Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 33 Babak Baru


__ADS_3

Semenjak mendapat surat dari ayahnya, Emilia terus berterima kasih atas bantuan dari Permaisuri Pertama. Ia menunduk berkali-kali hingga membuat Leticia merasa tidak enak. Keluarga Landell berjanji akan membalas kebaikan dari Permaisuri Pertama hingga akhir hayat.


Sudah waktunya ia makan bersama putrinya, Braun dan Charlotte. Leticia menjemput Judith terlebih di dahulu di kamarnya sebelum pergi ke ruang makan.


Charlotte sudah berada di ruang makan. Ia duduk di sebelah kanan kursi Braun yang masih kosong. Leticia dan Judith duduk di sebelah kiri. Leticia dan Judith saling berhadapan di meja panjang itu. Tak perlu menunggu lama Braun datang duduk di tengah-tengah mereka. 


Mereka mulai makan begitu hidangan tersedia di meja. Biasanya Charlotte yang pertama kali membuka percakapan dengan Braun. Sang Kaisar menanggapi istri keduanya dengan lembut, berbeda apabila Leticia yang berusaha berbicara. Braun memang tidak menanggapi istri pertamanya dengan dingin tetapi ia juga tidak bersemangat menanggapi Leticia.


Sekarang Leticia hanya diam saja melihat Charlotte yang terkadang merayu Braun. Topik pembicaraan yang selalu susah payah ia cari dulu, sekarang tidak ingin repot-repot ia cari. Ia sudah lelah berusaha berjuang mendapatkan cinta Braun yang tidak akan pernah ia dapatkan. Balas dendam kepada orang yang ia cintai adalah tujuannya sekarang


Tiba-tiba Braun bertanya, "Kudengar kamu akan pergi ke kediaman Blaire, Leticia?"


Tidak seperti biasanya Braun bertanya kepada Leticia terlebih dahulu. 


"Benar, Yang Mulia. Saya diundang oleh Countess Blaire ke kediamannya," sahut Leticia dengan nada yang pura-pura senang. Senyum palsu merekah di bibirnya.


"Betul juga, kemarin saya juga diundang oleh Countess Blaire. Countess membicarakan bisnis suaminya yang semakin sukses," timpal Charlotte.


"Begitu... terima kasih atas informasinya, Permaisuri Charlotte," ujar Leticia.


"Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan hari ini, Judith?" tanya Braun.


"Saya akan pergi berlatih pedang dengan Countess Wollard, Yang Mulia," jawab Judith sopan. 


"Apakah Anda tidak lelah belajar pedang, Tuan Putri?" tanya Charlotte.


"Belajar pedang adalah keinginan saya, Permaisuri Charlotte. Jadi meskipun lelah, saya tidak boleh mengeluh. Semua itu saya lakukan demi Kekaisaran," ucap Judith bijak.


Leticia tersenyum bangga kepada putrinya. Charlotte tersenyum palsu, ia merasa kesal. Braun tak mengatakan apapun sambil tersenyum.


Mereka tak membicarakan apapun setelah itu. Selesai makan Braun berdiri untuk melaksanakan tugasnya. Leticia masih duduk bersama Judith. Charlotte mendekati Leticia, berbisik kepadanya, "Berhati-hatilah dengan orang terdekatmu, Permaisuri Leticia."

__ADS_1


Charlotte menyeringai setelah berbisik kepadanya. Mata Leticia melebar mendengar apa yang dikatakan Charlotte. Charlotte ingin membuat Leticia tidak percaya kepada Rose. Namun, perkataan Charlotte sama sekali tidak memengaruhi dirinya. Rose sudah menceritakan apa yang ia katakan kepada Braun dan Charlotte. Yang membuat Leticia terkejut bukan hal itu. Charlotte mulai memperlihatkan sifat aslinya. Suatu saat, mungkin Charlotte akan mengintimidasi Leticia secara terang-terangan. Leticia siap menghadapinya kapanpun.


Charlotte telah pergi. Leticia tersenyum kepada Judith mengelus-elus kepalanya karena bangga. Ia mengantarnya pergi. Tiba saatnya Leticia menyelidiki bisnis Count Blaire.


***


Leticia sampai pada kediaman Blaire dituntun menuju ke taman. Countess Blaire telah menunggu di taman.


"Selamat datang, Permaisuri Pertama," sapa Countess Blaire.


Leticia menerima salam dalari Countess. Countess Blaire juga mengundang beberapa bangsawan lain. Leticia duduk di antara mereka. 


Countess Blaire mulai berceloteh tentang bisnis suaminya kepada tiap orang di sana. Banyak orang yang tertarik pada bisnis Count Blaire. Leticia mendengarkan penjelasan Countess Blaire dengan seksama. Inti dari ucapannya sama dengan yang disampaikannya pada acara minum teh yang diadakan Leticia. Tak ada informasi baru.


Satu persatu bangsawan mulai pulang. Tinggal Leticia dan Countess Blaire.


"Apakah Anda tertarik pada bisnis baru suami saya, Permaisuri?"


"Kalau boleh tahu, bisnis baru apa yang Count Blaire jalankan, Countess?" tanya Leticia.


Selama Count Blaire bicara panjang lebar tak pernah ia menyinggung bisnis apa yang dijalankan suaminya. Hanya keuntungan besar yang diceritakan. 


"Saya minta maaf, saya tidak bisa membocorkan bisnis Suami saya. Bukannya saya tidak percaya kepada Permaisuri, saya hanya mentaati perintah Suami saya untuk tidak menceritakan bisnis ini," jawab Countess Blaire.


Kenapa pasangan Blaire menutup-nutupi bisnis yang dia jalankan? Sungguh mencurigakan. Ada satu kemungkinan yang dipikirikan Leticia, bisnis mereka pasti ada sesuatu yang salah.


"Ah... begitu, sayang sekali saya ingin melihat di mana bisnis Suami Anda jalankan, Countess. Mungkin dengan melihatnya saya akan berinvestasi dalam jumlah besar." Leticia memasang perangkap yang sulit ditolak oleh orang lain. Ia yakin Countess Blaire akan terjebak.


Countess Blaire terdiam sebentar. Lalu bertutur, "Sekali lagi maaf, Permaisuri. Saya tidak bisa menceritakannya. Bahkan pada orang yang berinvestasi pada bisnis ini, kami tidak menceritakan bisnis apa yang dilakukan. Investor kami tidak mau ambil pusing, yang terpenting bagi mereka adalah mendapat keuntungan."


"Begitu ya... saya minta maaf karena tidak bisa menjadi salah satu investor suami Anda, Countess."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Permaisuri. Apabila Anda berubah pikiran, Anda bisa menghubungi saya atau suami saya, Permaisuri."


"Baik, Countess. Saya pamit terlebih dahulu."


Semua umpan yang Leticia berikan, sama sekali tidak membuat Countess Blaire membuka mulut. Countess Blaire lebih pintar daripada yang ia kira. Tak mendapatkan apa-apa, Leticia kembali ke istana.


***


Leticia menghubungi Dale. Hari sudah gelap, pastinya Dale sudah kembali ke rumahnya dari kediaman Faust. Dale pergi ke sana hanya saat Isabella melatih Judith. Ia tidak mungkin pergi ke kediaman Faust sehari-hari karena pekerjaan di menara tidak mungkin ditinggalkan.


Sebuah suara terdengar dari batu sihir yang berada di genggaman Leticia. "Ada apa, Leticia?"


"Bisakah kamu selidiki di mana tempat dan bisnis apa yang dijalankan Count Blaire, Dale?" pinta Leticia.


"Tentu saja. Bagaimana dengan penyelidikanmu hari ini?"


Jika Leticia meminta bantuan Dale tentunya penyelidikannya tidak membuahkan hasil yang bagus.


"Aku sudah memasang umpan untuk membuat Countess Blaire mengatakan bisnis yang dijalankan suaminya. Namun, Countess sama sekali tidak tergiur. Infromasi yang kudapatkan sama dengan saat Countess datang ke acara minum teh milikku," jelas Leticia.


"Ternyata bangsawan satu itu cukup pintar. Aku akan segera mengabarimu, setelah mendapat informasi, Leticia."


"Terima kasih, Dale."


"Kau tidak perlu berterima kasih padaku, Permaisuri. Soal teman lamamu dan Grand Duke Faust, aku akan memutuskan apakah mereka bisa dipercaya atau tidak setelah mendapat informasi yang cukup."


Sebelum sempat membalas ucapan Dale, batu sihir itu meredup. Leticia menghela napas. Sulit sekali untuk membuat temannya dan pihak Grand Duke Faust akur.


Leticia mengambil batu sihir lain menghubungi Rose. Leticia menceritakan hal yang sama pada Rose. Mendengar hal ini, Rose menawarkan diri untuk membantu pencarian tempat bisnis Count Blaire. Leticia meminta Rose menyerahkan hal ini kepada Dale dan dirinya. Ia tidak ingin Rose dicurigai oleh Braun dan Charlotte. Jerih payah Rose yang sudah berpura-pura dengan baik, tidak ingin ia sia-siakan. Rose sedikit kecewa tetapi menuruti permintaan temannya. 


Leticia mematikan batu sihir miliknya. Ia melihat batu sihir lain. Batu sihir yang digunakan untuk menghubungi Isabella dan Grand Duke Faust. Ia ragu haruskah mereka dihubungi. Leticia memutuskan akan mengubungi mereka saat hari terang. Ia tidak ingin berbicara dengan Grand Duke Faust sendirian.

__ADS_1


__ADS_2