Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 21 Kebenaran dari Serangan


__ADS_3

Seringai masih terpampang di bibir Dale. Kemunculannya tiba-tiba, tidak terlalu mengejutkan Leticia. Dale pasti menggunakan tudung sihir yang dapat membuat orang tidak terlihat apabila memakainya. 


"Sebenarnya aku berniat mengikutimu diam-diam, tetapi ternyata kau tajam juga Leticia," ucap Dale memecah ketegangan yang terjadi di antara mereka berdua.


"Apa alasanmu melakukan ini?" tanya Leticia sedikit marah.


"Aku hanya ingin membantumu bebas dari pengawalmu agar kau dapat bergerak bebas."


Itulah alasannya tidak ada perampok yang mengejar Leticia. Ia sudah curiga dari tadi, orang yang mengikutinya sebenarnya membantunya diam-diam. Leticia menghela napas panjang. 


"Setidaknya beritahu aku terlebih dahulu, agar aku dapat bersiap-siap." Leticia mengerutkan dahinya. 


"Maafkan aku. Aku hanya membalas kelakuanmu yang menyembunyikan sesuatu dari kami."


"Apa yang kusembunyikan?" 


Leticia merasa tidak ada yang ia sembunyikan dari temannya ini. Ia tidak pernah membohongi temannya.


"Kau menghubungi Grand Duke Faust diam-diam, bukan?"


Leticia memejamkan matanya. Ternyata masalah ini. Ia bukannya tidak ingin memberitahu tahu temannya. Ia hanya tidak sempat karena terlalu sibuk memikirkan banyak hal.


"Itu karena aku menyampaikan beberapa informasi dan rencana baru."


"Setidaknya beritahu aku atau Rose, Leticia. Kami takut terjadi sesuatu kepadamu."


"Ternyata kalian masih belum mempercayainya. Rumor buruk tentang dirinya hanyalah kabar burung yang tidak benar. Jika dia memang kejam, maka Isabella sudah lama mati. Isabella tidak akan melayani Tuan yang seperti itu." Leticia berusaha meyakinkan Sang Penyihir Menara. 


Tidak terlihat kepercayaan dari sorot mata Dale. "Apakah teman lamamu itu dapat dipercaya? Bukankah dia membencimu?"


"Aku mempercayainya dan dia mempercayaiku. Hubungan kami jadi merenggang karena ayahku. Tolong jangan membuat hubungan kami jadi buruk lagi, Dale."


Dale terdiam, berpikir sebentar. Setidaknya rasa curiganya mulai berkurang walau hanya sedikit.


"Baiklah, kalo begitu aku boleh mendekatinya bukan?"

__ADS_1


"Apa?"


Dale tidak menjawab hanya terus tersenyum. Dale memang terkenal sebagai penyihir pecinta wanita. Banyak nona bangsawan yang terkena rayuannya. Namun, hubungan mereka tidak ada yang serius. Dale hanya bermain-main dengan mereka.


Leticia tahu apa yang dimaksud Dale. Bukan mendekati dalam arti ingin mendapatkan cinta. Ia hanya ingin mendapat informasi dari Isabella. Sebenarnya inilah caranya mendapat informasi. Ia berusaha membuat targetnya mencintai dirinya hingga lengah mengutarakan rahasia yang tidak boleh disebarkan. Dale menghapus ingatan targetnya apabila sudah mendapat apa yang ia inginkan.


"Baiklah, jika itu akan membuatmu mempercayainya, tetapi jangan sakiti dia. Aku tidak akan memaafkanmu meskipun kamu adalah temanku."


"Aku janji Leticia."


Leticia meminta maaf kepada Isabella dalam hati. Semoga gangguan Dale tidak merusak hubungan pertemanan Isabella dan Leticia. 


Leticia membalikkan badan, berjalan menuju ke desa di dekat kuil. Dale kebingungan melihat Leticia berjalan.


"Bukankah kuil berada di sebelah sana, Leticia?"


"Tujuanku bukan ke kuil. Aku akan ke desa di dekat kuil untuk menyelidiki kasus anak yang hilang di sana."


Dale menepuk dahinya. Menghela napas panjang.


"Aku tidak berniat menyembunyikannya. Kupikir karena aku yang menyelidiki pihak kuil, aku tidak perlu mengatakannya kepada kalian. Aku tahu kalian juga sibuk."


"Setidaknya beritahu kami. Sebagai hukumannya kali ini kau berjalan kaki saja. Aku akan menunggu di sana dengan berteleportasi."


Dale sedikit kesal, tetapi ia benar-benar peduli terhadap Leticia. Ia tidak ingin terjadi hal buruk kepadanya. Ia ingin melindunginya. Itulah alasannya ia mengikuti Leticia diam-diam. Ia yakin Leticia akan mengizinkannya untuk ikut meskipun aksinya ketahuan.


"Aku tidak masalah jika jalan kaki. Orang-orang akan curiga jika aku bisa ke sana dengan cepat. Tampilanku yang seperti ini bisa meyakinkan penduduk desa bahwa Permaisuri telah diserang perampok. Namun, kenapa kamu ikut menemaniku menyelidiki desa itu? Apa kamu tidak mempercayaiku?"


Leticia merasa penyihir menara ini tidak mempercayainya. Ia bisa menyelidiki desa itu sendirian tanpa bantuannya. Atau sebenarnya Dale takut jika ia menyembunyikan sesuatu lagi?


"Aku mempercayaimu Leticia. Hanya saja aku tidak bisa membiarkan seorang Permaisuri sendirian. Kita tidak tahu bahaya yang terjadi di desa."


"Baiklah. Setelah masuk ke dalam desa tolong pakai tudungmu. Aku tidak ingin ada yang curiga Permaisuri datang ke desa dengan Pemimpin Penyihir Menara."


"Baiklah. Jika itu maumu Leticia. Aku akan memasang sihir perlindungan kepadamu. Jika terjadi apa-apa panggil aku lewat batu sihir."

__ADS_1


"Baiklah."


Dale mendekati Leticia hingga jarak mereka hanya satu langkah. Tangannya menyentuh bahu Leticia. Leticia merasa ada sebuah pelindung tidak terlihat yang menyelimutinya. 


"Aku pergi dulu."


Dale menghilang dari pandangan Leticia. Kini ia sendirian. Memang sedikit menakutkan bagi seorang Permasuri berjalan sendirian tanpa pengawal. Ia bersyukur Dale mau menemaninya.


Perampokan yang didalangi Dale membawa keuntungan bagi Leticia. Ini memang melenceng dari rencana awalnya. Namun, ia bisa menyelidiki desa lebih leluasa. Tidak ada pengawal yang mengawasi dan melaporkan gerak-gerik Leticia kepada Braun ataupun Charlotte. Dengan ini rencananya akan berjalan lancar.


***


Leticia sudah sampai pada pintu masuk desa. Seseorang melambaikan tangan kepadanya dengan senyum yang khas. Dale sudah menunggunya.


Dale memakai tudungnya hingga tidak terlihat. Meskipun tidak terlihat, Leticia masih bisa merasakan keberadaan Dale. Ia merasa aman. Sebisa mungkin ia tidak berbicara dengan Dale saat pemimpin penyihir menara memakai tudungnya. Leticia tidak mau dianggap sebagai orang gila. Ia akan berbicara dengannya saat mereka berdua sendirian.


Leticia masuk ke desa dengan keadaan yang kacau. Beberapa orang melihatnya dengan prihatin. Beberapa orang takut mendekatinya. Penampilannya benar-benar terlihat seperti bangsawan yang habis kerampokan. Gaun yang kotor terkena tanah. Rambut yang sedikit acak-acakkan. Ia jalan terhuyung-huyung karena kakinya sangat lelah.


Ada seorang wanita berambut cokelat mendekatinya.


"Anda tidak apa-apa, Nyonya?" tanya wanita itu khawatir.


"Saya habis diserang perampok. Saya terus lari hingga sampai di sini," suara Leticia gemetar.


Leticia memegang kedua pundak wanita itu. Air mata menggenangi matanya. Leticia berharap aktingnya meyakinkan.


Orang-orang di sekitar yang melihatnya merasa iba. Begitu pula, wanita berambut cokelat itu. Wanita itu berusaha menenangkan Leticia.


"Beristirahatlah dulu di kedai saya, Nyonya, sambil mencari jalan keluar atas masalah yang menimpa Anda." Tangan kasar wanita itu menyentuh tangan Leticia dengan lembut. Wanita itu benar-benar prihatin atas kemalangan yang menimpa bangsawan yang ada di depannya.


"Terima kasih... terima kasih...." Leticia menyeka air matanya.


Wanita itu mengantar Leticia ke sebuah kedai kecil. Ada papan yang bertuliskan tutup yang berada di samping kedai itu. Kini mereka sudah berada di dalam. Wanita itu mempersilakan Leticia duduk. Ia pergi ke belakang lebih tepatnya ke dapur untuk mengambil minum untuk Leticia.


Kini ia sendirian bersama Dale yang tidak terlihat. Ia harus segera memperoleh informasi dari desa ini sebelum pengawalnya sadar bahwa dirinya hilang. Mereka pasti akan mencarinya ke daerah sekitar. Jika pencarian mereka sudah sampai pada desa ini, maka waktu Leticia sudah habis. Ia harus memaksimalkan waktu yang mereka punya.

__ADS_1


__ADS_2