keluarga istana.
"Aku akan ikut dalam penumpasan pemberontakan," ucap Judith tiba-tiba.
Leticia menggeleng pelan. "Itu sangat berbahaya, Judith."
"Aku bisa dengan mudah mengalahkan semuanya, Ibu. Percayalah padaku."
Leticia hampir menentang Gerald, tetapi suaminya menggenggam tangannya dengan erat. Gerald memberi isyarat untuk mendengarkan alasan Judith. Pada akhirnya Leticia menurut.
Leticia, Judith dan Gerald pergi ke ruang kerja Kaisar. Gerald menghela napas panjang ketika mereka bertiga sudah berada di dalam. Ia menyugar rambutnya lantas menatap Judith.
"Aku tidak akan menyetujuinya, bila kamu pergi hanya untuk mati Judith," tegas Gerald. Meski tidak memiliki ikatan darah, ia merasa ada bagian Judith yang sama dengan dirinya.
Judith melebarkan matanya. Ia tidak menyangka Gerald dapat menebak isi pikirannya dengan benar.
Leticia menatap sendu putrinya. "Apa itu benar Judith?"
"Aku tidak ingin terjadi pertumpahan darah karena perebutan takhta, Ayah, Ibu. Para bangsawan pendukung Kaisar sebelumnya mulai mendekatiku untuk menyingkirkan Rion." Judith menunduk perlahan.
Gerald melemaskan wajahnya. "Kamu tidak perlu mengorbankan dirimu, Judith."
"Selama aku hidup, mereka akan terus mendatangiku, Ayah. Aku takut kalau suatu hari akan termakan rayuan mereka."
__ADS_1
Leticia menenangkan putrinya yang hampir menangis. Ia mengelus-elus kepala Judith.
"Kami percaya padamu Judith. Kamu bukan orang yang akan melukai adikmu."
"Terima kasih, Ibu. Tapi, sejujurnya aku tidak berminat menjadi Kaisar. Dari awal aku memang ingin Rion yang menjadi Kaisar sedangkan aku selalu melindunginya di balik layar."
Leticia menatap mata putrinya yang berkaca-kaca. Ia membelai pipi Judith. "Apa kamu ingin menjadi Duchess dan melepas gelar putrimu?"
Gerald menatap istrinya. Mereka telah membicarakan hal ini sebelumnya. Bila suatu saat Judith menjadi Kaisar, mereka akan memberikan gelar pada Arion Grand Duke Faust dan Ariana, Duchess Hillbright. Sedangkan bila Arion menjadi Kaisar, Judith akan menjadi Duchess Hillbright dan Ariana bergelar Grand Duchess Faust. Namun, karena Ariana pergi menjadi pendeta, hanya Judith dan Arion yang mendapat gelar bangsawan.
"Jika itu akan membebaskanku dari bangsawan-bangsawan itu, aku akan melakukannya."
Air mata Judith tumpah, artinya ia harus berpisah dengan ayah dan ibunya lebih cepat. Namun, itu lebih baik dibandingkan harus berseteru dengan adiknya.
"Untuk mempermudah pewarisan gelar, kamu bisa pergi mengalahkan pemberontak dan menjadi pahlawan, Judith," saran Gerald.
Leticia memeluk putrinya. "Ibu akan mengizinkannya, bila kamu berjanji kembali dengan selamat, Judith."
Judith mengangguk pelan. "Aku janji, Ibu."
Gerald merangkul dan mengecup puncak kepala mereka berdua. Tanpa mereka sadari, Arion menguping di luar mengepalkan tangan. Ia berjanji tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan kakaknya. Mereka berjauhan tetapi akan saling melindungi. Arion melangkahkan kaki menuju kamarnya, menulis surat pada Flint untuk menjadi ajudan Judith.
***
Masa kini
Judith membuka matanya. Ia bermimpi saat dirinya bertekad menjadi Duchess. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Dua tangan melingkar di bahu dan perutnya. Ia mendongak mendapati wajah Leonard berdarah.
Judith mengingat kejadian sebelum ia pingsan. Kereta kudanya dihantam batu. Ia membuka pintu kereta kuda dan menarik Leonard keluar agar tidak tertimpa batu. Tetap saja nyawa mereka masih terancam karena jatuh dari ketinggian. Judith bersiap menggunakan aura untuk melindungi diri, tetapi Leonard malah memeluknya. Terpaksa menyalurkan auranya pada Leonard. Lalu terdengar suara hantaman tubuh dengan tanah. Hanya itu ingatan Judith.
'Kenapa dia menyelamatkanku?' batin Judith.
Judith melepas pelukan Leonard. Ia menepuk-nepuk pengawal gadungannya itu. "Bangunlah."
Mata Leonard tetap terpejam. Judith memeriksa denyut nadi Leonard. Normal. Leonard hanya tidak sadarkan diri karena terjatuh.
Judith menopang tubuh mantan prajurit bayaran itu. Bahu Leonard terluka karena melindunginya. Judith menggigit bibirnya, merasa bersalah. Ia mengalungkan tangan Leonard di lehernya, menggendong prajurit bayaran itu di punggungnya.
Ia mempertajam penglihatannya dengan aura. Ada goa yang letaknya tak terlalu jauh. Judith segera melangkahkan kakinya menuju ke sana. Sepatu haknya yang rusak ia buang karena hanya menghalanginya berjalan di tanah licin akibat hujan.
__ADS_1
Ia tidak memedulikan gaunnya yang kotor dan robek di mana-mana. Yang terpenting baginya adalah mencari tempat berteduh.
Langkah Judith terhenti. Goa itu sudah di depan mata tetapi terdapat sungai mengalir deras yang menghalangi. Menerobos sungai dengan membawa Leonard, bukan ide bagus. Mereka akan terbawa arus.