Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 64 Angan-angan


__ADS_3

Ini adalah kejadian setelah Isabella dan Leticia berlatih.


"Aku jatuh cinta pada Grand Duke Faust."


Rose tersedak mendengar perkataan Leticia. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Leticia bersungguh-sungguh dan matanya berbinar-binar. Rose menurunkan cangkirnya. 


Lalu menghela napas panjang. "Ternyata seleramu aneh-aneh ya Leti," jawab Rose lirih.


Dale sempat terhenti sebentar tetapi segera menyesap tehnya.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya Leticia?" tanya Dale.


"Aku akan menjadi Permaisuri saat Grand Duke menjadi Kaisar. Aku akan membuka mata Judith bahwa Braun tidak pernah menyayanginya. Lalu, Grand Duke akan menjadi ayah baru bagi Judith," tegas Leticia.


"Apa kau mempercayainya?"


Rose masih curiga terhadap Grand Duke Faust. Ia takut kejadian Leticia dengan Braun terulang lagi. Terutama karena reputasi buruk Grand Duke Faust dulu. Ia tidak ingin Leticia terluka lagi.


"Aku mempercayainya," jawab Leticia mantap.


"Baguslah kalau begitu. Jangan lupa undang kami pada pesta pernikahanmu," jawab Dale sambil tersenyum.


Rose melihat Dale dengan tatapan bertanya-tanya. Sampai kapan Dale menyembunyikan perasaannya? Kenapa tidak menyatakan cintanya? Namun begitu mengamati mata Dale, Rose sadar bahwa temannya tulus mengatakan hal itu. Tak ada perasaan tidak rela atau sedih seperti ketika Leticia mengatakan akan menikah dengan Braun.


"Kau sendiri tidak datang pada pesta pernikahannya," goda Rose.


"Mau bagaimana lagi aku sibuk dan tidak menyukai Braun dari awal," balas Dale sambil memalingkan muka.


Rose tahu alasan Dale tidak datang pada pernikahan Leticia. Dale tidak ingin terlihat sedih di pernikahan bahagia temannya. Lalu, kenapa ia menyanggupinya? Kemungkinan ia tidak datang pada hari H.


"Dale apa kamu bisa berhenti menyelidiki Isabella dan Grand Duke?" ucap Leticia.


"Baiklah. Lagipula aku sudah berhenti menemui Countess Wollard, dia bisa dipercaya. Kalau Grand Duke aku akan mempercayai perasaanmu." Dale menatap Leticia.


Rose masih mengamati Dale. Apakah Dale telah merelakan Leticia? Atau ia sudah tidak jatuh cinta lagi? Rose ingin bertanya langsung tetapi pasti Dale akan mengelak.


"Terima kasih Dale."


"Jika Grand Duke melukai perasaanmu bilang saja kepada kami. Kami akan membalasnya berkali-kali lipat." Rose menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja, Rose."

__ADS_1


Leticia tersenyum. Ia yakin bahwa kali ini tidak akan menyesal. Cinta yang diberikan oleh Gerald tidaklah palsu. Kebahagiaannya akan tercapai.


***


Prang...


Cermin pecah. Braun meninju cermin. Darah mengalir di tangannya. Ia melampiaskan amarahnya.


Senyum Charlotte yang baru datang ke kamar Braun langsung memudar. Ia mendekatinya dengan khawatir.


"Jangan melukai dirimu sendiri, Sayang."


"Sial, sial, sial. Bahkan setelah ayahku meninggal, aku selalu dibanding-bandingkan dengan orang itu." Braun terus menerus mengumpat.


Bukan hanya membandingkan, Mendiang Kaisar meminta Braun harus lebih baik dari Gerald. Dari segi kekuatan, kecerdasan dan semuanya. Kendati demikian, Braun terus menerus berada belakangnya. Dikarenakan tidak bisa menang secara adil, ia menyebarkan rumor tentang kekejaman dan keburukan Gerald. Ayahnya yang mengetahuinya membiarkan Braun. Bagi ayahnya yang terpenting adalah kedudukan putranya. Ia malah senang dengan kelicikan putranya.


Namun, meski Gerald sudah dibenci banyak orang, ayahnya tetap memaksa dan mengekangnya. Ia tidak pernah terbebas dari memenuhi harapan ayahnya. Braun yang sudah muak, membunuh ayahnya dengan bantuan Duke Hilbright dengan syarat menikahi anaknya yang bodoh. Leticia sama sekali tidak sadar kalau Braun hanya berpura-pura mencintainya. Dengan mudahnya Leticia jatuh cinta pada Braun.


Duke Hilbright meski terkenal pintar dan licik juga dapat dibohongi. Duke Hilbright menginginkan cucu seorang Kaisar. Braun tidak berniat memiliki anak laki-laki dengan Leticia. Apabila Leticia melahirkan anak laki-laki ia akan langsung membunuhnya. Bersama dengan Charlotte, ia merencanakan kemandulan Leticia. Lalu ia menikah lagi dengan Charlotte. Semua sudah direncanakan dari awal.


Charlotte memegangi tangan Braun yang terluka, menjauhkannya dari cermin.


"Aku tahu, tetapi tenangkan dirimu, Sayang."


"Semua rumor yang kusebarkan telah hilang. Sekarang orang itu menjadi pahlawan di mata orang-orang. Bahkan ada yang mengatakan orang itu seharusnya menjadi Kaisar menggantikan diriku." Braun menatap Charlotte yang telah memperban tangannya.


"Hanya kamu yang pantas menjadi Kaisar, Sayang. Itu hanyalah anggapan dari rakyat kecil." Charlotte menyenderkan kepala Braun pada bahunya sambil membelainya.


"Entah dari mana orang itu mengetahui tindakan busuk dari bangsawan yang ditangkapnya. Orang itu pasti mempunyai informan yang handal, ia bahkan bisa mengetahui sihir terlarang Paus." Braun mulai melembutnya suaranya. 


"Kita harus menangkap informan itu, membuatnya berada di pihak kita atau melenyapkannya." Charlotte mengecup kening Braun.


"Kamu benar, Sayang." Braun membalas mengecup kening Permaisuri Kedua.


"Sembari mencari informan itu, kita bisa memperlihatkan kepada publik bahwa keluarga kekaisaran dan orang itu mempunyai hubungan yang harmonis. Bagaimana dengan mengadakan pesta di istana untuk menghormati pencapaian orang itu?" Charlotte memegang pipi Braun.


"Aku tidak menyukainya. Orang itu akan menjadi pusat perhatian semua orang." Braun memalingkan mukanya.


Charlotte mengarahkan Braun untuk melihat dirinya. "Aku tahu, tetapi bersabarlah sedikit, Sayang. Kita juga harus mencari tahu kelemahan dari orang itu, lalu membuatnya tunduk dihadapan kita." 


"Benar, aku akan membuatnya bertekuk lutut dihadapanku seperti ayahnya yang mengemis-emis pada ayahku." Braun menyeringai.

__ADS_1


Charlotte ikut menyeringai. Berbagai rencana jahat memenuhi kepala mereka berdua.


Braun mendekatkan bibirnya pada Charlotte. Charlotte menerimanya dan membuat Braun melupakan rasa kekesalan dan amarah malam ini.


***


Pada suatu malam dua hari sebelum kedatangan Isabella untuk minum teh bersama Judith dan Leticia.


"Ibu, kapan Ayah datang?" tanya Judith yang berbaring di samping ibunya.


"Ibu tidak tahu, mungkin sedang sibuk. Apa kamu kecewa, Sayang?" Leticia membelai rambut putrinya.


Kericuhan di Kekaisaran pasti membuat Braun tidak mempunyai waktu untuk berpura-pura peduli dengan Leticia dan Judith. Leticia menganggap ini hal yang bagus.


"Benar, ayah juga sering berbohong." Judith mulai menggerutu sambil mengusap-usapkan kepalanya pada tubuh Leticia.


"Bagaimana jika ayahmu tidak seperti yang kamu harapkan, Sayang?" Leticia memeluk anaknya.


"Aku akan kecewa dan kesal." 


"Apa kamu akan memaafkan ayahmu?"


"Tergantung dari kesalahannya. Kenapa Ibu tiba-tiba menanyakan hal ini?" Judith melihat wajah ibunya sambil bertanya-tanya.


Leticia tetap tersenyum sambil menyetuh pipi anaknya.


"Hanya penasaran saja, Sayang."


Leticia mengecup dahi putrinya. 


Judith tersenyum gembira kembali memeluk ibunya. "Apa aku boleh mengundang Guru untuk minum teh bersama?"


"Tentu saja Sayang." Leticia menepuk-nepuk punggung putrinya.


"Aku merasa kesepian beberapa hari ini karena teman-temanku menolak undangan minum teh bersamaku, menurutku gara-gara kericuhan di Kekaisaran saat ini."


Memang terlihat sekali perbedaan antara orang yang berteman dengan tujuan tertentu dan yang tulus. Mereka akan pergi ketika orang-orang dalam masa terpuruk dan mendatangi ketika sedang bahagia. Dengan kejadian ini Judith bisa mengetahui teman yang sungguh-sungguh ingin menjadi temannya bukan karena statusnya sebagai putri kekaisaran.


"Ibu akan menemanimu bila kesepian. Lalu, carilah teman yang berada di sampingmu dalam suka atau duka. Tidak perlu banyak, hanya sedikit saja sudah cukup. Cari yang benar-benar tulus."


"Baik Ibu."

__ADS_1


Judith semakin mengantuk lantas tertidur. Leticia sejujurnya tidak tega melihat putrinya seperti ini. Ia tidak dicintai oleh ayahnya seperti dirinya. Bahkan tidak ada teman yang berada di samping Judith. Judith hanya punya Leticia yang selalu menyayanginya. Leticia akan selalu menjaga putri tercintanya. Ia tidak ingin Judith merasakan penderitaan seperti dirinya.


__ADS_2