Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 67 Konfrontasi Perasaan


__ADS_3

Rose melihat gelagat Isabella yang aneh saat melatih Judith. Isabella sering melamun, pikirannya tidak berada di sini. Rencana Rose saat festival ternyata malah berdampak buruk bagi Isabella. Rose mendesah. Dari dulu rencana yang Rose buat sebagian besar berakhir gagal. Seperti sekarang. Rose berniat menebus kesalahannya. 


Isabella yang telah selesai latihan duduk di samping Rose.


"Orang itu ternyata masih pengecut seperti dulu," celetuk Rose tiba-tiba.


Isabella bingung tidak tahu siapa yang dimaksud Rose. Ia juga tidak ingin bertanya karena pikirannya terasa lelah, tetapi jelas terlihat tanda tanya wajahnya.


"Tentu saja Dale," jawab Rose seolah-olah tahu apa yang ada di pikiran Isabella.


Isabella langsung menoleh pada penyihir istana ini, tetapi tetap diam saja.


"Dulu dia menyukai Leticia tetapi tidak berani menyatakan cintanya."


Isabella melebarkan matanya tetapi tidak menanggapinya.


"Saat mendengar Leticia menikah dengan Braun dia sakit hati hingga tidak datang ke pesta pernikahannya."


Isabella masih mendengar Rose dengan seksama.


"Lalu, begitu Dale tahu kalau Braun sama sekali tidak pernah mencintai Leticia, ia menyesal tidak menyatakan cinta dan membawanya lari bersamanya. Penderitaan yang Leticia alami, dia pikir adalah salahnya. Dia menyalahkan diri sendiri, lalu menebusnya dengan berjuang lebih keras dari siapapun."


Setelah lama diam Isabella membuka mulutnya. "Kenapa kamu menceritakan hal ini padaku?"


"Aku hanya bicara sendiri tidak sedang berbicara denganmu." Rose mengelak sebenarnya dia memang mau menceritakan hal ini pada Isabella.


"Dia mendekati banyak wanita bukan karena ingin melupakan Leticia. Dale sama sekali tidak menyukai wanita-wanita yang pernah didekatinya. Dia mengorek informasi dari wanita itu. Lalu menghapus ingatan wanita itu. Itulah alasan tidak pernah ada wanita yang melabraknya.  Leticia juga tahu tentang hal ini," lanjut Rose.


"Begitu ya." Isabella mengangguk.


"Sepertinya bicaraku terlalu panjang dan keras, karena kau menguping jangan pernah ceritakan ini pada Leticia, Countess. Aku tidak ingin dia juga merasa bersalah," ucap Rose.


Isabella tersenyum. "Tentu saja, terima kasih sudah menemaniku, Pemimpin Penyihir Istana."


Rose tidak menjawab hanya mengibas-ibaskan tangannya. Ia tahu dari raut wajah Isabella, beban pikirannya sudah hilang. Isabella berpamitan dengan Judith, lalu segera pergi.


Rose tersenyum melihat Isabella. Semoga apa yang dikatakannya tadi dapat membantu Isabella.


***


Dale berada di menaranya mengerjakan tugas-tugasnya. Sudah beberapa hari ini terus berada di menara. Seandainya Rose tidak mengajaknya ke festival mungkin ia tidak akan keluar dari tempat ini. Ia ingin menyibukkan diri.


Asistennya bahkan bingung dengan tingkah Dale. Biasanya Dale sering keluar lalu menyerahkan pekerjaan Pemimpin Penyihir Menara pada dirinya. Dale yang duduk mengerjakan dokumen-dokumen itu terlihat seperti orang asing baginya. Seharusnya ia merasa senang dengan ini pelerjaan tidak bertambah, tetapi tetap saja ada yang aneh. 


Asisten Dale melihat Dale meninggalkan pekerjaannya beberapa hari yang lalu saat menemui seorang wanita. Dale menemui wanita itu untuk menghapus ingatannya tentang buku sihir terlarang yang Pemimpin Penyihir Menara cari-cari. Setelah itu ia tidak pernah melihat Dale keluar lagi, mendekam di sini.


"Pergilah, ambilkan dokumen-dokemen yang belum kukerjakan," perintah Dale.


"Bukannya ini sudah banyak, Pemimpin?" Asistennya menunjuk tumpukan dokumen di meja Dale.

__ADS_1


"Ini semua sudah kukerjakan, kamu bisa memeriksanya. Cepat bawakan lagi."


Asisten Dale memeriksa dokumen-dokumen itu. Ternyata Dale sudah menyelesaikan semua dokumen-dokumen ini. Asistennya segera menunduk lalu keluar mencari dokumen-dokumen lain.


Dale menghela napas panjang. Lalu ada yang mengetuk pintu. Salah satu penyihir bawahannya masuk.


"Pemimpin ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Anda," ujar penyihir itu.


"Suruh wanita itu pulang, minta padanya untuk membuat janji dulu padaku," jawab Dale ketus.


Wanita yang berada di luar ruangan mendengar ucapan Dale langsung masuk ke dalam.


"Kamu datang tanpa pemberitahuan saat menemuiku pertama kali di kediaman Faust. Untuk apa aku harus membuat janji dulu denganmu," kata wanita berambut pendek berwarna merah.


Mata Dale terbuka lebar. Ia tidak menyangka Isabella datang ke sini. Ia meminta bawahannya untuk keluar.


Isabella segera duduk di kursi tamu yang berhadapan dengan kursi meja kerja Dale. Hanya ada satu kursi tamu di sana. Biasanya Dale berbicara dengan tamunya di kursi meja kerjanya. Dale berdiri duduk di meja kerja. Ia saling berhadapan dengan Isabella.


"Ada apa Anda datang ke sini, Countess?" tanya Dale. Ia terlihat serius, tanpa senyuman di wajahnya.


"Bicaralah santai seperti biasa. Ini bukan pertemuan penting," jawab Isabella.


"Baiklah. Jadi kenapa kamu kemari?"


Dale sebenarnya tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Isabella. Pasti gara-gara kelakuannya saat festival kemarin.


"Kudengar kamu mendekati wanita hanya untuk mengorek informasi," kata Isabella tanpa basa-basi.


Dale tidak menyangka Isabella mengetahui hal ini. Ada orang yang membocorkan hal ini pada Isabella sepertinya Rose. Leticia bukanlah orang yang akan membeberkan cara Dale memperoleh informasi.


"Jadi informasi apa yang kamu ingin ketahui dariku?" Isabella menatap Dale tajam.


"Itu sudah tidak penting. Kamu dan Grand Duke dapat dipercaya. Aku menyelidikimu karena takut sewaktu-waktu kalian akan berkhianat," jawab Dale jujur.


Mereka berdua dapat dipercaya. Kekasih dan sahabat lama Leticia tidak akan mengkhianati Permaisuri Pertama.


"Begitu ya, lalu kudengar lagi, kamu akan menghapus ingatan wanita setelah mendapat informasi yang kamu inginkan. Kenapa kamu tidak menghapus ingatanku?" sergah Isabella.


Dale menggerutu dalam hati. Ia ingin mengata-ngatai Rose.


"Jika ingin ingatanmu dihapus, minta saja pada Rose," jawab Dale kesal.


Isabella berdiri.


"Kenapa kamu tidak menghapus ingatanku langsung saja sekarang?" Isabella mengulangi pertanyaannya dengan sedikit perbedaan karena Dale masih belum menjawab pertanyaannya.


"Karena aku tidak ingin melakukannya," jawab Dale.


Isabella mendekati Dale hingga jarak mereka yang begitu lebar tadi, sekarang menyempit. 

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak ingin menghapus ingatanku?" Isabella terus menekan Dale. 


Isabella balas dendam atas perbuatan Dale yang menekannya.


Dale masih terdiam. Ia tahu jawabannya tetapi tidak mau menjawab.


Isabella semakin dekat hingga tidak ada jarak di antara mereka.


Isabella mengulangi pertanyaannya sekali lagi sambil menatap mata Dale. "Kenapa kamu tidak ingin menghapus ingatanku?"


Dale mengepalkan tangannya sambil bertatapan dengan mata Isabella.


"Aku tidak ingin kamu melupakan diriku."


Isabella tersenyum. "Itu adalah jawaban yang ingin kudengar."


Tanpa aba-aba Isabella mengecup bibir Dake. Dale membuka matanya karena saking terkejutnya. 


Isabella melepas bibir mereka yang tadi saling bersentuhan. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Isabella masih tersenyum. Senyum yang membuat Dale terlena saat festival.


"Kenapa tidak dibalas?" tanya Isabella.


Dale bisa merasakan napas Isabella.


"Ini bukanlah hal yang pantas dilakukan oleh bangsawan dan rakyat jelata, Countess." 


"Begitu ya, lalu kenapa saat di festival kamu melakukan hal itu padaku?" 


"Itu adalah kesalahan, Countess. Aku harap kamu melupakannya."


Tidak, Dale tidak ingin Isabella melupakannya. Ia tidak ingin Isabella melihat keburukannya. Ia tidak ingin Isabella salah paham terhadap dirinya. Ia tidak ingin Isabella membencinya karena melihatnya bersama wanita lain.


"Bagaimana kalau aku tidak ingin melupakannya?"


Dale terdiam sebentar. Lalu berkata, "Bangsawan dan rakyat jelata tidak bisa bersama, Countess."


Itu adalah ketakukan terbesar Dale. Dale tidak bisa memiliki Leticia karena statusnya sebagai rakyat jelata. Sekarang, ia takut hal ini terjadi juga pada Isabella.


"Aku tidak peduli terhadap status. Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau mencintai seseorang segala cara akan dilakukan?" Senyum Isabella merekah di bibirnya.


Mata Dale membesar sebentar. Senyum Dale perlahan muncul. Dale mendekatkan Isabella lagi dengan meraih pinggangnya.


"Kamu benar."


Dale tidak lagi menahannya, mencium bibir Isabella. Tangannya menopang pinggang dan kepala Isabella.


Isabella menutup matanya merasakan ciuman manis Dale. Ia mengalungkan lengannya pada leher Dale.


Mereka berciuman cukup lama. Dale yang melepas ciuman mereka. Mereka berdua saling tersenyum.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Isabella."


"Aku juga mencintaimu, Dale."


__ADS_2