
Orang-orang yang berdoa di kuil berhamburan keluar. Kepanikan tersebar di sana, tak terpikirkan mencari sumber ledakan atau pun pembuat masalah di benak mereka.
Kekacauan itu dimanfaatkan para penyerang yang bersembunyi untuk menyerang Pangeran dan gerombolannya. Arion sempat terkejut, tetapi dengan cepat ia membalikkan keadaan dibantu oleh Flint. Meski jumlah penyerang itu sangat banyak, mereka bukan tandingan dari pangeran kekaisaran dan ajudan Duchess itu.
Sylvie mengangkat puing-puing bangunan dengan sihirnya. Ia berharap Judith baik-baik saja. Sedangkan Leonard mematung bingung antara harus membantu bangsawan itu melawan penyerang, atau membantu menyingkirkan puing-puing itu, atau membantu penyerang itu untuk menyerang Duchess. Kesempatan emas mengalahkan Duchess berada di depan mata, tetapi...
'Harus akulah yang menjatuhan bangsawan sombong itu,' batin Leonard.
Leonard memindahkan puing-puing itu. Tiba-tiba tangan muncul dari sana. Sontak Leonard mundur tak mampu menjaga keseimbangan. Judith keluar dengan bersusah payah. Hanya ada goresan-goresan kecil yang terlihat di tubuhnya. Begitu melihat cahaya yang berkedip-kedip, dengan cepat ia menggunakan auranya menangkis puing bangunan yang terlempar ke arahnya.
Ia membantu Paus keluar dari reruntuhan bangunan itu. Salah satu penyerang mengarahkan pedang ke arah Duchess itu. Leonard bangkit lantas menangkisnya. Ia membalas penyerang itu. Namun, penyerang-penyerang itu malah kabur karena kekalahan di depan mata.
Bangsawan-bangsawan itu menghela napas lega. Setidaknya ancaman berhasil diatasi.
Ariana datang menyaksikan sisa-sisa dari keributan. Matanya tertuju pada kakak dan Paus yang terluka. Ia segera menghampiri dan menyembuhkan mereka.
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Ariana.
"Aku tidak apa-apa, Ana. Hanya luka ringan," balas Judith menenangkan adiknya.
"Sebaiknya Paus dan kakak dirawat di gedung pendeta saja."
Keduanya mengangguk, mengikuti Ariana menuju gedung pendeta. Arion mengambil alih urusan menenangkan para pendoa agar kakaknya bisa beristirahat. Flint dan Sylvie membantu pangeran itu.
Di tempat lain, Judith melirik ke arah Leonard yang mengikutinya. Perkiraannya kalau pengawal barunya yang merencanakan penyerangan tadi, salah besar. Leonard melindunginya, walau sebenarnya bisa menyerang Judith. Meski jika dilawan berdua pun Judith bisa mengalahkan keduanya, ia bingung dengan sikap mantan prajurit bayaran itu. Apakah Leonard benar-benar baik atau jahat?
***
__ADS_1
"Bagaimana keadaan pengunjung kuil, Rion?" tanya Judith duduk di pinggir kasur.
"Mereka sudah kembali ke rumah masing-masing, Kak. Bagaimana luka Kakak dan Paus, Ana?" tanya Arion menoleh ke kembarannya.
"Luka Kakak sudah sembuh. Paus juga dalam kondisi baik," balas Ariana.
"Apa ada penyerang yang tertangkap?" tanya Judith.
"Sayangnya tidak Duchess, mereka terlanjur kabur. Kami tidak dapat mengejarnya," balas Flint sambil tertunduk.
Judith menduga penyerangan tadi didalangi oleh Marquis Loid. Marquis itu memberi peringatan pada Judith bila tidak segera memenuhi permintaannya untuk menjatuhkan Kaisar. Tidak mungkin Judith menuruti permintaan bodoh itu. Kaisar adalah ayahnya tercinta walau bukan ayah kandungnya.
Duchess Hillbright mengepalkan tangannya dengan erat. 'Aku tidak takut Marquis Loid. Meski kamu menyiksaku sekali pun, aku tidak akan menyakiti keluargaku,' batin Judith.
"Baiklah, yang terpenting kita bantu pembangunan kuil," tegas Judith.
"Selamat atas keberhasilanmu menjadi Saintess, Ana."
Kedua sudut bibir Ariana terangkat ke atas. "Terima kasih, Sylvie."
Judith dan Arion pun memberi selamat kepada Ariana. Mereka meminta saintess baru itu untuk berkunjung ke istana. Kaisar dan Permaisuri sudah menunggu-nunggu kedatangan putri mereka. Meski masih enggan bertemu dengan kedua orang tuanya, Ariana mengangguk pelan.
Ruangan yang semula dipenuhi keseriusan itu sekarang berubah menjadi canda tawa. Leonard m daritadi berada di sana tetapi keberadaannya seperti tidak terlihat. Ia tidak mempermasalahkannya. Tatapannya tertuju pada Duchess yang tertawa lepas.
'Ternyata ada sisinya yang seperti itu juga,' batin Leonard.
***
__ADS_1
Panas terik matahari menyengat kulit. Duchess dan pengawalnya berjalan menuju toko bangunan. Tak terlihat ajudan Duchess. Flint berada di kuil memerintahkan para pekerja di kediaman Duchess Hillbright untuk membangun bangunan yang hancur.
Leonard menatap wajah Duchess yang bercucuran keringat. Ia tak memahami pemikiran Duchess yang berjalan tanpa memegang payung. Gadis bangsawan pasti marah-marah harus berjalan diteriknya matahari. Mereka akan menjaga kulit agar tidak terbakar. Meski tahu kalau Duchess selalu berperang, tetapi pastinya akan menerima undangan pesta, di mana harus mengenakan gaun yang akan mengekspos kulit. Bila tidak terawat Duchess akan menanggung malu atas gunjingan orang-orang.
'Aku berpikir terlalu jauh. Tidak ada yang berani mengunjingkan Duchess menakutkan ini. Ada dukungan kuat di belakangnya,' batin Leonard.
"Aku akan membeli semua bahan bangunan di sini. Kirimkan ke kuil secepatnya." Judith meletakkan sekantong uang di meja.
Mereka telah tiba di toko bangunan tanpa Leonard sadari. Pemilik toko menunduk seraya berterima kasih. Ia menghitung koin emas di dalam kantong itu.
"Besok akan saya kirim Duchess. Anda terlalu banyak memberikan uang." Pemilik toko mengembalikan beberapa koin emas.
"Tidak perlu, ambil saja," balas Duchess sambil berlalu.
Leonard mendengus, melihat Duchess Hillbright yang memamerkan kekayaannya. Terlintas di pikirannya bahwa Duchess tidak membeli payung karena uangnya didonasikan seperti tadi. Tetapi harga payung tidak semahal itu, mungkin perhiasan lebih tepat. Ia tidak pernah melihat Duchess memakai perhiasan.
Langkah Leonard terhenti. Matanya tertuju pada pasangan yang bekerja sama mencuri di toko buah-buahan. Bukannya langsung menangkap pasangan itu, Leonard memerhatikan mereka. Muka mereka tidak asing.
Kedua pasangan itu melarikan diri sebelum pemilik toko buah-buahan menyadari dagangannya ada yang hilang. Leonard mengikuti mereka meninggalkan Duchess.
Langkah Leonard semakin cepat, mempersempit jarak antara dirinya dan pasangan itu. Ia berhasil menggapai bahu wanita berbaju lusuh itu.
Wanita itu meronta-ronta. Pasangannya segera menampik tangan Leonard, tetapi mantan prajurit bayaran itu malah mencengkeram tangan pria dengan kuat.
Leonard menatap tajam pasangan itu. Ia tidak percaya dapat bertemu dengan orang mati.
"Lama tidak bertemu, Ayah, Ibu."
__ADS_1