
"Bagaimana penyelidikan kemarin malam, Tuan?" tanya Isabella.
Gerald sedikit terkejut akibat pikirannya tidak berada di ruang kerjanya. Ia menceritakan apa yang didapatkannya kemarin malam. Pegawai Blaire Heaven yang menggunakan obat terlarang dan bangsawan-bangsawan yang antre di tempat itu juga menginginkan benda menjijikan itu.
"Apakah ada informasi lain?" tanya Isabella lagi.
Gerald teringat Permaisuri Pertama.
'Jangan beritahu mereka, kalau saya ke sini.'
"Tidak ada, cuma itu." Gerald pandangannya masih pada kertas yang ada di depannya.
"Saya akan menghubungi Permaisuri Pertama untuk menyampaikan hal ini." Isabella hendak mengeluarkan batu sihirnya.
"Tidak perlu, aku sudah memberitahu Permaisuri Pertama kemarin," cegah Gerald. Gerald menoleh pada Isabella. Mata Isabella sedikit melebar mendengar pernyataan Tuannya. Tidak seperti biasanya Tuannya menghubungi orang lain pertama kali. Namun, tidak ada gunanya Tuannya Berbohong.
"Kalau begitu, bagaimana kelanjutan rencananya, Tuan?" Isabella menatap Tuannya.
"Malam ini, aku akan membuat onar agar besok Count Blaire datang ke tempat itu. Aku akan menangkap Count Blaire besok," jelas Gerald.
"Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri, Isabella."
"Baik, Tuan." Isabella menunduk.
Gerald kembali melanjutkan pekerjaannya. Kejadian kemarin malam membuat pikirannya kalut.
Saat itu, Gerald sudah selesai menyelidiki tempat itu dan berniat pulang. Namun, matanya menangkap sesosok wanita yang tidak asing baginya. Wanita itu sedang bersama bangsawan lain yang memakai benda itu. Penampilan wanita itu terlihat berbeda, tetapi ia bisa mengenalinya sebagai Permaisuri Pertama. Mata emas yang tidak bisa ia lupakan.
Ia melihatnya ingin menggunakan obat itu. Sontak, ia merasa marah dan menariknya dari tempat itu. Gerald membawa Permaisuri Pertama ke ruangan VIP yang tadi ia pesan, lalu berteriak mengatakan semua yang terlintas di kepalanya. Ia tidak menyadari bahwa tangannya mencengkeram tangan Leticia dengan kuat. Seharusnya, ia meminta maaf, tetapi pikirannya saat itu tidak bisa tenang.
__ADS_1
Ia tahu tindakannya sangat kasar. Ia hanya tidak ingin perjanjian mereka batal karena Permaisuri Pertama sudah tidak waras lagi. Tempat itu sangat berbahaya baginya. Ia ingin sebisa mungkin menjauhkannya dari tempat itu. Ia mengawasi wanita itu agar tidak bertindak gegabah.
Pikirannya kacau akibat memikirkan wanita itu. Seharusnya itu bukan urusannya. Mengapa ia ingin melindungi Permaisuri Pertama? Sudah pasti agar perjanjian mereka berjalan hingga akhir.
Gerald tidak menyukai wanita itu. Sorot mata Leticia mengingatkannya pada ibunya. Sorot mata orang yang masih menyimpan harapan meskipun di depannya hanya ada keputusasaan. Sebisa mungkin ia ingin menghindarinya. Namun, hal itu akan sulit karena ia bekerja sama dengan wanita itu.
***
Gerald yang sudah menunggu Leticia dikejutkan dengan Permaisuri Pertama datang dengan orang lain memakai jubah penyihir. Pemimpin Penyihir Menara tersenyum sambil menyapa Gerald.
"Saya minta maaf karena datang dengan Penyihir Menara. Sebelumnya, saya sudah menghubungi Anda lewat batu sihir tetapi tidak tersambung. Ini surat penangkapan untuk besok. Saya akan membuat kekacauan di luar bersama Penyihir Menara, apakah tidak apa-apa Grand Duke?" tanya Leticia sambil memberikan surat penangkapan.
"Lakukan sesukamu, Permaisuri," balas Gerald dingin dengan mengambil surat di tangan Leticia.
"Anda bisa bertengkar dengan salah satu orang di dalam, Grand Duke. Lalu mengobrak-abrik tempat itu," jelas Leticia.
"Ini adalah batu sihir untuk membuat ledakan, Grand Duke. Dengan melemparnya Anda bisa membuat kerusakan." Dale mengeluarkan batu sihir berbentuk bulat tidak rata berwarna merah kehitaman. Ia memberikannya pada Gerald.
"Anda bisa melempar batu ledakan itu saat keluar dari gedung ini, Grand Duke. Dengan begitu, orang-orang akan tahu bisnis ilegal Count Blaire," tambah Leticia.
"Baiklah, saya setuju," jawab Gerald.
"Sebelum itu, saya akan membuat mata Anda dan Permaisuri berubah. Bisa gawat jika ada orang yang mengenali." Dale menjentikkan jarinya, dalam sekejab warna mata Gerald dan Leticia berubah.
Gerald sejenak menatap mata Leticia yang kini berwarna hijau. Meskipun berubah warna, ia masih merasakan mata Leticia yang bersinar. Gerald akan tetap mengenali Permaisuri Pertama meskipun mata, rambut ataupun wajahnya berubah sekalipun. Itu semua hanya perkiraannya.
Ia segera berbalik menuju ke dalam Blaire Heaven. Dua pasang mata menatap Gerald semakin menjauh. Entah mengapa salah satunya membuatnya tidak nyaman.
Kini, ia sudah sampai di dalam. Ia melihat di sekelilingnya. Bangsawan-bangsawan menyedihkan yang menggunakan obat hanya untuk lari dari masalah.
Ia mendekati salah satu bangsawan di sana, membangunkannya. Gerald memukulnya. Bangsawan itu tersungkur. Ia berusaha membalasnya tetapi tidak bisa karena pengaruh obat. Beberapa orang berteriak dan meminta bantuan pada penjaga. Beberapa lagi, terutama yang mabuk mendekati Gerald untuk melihat pertarungan. Mereka bersorak-sorak karena melihat sebuah hiburan. Ada juga yang tidak melakukan apapun akibat sudah melayang pada dunianya sendiri.
__ADS_1
Grand Duke Faust membalikkan meja-meja yang ada di sana. Para bangsawan terkejut dan berusaha melarikan diri. Bangsawan yang menggunakan ruang VIP keluar untuk melihat keadaan.
Penjaga-penjaga telah datang menghentikan Gerald. Tindakan penjaga itu sia-sia karena mereka berhadapan dengan orang terkuat di Kekaisaran. Tinju penjaga melayang satu persatu. Tak ada yang mengenai Gerald. Gerald membalasnya dengan pukulan telak dan membanting orang yang berusaha menangkapnya dari belakang.
Merasa sudah cukup, ia berlari keluar. Meraih batu sihir yang diberikan kepadanya tadi. Sampai pada pintu masuk, ia melemparkan batu itu. Suara ledakan terdengar.
***
Sebagian adalah salahnya karena memberitahu Dale tentang hal ini. Leticia hanya ingin Dale menghentikan penyelidikan terhadap bisnis baru Count Blaire karena Leticia sudah mengetahuinya. Dale bertanya macam-macam. Leticia berhasil membohonginya bahwa ia tidak pernah masuk ke dalam Blaire Heaven. Ia berdalih dengan secara kebetulan bertemu dengan Grand Duke Faust di depan, lalu meminta Gerald menyelidiki tempat itu.
Dale ikut pada malam ini, karena takut terjadi sesuatu pada Permaisuri Pertama. Membiarkannya berduaan dengan orang terkejam di Kekaisaran membuatnya tidak tenang, walaupun mereka sedang bekerja sama.
Untungnya, Grand Duke Faust tidak marah karena Leticia tiba-tiba mengundang Dale. Leticia merasakan tatapan Grand Duke Faust tajam. Mungkin ia sedikit kesal, tetapi yang terpenting rencana mereka dapat berjalan seperti biasa. Perubahan warna mata Gerald menjadi hitam, membuat Leticia menatap mata itu sekilas. Seperti kelamnya malam, dan masih sedikit menakutkan.
Begitu Gerald masuk, Dale memakai tudungnya agar tidak terlihat. Ia berteleportasi masuk ke dalam rumah-rumah di sekitar, lalu menggedor-gedor pintu. Orang-orang yang berada di rumah bangun. Melihat tidak ada orang yang di luar kamarnya, mereka kembali ke tempat tidur mereka. Namun, keributan di luar membuat mereka tidak bisa tidur.
Leticia menabrak salah satu bangsawan di depan Blaire Heaven untuk menyerobot antrean. Bangsawan itu berusaha membalasnya dengan mendorongnya. Leticia berhasil menghindar, sehingga bangsawan itu mendorong orang di depannya. Bangsawan-bangsawan itu mulai berkelahi dan membuat keributan. Penjaga pintu masuk mulai melerai bangsawan-bangsawan itu. Namun, tindakannya sia-sia. Kekacauan di luar semakin menjadi-jadi.
Leticia menjauh dari sana agar tidak terkena ledakan yang akan dibuat Gerald. Ia bersembunyi dibalik gang.
Tak lama, ledakan terjadi. Tembok Blaire Heaven hancur. Keluar asap dari sana. Gerald segera bersembunyi di gang yang sama dengan Leticia. Bangsawan-bangsawan itu lari ketakutan.
Orang-orang yang berada di dalam rumah mulai keluar. Mereka melihat bangsawan-bangsawan bertopeng keluar dari gedung yang terkena ledakan itu. Bangsawan-bangsawan itu berlari secara terhuyung-huyung.
Begitu asap dari gedung itu mulai menghilang, orang-orang di sekitar rumah terkejut. Bangsawan yang masih di dalam gedung tertawa dan menyeringai mengerikan.
Salah satu bangsawan yang melarikan diri menjatuhkan cerutunya. Lalu seseorang mengambilnya. Orang itu melihat-lihat cerutu itu dan berniat membaunya.
"Jangan dihirup itu adalah obat terlarang!" teriak Dale yang tidak terlihat. Tak ada yang menyadari dari siapa teriakan ini karena kekacauan.
Orang itu segera menjatuhkan cerutu itu kembali dan berteriak.
__ADS_1
"Bangsawan-bangsawan itu menggunakan obat-obat terlarang!"
Rakyat jelata melihat situasi ini dengan tatapan jijik. Leticia tersenyum melihat hal ini.