
Emilia menatap Leticia nanar. Ia ingin mengatakan sesuatu tetapi tenggorokan di dadanya. Ia tidak bisa menolak perintah majikannya. Meskipun perintah itu membuat dirinya tidak bisa bekerja lagi.
Ia ingin terus bekerja agar kondisi keuangan keluarganya stabil. Ayahnya seorang pengusaha pandai besi. Sayangnya usaha pandai besi milik ayahnya tidak banyak pelanggan. Penghasilan milik ayahnya tidak bisa mencukupi kehidupan sehari-hari, karena keuntungan usahanya yang sedikit itu digunakan menggaji pekerja di bengkel pandai besi. Ayahnya tidak tega memecat pekerja-pekerja itu, karena ada keluarga yang bergantung pada mereka. Emilia bertekad membantu ayahnya untuk menghasilkan uang. Ia adalah anak pertama. Ia merasa bertanggung jawab membiayai keluarganya. Adik laki-lakinya berusia delapan tahun hanya bisa membantu-bantu pekerjaan kecil di bengkel pandai besi. Emilia mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan di istana. Ia merasa gembira saat diterima. Ia bersyukur mempunyai majikan yang baik hati. Ia bekerja dengan hati-hati agar tidak mengecewakan majikannya. Namun, sepertinya ia melakukan kesalahan yang besar hingga Permaisuri Pertama memecatnya.
Emilia menerima surat dari Permaisuri Pertama dengan berat hati.
"Sampaikanlah pesan ini pada Count Landell, aku memintanya membuatkan sebuah barang untukku. Ini bayarannya mungkin ini bisa membantu kondisi keuangan keluargamu, Emilia." Leticia memberikan kantong berisi uang kepada Emilia.
"Terima kasih, Permaisuri." Emilia menerima kantong itu dengan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menahan tangisnya.
"Aku akan memberimu cuti selama tiga hari untuk bertemu dengan keluargamu, setelah itu kamu harus kembali bekerja dan bawakan barang yang kupesan," tambah Permaisuri Pertama.
Ternyata majikannya tidak memecatnya. Air mata Emilia mengalir sambil terus-menerus mengucapkan terima kasih.
***
Leticia berusaha menenangkan Emilia. Emilia mencurahkan semua prasangkanya kepada Leticia. Dayang pribadinya mengira Leticia akan memecatnya.
Ini bukan pertama kalinya Leticia disalahpahami. Leticia memutuskan mulai sekarang akan langsung mengutarakan apa yang ia maksud kepada bawahannya, agar kejadian seperti Dean dan Emilia tidak terjadi kembali.
Tangis Emilia mulai mereda.
"Saya berjanji akan kembali, Permaisuri. Saya akan melayani Anda sampai akhir hayat."
"Terima kasih, Emilia."
Emilia undur diri untuk segera mengemasi barang-barangnya.
Leticia berganti pakaian untuk pergi keluar istana. Ia mengambil batu sihirnya untuk teleportasi.
Pemandangan di kamar Leticia berubah sekejab menjadi ibu kota. Hari hampir malam, cahaya matahari berwarna sore keemasan. Leticia berjalan cepat berharap toko tujuannya tidak tutup. Ia sampai pada toko yang menjual senjata.
"Apakah ada pedang buatan dari bengkel pandai besi Count Landell?" tanya Leticia pada pemilik toko.
__ADS_1
"Sepertinya ada, biar saya cari dulu." Pemilik toko pergi ke belakang untuk mencari barang yang dicari Leticia.
Tak perlu menunggu lama, pemilik toko keluar dengan membawa pedang.
Leticia segera membayar pedang itu lalu segera pergi sambil membawanya. Pemilik toko itu memanggil Leticia karena uang yang dibayarkan kebanyakan. Leticia sebenarnya mendengar pemilik toko memanggilnya, tetapi pura-pura tidak mendengar. Ia harus cepat-cepat kembali ke istana. Leticia menuju ke tempat yang sepi lalu mengaktifkan batu sihirnya.
***
Leticia memilih surat yang ditujukan kepadanya. Kebanyakan undangan minum teh yang diadakan di kediaman bangsawan lain. Setidaknya ia harus datang untuk memenuhi undangan itu. Mungkin ada informasi penting yang bisa ia dapatkan.
Leticia membaca salah satu surat dengan segel lilin yang ia kenal. Dale telah menyelesaikan batu sihir yang diminta Leticia. Selanjutnya tinggal memberikan batu ini kepada Isabella dan Grand Duke Faust.
Terdengar suara ketukan pintu. Emilia masuk ke ruangan kerja Leticia.
"Terima kasih atas cuti yang Anda berikan Permaisuri, hari ini saya akan mulai bekerja lagi. Ini balasan surat dari Ayah saya dan barang yang Anda minta, Permaisuri." Emilia memberikan surat Ayahnya dan sebuah kotak kayu kecil kepada Leticia. Leticia menerima keduanya.
Ia membuka surat dari Count Landell.
Count Landell berterima kasih atas pesanan yang diminta Leticia dan atas bayaran yang ia berikan. Ayah Emilia berjanji akan merahasiakan transaksi ini dan berharap akan kesehatan Leticia.
"Mulut saya tertutup rapat, Permaisuri." Emilia menunduk patuh.
***
Leticia datang ke sebuah bar, pedang yang ia beli disembunyikan dibalik jubah bertudungnya. Isabella telah menunggu Leticia di depan bar itu. Sebelumnya Leticia telah mengirim surat kepada Isabella untuk bertemu dengan Grand Duke Faust. Di dalam surat Leticia tidak tertulis nama Grand Duke Faust, untuk mencegah kecurigaan bila ada orang yang membaca suratnya. Ia hanya menulis meminta bertemu Isabella untuk membicarakan Judith. Mereka menggunakan kode yang telah disepakati sebelumnya yang menandakan Leticia ingin bertemu dengan Gerald. Gerald yang menentukan tempatnya yaitu di bar ini.
Mereka masuk. Kondisi bar sangat sepi, hal ini dikarenakan Gerald telah membeli bar itu. Isabella mengantar Leticia ke ruangan tersembunyi. Gerald telah menunggu Leticia di dalamnya.
Mereka sudah berada di ruangan tersembunyi itu. Ruangan itu sangat luas dan kosong. Hanya ada tiga kursi di sini, yang diduduki mereka bertiga. Tidak ada perabot lain selain kursi itu.
"Saya membawa contoh barangnya." Leticia mengeluarkan pedang dari persembunyiannya. Ia berdiri menyodorkan pedang itu kepada Isabella.
Leticia berniat meminta Gerald untuk memasok senjata dari bengkel besi Count Landell. Ia membeli pedang itu agar Gerald bisa menilai kualitas dari pedang buatan Count Landell.
__ADS_1
Isabella ikut berdiri, menerima pedang itu. Lalu memberikannya pada Tuannya. Gerald melihat setiap sudut pedang itu dengan teliti. Ia berdiri mencoba mengayunkan pedang yang dibawa Leticia.
"Bagaimana menurut Anda, Grand Duke?" tanya Leticia.
"Struktur pedangnya kokoh, tidak terlalu berat ataupun ringan," jelas Gerald.
"Saya ada barang menarik lain buatan Count Landell." Sebuah batu berbentuk bulat mulus dikeluarkan dari kantong Leticia.
Leticia memberikannya pada Isabella. Isabella sedikit bingung dengan barang yang diberikan Leticia, tetapi tetap memberikan itu pada Tuannya.
"Apa ini? Batu ini tidak bukanlah batu sihir. Apa kegunaannya, Permaisuri?" Gerald pun kebingungan dengan batu yang ada ditangannya.
"Batu ini dapat menyerap aura, lalu menyalurkannya pada pedang sehingga serangan yang dilancarkan akan lebih kuat. Anda dapat mencobanya, Grand Duke," jawab Leticia.
Gerald mengeluarkan auranya. Perkataan Leticia benar. Aura miliknya terserap pada batu itu.
"Saya akan mencoba batu ini di rumah, melancarkam serangan di sini pasti akan menimbulkan kerusakan dan keributan," kata Gerald.
"Jika tertarik. Anda bisa memesan pedang dengan tempat untuk batu itu dengan Count Landell, Grand Duke."
"Akan saya pikirkan."
Gerald memberikan pedang itu kembali kepada Leticia. Leticia menerima pedang itu.
"Isabella, coba cek ketahanan pedang itu," perintah Gerald.
Isabella mengeluarkan pedangnya, lalu menyerang Leticia.
Secara reflek, Leticia menangkis serangan Isabella dengan pedang yang ada di tangannya. Tidak ada waktu untuk terkejut, ia diserang terus menerus. Namun, semua serangan yang ditujukan kepadanya dapat ditangkis.
Isabella mengeluarkan auranya, memperkuat serangannya. Leticia masih bisa menangkisnya dengan bersusah payah. Isabella mengerahkan seluruh kekuatannya pada serangannya kali ini. Leticia menangkis serangan itu dengan sekuat tenaga. Pedang Leticia mulai sedikit retak.
Isabella menghentikan serangannya. Ia mengangguk pada Gerald menandakan pedang buatan Count Landell, mempunyai ketahanan yang bagus.
__ADS_1
Namun, tanggapan dari Grand Duke Faust sedikit berbeda dari yang Leticia dan Isabella kira. "Gerakan Anda terlalu kaku, Permaisuri. Jika dalam situasi yang siap mengancam nyawa sesungguhnya, Anda dapat terbunuh," kata Gerald dingin.