Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
S2 Bab 9 Trauma Ariana


__ADS_3

5 tahun yang lalu.


Lama tak berjumpa dengan temannya, Ariana ingin berkunjung ke Kekaisaran Lortamort. Leticia dan Gerald menyetujui kepergian Ariana asalkan mereka ikut. Mereka disambut dengan ramah, tak ada kecurigaaan akan niat buruk kerajaan itu, apalagi pangeran dari kerajaan itu adalah sahabat pena Ariana.


Benih-benih cinta yang muncul di hati Ariana membuatnya buta akan sikap buruk pangeran Lortamort. Pangeran itu membawa Ariana ke tempat yang sepi hingga disekap oleh Raja dan Ratu tanpa sepengetahuan Leticia dan Gerald. 


Keluarga Kerajaan Lortamort berdalih bahwa Ariana diculik. Kemurkaan Gerald tidak terbendung, ia memerintahkan kesatrianya untuk mencari putrinya. Ia pun mengancam keluarga Kerajaan Lortamort apabila tidak dapat menemukan Ariana, Gerald akan membumi hanguskan kerajaan Lortamort. Raja Lortamort menyetujuinya, tetapi dengan syarat pertunangan Ariana dan putranya.


Gerald bimbang, ia ingin anaknya segera ditemukan tetapi bila harus bertunangan dengan orang yang mempunyai niat bulus sama saja mengorbankan kebahagiaan putrinya. Leticia meminta waktu untuk berpikir, sebagai dalih mencari putrinya diam-diam. 


Namun, Ariana tidak kunjung ketemu. Leticia dan Gerald meminta tambahan waktu lagi. Raja Lortamort yang sudah tidak sabar, menunjukkan sifat aslinya. Raja satu itu mengancam akan membunuh Ariana apabila Gerald tidak segera mengambil keputusan. Berkat ancaman Raja Lortamort, Leticia menduga bahwa Ariana disekap di istana. Ia pun mencari-cari putrinya selagi Gerald berurusan dengan Raja Lortamort.


Dalam ruangan tanpa cahaya, Ariana diawasi oleh Ratu dan Pangeran Pertama Lortamort. Tubuh kecil Ariana gemetaran. Bukan hanya ketakutan, hatinya terluka karena dikhianati dan dimanfaatkan oleh orang yang dipercayainya. Ia berharap akan diselamatkan dan keluar dari tempat gelap ini.


Leticia membuka ruangan itu. Sungguh lega bisa menemukan putrinya. Ratu Lortamort memerintahkan Pangeran Pertama untuk melukai Ariana selagi Leticia dihalangi Ratu. 


Dengan cepat Leticia menyingkirkan Ratu, lalu melindungi putrinya. Pedang menembus punggung Leticia cukup dalam. Ia tak sadarkan diri sambil memeluk putrinya. Ariana terus memanggil ibunya, memegang tubuh yang mengeluarkan banyak darah dari sang Ibu.


Terlanjur melakukan tindakan gegabah, Pangeran pertama berniat membunuh ibu dan anak itu. Pedang siap ditebaskan kembali.


Untungnya Gerald menyusul dengan cepat. Tendangan melayang ke tubuh pangeran itu. Ia membawa putri dan istrinya keluar dari istana terkutuk itu. 


Pertolongan pertama untuk menutup pendarahan Leticia sementara dilakukan oleh Gerald seadanya dengan auranya. Ia tidak percaya dengan dokter Kerajaan Lortamort. Istrinya bukannya diselamatkan malah akan dibunuh oleh salah satu dokter di kerajaan itu. Tangannya terus memeluk tubuh Leticia berharap semuanya baik-baik saja


Ariana terus memandangi tubuh ibunya yang semakin melemah. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Ia terus menyalahkan diri sendiri.


Begitu sampai di istana kekaisaran Houllem, Gerald memerintahkan Rose ke kuil membawa pendeta untuk menyembuhkan Leticia. Ia membopong istrinya ke kamar diikuti oleh Ariana.

__ADS_1


Judith mendengar kabar ketiganya pulang mendadak segera menemui mereka. Ia mendapati Ariana yang duduk di depan kamar Leticia. Pertanyaan tersekat di tenggorokannya karena keadaan Ariana yang syok. Judith memeluk dan menenangkan adiknya.


"Kakak di sini. Ibu pasti akan sembuh, Ana," ujar Judith untuk menyemangati dirinya dan adiknya.


Suara teriakan Gerald menggelegar sampai ke telinga Judith dan Ariana. "B*jingan sialan itu! Aku tidak akan memaafkan mereka!"


Merasa adiknya gemetaran lebih hebat, pelukan Judith semakin erat. Tanpa menanyakan apa pun ia sudah apa yang terjadi. Tak pernah ia lihat ayahnya semarah itu. Kondisi ibunya pasti sangat parah.


Gerald keluar dari kamar menatap kedua putrinya. Ia mengelus-elus kepala keduanya berusaha selembut mungkin meski hatinya masih marah.


"Judith, selagi aku pergi jagalah istana dan adik-adikmu. Aku akan membalas perbuatan orang-orang yang melukai ibumu," tegas Gerald.


Judith mengangguk menatap mata Ayahnya penuh tekad. "Baik, Ayah."


"Ana, kamu sudah aman, beristirahatlah." Gerald memeluk Ariana yang berada di dekapan Judith.


"Dia masih diobati di dalam. Jangan ganggu sampai pengobatan selesai. Aku akan pergi jadi jagalah Ibumu, Rion." Gerald melepas pelukannya dan menepuk-nepuk bahu putranya memberi semangat.


"Baik, jaga diri Ayah."


Gerald pun memerintahkan pasukannya menyerang Kerajaan Lortamort. Pertumpahan darah tidak dapat dihindari terlebih di sisi Kerajaan Lortamort. Serangan Gerald meluluh lantahkan semuanya. Tanpa ampun ia menghabisi semua keluarga kerajaan Lortamort. Ia akan membalas siapa pun yang melukai keluarganya dengan balasan yang lebih kejam.


Ariana masih tidak bisa tenang. Jika terjadi sesuatu pada ibunya ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Seandainya saja ia kuat. Seandainya, ia tidak meminta pergi ke kerajaan Lortamort. Seandainya ia tidak mudah dibodohi, pasti ibunya berdiri di depan mereka sambil tersenyum.


Kemurkaan ayahnya membuatnya takut tidak sebagai anak karena membuat ibunya terluka. Ia hanyalah anak tidak berguna.


Kesadaran Leticia kembali, putra-putrinya merasa lega, kecuali Ariana. Ia masih terus tertunduk. 

__ADS_1


Tak ingin putrinya terus bersedih Leticia melambaikan tangan meminta Ariana mendekat. Ia mengecup kening putri keduanya bersusah payah tersenyum. 


"Syukurlah, kamu baik-baik saja, Ana."


Tangis Ariana pecah. Tak mampu memeluk anaknya karena tubuhnya masih lemah, Leticia hanya menyeka air mata Ariana yang terus keluar. 


***


Gerald yang telah kembali dari medan perang terus mendampingi Leticia hingga sembuh. Seluruh perhatian ia curahkan, seperti mengecup kening Leticia tiap hari dan membawakan makanan kesukaannya.


"Sudahlah, Gerald lama kelamaan aku akan sembuh. Jangan tinggalkan tugasmu," ujar Leticia lirih.


Gerald membelai pipi istrinya untuk menangkan kegundahan. "Semuanya sudah kukerjakan. Kesehatanmu lebih penting."


"Bagaimana nasib kerajaan Lortamort?"


"Tidak ada lagi kerajaan bernama Lortamort."


Mata Leticia terbelalak. Tak disangka Gerald akan menghancurkan semuanya. Namun, ia pun akan bertindak sama apabila Gerald dan anak-anaknya disakiti.


Ariana mengintip dibalik pintu. Ketakutan menemui kedua orang tuanya masih tersisa. Dan ketakutan itu pun menang, ia kembali ke kamar sambil menangis. 


Tekad untuk melindungi keluarganya semakin besar. Ia berjanji menjadi orang kuat, tetapi kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Meski terus berlatih pedang, ia tetap saja tidak menguasainya.


Leticia mulai beraktivitas kembali meski tidak boleh kelelahan. Namun, permaisuri satu ini dikenal dengan sifatnya yang pekerja keras, jadi ia pingsan karena menghabiskan waktu berkutat dengan dokumen.


Selama Leticia tak sadarkan diri, Ariana terus menggenggam tangannya. Kelelahan Leticia semakin berkurang, bahkan ia lebih segar daripada sebelumnya. Semua orang terkejut akan hal ini. Bahkan Isabella asisten Leticia tidak sempat mengomeli tuannya.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada Ariana. Saat itulah, kekuatan berkat Ariana bangkit. Dan Ariana pun pergi meninggalkan keluarganya mengabdi di kuil.


__ADS_2