Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 30 Penebusan Dosa


__ADS_3

Tangan Leticia masih gemetar memegang pedang. Napasnya tidak teratur. Serangan-serangan Isabella tadi membuatnya sedikit kelelahan.


Sudah lama sekali ia tidak memegang pedang. Meskipun sebenarnya Leticia tidak terlalu ahli, ia masih bisa melakukan gerakan-gerakan dasar. Dan perkataan Grand Duke Faust membuktikan bahwa kemampuannya sangat buruk.


Ia merasa beruntung Isabella mau mengajari putrinya. Jika Leticia yang mengajari Judith, mungkin kemampuan berpedang putrinya akan payah seperti dirinya. 


Leticia menatap mata Gerald. Terlihat kegeraman. Ia takut kemampuannya dapat mempengaruhi hubungan kerja samanya dengan Gerald. 


Gerald ingin melihat kemampuan orang yang mengajaknya bekerja sama. Sebenarnya Gerald bisa memeriksanya sendiri dengan bertarung melawan Isabella. Namun, ia malah memberikan pedang itu kepada Leticia untuk menilai ketahan pedang buatan Count Landel. Leticia menyadari maksud Gerald.


Grand Duke Faust sama sekali tidak bersuara setelah itu. Gerald berjalan ke arah Leticia dan Isabella. Ia melewati keduanya menuju pintu. Ia menolehkan kepalanya membuka suara, "Aku akan pergi ke tempat prajurit bayaran. Kamu tenangkan dulu Permaisuri, Isabella." 


"Baik, Tuan." Isabella menunduk.


"Anda bisa pergi setelah tenang, Permaisuri," kata Gerald tanpa melihat ke arah Leticia.


Gerald meninggalkan mereka berdua. Leticia menjatuhkan pedangnya kemudian mundur perlahan menuju kursi lalu menjatuhkan badannya. Kakinya terasa lemas. Entah ia takut karena Gerald atau syok akibat serangan mendadak Isabella. Leticia melihat tangannya yang gemetaran lalu menggenggamnya.


Isabella menyarungkan pedang lalu mendekati Leticia. Ia duduk di depannya. "Kamu tidak apa-apa, Leti?" tanya Isabella khawatir. 


Leticia tersenyum karena sahabatnya mulai memanggil nama panggilannya sewaktu kecil. Ia bernapas lega.


"Aku tidak apa-apa, Bella."


"Bukan maksud Tuan untuk merendahkanmu, Leti. Menurutku Tuan hanya khawatir kalau seandainya ada orang yang mengincar nyawamu, kamu tidak bisa melindungi diri." 


Leticia menggeleng. "Perkataan Grand Duke Faust benar, gerakanku terlalu kaku. Berbeda denganku, kemampuanmu semakin hebat, Bella."


"Terima kasih, Leti. Itu karena setiap hari aku berlatih dan Tuan mengajariku."


Leticia tersenyum kecut. "Semenjak kamu marah padaku, aku tidak pernah berlatih lagi. Ayahku tidak pernah mengijinkanku untuk memegang pedang."


Isabella terdiam sebentar. Setelah memantapkan pikirannya, ia melihat tangan Leticia lalu menggenggamnya. Isabella merasakan getaran tangan Leticia semakin melemah. Isabella menatap Leticia lembut.


"Aku bisa melatihmu di kediamanku saat malam hari, bagaimana?"

__ADS_1


"Aku takut merepotkanmu."


"Tidak apa-apa hanya seminggu sekali saja."


"Baiklah, Bella."


Mereka berdua tersenyum. Namun, senyum Leticia cepat memudar memikirkan penawarannya tentang Count Landell. Grand Duke Faust sama sekali tidak memberikan jawab kepadanya. 


"Apakah Grand Duke Faust akan memasok senjata dari Count Landell?" tanya Leticia.


"Kemungkinan besar iya. Pedang itu mempunyai daya tahan yang kuat, biasanya pedang akan langsung patah saat diserang oleh orang yang menggunakan aura. Di samping itu, sepertinya Tuan tertarik batu yang kamu bawa itu. Tuan tidak akan membawa batu itu pulang jika tidak berniat membelinya," kata Isabella berusaha meyakinkan Leticia.


"Begitu ya... sebenarnya aku sempat khawatir kalau kamu bersungguh-sungguh ingin membunuhku, Bella."


"Sebenarnya tadi aku melampiaskan kemarahanku dulu kepadamu."


Isabella melepas tangannya dari Leticia. Mereka berdua bertatapan lalu tertawa. Tawa pertama mereka setelah sekian lamanya. Kecanggungan antara keduanya sudah menghilang. Tembok tak terlihat yang membatasi keduanya perlahan runtuh.


"Pemimpin Penyihir Menara datang ke kediaman Faust saat Judith berlatih beberapa hari yang lalu."


"Tindakannya memang sulit diprediksi." Leticia berusaha menjaga raut wajahnya agar tidak terlihat mencurigakan.


"Apakah ada jaminannya dia dan Pemimpin Penyihir Kekaisaran tidak mengkhianati kita, Leti?" tanya Isabella masih mencurigai kedua penyihir itu.


"Mereka tidak akan mengkhiati kita. Aku jamin itu, Bella," kata Leticia dengan tegas.


"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" Isabella memicingkam matanya.


"Mereka yatim piatu dan berasal dari rakyat jelata. Namun, mereka mempunyai bakat menjadi penyihir, jadi aku membiayai mereka untuk belajar sihir tanpa sepengetahuan ayahku. Lama-kelamaan kami berteman sampai sekarang. Jadi kamu tidak perlu khawatir tentang mereka."


"Kenapa kamu membantu mereka?" Isabella menatap tajam Leticia. 


"Mereka mempunyai bakat dan impian, tetapi tidak memiliki uang. Aku ingin impian mereka terwujud menggantikan diriku yang tidak bisa menggapai impianku. Aku bahagia dengan melihat mereka sukses. Rasanya seperti impianku ikut terwujud."


Mata Leticia terpejam membayangkan hal itu. Isabella diam menunggu Leticia melanjutkan penjelasannya. Cerita temannya masih berlanjut. Leticia membuka matanya.

__ADS_1


"Mungkin sebenarnya aku cuma ingin mengatasi rasa bersalahku kepada dirimu, Bella. Sebagai penebusan dosa aku membantu mereka."


Mata Isabella melebar. Ia terdiam. Keheningan terjadi di antara mereka beberapa detik. Merasa perlu mengatakan sesuatu ia bersuara, "Aku memaafkanmu, Leti. Kamu tidak perlu merasa bersalah lagi."


Leticia tersenyum lebar. Ia menunduk, menahan tangisnya. Akhirnya sahabatnya memaafkannya. Itu adalah kata-kata yang ia tunggu sejak lama. Leticia mengatur napasnya. Mendongak melihat Isabella. Tak ada lagi air mata yang menggenangi matanya. 


Isabella tersenyum, "Aku akan berusaha mempercayai mereka, Leti."


"Terima kasih, Bella."


Teringat akan sesuatu, Leticia mengeluarkan sebuah kantong berisi dua batu sihir. "Aku hampir melupakannya. Ini batu sihir untuk berkomunikasi, Bella. Satu untukmu dan satu lagi untuk Grand Duke Faust." Leticia mengeluarkan batu sihir itu satu persatu. Yang berwarna merah untuk Isabella dan yang hitam untuk Grand Duke Faust.


"Aku akan memberikannya pada, Tuan." Isabella menerima kedua batu itu.


"Sudah waktunya aku kembali, sepertinya aku keluar terlalu lama." Leticia berdiri.


"Hati-hati di jalan, Leti." Isabella ikut berdiri


"Sampai jumpa, Bella." 


Wanita di hadapan Leticia perlahan memudar karena batu sihir telah diaktifkan. Leticia sudah sampai pada kamarnya. Emilia seperti biasa sedikit khawatir majikannya terus pergi tanpa rasa cemas sekalipun.


Leticia berganti baju dan membenarkan riasannya yang luntur akibat pertarungannya tadi. Emilia ikut membantunya.


Leticia mengambil pena dan menuliskan pesan untuk Count Landell akan kemungkinan kedatangan orang yang berminat terhadap barang di bengkel pandai besinya. Leticia meminta Count Landell merahasiakan identitas orang itu. Ia berharap usaha Count Landell bisa sukses. 


Leticia tidak menyegel pesan itu dengan lelehan lilin. Ia langsung menyerahkannya kepada Emilia.


"Ini surat untuk Ayahmu. Tolong kirimkan pesan ini, atas namamu, Emilia. Kamu boleh membacanya jika ingin tahu isinya dan tetap rahasiakan hal ini."


Emilia sedikit bingung, lalu membaca surat untuk ayahnya. Matanya membesar kemudian dia mengangguk. "Baik, Permaisuri. Saya akan menyampaikannya."


Emilia segera memasukkan surat itu lalu keluar dari kamar Leticia untuk melaksanakan perintah majikannya. 


Leticia cuma berharap perkataan Isabella benar. Grand Duke Faust tertarik memasok senjata buatan Count Landell. Leticia teringat pada mata merah yang siap menerkamnya kapan saja. Ada saat mata itu terlihat biasanya. Namun, tadi mata itu membuatnya takut. Ia harus mengasah lagi kemampuan berpedangnya, agar tidak membuat Grand Duke Faust membatalkan kerjasama mereka berdua sewaktu-waktu.

__ADS_1


__ADS_2