
Setelah seharian panjang memperbaiki restorannya yang hancur, ia bisa bernapas lega. Ia memanggil penyihir agar gedung miliknya dapat diperbaiki dalam sehari. Dari tadi ia berusaha menahan amarahnya kepada karyawannya. Karyawan restoran tidak bersalah, yang bersalah adalah karyawannya di malam hari. Jika ia tiba-tiba memarahi mereka yang tidak tahu apa-apa, keadaan akan semakin runyam. Ia akan melampiaskan kemarahannya nanti malam.
Ia sempat mendengar desas-desus bahwa restoran miliknya di malam hari digunakan sebagai tempat menjual obat terlarang. Ia segera membayar semua orang yang tinggal di sekitar gedung miliknya untuk tutup mulut. Dengan ini, berita buruk tentang bisnis baru miliknya tidak akan tersebar.
Count Blaire terpaksa akan memindahkan bisnis gelapnya dari sini. Ia akan memberitahu langganannya nanti malam. Lalu, ia akan membuat perhitungan kepada orang yang membuat kerusakan pada gedung miliknya. Ia akan menuntut kerugian atas bangunannya yang rusak.
Hari mulai berganti malam, Count Blaire mengumpulkan pegawainya. Ia memarahi mereka habis-habisan dan mencabut jatah obat milik mereka. Mereka merengek menginginkan benda itu agar tetap diberikan.
Count Blaire merasakan kesenangan dari ketidakberdayaan orang-orang yang menyedihkan ini. Ia merasa menjadi orang yang paling berkuasa. Count berbaik hati akan memberikan mereka jatah apabila bekerja keras. Pegawai-pegawainya langsung bersemangat dan kembali bekerja.
Tempat ini sudah beroperasi lagi tanpa ada yang menyadari kemarin malam ada penyerangan. Bangsawan-bangsawan mulai berdatangan. Ada yang masih takut, tetapi mereka memaksakan diri untuk datang karena sudah ketergantungan.
Count memeriksa mereka satu persatu, mencari orang yang berbuat onar di tempat miliknya. Namun, ia belum menemukan orang itu.
Lalu, ada satu orang yang tidak disangka datang, Grand Duke Faust. Orang itu sama sekali tidak memakai topeng untuk menyembunyikan identitasnya.
Count Blaire merasakan adanya keanehan, berusaha melarikan diri lewat pintu belakang. Pasti ada mulut yang tidak bisa dijaga, batinnya. Grand Duke segera mencegahnya dan membacakan surat penangkapan.
"Count Blaire, Anda ditangkap atas tuduhan penyebaran obat-obatan terlarang."
Count Blaire mengelak, "Anda sepertinya salah paham, Grand Duke. Saya hanya menjalankan bisnis seperti biasa. Mereka semua di sini mabuk karena alkohol."
"Anda pikir saya tidak bisa melihat. Tak ada botol alkohol di sini, yang ada hanyalah cerutu ini." Grand Duke Faust menunjukkan cerutu yang dibawanya.
Count Blaire berusaha mengambilnya dari Grand Duke Faust. Grand Duke menyelamatkan cerutu yang ada di tangannya, lalu menendang Count Blaire. Count terjatuh. Ia berusaha berdiri tetapi, Grand Duke menahan pundaknya.
"Bukti sudah di tangan, Count. Anda tidak bisa lari lagi. Pastinya di rumah Anda banyak bukti-bukti yang Anda sembunyikan. Saya akan mencari semuanya," kata Gerald.
Tubuh Count Blaire merasa lemas. Ia akan bangkrut, lebih parah lagi nyawanya akan melayang. Dan tak ada satupun orang di sana yang peduli kepada kemalangannya. Padahal ia yang membangun tempat itu dan membantu mereka semua untuk terhindar dari masalah.
***
Sebuah kabar baik tersebar kembali. Penangkapan dari pasangan Blaire membuat kehebohan di Kekaisaran. Masih belum diputuskan hukuman mereka. Pastinya, Leticia berharap mereka mendapat hukuman yang setimpal. Cerutu milik Leticia menjadi barang bukti penangkapan bisnis ilegal Count Blaire.
__ADS_1
Mereka tidak bisa menggunakan cerutu milik Grand Duke Faust karena patah. Ia mematahkannya saat berada di ruang VIP.
Investor dari bisnis baru Count Blaire merasa tertipu. Mereka ikut menuntut Count. Salah satunya adalah Charlotte. Beberapa hari ini, Leticia sering melihatnya menahan amarah.
Meskipun begitu pandangan publik terhadap orang yang pernah berinvestasi pada Count Blaire akan buruk. Orang-orang akan mempertanyakan hubungan mereka dengan kasus ini.
Rose datang ke ruangan Leticia. Ia duduk dengan cepat di kursi tamu.
"Aku sudah mendapatkan informasi tentang kartu ini." Rose menujuk kartu bergambar wine itu.
Sebenarnya, ia tidak memerlukan informasi itu lagi. Namun, tidak ada salahnya mendengar penjelasan Rose.
"Jadi apa yang kamu dapatkan, Rose."
"Ini milik bangsawan yang bertransaksi dengan Count Blaire. Kau pasti sudah tahu akan hal ini, Leticia. Yang mencengangkan adalah pernah sekali kartu ini ditemukan di kuil."
Mata Leticia melebar.
"Apa salah satu pendeta menggunakan benda itu?"
"Terima kasih atas informasimu, Rose."
Sedikit demi sedikit rahasia yang dimiliki kuil mulai terlihat. Leticia akan melucuti satu persatu rahasia yang kuil tutupi. Dengan begitu, ia akan merapuhkan pemerintahan Braun.
"Tidak masalah, kartu ini biar aku saja yang simpan. Aku akan mencoba menyelidikinya lagi."
Rose segera berdiri, meninggalkan tempat itu. Ia sampai di pintu, kemudian berbalik.
"Aku hampir lupa. Kau tidak masuk ke tempat itu bukan?"
"Tidak, Grand Duke Faust yang masuk. Dia yang memberitahuku keadaan di dalam. Aku bertemu dengannya di luar." Kebohongan yang sama ia utarakan kepada temannya.
"Baguslah kalau begitu."
__ADS_1
Rose menutup pintu. Leticia bernapas lega. Setidaknya kedua teman penyihirnya percaya pada kebohongan yang ia buat. Ia tidak ingin mereka khawatir dan memarahinya karena berada di tempat yang berbahaya. Ternyata Grand Duke Faust dapat menjaga rahasia. Jika tidak, Isabella pasti sudah memarahinya.
Kejadian di Blaire Heaven akan menjadi rahasia antara Grand Duke Faust dan Leticia selamanya.
***
Seorang pria dan wanita berada di tempat tidur tertutup selimut. Si wanita mengusap-usapkan kepalanya pada dada si pria. Merasa senang, pria itu membelai rambut si wanita.
"Jangan khawatir, Sayang. Aku akan membuat Count Blaire dan istrinya mendapat hukuman yang setimpal."
Wanita itu mendongak menatap wajah suaminya. Matanya sedikit berkaca-kaca. "Mereka pantas dihukum mati. Apa kamu tahu yang orang-orang katakan tentang diriku, Sayang? Mereka menganggap aku ikut serta dalam mengelola bisnis itu dan mengunakan benda itu juga. Aku hanya berinvestasi tanpa mengetahui apapun. Aku ditipu."
Sebutir air mata menetes di pipi si wanita. Si pria mengusap air mata wanita itu, lalu mencium keningnya.
"Tenang, tak ada orang yang berani menentang Kaisar. Mereka akan kuhukum mati dan tentunya kabar burung itu akan kulenyapkan."
"Terima kasih, Sayang."
Braun membenamkan kepala Charlotte dalam dadanya lagi. Charlotte memeluk erat sang Kaisar. Ingin merasakan kasih sayangnya.
"Tidakkah seharusnya, Judith belajar berpedang di Istana? Aku merasa tidak tenang karena dia harus ke tempat orang itu," kata Charlotte.
"Apa yang kamu takutkan, Sayang?" Braun memegang wajah Charlotte untuk melihatnya.
"Semua rencana kita untuk membuat hubungan Leticia dan Judith renggang tidak berhasil. Kukira Judith akan membenci ibunya karena menelantarkan anaknya ke tempat orang yang kejam, nyatanya tidak. Jika Judith terus-terusan ke sana, aku takut orang itu akan memanfaatkan putri Leticia untuk mengorek informasi tentang dirimu, dengan menculik atau mengancamnya. Reputasi orang itu semakin bagus, bisa saja ia merebut takhta."
Kekhawatiran yang dirasakan Charlotte, sebenarnya juga dirasakan oleh Braun. Rumor buruk yang ia sebarkan perlahan mulai dilupakan karena pencapaian yang telah Grand Duke Faust lakukan. Ia akan segera menyebarkan rumor buruk tentang Grand Duke Faust lagi.
"Imajinasimu cukup liar juga, Sayang. Pastinya, Leticia tidak berpikir sampai seperti itu. Besok, aku akan meminta Leticia agar guru pedang Judith datang ke Istana," jawab Braun menutupi kekhawatirannya.
"Baginya cukup untuk menempatkan pengawal pribadinya untuk melindungi Judith. Namun, orang itu adalah orang terkuat di Kekaisaran, pengawal pribadi Judith tidak akan mampu mengalahkannya." Charlotte memaki kebodohohan Leticia.
"Semuanya akan baik-baik saja, Sayang," jawab Braun berusaha menenangkan Charlotte.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang."
Mereka berusaha tidur dengan tenang, melupakan masalah yang sedang terjadi. Tanpa tahu siapa dalang dibalik masalah yang menimpa mereka.