
Judith sedang membaca buku di perpustakaan. Ibunya akan datang tidak lama lagi. Sekarang ia bersama dengan Rose. Rose merasa bosan karena harus diam saja melihat Judith membaca buku. Rose tidak menyukai buku. Buku yang ia baca hanya buku yang berisi tentang sihir saja. Ia membacanya karena terpaksa untuk mempelajari sihir. Jika tidak mempelajari sihir mungkin ia tidak akan membaca sama sekali.
Leticia-lah yang mengajari dirinya dan Dale membaca dan menulis. Awalnya Rose merasa ogah-ogahan, tetapi karena ingin menjadi penyihir ia memaksa dirinya untuk belajar. Dale lebih antusias belajar daripada dirinya, karena ia bercita-cita menjadi penyihir terkuat di Kekaisaran. Bisa dibilang sekarang impiannya terwujud. Rose mengakui bahwa Dale lebih hebat daripada dirinya.
Rose merasa sikap Dale saat masih anak-anak lebih baik ketimbang sekarang. Saat anak-anak ia bersikap manis walaupun sedikit pengecut. Sekarang, ia seperti orang yang suka berbuat onar dan tidak memedulikan nama baiknya tercoreng karena ingin memperoleh informasi dari putri bangsawan. Itu sebabnya sekarang ia dan Dale sering bermusuhan. Mulutnya tidak bisa dijaga dan tindakannya selalu di luar kendali.
Rose bertopang dagu melihat anak Leticia yang masih betah membaca.
"Judith bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Judith berhenti membaca lalu menatap Rose lekat-lekat, penasaran dengan apa yang akan ditanyakan. "Tanya apa Bibi Rose?"
"Apakah kamu tidak mau belajar sihir denganku?"
"Sudah berulang kali Bibi menanyakan hal ini. Bukannya aku tidak mau, tetapi aku tidak mempunyai bakat menjadi penyihir. Aku tidak mempunyai energi yang bisa menciptakan sihir," jelas Judith panjang.
"Mungkin lama kelamaan energi itu dapat tumbuh di dalam tubuhmu," tukas Rose.
"Aku tahu Bibi ingin menghiburku, tetapi pernyataan itu tidak tertulis di dalam buku, Bibi Rose."
"Baiklah aku menyerah." Rose mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Sifatnya yang satu ini menurun dari Leticia," gumam Rose sambil memalingkan wajah dari Judith.
Judith hendak melanjutkan lagi membaca bukunya. Rose menghentikannya dengan mengajukan pertanyaan lain. "Apakah kamu menyukai Guru Pedang barumu?"
"Tentu saja, Guru sangat baik, keren dan hebat. Aku ingin sekuat Guru." Mata Judith bersinar-sinar menceritakan gurunya.
"Siapa yang lebih keren aku atau Gurumu?"
__ADS_1
Judith memegangi kepalanya dengan sebelah tangan sambil memejamkan mata. Tak lama ia membuka matanya.
"Guru lebih keren," jawab Judith jujur.
Rose sedikit kesal. Ia ingin melampiaskan amarahnya tetapi tidak di depan putri Leticia. Bisa-bisa Leticia marah kepadanya.
"Kalau begitu siapa yang lebih kamu sukai di antara aku dan Gurumu?"
"Aku menyukai Bibi dan Guru tetapi orang yang paling kusukai tentu saja Ibu." Kedua sudut bibir Judith terangkat ke atas.
Rose bisa mengetahui Judith benar-benar menyayangi Leticia. Rose mencubit pipi putri Leticia karena terlalu lucu. Judith berusaha melepas cubitan dari Rose.
Judith melihat ke arah pintu. Rose ikut menoleh, tanpa sadar melepas cubitannya. Judith langsung berlari menuju orang yang berdiri di sana. Rose tersenyum melihat sikap manja Judith kepada ibunya. Rose berdiri, merasa keberadaannya sudah tidak dibutuhkan meninggalkan perpustakaan.
Dean berjaga di depan perpustakaan. Ia menunduk kepada Rose memberikan hormat. Rose tidak menghiraukannya. Ia berjalan menuju istana utama untuk menghadap Braun. Entah berita apa yang harus ia karang untuk disampaikan pada Kaisar.
***
"Apakah omongan Penyihir Istana bisa dipercaya, Sayang?" tanya Charlotte ragu.
"Dia adalah orang yang gila terhadap uang, Sayang. Dia akan setia pada orang yang memberikannya banyak uang. Sebelumnya dia setia pada Leticia karena membiayainya belajar sihir. Setelah sukses menjadi Penyihir Istana, dia tidak lagi dikirimi uang oleh Leticia. Saat itu dia datang kepadaku untuk mengabdi pada tuan yang baru asalkan dapat membayarnya lebih." Braun mengusap-usap pipi Charlotte.
"Rakyat jelata sangat rendah sekali."
Charlotte merasa jijik dengan kelakuan kalangan bawah yang hanya bisa meminta-minta. Ia bersyukur tidak seperti Leticia yang mudah mempercayai kalangan bawah, bahkan menjadikan mereka sebagai temannya. Rakyat jelata sangat mudah untuk dimanipulasi dan dimanfaatkan.
"Kamu benar, Sayang," balas Braun.
Charlotte menyeringai mengingat apa yang dikatakan penyihir istana. Leticia mulai kelelahan mengajari Judith, karenanya terkadang Rose diminta mengajari Judith terlebih dahulu. Karena Rose tidak memiliki pengetahuan yang memadai, ia meminta Judith belajar sendiri.
__ADS_1
Hubungan antara guru pedang baru Judith dengan Leticia juga tidak bagus. Guru pedang Judith memusuhi Permaisuri Pertama karena kesalahan Leticia di masa lalu. Alasan Leticia tetap meminta guru pedang itu mengajari Judith adalah bakat yang dimiliki Countess Wollard. Leticia tidak mempercayai Countess Wollard, buktinya ia meminta pengawal pribadinya menjadi pengawal pribadi Judith untuk mengawasi Countess Wollard.
"Sekarang tinggal memupuk ketidakpercayaan Leticia kepada orang-orang. Lama-kelamaan kepercayaan itu akan menggerogoti dirinya sendiri, lalu dia tidak punya siapapun yang mendukungnya. Dia yang tidak kuat berjuang sendiri akan jatuh sakit dan menguntungkan kita." Seringai Charlotte semakin lebar.
"Judith akan semakin mudah dipengaruhi." Braun ikut menyeringai.
Tak ada orang yang akan mengganggu kehidupan mereka berdua lagi. Semua penghalang akan dilenyapkan dan kerikil kecil bisa digunakan untuk membangun rumah mereka berdua dan Louis.
***
Gerald telah sampai di kediaman Count Landell. Ia tertarik untuk membeli pedang dengan batu yang menyerap aura yang dibuat Count Landell. Sebelumnya ia sudah mencoba batu itu di kediamannya. Serangan miliknya menjadi sangat mematikan. Ia baru tahu ada batu yang seperti itu. Dan ini merupakan penawaran yang sangat bagus baginya.
Dengan batu itu, pasukan miliknya akan semakin kuat. Mengalahkan pasukan istana bukan lagi hal yang mustahil.
Count Landell dan istrinya menyambut Gerald di depan kediamannya. Mereka sempat terkejut dengan surat pemberitahuan kedatangan Grand Duke Faust ke kediaman Landell. Namun, mereka menyadari bahwa usaha pandai besi merupakan hal yang berdekatan dengan pasukan yang bersenjata. Count Landell menerima kedatangan Grand Duke Faust dengan harapan dapat meningkatkan usahanya.
Kini, Gerald duduk berhadapan dengan pasangan Landell. Ia melihat tangan Countess Landell yang bergetar lalu suaminya berusaha menenangkannya dengan memegan tangan istrinya. Meskipun reputasi Gerald telah meningkat, tetapi keberadaan dirinya masih membuat orang-orang takut.
"Saya dengar Anda membuat barang bagus, Count," kata Gerald basa-basi.
"Terima kasih atas pujian Anda, Tuan Grand Duke. Saya akan mengambilkan senjata untuk bisa Anda lihat," kata Count Landell.
"Tidak perlu, saya sudah memeriksa senjata Anda yang dijual di beberapa toko senjata. Barang Anda sangat bagus," puji Gerald.
"Baiklah, Tuan Grand Duke. Jadi barang apa yang Anda inginkan?" tanya Count Landell.
Countess Landell masih belum membuka suara.
"Saya menginginkan barang seperti ini, Count." Gerald mengeluarkan batu yang diberikan Leticia.
__ADS_1
Count Landell membuka lebar matanya. Batu itu adalah batu yang ia buat untuk Permaisuri Leticia. Ia segera menyadarinya bahwa orang yang dimaksud Permaisuri Pertama adalah Grand Duke Faust.