
"Apa kau yakin ini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit?" tanya Rose.
"Tentu saja saya yakin. Ada orang yang tekena sakit parah meminum ramuan dari tumbukan akar ini langsung sembuh," jawab pedagang yang berpakaian nyentrik.
Jasper sekarang leluasa bisa keluar masuk istana. Leticia mengizinkannya karena ingin melihat barang baru Jasper. Bila tertarik maka ia akan langsung membelinya.
Jasper bukan hanya menunjukkan barang-barangnya kepada Permaisuri. Mumpung berada di istana, ia menawarkan barangnya pada warga istana. Ada yang tertarik, tetapi ada pula yang enggan membelinya.
"Apa bisa mengatasi kemandulan?" tanya Isabella.
"Sepertinya bisa," jawab Jasper ragu-ragu.
"Kalau ragu begitu, kita tidak jadi beli," timpal Dale.
"Saya tidak bisa memastikannya, karena biasanya hanya digunakan untuk penyakit," jawab Jasper.
Setahun telah berlalu sejak Judith memanggil Gerald ayah.
Rose, Isabella dan Dale berada di ruangan Rose untuk berdiskusi bagaimana cara menyembuhkan kemandulan Leticia. Mereka berunding membelakangi Jasper.
"Bagaimana kita jadi membelinya atau tidak?" tanya Dale.
"Tidak ada salahnya untuk mencobanya," jawab Isabella.
"Bagaimana caranya membuat Leticia mengkonsumsi akar itu? Apakah dia akan mengkonsumsinya? Bagaimana jika dia sudah mengkonsumsinya lalu tidak hamil? Pasti dia akan kecewa." Rose menyampaikan keraguannya.
"Sejak kapan kau jadi penakut seperti itu Rose?" ejek Dale.
"Aku tidak takut hanya memikirkan kemungkinan terburuk, kalau Leticia terluka," balas Rose ketus.
Isabella menghela napas. 'Mungkin ini yang dirasakan Leticia saat bersama mereka berdua' batinnya.
"Kita akan mencampurkannya pada makanannya. Aku akan memberitahu kepala koki. Jika rasa makanannya berubah, aku akan meyakinkannya kalau itu karena ada bumbu khusus untuk meningkatkan kesehatannya," jelas Isabella.
"Ide bagus, Istriku," celetuk Dale.
"Baiklah dengan begitu, Leticia tidak akan kecewa bila akar itu tidak ada efeknya," ujar Rose.
Mereka bertiga setuju untuk membeli akar hitam itu. Menjalankan rencana mereka agar Leticia hamil.
***
Judith kini berumur tujuh tahun. Mulai banyak lamaran yang menghampirinya. Gerald dan Leticia selalu menolak lamaran itu.
Meski, sekarang Judith sudah bisa memilih teman yang benar-benar peduli dengannya, ibunya tetap menyuruhnya untuk berhati-hati.
Judith sering mengunjungi bayi gurunya di kediaman Wollard. Ia juga terkadang mampir untuk melihat bayi Rose dan Dean. Kedua bayi itu sangat lucu-lucu. Ia teringat adiknya yang tidak sengaja terbunuh saat pemberontakan Gerald. Sungguh kasihan bayi yang tidak tahu apa-apa itu tewas.
Sekarang Judith makan bersama ibu dan ayah tirinya. Ia makan dengan lahap, berbeda dengan ibunya yang seperti kehilangan seleranya.
"Apa Ibu tidak apa-apa?" tanya Judith.
"Ibu tidak apa-apa, Sayang," jawab Leticia tidak ingin khawatir.
__ADS_1
"Jika ada apa-apa langsung bilang padaku," timpal Gerald.
"Tentu saja." Leticia tersenyum.
Entah mengapa ia merasa mual beberapa hari ini. Ia tetap memasukkan makanan ke mulutnya. Namun, ada sesuatu yang tiba-tiba ingin keluar dari perutnya. Leticia memuntahkan makanan yang telah ia makan tadi.
"Leticia!" "Ibu!" teriak Gerald dan Judith secara bersamaan.
Mereka langsung menghampiri Leticia.
"Kamu kenapa, Leticia?" tanya Gerald khawatir.
"Aku juga tidak tahu. Perutku rasanya mual beberapa hari ini," jawab Leticia.
"Aku akan memanggil dokter istana. Ibu istirahat saja di kamar ya," ujar Judith.
Judith segera mencari dokter istana. Gerald membopong Leticia ke kamarnya. Entah mengapa Leticia merasa malu dilihat oleh pelayan selama perjalanan mereka ke kamarnya.
Gerald menyandarkan tubuh Leticia di kasur. Dokter istana telah datang bersama dengan Judith. Rose dan Isabella yang diperjalanan bertemu dengan Judith yang berlarian ikut masuk.
Dokter itu memeriksa kondisi Leticia. Wajahnya terlihat cerah sambil tersenyum. Semua yang ada di sana bingung kecuali Si Dokter. Merasa tatapan mereka yang bingung ia menyampaikan diagnosisnya. "Selamat Permaisuri, Anda hamil. Kemungkinan anak kembar."
Leticia mematung. Ia meragukan pendengarannya.
'Aku hamil?'
Seketika air mata bahagia membanjiri wajahnya. Ia hamil. Ini sebuah keajaiban. Gerald memeluk Leticia. Ia memang tidak mengharapkan anak. Namun, hadiah ini benar-benar membuatnya gembira.
Isabella dan Rose tersenyum rencana mereka berhasil.
Semua kebahagiaan di sana sirna seketika. Leticia menatap Judith dengan tatapan bertanya-tanya. Gerald ikut kebingungan.
Judith menangis lalu pergi dari sana.
***
Leticia mendatangi Judith yang mengurung diri di kamar seharian. Judith meringkuk. Leticia menghampirinya.
Leticia menepuk bahu Judith, lalu mengarahkan wajah putrinya untuk melihat wajahnya. Terdapat bekas air mata di pipi putrinya.
"Ada apa, Sayang? Kamu bisa menceritakannya pada Ibu," jawab Leticia sambil mengelus-elus pipi putrinya.
"Aku tidak ingin punya adik," jawab Judith.
Leticia tersentak, tetapi berusaha menanggapi Judith dengan tenang. "Kenapa, Sayang?"
"Aku tidak ingin mereka merebut kasih sayang Ibu dan Ayah."
Leticia tersenyum lalu mencium kening putrinya. "Kami tetap akan menyayangimu, Sayang. Kami tidak akan melupakanmu."
"Tapi mereka anak Ibu dan Ayah. Sedangkan aku adalah anak dari orang yang Ibu benci."
Leticia memeluk putrinya. "Kamu juga anak Ibu, Sayang. Jangan lupakan itu. Ibu selalu menyayangimu."
__ADS_1
"Kalau begitu bagaimana dengan Ayah? Ayah pasti akan lebih menyayangi darah dagingnya sendiri, dibandingkan aku yang tidak mempunyai hubungan apapun dengan Ayah," ucap Judith lirih.
"Tidak dia pasti tetap menyayangimu, Sayang. Jika ragu, kamu bisa menanyakannya padanya," balas Leticia.
Leticia menggandeng Judith untuk bertemu dengan Gerald yang berada di kamar Permaisuri.
Judith melihat Gerald mendekatinya. Ia memejamkan mata, takut Kaisar memarahinya. Namun, Gerald memeluknya dengan erat. Judith membalas pelukannya.
"Kenapa kamu tidak ingin mempunyai adik, Judith?" tanya Gerald. Suara Gerald yang berat dan tegas dapat membuat orang mengira ia marah. Namun, Judith tahu kalau Gerald tidak marah karena sudah memahaminya.
"Aku tidak ingin mereka merebut kasih sayang Ayah dan Ibu. Terutama kasih sayang Ayah, karena di dalam mereka mengalir darah Ayah sedangkan aku tidak," jawab Judith polos.
Gerald melepas pelukannya sambil tersenyum. "Ayah tetap akan menyayangimu meski kamu bukanlah darah daging Ayah. Jika kamu ragu, maka bila Ayah berbohong kamu bisa memukul Ayah sepuasnya."
Judith mengangguk. Leticia ikut memeluk mereka. Keluarganya akan semakin bahagia dengan kehadiran si kembar.
***
Selama kehamilan Leticia, Gerald selalu mengunjunginya setiap hari. Judith ragu-ragu melihat kedua orang tuanya dibalik pintu. Leticia mengajaknya masuk. Judith merasakan kehangatan mereka. Ia menjadi lebih tenang.
Gerald membantu pekerjaan Leticia sekecil apa pun. Ia mengambil kertas dan pena apabila Leticia hendak menulis surat. Membawakan camilan untuk Leticia, bahkan sering memeluk dan memanjakan Leticia. Leticia bahkan kebingungan melihat suaminya yang seperti ini, orang yang dulunya dingin perhatian sekali kepadanya. Semenjak pernikahan mereka Gerald mulai melunak dan semakin menunjukkan kasih sayangnya, tetapi Leticia merasa tindakan Gerald terlalu berlebihan.
Seperti sekarang di malam hari. Gerald memeluk Leticia dari belakang sambil mengelus-elus perutnya yang membesar.
"Kenapa kamu seperti ini Gerald?"
"Aku hanya tidak sabar menanti kelahiran bayi kita."
"Kamu tetap menepati janjimu pada Judith bukan?"
"Tentu saja, Leticia. Judith adalah putriku juga."
Gerald mengecup bibir Leticia. Leticia tersenyum membalas kecupannya. Gerald membalik tubuh Leticia menghadap wajahnya. Ia membenamkan wajah pada bahu Leticia. Leticia mengelus-elus kepala Gerald, ia menyadari ada yang mengusik pikiran suaminya.
"Ada apa, Gerald?"
"Aku takut kehilanganmu. Ibumu meninggal karena melahirkan. Aku tidak ingin hal itu terjadi padamu, Leticia."
"Waktu itu Ibuku merasa putus asa dan tidak mempunyai tujuan hidup lagi. Berbeda denganku, aku mempunyai dirimu, Judith dan si kembar yang akan lahir. Aku tidak akan meninggalkan kalian."
"Baiklah, akan kupegang kata-katamu Leticia."
Gerald tersenyum perlahan tertidur di pelukan istrinya. Leticia menantikan pertemuannya dengan si kembar.
Hari kelahiran si kembar telah tiba. Gerald mondar-mandir di depan kamar Leticia. Judith duduk sambil menunggu kelahiran adiknya.
Tak lama pintu terbuka, menandakan persalinan telah selesai. Gerald dan Judith langsung masuk.
Leticia tersenyum lega melihat kelahiran bayi kembarnya. Gerald menggendong keduanya, memperlihatkannya pada Leticia. Bayi laki-laki dan perempuan yang memiliki rambut warna hitam seperti Gerald. Bayi laki-laki memiliki mata berwarna merah sedangkan yang perempuan memiliki mata berwarna emas.
Gerald kemudian memperlihatkan bayi itu pada Judith. Judith melihat kedua adiknya. Kedua adiknya ini sangat lucu. Tiba-tiba, ia menangis. Ia merasa bersalah karena pernah tidak ingin melihat kelahiran mereka berdua. Ia berjanji akan melindungi kedua adiknya di masa depan.
Dengan adanya anggota baru, Judith berharap keluarganya akan lebih harmonis lagi. Judith memeluk ibunya, berterima kasih karena telah melahirkan dirinya dan kedua adiknya ini. Mereka hidup berbahagia selamanya.
__ADS_1
...~Never ending story~...