Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
S2 Bab 5 Kemarahan Duchess


__ADS_3

'Dia kakaknya Ariana?' tanya Leonard dalam hati.


Bibir Ariana bergetar menggumamkan sesuatu.


"Ibu... Ibu.... Ibu..."


"Tenang Ana, Ibu selamat. Jangan khawatir, Ibu bersama Ayah. Ini bukan salahmu. Tidak ada yang menyalahkanmu, Ana." Duchess Hillbright masih membekap Ariana sambil mengecup samping kepala adiknya.


Napas Ariana mulai teratur. Bahunya tak lagi terguncang. Ia tak sadarkan diri. Duchess tak mau lama-lama berada di sini, membopong adiknya menuju perkemahan. Leonard mengikutinya dengan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.


***


Ariana berbaring di kasur. Duchess duduk di sampingnya sambil terus menggenggam tangan adiknya penuh kekhawatiran.  Leonard yang sudah menanggalkan baju zirahnya menuju tenda Duchess. Kaki Leonard melangkah dengan sendirinya mendekati kedua kakak-beradik ini.


"Jadi kau Kakak Ariana?" tanya Leonard.


Duchess bangkit berdiri penuh kemarahan mencengkeram baju Leonard. "Apa kamu tidak bisa membunuh dengan menghunuskan pedang? Itu cara yang lebih efektif daripada menebasnya."


"Apa maksudmu? Yang terpenting Will berhasil kubunuh dan Ariana selamat. Dasar tidak tahu terima kasih." Leonard berusaha melepaskan cengkeraman Duchess tetapi tidak bisa.


"Berterima kasih? Aku berterima kasih padamu? Meski selamat, kamu membangkitkan kenangan buruk adikku!" teriak Duchess.


"Jika tidak ingin hal itu terjadi seharusnya kau tidak membawanya dalam penumpasan ini!" 


"Aku tidak pernah menginginkan Ana ada di sini!" Duchess mendorong Leonard.


Ia berbalik sambil menekan dahinya. Menarik napas untuk menenangkan diri.


Leonard pun menebak-nebak alasan Duchess menceramahi Ariana. Ariana datang ke penumpasan ini tanpa memberiahu Duches. "Memangnya orang tua kalian kenapa sampai Ariana membahayakan dirinya?" 


"Keluar!" perintah Duchess tanpa melihat wajah Leonard.


"Aku hanya mengkhawatirkan dan ingin melihat keadaan Ariana. Apa tidak boleh?"


"Aku bilang keluar! Sebelum aku membunuhmu dengan tanganku!" Duchess berbalik ke arah Leonard. Sorot mata Duches tidak main-main, ia berniat membunuh Leonard apabila terus membuatnya marah.


Dengan berat hati Leonard meninggalkan tenda itu. Ia menunggu di luar. Seluruh pasukan telah dipulangkan Duchess Hillbright. Pemberontakan telah berakhir, mereka telah menang dan tidak ada pekerjaan lagi. Namun, Leonard tidak akan beranjak dari sana sebelum memastikan Ariana baik-baik saja.


***


Mata Ariana terbuka perlahan. Kehangatan di tangannya terasa sampai dihatinya. Duchess Hillbright bernapas lega sambil tersenyum ke arah Ariana.


"Syukurlah kamu baik-baik saja, Ana."

__ADS_1


"Maafkan aku karena telah membuatmu khawatir, Kakak."


"Sudahlah, kamu beristirahat saja dulu." Duchess Hillbright mengelus-elus pipi adiknya. 


"Apa Kakak akan memberitahu bahwa aku datang ke penumpasan pemberontakan pada Ayah dan Ibu?"


Duchess Hillbright menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak akan memberitahu mereka. Lebih baik kamu mengatakannya sendiri. Aku tidak mau membuat mereka sakit hati karena mendengarnya bukan darimu sendiri."


"Setidaknya aku ingin membantu mereka, tetapi aku malah selalu menjadi beban. Aku tidak sehebat kakak atau pun Rion, kalian berdua selalu membuatku iri."


"Tidak itu salah. Kamu punya kelebihanmu sendiri Ana, yaitu berkat. Kamu bisa menyembuhkan orang lain."


Ariana memejamkan mata. Air mata mengalir di pelipisnya. Duchess Hillbright menyeka air mata itu sambil mengecup dahi adiknya.


"Setelah ini kamu harus berbicara dengan Ayah dan Ibu. Aku akan menemanimu," tambah Duchess.


Ariana menggeleng. "Aku takut, mereka pasti membenciku, Kak."


"Mereka tidak pernah membencimu karena kejadian waktu itu, Ana. Percayalah padaku. Bahkan aku pernah menyakiti hati Ibu tetapi dia memaafkanku."


Ariana membuka matanya sedikit penasaran. "Memangnya apa yang Kakak lakukan?"


Duchess Hillbright tersenyum karena umpannya behasil. "Aku akan menceritakannya jika kamu mau menemui Ayah dan Ibu."


Ariana terdiam menimbang-nimbang keputusannya. Sudah lama ia merindukan kedua orang tuanya. Sayangnya rasa cemas bahwa kerinduannya tidak berbalas dan ia tidak diterima membuatnya ragu. Duchess Hillbright menatap Ariana dengan lembut. Sorot mata kakaknya yang menenangkan seperti ibunya. Ketegasan yang dimiliki kakaknya berasal dari ayahnya. Ia seperti berhadapan kedua orang tuanya. 


"Setelah itu datanglah ke kediamanku, Ana. Kita akan berangkat bersama, aku juga sudah lama tidak mengunjungi mereka."


Keduanya saling tersenyum. Duchess berpamitan pada adiknya untuk berganti baju. Di depan pintu tendanya, ia berhenti.


"Aku akan memberimu waktu berbicara dengannya. Setelah itu kuharap biarkan dia berisirahat," ujar Duchess tanpa melihat ke arah Leonard yang berada di sampingnya.


Duchess melanjutkan langkahnya menuju tenda yang kosong. Leonard menghampiri Ariana. Ariana berusaha bangkit, tetapi Leonard melarang.


"Kau berbaring saja."


Keheningan terjadi di antara mereka berdua. Leonard bingung harus memulai percakapan dengan apa. Menanyakan keadaan Ariana terkesan aneh, Ariana terguncang hingga pingsan tentunya tidak baik-baik saja. Menanyakan kenapa Ariana terguncang juga sedikit kelewatan, karena mungkin saja Ariana akan teringat kembali dengan kenangan buruknya.


"Terima kasih karena telah menyelamatkanku, Leonard," kata Ariana memecah keheningan.


"Tidak perlu berterima kasih, aku hanya membalas kebaikanmu."


Tak ada yang memulai percakapan lagi. Kini Leonard membuka suara pertama kali.

__ADS_1


"Jadi Duchess Hillbright kakakmu?"


"Benar, kami punya ibu yang sama, ayah kami berbeda. Meski begitu dia sangat menyayangiku dan aku pun juga sama."


"Sepertinya aku telah salah paham dan menjelek-jelekkan kakakmu di depanmu."


"Kakakku memang sangat keras sehingga banyak orang yang tidak menyukainya, tetapi dia sangat baik pada orang yang mengenalnya."


Suara dehaman terdengar. Leonard dan Ariana berbalik. Duchess Hillbright sudah kembali ke tendanya. Ia menatap mereka berdua bergantian.


"Lebih baik kamu beristirahat saja, Ana. Lalu, kamu keluarlah ada yang ingin kubicarakan dengamu."


"Baik, Kak." Ariana menuruti kakaknya, memejamkan.


Leonard mengikuti Duchess Hillbright. Mereka berhenti di luar tenda. Duchess Hillbright menatap Leonard dengan tajam.


"Apa kamu menyukai adikku?"


"Tidak, aku tidak menganggapnya sebagai wanita. Aku hanya mengkhawatirkannya sebagai balasan karena telah menyembuhkanku," balas Leonard yang sedikit kesal karena dia disalahpahami menyukai anak-anak.


Duchess Hillbright mengamati mata Leonard mencari-cari kebohongan di dalamnya. Usahanya tidak membuahkan hasil. Leonard berkata jujur.


"Aku tidak akan membiarkanmu, bila mendekati adikku. Dia tidak pantas dengan orang sepertimu."


"Memangnya aku orang seperti apa? Hanya karena aku berasal dari rakyat jelata, aku tidak boleh mendekati bangsawan seperti kalian?"


"Yang kumaksud adalah sifatmu. Barbar, tidak berpikir panjang, ingin menang sendiri, dan banyak lagi tidak bisa kusebutkan."


"Ya memang aku seperti itu karena tidak pernah dididik seperti kalian. Kalian yang mempunyai segalanya tidak akan tahu penderitaanku."


Duchess Hillbright mendesah berat.


"Ditambah mudah tersulut dan menganggap dirinya paling menderita. Kamu pun tidak tahu apa yang aku dan Ana lalui, jadi jangan membandingkan-bandingkan nasib kami dengan nasibmu."


"Kalian semua bangsawan memuakkan kecuali Ariana. Dia mempunyai hati yang baik tidak sepertimu. Mungkin saja sifat ayahmu yang buruk menurun padamu."


Rahang Duchess menegang. Ia mengepalkan tangannya berusaha menenangkan dirinya agar tidak memukul orang di depannya ini.


"Percuma saja berbicara denganmu. Pulanglah. Dan ini bayaranmu karena telah menyelamatkanku waktu itu. Bukannya kamu yang memintanya?" Duchess Hillbright memberikan sejumlah uang pada Leonard.


Leonard hendak mengembalikannya tetapi uang itu sangat banyak. Ia bisa membayar utangnya dan memulai hidup baru dengan uang itu. 


"Aku tidak akan berterima kasih padamu. Akan kugunakan uang ini untuk membalas perbuatanmu yang mempermalukan diriku."

__ADS_1


Duchess tidak mengacuhkan ocehan Leonard. Ia berbalik kembali menemani adiknya. Berada di dekat Leonard membuatnya tidak terkendali, amarahnya terus melonjak setiap mendengar ucapan prajurit bayaran ini.


Leonard menggenggam uangnya, lantas menuju Ibu kota untuk segera membayar utangnya. Hidupnya akan berubah mulai saat ini.


__ADS_2