Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
S2 Bab 14 Awal Rencana


__ADS_3

Judith menunggu jawaban Leonard yang bergeming. Begitu melihat Leonard saat hari pertama, ia memerintahkan salah satu bawahannya untuk menyelidiki Leonard. Dengan mencurigakan, Marquis Loid datang ke rumah Leonard malam-malam. Judith menduga bahwa Marquis satu itu membayar Leonard untuk memata-matai dan berusaha menjatuhkannya. Namun, tidak ada bukti langsung. Yang bisa Judith lakukan hanya membuat Leonard mengakui semuanya. 


"Siapa itu Marquis Loid?" tanya Leonard balik.


"Berhentilah berpura-pura, dia pernah datang ke rumahmu malam-malam."


"Bangsawan satu itu rupanya. Aku tidak tahu namanya. Dia hanya menanyakan keberadaan budaknya. Sayangnya budaknya terbunuh di pemberontakan. Dari mana kau tahu dia datang? Apa kau menyelidikiku? Aku serasa jadi orang penting," ujar Leonard penuh percaya diri.


Decak kesal keluar dari mulut Judith. Ia menghampiri Leonard dengan tatapan intimidasi. "Mencari tahu latar belakang dari calon kesatria adalah hal penting. Aku tidak mau jika tiba-tiba dikhianati, terlebih oleh prajurit bayaran yang hanya mendambakan uang. Atau perlu kubayar lebih banyak dibandingkan Marquis Loid untuk membeli kesetiaanmu?"


Mata Leonard tak menunjukkan kegentaran atau ketakutan. Ia malah membalas tatapan Judith dengan tajam. "Memang mantan Putri suka menghambur-hamburkan uangnya. Kau salah sangka, aku tidak ada hubungannya dengan Marquis Loid."


Tanpa berkedip Judith terus mencari perubahan dari ekspresi Leonard barang sedikit pun. Kebohongan tidak dapat ditutupi selamanya. Namun, tidak sekarang, ia perlu bukti yang lebih kuat lagi.


"Tugasmu hari ini sudah selesai, kamu bisa kembali besok," perintah Judith sembari berbalik menuju meja kerjanya.


Terdengar suara bantingan pintu dengan keras. Judith melirik ke belakang.


'Teruslah berdalih, cepat atau lambat kamu pasti membuka mulut. Sebenarnya aku tidak ingin mengorbankanmu demi menangkap Marquis Loid. Tetapi, kamu berada di pihak yang salah, Leonard,' batin Judith.


***


Leonard menghela napas panjang di kamarnya. Ia menekan jantungnya yang masih berdegup kencang. Ini kali pertamanya seorang gadis membuatnya takut. 


'Aku tidak tahu kenapa bangsawan itu sampai dipuji oleh banyak orang. Dia lebih pantas untuk ditakuti,' batin Leonard.

__ADS_1


Hampir saja semua rencananya terbongkar apabila ia tidak cepat menjawab. Kepalanya yang biasa digunakan hanya untuk bertarung, tadi berpikir keras untuk menyiapkan jawaban yang tepat. Meski rasa curiga dari atasannya belum hilang, yang terpenting ia bisa selamat.


Mata Leonard menangkap sebuah surat yang asing tergeletak di meja. Sebelum meninggalkan kamar, mejanya sangat bersih. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan berharap menemukan petunjuk orang yang mengiriminya surat.


Tak menemukan petunjuk apa pun, Leonard membuka surat itu. Ternyata dari Marquis Loid. Bukan cuma Leonard yang menyusup ke dalam kediaman Hillbright. Seorang pelayan yang sudah lama bekerja untuk Duchess merupakan informan Marquis Loid. Pelayan yang bernama Idris itulah yang menyampaikan surat pada Leonard, kedepannya mereka akan bekerja sama untuk mengelabui Duchess. 


"Buatlah Duchess percaya padamu, selagi aku mencari cara untuk menjatuhkan Duchess." Leonard membaca akhir surat itu dengan kesal. 


Mendapat kepercayaan Duchess tidaklah mudah. Pertemuan pertama mereka kacau, Leonard pun tidak tahan dengan sikap Duchess, ditambah Duchess pun terang-terangan mencurigainya. 


Kepercayaan Leonard pada Marquis Loid mulai luntur. Tak ada rencana matang, yang ada hanyalah tindakan tergesa-gesa tanpa memikirkan keselamatan Leonard. Ia hanyalah bidak yang bisa digantikan oleh siapa saja. 


'Setelah aku berurusan dengan Duchess selanjutnya adalah kau, Marquis,' ancam Leonard dalam hati.


***


Suara kaki berderap-derap terdengar di lorong. Leonard bangun kesiangan. Ia bahkan tidak sempat mengikuti latihan pagi. Berpikir sepanjang malam dengan otak bodohnya malah membuatnya tersiksa.


Ia sampai di ruang kerja Duchess dengan napas terengah-engah. Mata Flint berkilat-kilat seolah-olah ingin menerkamnya. Keterlambatan bukanlah hal yang pantas bagi kesatria, apalagi sebagai pengawal Duchess. 


"Apa aku akan dipecat?" tanya Leonard tanpa basa basi.


"Baguslah masih ada rasa khawatir di hatimu, tetapi minta maaflah terlebih dahulu karena datang terlambat. Mana sopan santunmu? Apa begitu caranya bicara dengan atasan?" omel Flint.


"Aku minta maaf atas kelalaianku. Atasanku adalah Duchess, dia saja tidak masalah mau kupanggil seperti apa," balas Leonard yang sudah berada di tempatnya.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Duchess. Judith tidak mau repot-repot memarahi atau melihat mantan prajurit bayaran itu. Flint menahan amarahnya yang hampir meledak mendengar ucapan kesatria baru itu. Semuanya demi rencana sang tuan menjatuhkan Marquis Loid. 


Judith menyelesaikan semua pekerjaannya, lantas berdiri. "Hari ini kita pergi ke panti asuhan."


"Baik, Duchess." Flint menunduk.


Langkah Judith terhenti di samping Leonard. Tanpa melihat atau pun melirik ke pengawal barunya ia berkata, "Kuharap kamu tidak terlalu bodoh hingga membutuhkan perintah untuk mengikutiku."


Duchess Hillbright keluar dari ruangannya diikuti oleh ajudannya. Leonard menggepalkan tangannya dengan erat sembari mengekor di belakang dua bangsawan itu. 


Mereka bertiga tiba di depan gerbang kediaman Hillbright. Ada dua kereta kuda. Yang pertama akan dinaiki oleh Duchess, Flint dan Leonard. Sedangkan yang kedua berisi barang-barang keperluan anak panti. Biasanya pengawal dan tuannya akan berada di kereta kuda yang berbeda  Namun, mengingat Leonard masih dicurigai, Judith tidak ingin melepaskan pandangan dari pengawal barunya itu. Bisa saja Leonard menghubungi Marquis Loid menggunakan batu sihir atau burung pembawa pesan. 


Ketiganya telah tiba di depan panti asuhan. Tanpa disuruh, Leonard segera menurunkan barang-barang, karena tak ingin mendengar hinaan dari Duchess lagi. Bukannya hinaan, yang didapatkan Leonard adalah rasa terkejut. Duchess ikut menurunkan barang-barang. Tak biasanya gadis bangsawan akan melakukan pekerjaan keras seperti itu. Walau, gadis bangsawan satu itu memang berbeda dengan gadis-gadis bangsawan lain. Kekuatannya lebih hebat dari laki-laki, tak pernah memakai gaun, bahkan menjadi pemimpin pasukan di usia muda.


Semua barang telah berjajar rapi di samping pintu masuk panti asuhan. Leonard mengelap keringat dengan tangan sembari melirik ke arah Duchess yang mengelap wajah dengan sapu tangan. Wajah orang yang berada di sampingnya memang cantik, tetapi sikap Duchess lebih mirip lelaki. Leonard mulai mempertanyakan gender Duchess sebenarnya.


Kepala panti asuhan yang dari tadi ikut membantu, sekarang terus menerus menunduk berterima kasih. "Saya harap bisa membalas semua kebaikan Duchess."


"Tidak perlu, aku hanya ingin membantu rakyat yang kesusahan. Di mana anak-anak?" Duchess mengedarkan pandangan ke sekitar.


"Mereka ada di dalam, silakan." Kepala panti asuhan mengulurkan tangan ke dalam pintu. 


Judith mengikutinya sambil tersenyum. Flint pun melangkah ke dalam panti, meninggalkan Leonard yang tertegun.


'Ternyata dia bisa tersenyum juga. Tapi pasti hanya senyum palsu. Entah berapa banyak orang yang berhasil dikelabuhinya. Sayangnya aku tidak tertipu,' batin Leonard.

__ADS_1


__ADS_2