
Rose datang ke kamar Leticia. Di sana, Judith masih menemani ibunya. Rose mendekati mereka.
"Maafkan aku Leticia. Seharusnya aku dapat menemukanmu lebih cepat." Rose menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa ini bukan salahmu Rose," jawab Leticia.
"Apa penculik-penculik itu sudah dihukum?" tanya Judith.
"Sudah, Kaisar menghukum mereka dengan di penjara seumur hidup, Judith," ucap Rose.
Judith bernapas lega, sebenarnya ia ingin melihat mereka dijatuhi hukuman secara langsung. Namun, ayahnya tidak mengizinkannya karena dapat membuatnya mengingat kenangan buruk.
Rose memberi kode kepada Leticia untuk berbicara berdua. Leticia memahami isyarat Rose.
"Sayang, ada baiknya kamu beristirahat di kamarmu. Kamu pasti kelelahan karena harus mencari ibu kemarin seharian. Ibu tidak apa-apa di sini ada, Bibi Rose yang melindungi Ibu." Leticia membelai rambut putrinya.
"Baiklah, Ibu juga harus istirahat. Aku sayang Ibu." Judith mencium pipi Leticia.
Leticia membalasnya. "Ibu juga sayang kamu, Judith."
Judith keluar meninggalkan mereka berdua.
Merasa keadaan sudah aman. Rose menceritakan penyelidikan Dale. Leticia mendengarkannya sambil mengangguk.
"Ini bagus kita bisa mendapat orang dalam. Sekarang tinggal informasi dari Grand Duke Faust mengenai Marquis Rainster," timpal Leticia.
"Ngomong-ngomong keberadaan batu sihir itu sudah diketahui Judith. Ada kemungkinan Braun akan segera mengetahuinya, Leticia." Rose merasa khawatir jika dirinya tidak dipercayai oleh Braun lagi.
"Kamu bisa memberikan alasan batu itu adalah salah cara untuk mendapat kepercayaan dariku, Rose. Aku akan berhati-hati agar keadaan batu lain tidak ketahuan. Apa kamu bisa menyetel batu-batu sihir ini agar hanya aku yang bisa menggunakannya Rose?" Leticia mengambil batu-batu sihir miliknya. Ia menaruhnya satu per satu di atas laci.
"Tentu saja, Leticia."
Rose meraih salah satu batu itu, memberikannya pada Leticia. Ia menggenggam tangan Leticia yang memegang batu sihir lalu menggunakan sihirnya. Ia mengulanginya pada batu-batu lain. Ia mencobanya menyalakannya. Tetap mati. Leticia mencoba menyalakan batu sihir yang digunakan untuk menghubungi Rose. Ternyata menyala. Ia langsung mematikannya. Kini hanya Leticia yang bisa menggunakan batu sihir itu.
__ADS_1
"Oh ya, apa kamu bisa meminta Dale membuatkanku batu sihir untuk teleportasi dalam ukuran kecil Rose?"
"Tentu saja, tetapi batu itu hanya bisa digunakan empat kali saja, bagaimana?"
"Tidak apa-apa, itu akan kugunakan dalam keadaan genting. Terima kasih, Rose."
Rose mengangguk. Ia membiarkan Leticia beristirahat dengan meninggalkan kamarnya. Ia melewati kamar Judith. Tidak ada pengawal di sana. Tadi saat menuju kamar Leticia, ia juga tidak melihat pengawal pribadi Judith. Mungkin Dean diganggu lagi oleh kesatria yang lain. Ini bukan urusan Rose, tetapi ia tidak bisa membiarkan Judith tanpa pengawalan.
Ia menuju tempat pelatihan. Ia mencari-cari Dean. Ia melihat Dean yang sedang berlatih sendirian. Dugaan Rose salah.
Dean berlatih lebih keras karena ia tidak bisa melindungi Permaisuri Pertama. Memang itu bukan tugasnya lagi, tetapi ia berutang budi pada Permaisuri Pertama karena telah mempercayainya yang berasal dari rakyat jelata. Dengan semakin kuat ia dapat melindungi Leticia dan Judith.
Rose mendekati Dean berdeham keras. Dean langsung menghentikan latihannya.
"Tuan Putri sedang beristirahat di kamarnya sendirian tanpa pengawalan. Ada baiknya kau berhenti berlatih," kata Rose.
"Baik, maaf saya sudah meninggalkan tugas saya. Saya hanya ingin lebih kuat untuk melindungi Tuan Putri dan Permaisuri." Dean merasa bersalah, menundukkan kepalanya.
Rose mendekatkan mulutnya pada telinga Dean. "Tidak semuanya dapat dipercaya. Kau harus berhati-hati."
Mata Dean membesar, tetapi ia diam saja. Rose pasti tidak ingin percakapan mereka didengar oleh orang lain. Rose menjauhkan dirinya dari Dean. Ia memerintahkan Dean untuk kembali ke tempatnya. Dean mengangguk mengerti.
Rose menatap Dean yang semakin hilang di kejauhan. Saatnya kembali ke ruangannya lalu menuju menara. Ia akan menyampaikan permintaan Leticia pada Dale.
***
Gerald menuju ke kediaman Rainster untuk bertemu dengan Marquis. Namun, Marquis masih tidak menyambutnya dengan baik. Pada akhirnya, ia menuju ke tempat latihan untuk melihat Clovis berlatih.
Clovis menghentikan latihannya begitu melihat Gerald. Gerald menepati janjinya untuk melatih Clovis. Clovis berlatih dengan bersemangat. Mereka beristirahat sebentar.
Gerald menanyakan sesuatu. "Apa semua pelayan di kediaman ini sudah dipecat?"
"Benar, maaf apabila kediaman ini kotor membuat Anda tidak nyaman, Tuan Grand Duke." Clovis menunduk.
__ADS_1
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Saat aku berkeliling di kediaman ini, ada orang yang menatapku dari salah satu ruangan." Gerald melihat ke salah satu jendela, ruangan orang yang menatapnya di kediaman Rainster.
"Ah, itu adik perempuan saya. Saya minta maaf karena perbuatannya yang lancang. Dia menyendiri karena tidak bisa mengundang temannya ke kediaman kami atau datang ke tempat temannya. Dia merasa malu," jawab Clovis merasa tidak enak.
"Itu karena keuangan keluarga Rainster yang semakin buruk," tukas Gerald.
Clovis sama sekali tidak marah, mendengar hal itu. Ia tidak mempersalahkan ucapan Gerald yang terdengar seperti merendahkan keluarganya, karena pada dasarnya itu adalah kenyataan. "Benar, Tuan Grand Duke. Saya akan menjadi kesatria yang hebat untuk melindungi keluarga saya."
"Bagaimana jika ayahmu melakukan sesuatu yang buruk? Akankah kamu tetap melindunginya?" tanya Gerald.
Wajah Clovis terlihat terkejut, tetapi ia tahu apa yang dimaksud oleh Gerald.
"Sepertinya kamu sudah tahu." Gerald menatap Clovis tajam.
"Apa Anda akan menangkap Ayah saya, Tuan Grand Duke?" Clovis terlihat gugup.
"Aku tidak punya bukti yang cukup, tetapi aku akan segera menemukannya."
"Maaf, saya tidak bisa membantu Anda, Tuan Grand Duke. Meskipun Ayah saya seperti ini sekarang, dulunya beliau adalah orang yang baik."
Clovis menunduk, ia masih menyayangi ayahnya. Baginya sosok ayah yang menyayangi dirinya dan adiknya masih terlihat pada ayah yang terlihat menyedihkan sekarang.
"Aku tidak memintamu untuk membantu, tetapi pertimbangkanlah keluargamu. Apakah ayahmu memang menginginkan semua ini? Bagaimana dengan nasib adikmu ke depannya? Kamu memang bisa mengirimkan uang dengan menjadi kesatria, tetapi apa uang itu digunakan dengan sebagaimana semestinya? Pikirkanlah baik-baik," kata Gerald dingin.
Gerald tahu bahwa Clovis tutup mata atas tindakan tercela ayahnya. Namun, perbuatan ayahnya hanya akan membuat keluarga mereka semakin terpuruk.
Gerald berdiri beranjak pergi dari lapangan latihan itu. Clovis menghentikannya dengan berlari menghalanginya.
"Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan, Tuan Grand Duke," kata Clovis lirih.
"Kamu sebenarnya tahu, tetapi hanya ragu. Aku akan kembali besok, akan kutunggu apa yang seharusnya kamu lakukan," tegas Gerald.
Gerald meninggalkan Clovis sendirian. Clovis menunduk memegangi kepalanya sambil bersujud. Air matanya menetes. Clovis harus mengungkap semua perbuatan ayahnya, tetapi ia tidak sangguh melihat ayahnya mendekam di penjara.
__ADS_1