Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
S2 Bab 30 Pengkhianatan


__ADS_3

"Saintess!" teriak Raymond menghampiri Ariana dan Arion. Ia menyangga kepala Ariana dengan tangannya. 


Leonard pun ikut memeriksa keadaan saudara kembar itu. Keringat deras mengucur dari tubuh mereka menahan sakit. 


Leonard mengalihkan pandangan kebingungan ke arah Duchess yang murka pada Idris. Kedatangan Ariana dan Arion tidak direncanakan sebelumnya, entah atas dasar apa Idris meracuni mereka. 


"Flint, cepat bawa pendeta kemari. Jika kamu tidak punya batu sihir teleportasi, gunakan milikku yang berada di laci meja kerjaku!" perintah Judith.


"Baik, Duchess." Flint mengendurkan tindihannya pada Idris. Idris berusaha melepaskan diri, tetapi pedang Duchess siap menebas kepalanya bila bergerak.


"Raymond, cepat bawa Ariana dan Arion ke kamar tamu. Pelayan yang lain cepat bantu dia!" seru Judith. 


"Baik, Duchess," jawab yang dipanggil secara bersamaan.


Mereka segera melaksanakan perintah Duchess. Flint berlarian menuju ruang kerja Duchess, sedangkan Raymond dan para  membopong saudara kembar itu menuju  ruang tamu. Leonard hendak membantu Raymond tetapi Duchess melarangnya.


"Leonard kamu tetap di sini," kata Judith dingin.


Tawa Idris memekikkan telinga. Marquis Loid menyuruhnya untuk tidak mempercayai Leonard. Mereka mencoba menyelidiki kesetiaan Leonard setelah kecelakan Duchess. Obat untuk Duchess yang ia diberikan tidak pernah diganti sebelumnya. Bila obat itu dibuang, sudah pasti Leonard berada di pihak Duchess. 


Rencana meracuni Duchess pun sebenarnya hanya bualan saja. Target Marquis Loid adalah Arion. Idris akan memasukkan racun pada minuman Arion bila pangeran itu datang ke kediaman Hillbright sebelum atau sesudah pesta ulang tahun Duches, meracuni Arion saat pesta akan sangat sulit karena penjagaan akan diperketat. Ia meracuni Ariana karena kebetulan ada di sana. Dengan ini rencana Marquis dalam menjebak Duchess akan berhasil.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Duchess.


"Anda sudah tahu sendiri dari orang itu bukan?" tunjuk Idris pada Leonard. Leonard mengepalkan tangan dengan erat, ia ketahuan.


Judith menahan amarahnya dari tadi. Bila tidak ingin mendengar penjelasan dari Idris yang dapat digunakan untuk memberatkan Marquis Loid, sudah pasti Judith akan memenggal kepala pelayan satu itu.


"Tapi Anda salah satu hal, Leonard sama sekali tidak berniat membantu Anda. Dia hanya ingin melihat Anda bertekuk lutut di hadapannya. Itulah alasannya dia menyetujui kerja sama dari Marquis Loid," ujar Idris menguak semua kebohongan Leonard.


Pedang Judith bergetar. Leonard menyangkal perkataan Idris.


"Itu dulu, sekarang aku setia padamu, Duchess."


"Benarkah? Lalu, kenapa kau membantuku untuk menyiapkan racun itu?" tantang Idris.

__ADS_1


"Aku tidak pernah mem-" kata-kata Leonard tersendat di kerongkongannya. 


Dua hari yang lalu, Leonard pergi bersama Idris ke ibu kota untuk mencari obat tradisional yang dapat mengobati batuk yang tidak kunjung sembuh. Leonard mengira obat itu untuk Idris sendiri karena pelayan itu terbatuk-batuk. Namun, melihat Idris yang terlihat baik-baik saja sekarang, Leonard telah ditipu. Obat itu adalah racun untuk diberikan pada Arion.


"Kau tidak bisa mengatakannya karena takut nyawamu akan terancam sehingga mengorbankanku," tuduh Idris seraya mengalihkan pandangan dari Leonard ke Duchees, "sungguh menyedihkan sekali, Duchess, Anda berhasil dibohongi olehnya selama ini. Anda pun akan memohon-mohon pada Marquis Loid untuk mendapat penawar racun. Inilah ganjaran perbuatan Anda pada Mar-" 


Idris tak mampu berkata-kata lagi. Kepalanya menggelinding ke samping. Judith mengibaskan pedangnya untuk menyingkirkan darah yang menempel. Ia menyarungkan pedang itu dan menyeka wajahnya yang terciprat darah.


"Apa yang dikatakan orang tadi benar?" tanya Judith lirih.


"Memang benar dulu aku membencimu karena pernah mempermalukanku. Aku juga menemaninya ke ibu kota untuk membeli obat. Tapi-"


Duchess menyela Leonard sebelum pedangnya ingin mengambil nyawa lagi. "Itukah alasanmu ingin menjadi bangsawan agar suatu hari dapat membalasku?" 


"Itu tidak benar! Aku, aku, aku..." Lidah Leonard kelu menyatakan cinta. Ia takut ditolak dan malahan Duchess akan menganggap Leonard mengada-ada saja.


"Kenapa tidak dilanjutkan? Itu semua benar bukan?!" teriak Judith. Tangannya mencengkeram kerah Leonard. Giginya gemertak kesal.


Mata Leonard terbelalak. Ini pertama kalinya, ia melihat Duchess yang hampir menangis. Judith mendorong Leonard. Pengawal itu mundur perlahan, ia tak mampu berkata-kata lagi.


Leonard mengepalkan tangannya, pergi dari sana. 


Air mata Judith tak terbendung lagi. Ia terus menyeka pipinya yang basah sambil mengerang.


***


Judith sampai di kamar tamu setelah beganti baju. Paus masih sibuk menyembuhkan Ariana dan Arion. Di sampingnya berdiri Leticia yang terlihat khawatir melihat kondisi anak-anaknya. Rose merangkul Leticia untuk menenangkannya.


Sesudah membaringkan Arion dan Ariana di kamar tamu, Raymond memakai batu sihir untuk berkomunikasi dengan Rose. Ia terus membawanya karena terkadang ibunya menghubunginya tiba-tiba. 


Raymond memberitahu keadaan Ariana dan Arion pada ibunya. Tak ingin membuang waktu, Rose segera menemui Leticia, membawa temannya itu ke kediaman Hillbright. Gerald tidak bisa datang karena harus ada pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan.


"Bagaimana keadaan Ana dan Rion?" tanya Judith.


Leticia menoleh ke arah Judith yang tertunduk lemas. "Mereka sudah baikan. Paus sedang berusaha menetralkan racun di dalam tubuh Ana dan Rion, Judith"

__ADS_1


"Baguslah, aku akan memberi perhitungan pada Marquis Loid." Judith melangkah keluar.


Leticia mengikuti putrinya yang terlihat aneh. Ia menghentikan Judith di lorong depan kamar tamu. 


"Ini bukan salahmu, Judith," kata Leticia menenangkan Duchess Hillbright. 


Judith menggeleng pelan. "Ini salahku, Ibu. Aku sudah tahu dari awal Marquis Loid mempunyai rencana licik. Aku bisa langsung menyiksa pelayan yang bekerja sama dengan Marquis Loid untuk mengatakan semuanya. Tapi aku malah menunda-nunda, karena takut pengawal yang merupakan agen gandaku dan Marquis Loid akan terkena dampaknya. Aku terlihat bodoh karena pengawal itu malah mengkhianatiku. Akibatnya, Arion dan Ariana malah diracuni."


Leticia memeluk Judith. Tangannya membelai kepala putrinya. "Jangan menyalahkan dirimu, Judith. Kamu hanya berniat baik."


Judith sesegukan kembali. Ia membenamkan kepala pada bahu ibunya. Leticia terus menghibur Judith hingga tenang.


Judith melepas pelukannya. Leticia mengusap air mata Judith berusaha tersenyum menyemangatinya.


"Ingatlah janjimu pada Ibu."


Judith mengangguk. "Aku akan kembali dengan selamat Ibu."


Leticia mengecup dahi putri pertamanya. Judith memeluk Leticia sekali lagi, lantas menuju kediaman Loid. Marquis satu itu tidak akan lolos.


***


Marquis Loid tersenyum lebar kedatangan tamu. Biasanya ia yang menemui Duchess Hillbright, tetapi Duchess satu itu malah mendatanginya duluan. Ia yakin budaknya sudah melakukan tugas dengan baik.


Tatapan dingin terus tertuju pada Marquis Loid. Judith duduk di hadapan Marquis satu itu tanpa menunggu dipersilakan. Tanpa basa-basi ia bersuara, "Apa itu caramu untuk membuatku mengingat kejadian peracunanku di masa lalu?"


Marquis Loid menyeringai. "Aku tidak tahu apa yang Anda bicarakan, Duchess."


"Apa yang kamu inginkan, Marquis?"


"Anda sudah tahu, tetapi selalu menolaknya. Aku terpaksa menggunakan cara licik. Tadinya aku ingin menyebarkan desas-desus tentang Duchess yang meracuni adiknya sendiri demi takhta. Tak kusangka Anda datang lebih cepat. Pasti karena penawar racun ini bukan?" Marquis merogoh sakunya. Botol berisi cairan berwarna biru ditunjukkan pada Judith.


Judith bergeming. Ia menatap tajam Marquis Loid tanpa berkedip. Tangannya sudah tak sabar untuk memukul ataupun menghunuskan pedang pada Marquis itu.


"Sayangnya, aku tidak akan memberikannya cuma-cuma. Anda harus membunuh Kaisar terlebih dahulu agar adik-adik Anda selamat, Duchess."

__ADS_1


__ADS_2