Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 78 Keluarga


__ADS_3

"Maafkan aku, Ibu. Seharusnya aku percaya pada Ibu."


Leticia melepas pelukannya.


"Tidak, itu bukan salahmu, Sayang. Ini juga salah ibu menyembunyikan semuanya." Leticia membelai wajah putrinya.


"Kamu semakin kurus. Ayo cepat makan makanannya."


Leticia menyodorkan bubur untuk putrinya. Judith tersenyum lalu memakannya dengan lahap. Ia melihat wajah ibunya juga semakin kurus. Pasti ibunya sangat khawatir hingga tidak napsu makan.


"Apa ibu sudah makan? Ibu sekarang jadi lebih kurus." Judith memegang tangan ibunya.


Leticia mengarahkan tangan yang digenggam Judith ke pipinya. "Sudah, sayang. Ibu tidak apa-apa."


"Ibu akan tidur denganku malam ini bukan?"


"Tentu saja, ibu akan menemanimu, Sayang." Leticia mencium kening putrinya.


Judith membalasnya dengan mencium pipi ibunya. "Terima kasih, Ibu."


Leticia kini duduk di samping Judith yang bersandar di kasur. Ia menyandarkan kepalanya ke kepala Judith sambil memeluknya dari samping.


"Ibu menyayangimu Judith."


"Aku juga sayang Ibu."


Judith menanyakan semua yang Leticia ketahui tentang hubungan ayahnya dan Charlotte. Leticia menceritakan semuanya. Leticia juga menceritakan rencananya dan hubungan kerja samanya dengan Grand Duke Faust untuk melakukan pemberontakan. Judith tercengang mendengar hal itu. Ia menyesal karena kemarahannya menutup telinganya mendengar kebenaran waktu itu. Ia terus menerus meminta maaf pada ibunya. Leticia telah memaafkannya.


Hari sudah menjadi malam.


Mereka tidur berdampingan. Judith bertanya, "Ibu akan tinggal denganku setelah ini?"


"Tentu saja, apa kamu tidak mau?"


"Aku mau asalkan ada Ibu di sampingku."


"Mungkin di sana akan berbeda dengan istana yang penuh dengan kemewahan."


Leticia berniat hidup di desa yang damai. Pikirannya akan lebih segar dan dapat melupakan semua masalah yang pernah ia alami.


"Dimanapun tidak masalah asalkan ada ibu."


"Setelah kamu pulih benar. Baru kita pergi. Kaisar memberi kelonggaran hanya sampai itu."


Begitu mendengar nama Kaisar. Judith terdiam sebentar.


"Apa Ibu mencintai Kaisar?"


Leticia membuka bola matanya. Ia tersenyum. "Ibu mencintainya, tetapi Ibu akan tinggal denganmu. Kamu lebih membutuhkan Ibu dan Ibu juga membutuhkanmu, Sayang."


Judith sadar meski tersenyum ibunya terlihat menahan sesuatu. Saat bersama dengan dirinya ibunya tersenyum, tetapi tidak pernah terlihat sebahagia saat bersama Gerald. Apakah dengan bersama dengan dirinya, Ibunya akan bahagia? Judith tidak mampu menanyakan hal ini.


***


Keadaan Judith berangsur pulih dalam beberapa hari. Namun, itu artinya mereka harus keluar dari istana. Harinya adalah hari ini.

__ADS_1


Isabella menghubungi Dale. Kini Isabella menjadi ajudan Kaisar. Ia tetap berada di samping Gerald.


"Apa kamu akan datang ke sini melihat kepergian Leticia dan Judith?" tanya Isabella.


"Aku akan datang, tenang saja. Walaupun sebenarnya aku tidak tega melihat Leticia dan Kaisar. Ini bukan karena aku masih mencintainya," kata Dale sambil bercanda.


"Mereka akan berada di ruang singgasana nanti." Isabella tidak berniat menanggapi candaan Dale.


Isabella resah melihat nasib sahabat dan tuannya yang tidak bisa bersatu.


"Maafkan aku, ini bukan waktu untuk bercanda," jawab Dale lirih.


Ia berusaha menyemangati Isabella. Meski dirinya sendiri juga gelisah.


Batu sihir yang menghubungkan mereka berdua meredup.


Rose tetap menjadi Pemimpin Penyihir Kekaisaran. Gerald memilihnya karena kehebatannya. Rose akan menyeleksi penyihir istana dengan sungguh-sungguh selama ia menjabat.


Rose bertemu dengan Dean saat berjalan menuju ruang singgasana. 


"Jadi, bagaimana perasaanmu menjadi komandan pasukan istana," tanya Rose pada Dean.


Dean menjadi komandan pasukan istana. Ia menggantikan komandan lama yang telah dibunuh Gerald. Sebenarnya ia sedikit ragu karena kemampuannya yang masih kurang. Namun, ia berusaha untuk menjalankan tugasnya dengan baik.


"Sebenarnya aku ingin tetap melindungi Permaisuri dan Tuan Putri, tetapi mereka tidak mengizinkanku. Mereka memintaku untuk tetap di istana," jawab Dean.


"Jangan bersedih, aku akan membawamu menjenguk mereka sekali-sekali. Lalu, dayang pribadi Leticia akan mengurus mereka."


Emilia tetap akan melayani Leticia dan Judith seumur hidup. Ia akan mengikuti mereka kemanapun mereka pergi. Tanpa dibayar ia akan mengabdi pada mereka. Emilia sudah memberitahu keluarga tentang ini. Mereka semua setuju.


Rose sudah tiba di ruang singgsana. Gerald duduk di kursi Kaisar. Isabella berada di sisi kanan ruangan, sedangkan Rose dan Dale yang baru tiba berada di sisi kiri. Dean menunggu di luar. Mereka menunggu Leticia dan Judith.


Leticia dan Judith telah memasuki ruangan. Mereka menunduk memberikan salam kepada Kaisar.


Gerald berdiri memandangi Leticia berusaha menguatkan hati atas perpisahan mereka. Lalu ia menyampaikan titahnya.


"Aku telah menjadi Kaisar. Keluarga Kekaisaran sebelumnya seharusnya mati. Namun, karena jasamu aku memberikan kelonggaran pada kalian untuk mengasingkan diri. Sekarang, kalian tidak diperkenankan lagi menyandang nama Houllem."


"Baik, Yang Mulia," jawab Leticia dan Judith secara bersamaan.


"Kalian boleh pergi," perintah Gerald.


"Terima kasih, Yang Mulia," kata Leticia.


Keduanya mengangkat kepala. Leticia menatap Gerald, mengingat kejadian mereka bersama. Ia ingin melupakannya, karena bila mengingatnya kesedihan merasuki hatinya. Kenyataan bahwa mereka tidak bisa bersama.


Semua di ruangan itu menatap mereka dengan kasihan. Gerald duduk kembali di kursinya.


Leticia menggandeng Judith untuk keluar ruangan. Sampai tengah perjalan Judith melepas gandengan tangan Leticia. Ia terdiam. Leticia menoleh ke arah putrinya dengan tatapan bingung.


"Apa Ibu akan bahagia jika tinggal bersamaku?" tanya Judith.


"Tentu saja Ibu akan bahagia, Sayang," jawab Leticia sambil tersenyum.


"Kalau begitu kenapa ada rasa sedih di mata Ibu?"

__ADS_1


Leticia tersentak tetapi tetap tersenyum. Putrinya selalu tahu bagaimana perasaannya. "Karena ibu harus melepas orang terkasih ibu yang lain," jawab Leticia.


Judith menggandeng tangan Leticia, tetapi bukan menuju pintu keluar. Ia mengarahkan Leticia ke kursi singgasana. Semua orang yang ada di sana ternganga melihat hal ini. 


Judith melepas gandengan tangannya lalu membiarkan tangan Leticia dan Gerald saling bersentuhan. Judith menyatukan genggaman tangan mereka. Leticia dan Gerald terkejut dengan sikap Judith.


"Kalau begitu tinggalah bersama orang yang dikasihi Ibu," kata Judith.


"Ibu ingin tinggal bersamamu, Sayang." Leticia tidak ingin berpisah dengan putrinya.


"Aku juga akan tinggal bersama Ibu dan Kaisar." Judith tersenyum tidak ada perasaan sedih atau marah. Ia bersungguh-sungguh ingin tinggal bersama mereka berdua.


Leticia menyadarinya. Ia menahan air matanya yang ingin keluar dengan mengatur napasnya.


"Bagaimana dengan tujuanmu?" tanya Gerald.


"Saya masih membenci Anda, tetapi tidak sampai ingin membunuh Anda. Saya tidak ingin melihat Ibu saya tersakiti karena ulah saya lagi."


Gerald terkesan dengan tindakan Judith. Ia rela Ibunya bahagia meski dirinya sendiri harus hidup dengan orang yang dibencinya. Gerald mengelus kepalanya. Judith terkesiap karena tidak menduganya.


Gerald berdiri menatap mata Leticia. Leticia membalasnya sambil tersenyum. Gerald ikut tersenyum. Judith ikut bahagia melihat Ibunya yang bahagia.


"Ehem, ehem, apa kalian hanya akan bergandengan tangan saja?" Celetuk Dale.


Pipi Leticia langsung memerah. "Di sini ada Judith, tidak mungkin aku akan melakukan hal itu di depannya."


"Tapi, aku sudah pernah melihat Ibu berpelukan dengan Kaisar," kata Judith polos.


Isabella menghela napas karena tindakan Dale. Merasa bertanggung jawab ia menghampiri Judith. "Tinggalkan Ibumu dan Kaisar sendirian ya, Judith."


"Baik, Guru."


Isabella menggandeng Judith keluar. Judith yang penasaran bertanya, "Memangnya apa yang akan Ibu dan Kaisar lakukan, Guru?"


"Kamu akan tahu bila sudah besar, Judith," jawab Isabella.


Mereka sudah keluar dari ruang singgasana. Gerald dan Leticia masih bertatapan. Namun, Gerald merasa kesal.


"Sampai kapan kalian ada di sini?" Ia menoleh pada Dale dan Rose.


"Bukankah Leticia hanya tidak ingin dilihat Judith?" jawab Rose tengil.


Gerald menatap mereka tajam. Rose dan Dale terkekeh sambil keluar ruangan.


Kini hanya tinggal Gerald dan Leticia. Gerald mengelus pipi Leticia sambil tersenyum.


Leticia memegang tangan Gerald yang berada di pipinya. "Anda mungkin akan menyesal karena menikahi saya. Saya sulit mempunyai anak. Para Bangsawan juga pasti akan menentangnya," tutur Leticia.


"Aku tidak peduli terhadap hal itu. Atau kamu ingin menyia-nyiakan jerih payah putrimu tadi?" tanya Gerald.


"Tentu saja tidak," balas Leticia dengan senyuman yang paling indah.


Gerald semakin melebarkan senyumannya. Ia mendekatkan bibirnya pada Leticia. Ia ingin merasakan bibir kekasihnya lagi. Kali ini ia tidak akan melepasnya atau menahan diri lagi.


Leticia menerima ciuman Gerald yang menggebu-gebu. Ia mencengkram leher Kaisar, karena ingin merasakannya lebih dalam. Mereka tidak perlu bersembunyi lagi.

__ADS_1


Keduanya melepas ciuman untuk menarik napas. Menyentuhkan dahi mereka sambil terus tersenyum. Leticia merasa bahagia. Kebahagiaan lengkap bersama Gerald dan putrinya. Meski tidak tahu masalah yang akan menerpa mereka, ia yakin dapat menghadapinya bersama keluarga barunya. 


__ADS_2