
Leonard berjalan memandangi anting yang berada di pajangan. Matanya tertuju pada anting dengan permata kuning. Ia menoleh ke orang yang menemaninya berbelanja.
"Menurutmu ini bagaimana?" tanya Leonard.
Flint menoleh ke anting yang dituju Leonard. "Itu bagus."
Leonard menanyakan pendapat Flint tentang anting lain, kalung dan gelang yang ia tunjuk. Namun, jawaban Flint tidak berubah.
"Itu bagus."
Leonard mengernyitkan dahi, tak tahan lagi dengan sikap Flint yang menyelepekan dirinya.
"Apa kau berniat membantuku atau tidak?" gerutu Leonard.
"Menurutku semuanya bagus."
Leonard menghela napas panjang. Ia salah mengajak orang untuk dimintai pendapat. Wanita lebih bisa menilai keindahan dari permata-permata itu dibandingkan Ajudan Duchess.
Seharusnya ia mengajak Idris atau Ariana saja. Namun, Idris akan curiga bila Leonard tiba-tiba membeli sebuah permata. Ariana pasti sibuk, ditambah Duchess tidak mengizinkan Leonard keluar tanpa pengawasan dari orang kepercayaannya.
Satu-satunya teman pria yang ia kenal adalah Flint. Di samping itu, Flint mempunyai adik perempuan sehingga ajudan Duchess itu mungkin dapat membantu Leonard dalam mencari hadiah untuk seorang gadis. Namun, kenyataannya Flint tidak bisa membedakan mana yang bagus dan mana yang jelek. Bagi Flint perhiasan sama saja.
Leonard bisa saja meminta pendapat kesatria-kesatria di kediaman Hillbright, tetapi mereka tidak terlalu dekat. Waktu yang ia habiskan di ruangan Duchess membuatnya jarang berbaur dengan kesatria-kesatria lain.
"Menurutmu Duchess akan menyukai ini atau tidak?" tanya Leonard memperjelas maksudnya mengajak Flint. Ia harap Flint bisa lebih serius.
"Kamu tahu sendiri Duchess jarang memakai perhiasan dan gaun. Dia hanya memakainya saat pesta saja."
Leonard membenarkan dalam hati. Ia bingung memilih kado yang disukai Duchess, karena hadiah yang diminati banyak wanita malah tidak dilirik Duchess.
"Kalau begitu kado apa yang disukai Duchess?"
"Duchess selalu menerima kado dalam bentuk apa pun."
Perkataan Flint malah membuat Leonard semakin bingung. Artinya, Duchess tidak senang ataupun kesal bila menerima hadiah apa pun. Ia ingin Duchess senang bila menerima hadiahnya.
"Kalau begitu bagaimana dengan pedang?" tanya Leonard.
"Pedang Duchess adalah buatan pandai besi Landell yang dikenal sangat kuat. Dengan batu Clear penyerap aura, kekuatan pedangnya tidak terkalahkan," jelas Flint mematahkan semangat Leonard.
Leonard memegangi kepalanya yang semakin pening. Mencari kado untuk seorang gadis ternyata sangat sulit.
"Sarung pedang, bagaimana dengan sarung pedang?" Leonard terlihat bersemangat menemukan jawaban yang dicari-carinya.
"Itu ide bagus."
__ADS_1
Leonard dan Flint menuju tempat senjata. Mantan prajurit bayaran itu memilih sarung pedang yang kuat dan ringan, menyesuaikan tubuh Duchess Hillbright yang ramping. Leonard tersenyum sambil memeluk kado yang akan ia berikan pada Duchess.
Flint menggeleng-gelengkan kepala. Ia berharap dirinya tidak sebodoh dan sememalukan itu bila jatuh cinta.
"Kamu menyukai Duchess?" tanya Flint walau sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.
"Benar, aku akan membuatnya menyukaiku juga," jawab Leonard seraya menunjuk dirinya dengan ibu jari.
"Kalau begitu berjuanglah." Flint keluar dari toko senjata itu. Ia lelah dan ingin segera pulang.
Leonard menyamakan langkahnya dengan Flint. "Kenapa kau tidak mengejekku? Biasanya bangsawan akan merendahkan rakyat jelata yang berniat menjalin hubungan dengan kaumnya."
"Ayahku adalah rakyat jelata, sedangkan ibuku seorang Countess. Aku tidak berhak menghakimimu," papar Flint.
Secercah harapan menyinari hati Leonard. Kaum bangsawan dan rakyat jelata bisa bersatu. "Apa bangsawan lain tidak membicarakan hubungan mereka?"
"Entahlah, mungkin karena jabatan ayahku sebagai pemimpin penyihir menara, jadi mereka tidak terlalu ambil pusing."
Leonard tertunduk. Ia hanyalah pengawal biasa, tidak mempunyai kelebihan yang menonjol atau jabatan tinggi yang bisa bersanding dengan Duchess. Lebih baik ia menunggu menjadi bangsawan agar lebih pantas berada di samping Duchess.
***
Beberapa hari kemudian.
Ariana menuju ibu kota mengambil hasil kandungan obat yang diminum Judith. Tak ingin Ariana berjalan di ibu kota sendirian tanpa penjagaan, Raymond pun ikut.
"Apa hasil pemeriksaan obat yang kuberikan sudah jadi?
"Sudah, biar kucari."
Dokter itu membuka laci. Lantas mengaduk-aduk isinya sampai menemukan kertas berisi kandungan obat yang diberikan Ariana. Dokter memberikan kertas itu pada Ariana.
Ariana membaca hasil komposisi obat itu lantas membelalakkan matanya.
"Apa ini benar?"
"Aku sudah memeriksanya dengan teliti, jangan ragukan kemampuanku," kata Dokter sedikit kesal.
"Maaf dan terima kasih." Ariana tertunduk dan berpamitan.
Saintess dan Kesatria Suci itu keluar dari klinik dokter. Ariana merasa tidak tenang melihat hasilnya.
"Apa setelah ini kamu ada kegiatan, Kak Raymond?"
"Tidak, Saintess. Kenapa?"
__ADS_1
"Aku ingin kamu menemaniku ke kediaman Hillbright. Ada yang ingin kusampaikan pada kakaku."
"Baik, Saintess."
***
Di kediaman Hillbright.
Judith bertanya-tanya dalam hati karena kunjungan Arion yang tiba-tiba. Wajah Arion yang terlihat resah menambah kekhawatiran Judith.
"Kenapa kamu datang ke sini, Rion."
"Aku akan menjadi putra mahkota setelah Kakak ulang tahun."
"Bukannya itu bagus?" Judith mengalihkan pandangan pada Flint mencari dukungan. Flint pun mengiyakan.
"Masalahnya aku juga harus mencari putri mahkota setelah itu," papar Arion.
"Apa Ayah dan Ibu menyuruhmu mencari putri mahkota secara langsung?" tanya Judith.
Ibu dan ayahnya selalu menolak pertunangan anak-anak mereka sampai-sampai tak ada bangsawan yang berani mendekati Judith, Ariana dan Arion. Sangat aneh bila Leticia dan Gerald mendadak ingin Arion mencari pasangan.
"Tidak, hanya saja cepat atau lambat aku harus memiliki pasangan. Apa aku harus mengadakan sayembara untuk menentukan putri mahkota?"
Flint menjaga wajahnya tanpa ekspresi. Ia khawatir adiknya tidak punya harapan menjadi kekasih Arion. Memang ada cara dengan mengikuti sayembara, tetapi sikap adiknya yang tidak pernah serius membuatnya tidak yakin Sylvie akan menang.
"Itu salah satu cara, ada cara lain. Kamu bisa memilih putri mahkota secara langsung. Ibu menjadi putri mahkota karena dipilih oleh Kaisar sebelumnya, meskipun ada campur tangan Kakek juga." Judith mengingat cerita ibunya saat bertemu ayah kandungnya.
"Apa tidak apa-apa memilih putri mahkota berdasarkan perasaan? Bagaimana jika orang yang aku pilih ternyata tidak bisa menjalankan Kekaisaran?"
Judith mengepalkan tangannya. Bila berada di posisi Arion, ia pun akan kebingungan. "Aku tidak tahu jawaban yang benar, Rion. Bila mendepankan perasaan kita akan menyisihkan rakyat. Bila kita lebih mementingkan kekaisaran, perasaan yang akan menjadi korban. Kamu bisa meminta pendapat Ayah dan Ibu tentang ini."
"Baik, terima kasih, Kak."
Pandangan mereka teralihkan pada Ariana dan Raymond yang mendekat. Judith memerintahkan pelayan untuk menambah teh dan cangkir menilik jumlah tamu semakin banyak. Judith mempersilakan Ariana duduk. Raymond berdiri di samping Flint dan Leonard.
"Kenapa kamu kemari, Ariana? tanya Arion.
"Ada yang ingin kubicarakan dengan Kakak. Kalau kamu kenapa ke sini, Rion?" balas Ariana bertanya balik.
"Sama aku juga begitu."
Pelayan telah datang menyajikan teh pada Ariana. Kebetulan sekali, Ariana merasa haus. Berjalan di bawah teriknya matahari membuatnya lelah. Ia menyesap tehnya, begitu juga dengan Arion. Tenggorokan Arion terasa kering akibat berbicara panjang lebar dengan kakaknya.
Suara cangkir pecah memecah keheningan. Judith melebarkan matanya. Kedua adiknya tersungkur sambil memegangi dada mereka yang terasa sakit.
__ADS_1
Judith menatap pelayan yang menyajikan teh tadi berusaha kabur. Flint segera membekuk pelayan itu. Idris mendongak ke arah Judith sambil menyeringai.