
Keadaan di Kekaisaran sangat ricuh. Rakyat jelata tidak percaya kepada bangsawan. Perbuatan-perbuatan keji bangsawan yang tersebar di berita telah membuat rakyat jelata murka. Rakyat menginginkan semua bangsawan diperiksa. Mereka tidak ingin tunduk kepada bangsawan yang sama sekali tidak mementingkan kemanusiaan.
Kekayaan dan kehormatan bangsawan yang dibanggakan kini telah ternodai dengan tindakan busuk mereka. Ada satu bangsawan yang dipercayai oleh rakyat Kekaisaran yaitu Grand Duke Faust yang telah menangkap bangsawan-bangsawan yang melakukan tindakan tercela.
Kaisar mulai dipertanyakan kinerjanya karena tidak dapat mengendus bangsawan yang melakukan perbuatan kotor. Kaisar hanya menghukum mereka menurut hukum yang berlaku tidak lebih. Semua jerih payah membuka aib bangsawan itu dilakukan oleh pihak Grand Duke Faust.
Rumor buruk tentang Grand Duke Faust mulai menghilang digantikan oleh prestasinya. Bahkan ada yang bilang rumor itu disebarkan oleh para bangsawan agar rakyat membenci orang yang benar. Grand Duke Faust yang tidak gentar membela kebenaran berhasil menjatuhkan bangsawan-bangsawan itu.
Leticia yang membaca berita, tersenyum simpul. Berita itu sedikit dilebih-lebihkan, tetapi malah menguntungkan Grand Duke Faust. Kini, tinggal menguak kuil yang melakukan sihir terlarang.
Leticia mendapat surat dari Marchioness Lodrey yang meminta tolong kepadanya untuk mengurangi hukumannya dan suaminya. Semua tuduhan yang ditujukan kepada mereka adalah bohong, mereka dijebak. Mereka yang mencintai anak-anak tidak mungkin melakukan perdagangan manusia. Leticia mengabaikannya. Hukuman mati merupakan balasan yang pantas bagi bangsawan yang melakukan tindakan keji seperti mereka.
Leticia menunggu kabar dari Dale dan Rose tentang sihir terlarang yang melibatkan anak-anak. Buku tentang sihir terlarang sangat langka, pasti mereka kesulitan mencarinya. Meskipun mendapatkan buku itu, belum tentu di dalamnya terdapat sihir terlarang yang mereka cari.
Leticia menghubungi Grand Duke Faust yang pastinya sudah selesai menyelidiki kediaman Lodrey.
"Apa Anda sedang sibuk, Grand Duke?"
"Tidak, Permaisuri?"
"Apakah ada barang yang mencurigakan di kediaman Lodrey, Grand Duke?"
"Ada, Permaisuri. Saya sudah membawanya ke ruang kerja saya. Anda bisa melihatnya, jika tidak sibuk."
"Baiklah, saya akan ke sana sekarang."
Leticia mengambil batu sihir teleportasi lamanya. Ia akan menggunakan batu sihir teleportasi yang baru jika keadaannya mendesak.
Ruang kerja Leticia berubah menjadi Ruang kerja Grand Duke Faust dalam sekejab. Gerald duduk di kursinya sedangkan Isabella berdiri di samping tuannya.
Leticia menghindari bertatapan mata dengan Gerald, tanpa tahu alasan dibaliknya. Ia hanya tidak ingin melihat mata merah itu.
"Ini barang-barangnya, Permaisuri." Gerald memperlihatkan barang-barang yang ia temukan di kediaman Lodrey.
Leticia melihat barang itu satu persatu, matanya tertuju pada surat yang sepertinya tidak asing.
__ADS_1
"Saya menemukan surat yang sama dengan Viscount Gremaroft dan Count Blaire," ujar Gerald menebak pikiran Leticia.
Leticia mengambil surat itu, jumlah uang yang dicantumkan lebih besar dibandingkan yang surat-surat sebelumnya.
"Lalu saya juga menemukan ini." Gerald menyodorkan kertas lain.
"Kertas itu ditulis dalam bahasa lain. Kami tidak bisa membacanya," tambah Isabella.
Leticia menerima kertas itu. Bahasa yang digunakan dalam kertas itu adalah bahasa kuno. Bahasa kuno merupakan bahasa yang biasa digunakan oleh pendeta kuil untuk berdoa. Leticia dapat membacanya.
Ia mengernyitkan dahinya. Isabella dan Gerald menunggu Leticia dengan sabar.
"Orang yang berinisial P ini adalah Poppo. Paus yang sedang menjabat sekarang ini. Marquis Lodrey mendanai kuil untuk melakukan sihir terlarang. Jumlah yang tertera dalam surat itu adalah uang yang dikeluarkan oleh Marquis. Bukan cuma itu, kuil meminta korban anak-anak untuk menjalankan ritual itu," jelas Leticia.
"Viscount Gremaroft dan Count Blaire juga memiliki surat perjanjian yang sama. Donasi yang mereka lakukan hanya sebagai dalih untuk mendanai ritual sihir itu tanpa ada yang curiga," timpal Isabella.
Leticia membenarkan pernyataan Isabella. Mereka ingin terlihat baik di depan publik. Walaupun kenyataannya mereka melakukan berniat jahat.
"Apa tidak tertulis tujuan Marquis mendanai ritual sihir terlarang kuil?" tanya Gerald.
"Baiklah, Permaisuri."
"Apa Anda sudah baikan, Permaisuri?" tanya Isabella.
"Saya tidak apa-apa, Countess. Anda tidak perlu khawatir." Leticia tersenyum.
"Jangan terlalu memaksakan diri, Permaisuri. Rencana Anda hampir terwujud, tidak perlu terburu-buru." Gerald ikut menanggapi.
"Terima kasih atas perhatiannya, Grand Duke." Leticia berpamitan.
Ia menghindari mata Gerald hingga akhir. Ia kembali menuju ruang kerjanya. Ia memegang dadanya. Jantungnya berdebar lebih kencang daripada biasanya. Mungkin karena sebentar lagi balas dendamnya akan berhasil.
***
Surat lamaran yang diterima oleh Isabella semakin menumpuk. Surat itu bagaikan sampah yang memenuhi meja kerjanya. Ia langsung membakarnya tanpa melihat isinya.
__ADS_1
Isabella menuju ke istana naik kereta kuda. Seperti biasa ia akan melatih Judith. Dalam perjalanan ia memikirkan banyak hal.
Bangsawan-bangsawan mulai tertarik padanya karena reputasi dari Grand Duke Faust mulai membaik. Isabella sama sekali tidak mengubris mereka. Hanya ada satu orang yang ada di hatinya. Namun, ia sama sekali tidak memikirkan cintanya terlebih dahulu. Yang terpenting baginya sekarang adalah masalah kuil.
Isabella ingin membantu mencari sihir terlarang yang dilakukan oleh kuil. Dengan begitu, Paus akan dijatuhkan lebih cepat.
Isabella sudah sampai di istana disambut oleh Judith yang riang. Sang putri menggandeng tangan gurunya agar cepat-cepat melatihnya. Seperti biasa putri Leticia sangat bersemangat untuk belajar.
Isabella melatih Judith seperti biasa. Perbedaannya adalah tidak ada pengganggu di sana. Entah mengapa ia merasa kesepian.
Baru dibicarakan Dale sudah tiba di lapangan latihan. Kantung mata menghiasi wajahnya. Ia tidak tidur beberapa hari untuk mencari sihir yang dilakukan oleh kuil.
Isabella sesekali melirik ke arah Dale. Ia sedikit merasa kasihan pada orang yang sering mengganggunya. Ia berharap bisa meringankan beban orang itu.
Saat istirahat, ia duduk di samping bangku Dale yang masih longgar.
"Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Isabella.
Dale menatap lesu orang yang ada di sampingnya. "Tidak perlu, Countess. Aku dan Rose bisa mencarinya."
Tidak terlihat senyum khasnya. Mungkin karena kelelahan yang menyelimuti dirinya, ia sama sekali tidak bisa bermain-main seperti biasa.
Hanya saja, Isabella merasa aneh dengan tingkah laku Dale. Ia sudah terbiasa dengan Dale yang tidak pernah serius.
"Baiklah, kalau ada yang bisa kubantu hubungi aku," balas Isabella.
"Tentu saja, Countess," tutur Dale singkat.
Isabella beranjak dari bangku yang didudukinya. Ia mendekati Dean.
"Apa Anda tahu di mana Pemimpin Penyihir Kekaisaran, Sir?"
"Pemimpin Penyihir Kekaisaran sedang berada di ruangannya, Countess. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau diganggu. Saya mendengarnya dari penyihir yang lain," jawab Dean.
"Terima kasih, Sir."
__ADS_1
Pada akhirnya Isabella menyerah. Ilmu sihir bukanlah bidang yang dikuasai oleh Isabella. Ia merasa kesal karena tidak bisa membantu sama sekali. Ia hanya berharap mereka segera menemukannya.