
Jari Leonard bergerak. Kesadarannya mulai kembali. Ia mengerjap-erjapkan matanya. Judith segera menoleh ke arah Leonard.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Judtih.
Leonard terperanjat mendapati dirinya digendong seorang gadis. Mereka hampir terjatuh jika Judith tidak segera menyeimbangkan tubuhnya.
"Jangan banyak bergerak," ujar Judith kesal pada Leonard.
"Kenapa kau menggendongku?" tanya Leonard merasa malu. Harga dirinya sebagai laki-laki telah ternodai. Bukan hanya kalah oleh seorang gadis, ia sampai digendongnya.
"Jadi kamu mau kutinggalkan saja di hutan saat hujan deras seperti ini?" balas Judith sinis.
"Cari cara lain untuk membawaku," gerutu Leonard.
Judith menghela napas panjang. Ia tidak tega menyeret orang yang telah melindunginya, apalagi bahu Leonard terluka.
"Ini cara terbaik, atau kamu mau kugendong di depan, atau kuseret saja seperti saat pemberontakan?"
Leonard membenarkan Judith dalam hati. Ini lebih baik dibandingkan menanggung malu digendong seperti wanita, atau kesakitan diseret oleh Judith.
"Sudahlah, kenapa dari tadi kau tidak bergerak?"
Judith menunjuk sungai berarus deras di depan mereka. Tanpa diberitahu Leonard mengerti apa yang dipikirkan Judith. Mereka harus menyusuri sungai itu, tetapi karena luka yang diderita mereka pasti akan sulit.
"Berpeganglah dengan erat," perintah Judith.
"Kena-"
Kata-kata Leonard tersendat karena Judith langsung melompat melewati sungai itu. Kaki Judith telah dialiri aura sehingga dapat melompat dengan kuat. Dari tadi ia mengumpulkan aura di kakinya selama berbicara dengan Leonard.
Judith menurunkan Leonard sebelum terus dihujani omelan. Leonard berjalan tertatih-tatih. Kaki kirinya terluka. Dengan sigap Judith menopang bahu Leonard, membantunya berjalan. Mereka sampai di goa.
Judith menyandarkan Leonard ke dinding goa. Ia menyusuri goa untuk mencari bahan yang bisa digunakan menyalakan perapian. Di ujung goa terdapat tumpukan jerami yang digunakan sebagai tempat tidur serigala. Merasa terganggu, serigala itu menyerang Judith. Judith memukul serigala itu hingga terbentur ke dinding. Meski tidak mau, ia terpaksa membunuh serigala itu untuk mempertahankan hidupnya dan melindungi Leonard yang terluka. Ia mengakhiri hidup serigala itu dengan cepat. Setelah selesai ia mengambil tumpukan jerami ke tempat Leonard.
"Kenapa kau berdarah?" tanya Leonard melihat darah di wajah Judith. Sebelumnya tidak wajah Duchess putih bersih.
__ADS_1
Judith menyeka darah di wajahnya, ia tidak terluka, pasti ia terciprat darah serigala tadi.
"Tadi aku bertarung dengan serigala, tidak perlu khawatir ini darah serigala."
Judith menaruh jerami-jerami itu di dekat Leonard, lantas menciptakan percikan api dengan menggesek-gesekkan batu. Perapian telah menyala, mereka dapat menghangatkan diri.
Tiba-tiba Leonard membuka bajunya. Judith langsung memalingkan wajah. "Apa yang kamu lakukan?"
"Aku ingin mengeringkan pakaianku dan memakai pakaian basah hanya akan mendatangkan penyakit. Cepat buka bajumu," saran Leonard.
"Apa kamu sudah gila menyuruhku membuka baju di depanmu? Lebih baik aku sakit saja."
Judith tidak habis pikir dengan Leonard. Bagaimana bisa mantan prajurit bayaran itu dengan mudahnya menanggalkan pakaiannya di depan lawan jenis? Memang Judith sering melihat kesatria yang berlatih dengan melepas atasan mereka, tetapi berduaan dengan pria yang bertelanjang dada membuatnya resah.
"Terserahmu saja."
Leonard meletakkan pakaiannya di dekat perapian. Ia melirik ke arah Duchess yang menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghangatkan diri. Tubuh Duchess menggigil. Tak tahan melihat itu, Leonard menghampirinya dan merangkulnya.
Judith tersentak. Ia menjauhkan diri dari Leonard. "Aku tidak bisa menerima kelancangan lebih dari ini," ketus Judith.
Judith menatap tajam Leonard seolah-olah ingin membunuhnya. Leonard tersadar ucapannya terkesan mengajak Judith melakukan tindakan tidak senonoh.
"Kau kedinginan dengan berpelukan kita akan lebih hangat. Ah sudahlah." Leonard semakin salah tingkah karena penjelasannya malah memparah kesalahpahaman. Wajahnya memerah.
Judith melihat memar dan luka di bahu Leonard. Jarinya tanpa sadar menelusuri bahu Leonard. Kali ini giliran Leonard yang menjauhkan diri.
"Sekarang kau malah ingin menyerangku," tuduh Leonard.
"Bahumu terluka, aku akan membalut lukanya."
Judith merobek mantel yang dibelinya untuk Leonard, lantas mengikat kain itu pada bahu Leonard.
Leonard terdiam menyaksikan perawatan dari Judith. Setelah selesai diperban, Leonard memeluk Judith sebagai ucapan terima kasih karena telah membantu.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa. Jadi tidak usah protes."
__ADS_1
Judith mengangguk pelan. Perkataan Leonard ada benarnya, tubuhnya terasa hangat. Entah mengapa ia teringat pelukan ibunya, kehangatannya hampir sama.
"Jangan pernah bilang kejadian ini pada siapa pun," ancam Judith.
"Tidak akan, aku bisa mati dibunuh banyak orang bila tersebar luas."
Kehangatan yang mereka rasakan bagaimana lagu tidur yang mengiringi malam dingin. Mereka tertidur pulas saling berpelukan hingga pagi.
***
Sinar matahari masuk ke dalam goa. Jerami yang digunakan sebagai perapian berubah menjadi abu. Merasa terusik, Judith terbangun. Ia melepas pelukan Leonard lantas membangunkan pengawalnya itu.
Leonard membuka matanya. Ia segera memakai bajunya yang sudah kering. Mereka tidak mengucap satu kata pun karena melewati malam paling memalukan di sepanjang hidup mereka bersama-sama.
Terdengar suara yang memanggil Duchess. "Duchess Anda di mana?"
Judith mengenali teriakan Flint. Ia membantu Leonard melewati sungai deras di depan goa sekali lagi. Mereka segera mendekati suara itu. Sosok Flint mulai terlihat. Wajahnya yang penuh kekhawatiran mulai berganti menjadi kelegaan.
"Syukurlah, Anda tidak apa-apa. Saya mendengar Anda tidak pulang semalam. Setelah menelusuri jalan yang Anda lalui dari kediaman Loid, saya menemukan kusir Anda tergeletak di jalan. Saya menanyai kusir dan ternyata Anda jatuh ke jurang. Saya memerintahkan kesatria untuk membantu pencarian, bila terjadi sesuatu pada Anda, saya tidak akan memaafkan diri saya, Duchess." Flint tertunduk merasa bersalah.
Duchess Hillbright menepuk-nepuk pundak Flint untuk menenangkan sang ajudan. "Yang terpenting aku selamat, mari kita kembali ke kediamanku," ajak Judith.
Leonard merasa tersisihkan, tetapi tidak ingin membuang-buang tenaga untuk memprotes. Bagi mereka dirinya cuma pengawal saja, nyawanya tidak penting.
Namun, perkiraannya salah ketika sampai di kediaman Hillbright, Duchess memerintahkan pelayan untuk merawat lukanya.
"Panggil dokter untuk memeriksa lukanya," tambah Duchess.
Judith hanya ingin membalas budi pada orang yang menyelamatkannya tidak lebih. Langkahnya semakin berat. Kepalanya terus berputar-putar. Ia menekan pelipisnya.
"Anda tidak apa-apa Duchess?" tanya Flint khawatir.
Judith menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Flint, sepertinya hanya kelelahan."
Judith berusaha terlihat kuat, tetapi kakinya tak sanggup lagi berdiri. Ia pun ambruk.
__ADS_1