
Di depan mata Gerald duduk seseorang yang tidak tahu diri. Ia menahan diri agar tidak segera menangkapnya. Tanpa pihak berwajib dari istana yang memberi perintah penangkapan, ia tidak bisa apapun. Bila Gerald membawa paksa Viscount Gremaroft tanpa bukti dan surat tugas yang jelas maka Viscount dapat menyerang balik dirinya. Viscount Gremaroft dapat menuntut Gerald atas penggeledahan liar dan merusak properti di kediaman Gremaroft.
Gerald harus menunggu sampai Isabella datang bersama pihak berwajib. Dengan bantuan Permaisuri Pertama pasti surat tugas itu akan cepat dikeluarkan. Orang-orang yang ditugaskan untuk menangkap Viscount Gremaroft juga akan segera dikerahkan.
Hanya saja, Gerald tidak tahan untuk menangkap pria yang ada di depannya ini. Setiap kali Viscount bicara, rasanya ia ingin menutup mulut pria itu.
Gerald berdiri menuju jendela yang berada di sisi utara ruangan. Ia melihat pemandangan sekitar, sambil mendengar ocehan Viscount bagai angin lalu. Apa yang ia tunggu-tunggu telah tiba.
"Saya minta maaf, Viscount. Saya tidak bisa menerima tawaran Anda," kata Gerald tanpa basi.
Wajah Viscount Gremaroft merah padam. "Kalau begitu kenapa Anda kembali ke sini, Tuan Grand Duke?"
"Saya merasa tidak enak hati, menggantung kerjasama yang Anda tawarkan. Jadi saya kembali ke sini untuk memberi tahu Anda."
"Tolong dipikirkan lagi Tuan Grand Duke," pinta Viscount Gremaroft.
Gerald pergi dari ruangan itu.
"Jangan pergi dulu Tuan Grand Duke. Dengarkan dulu penjelasan saya."
Gerald tetap melanjutkan langkahnya.
"Keuntungannya akan fantastis. Anda akan mendapat keuntungan dari bisnis ini tiap bulan sebanyak 50% dari penjualan."
Gerald masih tidak memedulikan Viscount Gremaroft.
"Saya akan memberikan semua keuntungan bisnis ini selama satu tahun."
Gerald menghentikan langkahnya. Ia menatap Viscount Gremaroft. Merasa penawarannya diterima Grand Duke Faust, pria gendut itu tersenyum lebar.
"Saya tidak tertarik dengan penawaran Anda, Viscount," tegas Gerald.
"Kalau begitu setidaknya beri saya imbalan karena telah membocorkan cara untuk meningkatkan reputasi Anda," nada suara pria di depan Gerald mulai meninggi.
"Saya tidak akan memberi uang sepersenpun untuk orang yang menyiksa anak-anak." Gerald membuka paksa pintu yang berada di belakangnya.
Terlihat anak-anak yang mengerang kesakitan. Mereka berteriak minta tolong untuk diselamatkan.
__ADS_1
Viscount Gremaroft geram, berteriak "Anda akan saya tuntut atas perusakan properti dan masuk tanpa izin!"
Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.
"Anda tidak bisa melakukannya, karena saya memiliki surat untuk penangkapan Anda," balas Gerald dingin.
Seketika pihak istana dan Isabella datang. Viscount Gremaroft terkejut, berusaha melarikan diri. Gerald menghalanginya. Viscount Gremaroft tidak bisa bergerak karena tekanan kuat dari Gerald.
Salah satu petugas memasang borgol pada Viscount Gremaroft. Isabella memberikan surat penangkapan Viscount Gremaroft kepada Grand Duke Faust. Gerald membacakan surat penangkapan itu. Penangkapan Viscount Gremaroft berhasil.
***
Leticia membaca koran yang berada di tangannya. Ia tersenyum simpul. Grand Duke Faust telah menguak perbuatan keji dari Viscount Gremaroft. Rumor buruk tentang Gerald lama kelamaan akan semakin dilupakan digantikan dengan tindakan heroik yang ia lakukan.
Meskipun perjalanan mereka masih panjang, ini adalah permulaan yang bagus. Rahasia kuil masih belum terpecahkan. Firasat Leticia mengatakan Viscount Gremaroft pasti memiliki alasan kuat untuk berdonasi dalam jumlah besar kepada kuil. Masalahnya Leticia belum menemukan hubungan yang keduanya. Penggeledahan kediaman Gremaroft sudah dilaksanakan, tetapi bukti masih belum ditemukan.
Walaupun sulit, Leticia percaya dirinya akan mendekati pada kebenaran. Tindakan terlarang Paus akan ia bongkar. Semuanya demi menjatuhkan Braun dan Charlotte.
Leticia melihat daftar bangsawan yang bisa membantu Braun. Matanya tertuju pada satu nama Count Landell.
***
"Grand Duke Faust Menyelamatkan Anak-Anak dari Viscount Gremaroft"
Judul berita itu ditulis sangat besar hingga Isabella bisa melihatnya. Ia tersenyum, sedikit demi sedikit nama baik tuannya mulai terkenal.
Isabella pernah berjanji dalam hatinya apabila reputasi Grand Duke Faust telah kembali, ia akan menyatakan cinta. Pernyataan cinta yang mungkin tidak terbalas. Ia tahu bahwa tuannya hanya menganggapnya sebagai orang kepercayaan belaka, tidak lebih. Setidaknya ia ingin perasaannya diketahui.
"Apakah hari ini anak itu datang?" tanya Gerald membuyarkan lamunan Isabella.
Anak yang dimaksud Gerald adalah Judith. Mereka tidak pernah bertemu sama sekali meskipun Judith berlatih di kediaman Faust. Judith juga tidak pernah bertemu dengan pelayan ataupun kesatria kediaman Faust. Ini dikarenakan Isabella meminta mereka untuk tidak mendekati lapangan latihan saat Judith berlatih dengannya.
"Benar, Tuan," jawab Isabella singkat.
"Bagaimana pelatihannya?"
"Dia sangat berbakat, Tuan. Dia mampu menguasai apa yang saja ajarkan dengan cepat. Saat dewasa dia bisa menjadi kesatria yang kuat."
__ADS_1
"Tidakkah sedikit aneh Kekaisaran belajar pedang? Seharusnya dia belajar menjadi putri yang anggun saja."
"Dia hanya ingin melindungi Kekaisaran dan keluarganya, Tuan."
Gerald meletakkan korannya. Bersandar pada kursinya, berpikir sejenak.
"Kenapa dia bisa mempercayai kita, Isabella?"
"Siapa maksud, Tuan?"
"Bukankah cukup berisiko, Permaisuri Pertama meminta teman lamanya yang membencinya untuk mengajari putrinya? Ditambah lagi berlatih di tempat Grand Duke terkejam di Kekaisaran. Bagaimana jika aku melukai dan menyandera anaknya? Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya."
"Sebenarnya, semua itu hanya kesalahpahaman, Tuan. Duke Hilbright yang membuat keluarga saya menderita. Lalu Permaisuri Leticia bisa mempercayai Anda karena Tuan telah menyelamatkan saya. Sesederhana itu."
Gerald tersenyum tipis, sangat tipis hingga Isabella tidak menyadarinya.
Terdengar suara kereta kuda di luar. Judith sudah datang. Isabella pamit undur diri untuk melatih anak temannya.
Isabella menuju gerbang kediaman Faust. Judith telah menunggu bersama pengawalnya. Ia berlarian kecil menuju Isabella. Bersemangat menanyakan apa yang akan diajarkan gurunya hari ini.
Isabella tersenyum melihat kelucuan dari putri temannya. Wajah, rambut dan matanya mengingatkan pada Leticia sewaktu kecil. Judith benar-benar mirip dengan Leticia. Perbedaannya dia lebih sering menunjukkan perasaannya daripada Leticia. Sikap malu-malu sewaktu pertama kali bertemu dengan Isabella mirip dengan ibunya sewaktu kecil.
Isabella membawa Judith ke tempat pelatihan. Judith berlatih dengan bersemangat. Wajahnya terlihat gembira. Isabella ikut merasakan kegembiraan dari anak temannya.
Ketika hendak beristirahat, Isabella melihat satu tamu yang tidak diundang. Ia pernah melihatnya bersama Leticia saat pertemuan yang diadakan di kediaman. Dale, Pemimpin Penyihir Menara tersenyum melihat Isabella lalu berpaling ke arah Judith yang mendekatinya.
Dale menanyakan kabar Judith dan latihan pedangnya. Judith menjawab dengan sangat antusias. Dale terus tersenyum, tanpa menyadari tatapan Isabella berubah menjadi tajam.
Isabella mendekatinya. "Maaf, Penyihir Menara apakah sebelumnya Anda sudah ada janji dengan Tuan?"
"Saya datang ke sini bukan bertemu dengan Grand Duke Faust," jawab Dale santai.
"Ada keperluan apa Anda ke sini? Apakah untuk bertemu dengan Tuan Putri?"
"Tidak," jawab Dale singkat.
Sebelum sempat menanyakan kembali maksud kedatangan tamu tak diundang ini, Sang tamu melanjutkan, "Saya ingin bertemu dengan Anda, Countess Wollard."
__ADS_1