Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 66 Titik Balik


__ADS_3

Isabella terbelalak. Kepalanya kosong. Ia mematung. Dale menjauhkan bibirnya dari Isabella. Isabella berdiri lalu menghilang menuju kerumunan.


Dale hanya memandangi Isabella yang sudah menghilang. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan sambil menunduk.


'Aku lupa untuk menghapus ingatannya.' batin Dale.


Isabella masih menjauh dari alun-alun. Ia memegangi bibirnya. Ia tidak menyangka Dale akan melakukan hal itu. Seharusnya ia langsung bereaksi dengan mendorong Dale. Seharusnya ia marah, memukulnya karena telah merebut bibirnya. Namun, kenapa ia malah melarikan diri? 


Perlahan langkah Isabella berhenti. Ia menoleh ke belakang ke arah Dale tadi. Dale tidak mengejarnya. Kenapa ia berharap Dale mengejarnya?


Isabella menyadari sesuatu. Ia menutupi mukanya dengan kedua sambil tertunduk. Ia jatuh cinta pada pecinta wanita itu. Ia tidak suka melihat penyihir itu menjauhinya dan dekat dengan wanita lain. Lalu, ia mengharapkan orang itu mencintainya. Namun, orang itu tidak mencintainya, Dale hanya bermain-main. Tak disangka Isabella telah menjadi korbannya. 


Isabella mennggertakkan giginya. Lalu menurunkan tangannya perlahan. Ia melihat langit malam yang kembali kelam. Kembang api sudah selesai.


***


Dean diseret Rose menuju tempat penjual makanan. Sebenarnya ia tidak rela meninggalkan Permaisuri Pertama dan Tuan Putri, tetapi mereka butuh privasi. 


"Jadi makanan apa yang enak di sini?" tanya Rose.


"Saya kurang tahu, Penyihir Kekaisaran," jawab Dean.


"Begitu ya, kalau begitu apa saja yang dicoba Permaisuri tadi?"


Dean menunjuk beberapa gerai makanan. Rose mengangguk lalu meminta Dean memandunya. Dean yang kikuk, tetap menuruti Rose.


Mereka sampai pada gerai menjual bbq. Rose membeli dua. Satu untuknya dan satu lagi untuk Dean. Ia menyodorkannya pada Dean.


"Maaf saya tidak bisa menerimanya, Penyihir Kekaisaran." Dean menggeleng.


"Terima saja, aku punya banyak uang. Tidak perlu khawatir. Kita bersenang-senang saja di sini." Rose memegang tangan Dean lalu memberikan bbq itu di tangannya.


Dean terpaksa menerimanya. Rose berjalan ke tempat makan lain yang ditunjuk Dean tadi. Ia menghabiskan bbqnya sambil berjalan. Dean ikut memakannya, karena ia tidak ingin menyia-nyiakan makanan.

__ADS_1


Rose membeli permen kapas. Ia juga membeli dua kali ini. Ia memberikannya pada pengawal Judith. Dean merasa tidak enak, tetapi menolak pemberian orang terus juga tidak baik. Jadi ia memakannya.


Rose menuju salah salu gerai permainan di dekat sana. Permainan yang mirip dengan dart. Orang yang mendapat score tertinggi akan mendapat hadiah. Dean mengikuti di belakangnya.


Rose mencoba memainkan itu. Namun, ia kalah. Scorenya terpaut sedikit dengan pemenang sebelumnya. Merasa sebal, Rose meminta Dean untuk mencobanya. Dean terpaksa menuruti permintaannya.


Ia melemparkan dart demi dart. Lemparan pertama menancap tepat di tengah sedangkan lemparan kedua dan ketiga berada di luar lingkaran tengah. Ia mendapat score tertinggi.


"Ternyata kau hebat juga," puji Rose.


Ini bukanlah hal yang sulit bagi Dean. Dean merasa ini seperti latihan memanah. Perbedaannya tidak ada busur. Ia harus melemparkan anak panah tepat di tengah. Dalam pertarungan sesungguhnya seperti melemparkan tombak ke musuh. 


Dean mendapat hadiah sebuah boneka beruang. Ia mengernyit, seorang laki-laki tidak memerlukan benda seperti ini. Ia menghadiahkan boneka ini pada Rose sebagai ganti telah mentraktirnya tadi.


"Terima kasih, sebenarnya aku tidak terlalu menyukai boneka, tetapi ya sudahlah. Sepertinya kau juga tidak membutuhkannya," jawab Rose sambil menerima boneka itu.


Lalu, terdengar suara kembang api. Rose dan Dean melihatnya di tempat mereka berdiri. Sungguh pemandangan yang indah. Dean menatap Rose lama. Rose tidak menyadarinya karena terpaku pada kembang api.


Setelah kembang api itu memudar mereka lanjut berkeliling bermain dan makan. Mereka mencari Leticia dan Judith karena sudah waktunya pulang. Sebenarnya Rose masih ingin berada di sini tetapi tidak baik Leticia dan Judith pulang terlalu malam.


***


"Apa kamu senang datang ke festival, Sayang?" tanya Leticia sambil menatap Judith.


"Ya, aku sangat senang Ibu," jawab Judith bersemangat.


"Baguslah kalau begitu." Leticia tersenyum sambil mengelus-elus kepala putrinya.


Leticia memandang langit malam. Ia merindukan Gerald. Ia penasaran apakah malam ini Gerald juga memandang langit yang sama. Ia ingin bertemu dan melihat wajahnya. 


"Aku ingin ayah juga datang ke sini juga," ucap Judith tiba-tiba.


Leticia menoleh ke arah Judith. Judith tersenyum. Leticia terlambat untuk membalasnya dengan senyuman palsu. Judith menyadarinya.

__ADS_1


"Apa Ibu tidak suka?"


"Ibu tidak tahu."


Keheningan terjadi di antara mereka berdua. 


Leticia membuka suara. "Bagaimana jika ayahmu tidak mencintai ibu atau dirimu lagi, Sayang?"


"Kalau seperti itu, aku akan membuat ayah mencintai Ibu lagi," tegas Judith.


"Bagaimana jika perbuatanmu itu sama sekali tidak membuahkan hasil?"


"Kenapa Ibu ragu? Apa Ibu tidak yakin Ayah akan mencintai Ibu lagi?"


Leticia tidak ingin mengatakan kebenaran secepat ini. Ia tidak sanggup mengatakan Braun tidak lagi mencintai putrinya. Namun, ia harus mengatakannya.


"Karena Ayahmu sama sekali tidak pernah mencintai Ibu dan dirimu, Sayang," jawab Leticia lirih.


"Tidak, itu tidak benar. Ayah pasti mencintai Ibu dalam hatinya buktinya Ayah menemui Ibu di kamar sebulan yang lalu. Ayah juga mencintaiku, buktinya beliau datang menemuiku di kamar sebelum latihan atau belajar. Aku akan membuat Ayah mencintai Ibu. Aku janji," suara Judith sedikit gemetar.


"Permaisuri Charlotte mendapat semua perhatian Ayahmu. Ayahmu hampir tiap hari berada di kamar Permaisuri Charlotte, berbeda dengan Ibu. Kamu tidak perlu berjuang keras sampai seperti itu, Sayang."


"Tapi-"


Judith menghentikan kata-katanya karena mendengar suara kembang api. Ia menghadap ke atas melihat pemandangan malam hari yang disinari cahaya yang gemerlap. Ia terpana sampai melupakan apa yang ingin diucapkannya tadi. Kembang api itu selesai.


Leticia memeluk putrinya. "Ibu tidak apa-apa jika Ayahmu tidak mencintai Ibu, Sayang. Dengan adanya dirimu sudah cukup bagi Ibu."


"Baik, Ibu." Judith membalas pelukan Ibunya.


Semua yang dikatakan ibunya tidak benar. Ibunya terlalu lelah karena keberadaan Permaisuri Charlotte sehingga tidak bisa melihat hal yang sebenarnya. Judith akan membuktikan bahwa ucapannya benar.


Leticia harus mempunyai bukti bahwa Braun sama sekali tidak mecintai dirinya dan Judith. Kata-kata tidak bisa meyakinkan Judith. Braun secara diam-diam melakukan pendekatan dengan Judith tanpa sengetahuan Leticia. 

__ADS_1


Leticia akan mencari bukti nyata tentang hubungan Charlotte dan Braun sebelum mereka menikah. Lalu, ia juga akan menunjukkan pada Judith perbedaan kasih sayang yang diberikan oleh Braun pada putrinya dan Louis. Kasih sayang yang diberikan Braun pada Judith sama sekali tidak tulus. Meskipun kebenarannya menyakitkan Judith harus tahu semua itu.


__ADS_2