
Leticia berlari mencari Charlotte. Ia harus cepat sebelum Charlotte keluar dari sini. Jalan rahasia itu gelap hanya dicahayai oleh obor yang terletak di sisi-sisinya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah yang berlawanan dengan Leticia. Pengawal-pengawal Charlotte. Leticia berhati-hati karena lawannya ada dua. Meski kemampuan berpedang Leticia sudah meningkat tetapi ia tidak sehebat Isabella. Untuk melawan dua orang ia akan kesulitan.
Salah satu pengawal mengayunkan pedang ke arah Leticia. Leticia menghindarinya. Ketika hendak menyerang balik, pengawal lain ikut menyerang. Leticia mundur ke belakang. Ia sedang mencari kesempatan untuk menyerang.
Pedang mengayun di sisi kiri Leticia. Leticia menangkisnya. Pedang yang lain berayun padanya. Leticia memukul kepala pengawal yang menyerang di sisi kirinya sambil menghindari ayunan pedang yang lain. Pengawal itu tersungkur.
Leticia menghunuskan pedang ke pengawal yang masih berdiri lalu beralih pada pengawal yang berusaha bangkit. Ia menyerang pengawal itu dengan cepat hingga kewalahan. Pengawal itu lengah. Leticia mengambil kesempatan untuk membunuhnya.
Kedua mayat pengawal Charlotte tergeletak di lantai. Leticia langsung mengejar Charlotte.
Terlihat dua orang sedang berlari. Salah satu di antara mereka menggendong bayi. Jarak di antara kedua orang itu dengan Leticia semakin menyempit. Leticia berhasil menangkap rambut mereka. Langkah mereka terhenti.
Leticia berjalan di depan mereka untuk menghalangi jalan keluar. Ia melihat wajah kedua orang itu. Pengasuh Charlotte yang menggendong Louis dan Charlotte.
Amarah Leticia langsung memuncak begitu melihat Charlotte. Ia menghunuskan pedang di samping lehernya.
"Aku sudah peringatkan, jika kau membunuhku putrimu tidak akan selamat Leticia," ancam Charlotte.
Leticia sama sekali tidak takut dengan ancamannya. "Ia akan selamat, jika Braun juga terbunuh."
"Kalau begitu selamanya dia akan membencimu karena telah membunuh ayahnya. Selamanya kau tidak akan bahagia bersama pahlawanmu itu." Suara Charlotte meninggi.
Leticia juga sudah tahu itu. Ia sudah siap menerima semua risikonya.
"Asalkan Judith selamat semua itu tidak ada apa-apanya," tegas Leticia.
"Kau sudah gila rupanya!" teriak Charlotte. Suaranya gemetar. Meski berusaha terlihat kuat, Charlotte ketakutan. Tatapan Leticia bersungguh-sungguh ingin membunuhnya.
"Kalianlah yang membuatku seperti ini, Charlotte!" teriak Leticia.
Suara tangisan bayi menggema di sana. Louis pun ketakutan. Bayi yang tidak tahu apa-apa ini akan kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya.
__ADS_1
Pedang Leticia semakin mendekati leher Charlotte. Charlotte menarik pengasuh Louis mengarahkannya pada Leticia. Leher pengasuh itu terkena pedang Leticia hingga mengeluarkan banyak darah. Leticia terkejut akan hal ini. Tangan pengasuh itu terkulai lemas hingga menjatuhkan Louis. Kepala Louis terantuk lantai lalu meninggal seketika.
Charlotte memanfaatkan kesempatan ini untuk lari. Charlotte sama sekali tidak menyadari bayinya yang terjatuh. Yang ada dipikirannya hanyalah menyelamatkan diri. Leticia meratapi sebentar nyawa yang tidak bersalah ini melayang karena perbuatan orang tuanya.
Leticia mengejar Charlotte. Begitu jarak diantara mereka semakin dekat ia menyayat kaki Charlotte. Charlotte terjatuh, sambil menjerit kesakitan. Leticia mendekat, menyodorkan pedang ke leher Charlotte.
"Apa itu sakit Charlotte?" sindir Leticia.
"Dasar wanita j*l*ng!" umpat Charlotte.
"Itu masih tidak seberapa dengan rasa sakit yang kurasakan akibat Judith yang membenciku! Semua itu gara-gara kau! Berhentilah mengusik hidup kami!" teriak Leticia.
"Aku hanya ingin menyingkirkan dirimu dari kehidupanku dan Braun! Kami hanya ingin hidup tenang!" teriak Charlotte.
Leticia mengernyitkan dahi. Jika mereka ingin hidup dengan tenang, tidak perlu membawa Leticia dalam kehidupan mereka. Mereka tidak perlu menyembunyikan kalau keduanya adalah kekasih. Jika Braun tidak memberikan cinta palsu pada Leticia, mungkin Leticia akan menyerah.
"Jika aku tahu kalian sudah berhubungan saat aku menjadi Putri Mahkota, aku tidak akan menganggu kalian."
"Jika kami menyingkirkanmu saat itu, bantuan Duke Hilbright untuk membuat Braun menjadi Kaisar akan hilang."
Charlotte menyeringai. "Kami butuh kambing hitam bila kebenaran terungkap. Duke Hilbright adalah orang yang tepat. Aku, Ayahku dan Braun akan terhindar dari tuduhan. Kami akan membuat Duke Hilbright menjadi dalang dari pembunuhan Kaisar."
Leticia melebarkan bola matanya. Dari awal mereka mempermainkan keluarganya. Bahkan Duke Hilbright sekalipun tidak tahu kalau dirinya sedang diperalat.
Tangan Leticia berada di dahinya. Ia berusaha mencerna kebenaran ini.
"Alasan kalian tidak mengungkapnya itu karena Duke Hilbright masih dimanfaatkan bukan?"
"Itu benar. Kami juga tidak membunuh kau dan Judith karena berguna bagi kami. Kau dapat disingkirkan sewaktu-waktu karena kegunaanmu hanyalah mengerjakan tugas Permaisuri. Duke Hilbright tidak lagi mengharapkanmu karena ada Judith. Judith bisa berguna menjadi istri dari pangeran kerajaan lain untuk mempererat kerjasama."
Leticia menggertakkan giginya. Bagi mereka berdua yang menentukan hidup manusia hanyalah berguna dan tidak berguna. Manusia hanyalah alat bagi mereka. Braun, Charlotte dan Duke Hilbright mempunyai sifat yang sama.
"Kalau begitu kau melahirkan Louis karena suatu hari dia akan berguna benar?" tanya Leticia dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Benar," jawab Charlotte singkat.
"Jadi kau tahu tindakanmu tadi saat mengorbankan pengasuh Louis mungkin akan menyebabkan Louis terluka?" tanya Leticia lirih. Ia tidak habis pikir dengan pemikiran Charlotte.
"Itu benar."
"Apa kau tidak sedih putramu meninggal?"
Charlotte tampak sedikit terkejut.
"Tentu saja aku sedih, tetapi anak bisa digantikan dengan yang lain."
Leticia semakin geram. Pemikiran Charlotte dengan dirinya sangat berbeda. Ia tidak bisa menerimanya. Ia menggores kaki Charlotte yang satunya lagi. Charlotte merintih. Keringat bercucuran di wajahnya karena rasa sakit dan takut.
"Di mana Judith?" tanya Leticia. Ia berniat mengakhiri ini secepatnya.
"Entahlah, aku tidak tahu," jawab Charlotte sambil terkekeh.
Leticia menusuk tangan Charlotte kiri. Air mata keluar dari mata Charlotte.
"Aku akan tanya sekali lagi. Di mana Judith?"
Charlotte tidak menjawab karena terus menjerit. Leticia melukai tangan kanan Charlotte. Charlotte memohon ampun pada Leticia.
"Judith bersama Braun di ruang singsana. Aku sudah mengatakannya, jangan siksa aku." Charlotte sampai mengemis-emis.
'Sangat menyedihkan' batin Leticia.
"Terima kasih, Charlotte."
Leticia tersenyum. Charlotte balas tersenyum karena Leticia mengampuninya, tanpa tahu itu adalah senyuman yang mengantarkannya menuju kematian.
Leticia memenggal kepala Charlotte. Tidak ada niat dalam diri Leticia untuk mengampuni orang yang membuat putrinya menderita.
__ADS_1
Kini tinggal Braun. Gerald pasti sudah tiba di ruang singsana dan membalaskan dendam keluarganya. Namun, Judith akan membencinya.
Leticia segera menuju ke ruangan itu, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.