
Wajah Marquis Rainster terlihat lelah. Matanya sayu. Ia terlihat sangat gelisah. Kakinya digerak-gerakkan. Keringat membasahi wajahnya.
Gerald menatap dengan dingin pria yang ada di hadapannya. Semua tindakan dari Marquis Rainster menunjukkan bahwa dia menggunakan obat terlarang itu. Alasan ia mengamuk pada Count Blaire adalah ia ingin mendapatkan obat itu lagi. Mungkin Marquis Rainster bertransaksi secara langsung dengan Count Blaire. Ia menggunakan obat yang lebih kuat dibandingkan yang dijual di Blaire Heaven. Inilah yang mengakibatkan efek obat itu sangat terlihat dan semakin parah.
"Sebaiknya Anda menyerahkan diri, Marquis." Gerald langsung mengatakan maksud kedatangannya. Ia tidak ingin membuang-buang waktu lagi.
"Saya tidak pernah melakukan tindakan terlarang, Grand Duke." Marquis Rainster menoleh ke arah yang lain.
"Saya tahu Anda bertransaksi dengan Count Blaire, Marquis," kata Gerald dingin.
"Anda tidak mempunyai bukti satupun. Berhentilah menggertak, Grand Duke." Marquis Rainster menggebrak meja.
Gerald masih duduk tidak menghiraukan intimidasi dari Marquis Rainster.
"Sebaiknya Anda memikirkan anak-anak Anda. Mereka pasti sedih melihat ayah yang mereka sayangi seperti ini," kata Gerald dingin.
"Itu urusan saya, Grand Duke. Anda tidak perlu ikut campur."
"Saya tahu alasan Anda menggunakan obat itu karena masih tidak rela kehilangan Marchioness, tetapi itu bukan alasan yang tepat menggunakan obat itu."
"Pergilah! Atau Anda ingin bertarung dengan saya di sini?" Marquis Rainster mengambil pedang yang disimpan pada salah satu laci. Ia menghunuskannya pada Gerald.
Gerald sama sekali tidak terancam. Ia berdiri mengeluarkan pedangnya untuk menantang Marquis Rainster.
Marquis Rainster menyerang Gerald dengan gegabah. Gerald langsung menepis serangannya dengan mudah hingga membuat pedang Marquis terjatuh. Bertarung dengan orang yang tidak sedang dalam kondisi primanya, tidak membuat Gerald bersemangat memenangkan pertarungan.
Merasa marah akan kekalahannya Marquis menerjang Grand Duke Faust. Gerald dengan mudahnya menghindarinya dan membuat ayah Clovis tersungkur. Gerald menyarungkan pedangnya.
"Anda benar-benar menyedihkan. Meskipun Ayah saya kehilangan Ibu saya. Beliau tidak kehilangan akal sampai menggunakan obat terlarang untuk lari dari masalah, Marquis."
Marquis Rainster berusaha berdiri menyerang Gerald lagi. Gerald menahan kedua tangan Marquis Rainster. Karena tenaganya lebih kuat, Gerald mampu mendorong Marquis hingga terjatuh.
Gerald mendekati Marquis yang sudah kehilangan tenaganya. "Anda masih punya anak yang menghormati ayahnya, berhentilah membuat mereka kecewa."
__ADS_1
Clovis dan adiknya mengintip dibalik pintu. Marquis melihat kedua anaknya. Kepalanya langsung menghadap ke bawah tidak berani menatap anaknya. Titik air mata menetes satu persatu.
Clovis memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. Ia mendekati Marquis Rainster. "Ayah, aku akan menyerahkan bukti-bukti perbuatan Ayah pada istana. Aku akan menjadi Marquis menggantikan Ayah. Aku tidak bisa membiarkan keluarga Rainster terus terpuruk seperti ini."
Marquis Rainster menatap putranya. Ia mengangguk pelan. Ia merasa telah menjadi orang tua yang gagal. Clovis pergi menjauh untuk menguatkan diri. Adik perempuannya yang berada di balik pintu keluar memeluk ayahnya.
Marquis Rainster memeluk putrinya. Gerald mendekati Clovis menepuk pundaknya. Clovis menahan air matanya. Putri Marquis Rainster menarik tangan kakaknya. Clovis berbalik ikut memeluk ayahnya. Mereka menikmati waktu bersama sebelum berpisah.
Gerald meninggalkan tempat itu. Barang bukti sudah ada di tangan. Clovis akan menjadi Marquis selanjutnya. Gerald akan mendidik Marquis muda ini menjadi orang yang hebat. Pasukan keluarga Rainster akan mengikuti kepala keluarga yang baru. Untuk biaya pelatihan dan upah kesatria Gerald akan menanggungnya. Namun, hanya untuk satu tahun pertama.
Ia mengingat kekuarga Rainster yang berpelukan. Cinta dan kasih sayang membuat orang lemah. Ia menyadarinya dari Ayahnya. Ayahnya sangat mencintai ibunya hingga rela menjadi bidak perang kaisar terdahulu. Semua itu ayahnya lakukan demi mendapat obat untuk menyembuhkan penyakit ibunya yang hanya bisa didapat melalui kaisar terdahulu.
Namun, ibunya tetap meninggalkan mereka. Ayahnya mengalami kesedihan yang mendalam, tetapi ia segera bangkit untuk putranya. Namun, ayahnya tetap dimanfaatkan oleh kaisar sebelumnya dengan mengancamnya akan membunuh Gerald. Gerald saat itu masih kecil belum bisa melindungi dirinya sendiri, tetapi ayahnya terus melatihnya hingga menjadi kuat seperti sekarang. Ayahnya terus menerus menjadi bidak perang Kaisar sebelumnya, hingga saat tidak dibutuhkan lagi ayahnya dibuang. Gerald baru mengetahui semuanya setelah ayahnya meninggal. Sejak saat itu ia bertekad akan membalas dendam kepada keluarga kekaisaran.
Lalu ia berjanji tidak akan jatuh cinta. Itu hanya akan membuatnya mempunyai kelemahan yang bisa dimanfaatkan oleh musuh. Ia tidak ingin menjadi seperti ayahnya.
***
Upacara penobatan Clovis menjadi Marquis berlangsung di istana. Ayah Clovis dipenjara dan gelarnya dicopot karena telah menggunakan obat-obatan terlarang.
Leticia kembali ke kamarnya. Hari ini ayahnya datang menemuinya, karena mendengar penculikan beberapa hari yang lalu. Atau mungkin karena mendengar namanya disebut-sebut oleh penculik-penculik itu.
Duke Hilbright telah sampai di kamar Leticia. Ia langsung duduk di depan Leticia.
"Apa yang penculik-penculik itu katakan padamu Leticia?"
Duke Hilbright sama sekali tidak menanyakan keadaan putrinya. Leticia sudah menduganya. Yang dikhawatirkan ayahnya hanyalah dirinya sendiri.
"Ayah yang telah menghancurkan bisnis mereka," jawab Leticia jujur.
Duke Hilbright menghela napas.
Melihat reaksi ayahnya, Leticia memejamkan matanya. "Jadi itu memang benar," ucap Leticia lirih.
__ADS_1
"Kamu bukan anak kecil lagi. Tidak ada gunanya untuk menutupi semua itu. Tidak semua bangsawan menjalankan bisnis dengan jujur. Kamu pun sudah tahu buktinya, lihatlah Viscount Gremaroft dan Count Blaire. Lagipula semua itu hanyalah masa lalu."
Leticia mengepalkan tangannya. Menghancurkan bisnis orang lain memang tindakan salah. Namun, ayahnya melakukannya dengan hati-hati, ia baru mengetahuinya sekarang. Bahkan Leticia tidak akan bisa mendapatkan bukti untuk menjatuhkan ayahnya.
"Kalau begitu apa Count Wollard merupakan salah satunya? Bangsawan yang bisnisnya Ayah hancurkan," sergah Leticia.
Mata Duke Hilbright melebar, tetapi raut mukanya tetap sama. Ia sama sekali tidak peduli terhadap apapun kecuali dirinya sendiri.
"Ternyata kamu masih mengingat kejadian itu. Putrinya membawa pengaruh buruk bagimu. Ditambah lagi bisnisnya sedikit mengganggu bisnisku. Aku menghancurkannya dengan mendahuluinya bekerja sama dengan bangsawan lain. Aku meminta bangsawan itu untuk membatalkan kerjasama pada Count Wollard."
"Bagaimana keadaan bangsawan itu sekarang?"
Leticia mengenal ayahnya. Ia tidak akan membiarkan bangsawan itu mengatakan kebenaran pada Count Wollard.
"Dia sudah tewas bunuh diri karena bisnisnya bangkrut," jawab Duke Hilbright dingin.
Leticia menduga bahwa ayahnya lah yang membuat bisnis bangsawan itu hancur. Ia tidak ingin bertanya lebih lanjut.
"Aku dengar Judith mulai belajar pedang."
"Benar, Ayah."
Leticia sudah menduga rumor itu sudah tersebar akibat Charlotte.
"Lebih baik dia belajar tata krama dan membuat teh saja dibandingkan belajar hal yang tidak berguna."
Sifat ayahnya sama sekali tidak berubah. Leticia tidak ingin putrinya dikekang bahkan oleh Duke Hilbright sekalipun. Ia hanya ingin putrinya merasa bebas.
"Judith sudah belajar tata krama dan membuat teh dengan baik Ayah. Lagipula Kaisar sama sekali tidak melarangnya. Biarlah dia melakukan apa yang dia inginkan," jawab Leticia.
"Terserahmu saja, yang terpenting jangan lupa buatlah pewaris takhta lagi, Leticia. Aku akan menemui Judith." Duke Hilbright berdiri.
"Kalau ingin menemui Judith, sekarang dia berada di lapangan latihan Ayah." Leticia berbicara tanpa menatap ayahnya. Ia merasa sudah lelah harus menuruti semua perkataan ayahnya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan ke sana."
Duke Hilbright pergi meninggalkan Leticia. Leticia menyandarkan kepalanya ke kursi menatap langit-langit. Ia mengernyit dan menggigit bibirnya. Bagaimana caranya ia menyampaikan hal ini pada sahabatnya, kalau ayahnya secara tidak langsung membunuh orang tua Isabella.