Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 58 Sihir Terlarang Kuil


__ADS_3

Rose berada dalam ruang kerja membaca buku-buku sihir terlarang. Meskipun benci membaca, ia tetap melakukannya demi kelancaran rencana Leticia. Mencari sihir yang mengorbankan anak-anak memerlukan waktu yang lama. Ada banyak macam-macam sihir terlarang, menghidupkan orang mati, menciptakan manusia baru, menggandakan uang dan masih banyak lagi. Namun, semua itu tidak melibatkan anak-anak. 


Rose sibuk berkutat dengan pekerjaannya, tidak sadar akan ketukan pintu. Gedoran pintu itu semakin keras hingga memecahkan konsentrasinya. Ia mengumpat. Ia sudah memperingatkan pada bawahannya untuk tidak mengganggunya selama beberapa hari. Mereka sama sekali tidak mengindahlan perintahnya. Rose akan memecat orang yang mengusiknya sekarang. Ia tidak peduli kalau penyihir bangsawan itu melabraknya. Bangsawan itu tidak punya kemampuan yang hebat hanya mengandalkan uang saja. Jika bangsawan itu melapor pada Braun, Rose tidak ambil pusing. Lagipula kedudukan Braun sekarang semakin rapuh. 


Rose membuka pintu dengan keras.


"Sudah kubilang jangan menggangguku!" teriak Rose pada orang yang ada di depannya.


Ia mendongak karena perbedaan tingginya dan orang itu cukup jauh. Wajah orang itu tampak sangat terkejut. Ia merasa bersalah karena telah mengganggu Pemimpin Penyihir Kekaisaran. Ia menundukkan kepalanya.


"Maafkan saya, Pemimpin Penyihir Kekaisaran. Permaisuri meminta saya untuk memeriksa keadaan Anda, karena tidak ada jawaban saya mengetuk lebih keras. Permaisuri khawatir karena sudah berhari-hari Anda tidak keluar ruangan."


Ternyata pengawal Judith. Rose memegang kepalanya. Raut mukanya bercampur rasa malu dan marah. Ia mempersilakan Dean untuk masuk.


"Apa Permaisuri memanggilku?"


"Tidak, Penyihir Istana. Permaisuri hanya ingin Anda istirahat."


Rose menyilangkan lengannya. Istirahat juga diperlukan. Otak yang segar akan mempercepat kinerjanya dalam mencari sihir terlarang kuil.


Dean menunggu Rose berbicara sambil duduk tegak. Sepertinya ia telah mengacaukan pekerjaan yang dilakukan oleh penyihir istana. Namun, ia hanya menjalankan perintah Permaisuri.


"Baiklah aku akan beristirahat, tetapi aku tidak berminat untuk keluar ruangan. Temani aku minum teh, itu bisa menyegarkan pikiranku," jawab Rose.


"Maaf, saya tidak bisa menyajikan teh, Penyihir Istana," balas Dean.


"Aku bisa menyajikannya sendiri, kau hanya perlu minum teh bersamaku itu saja. Ini tidak akan lama."


Dean berpikir tidak ada salahnya menemani Pemimpin Penyihir Kekaisaran sebentar. Ia perlu memastikan penyihir yang satu ini beristirahat agar bisa melapor pada Permaisuri. Tidak ada jaminannya, penyihir ini akan beristirahat setelah Dean meninggalkan tempat ini. 


Bukan berarti ia bermalas-malasan karena ada kesempatan. Ia tetap melaksanakan tugas dari Pemaisuri Pertama.


Rose memanaskan air menggunakan sihirnya. Air panas itu masuk ke dalam teko yang sudah berisi teh. 


Dean melihat cangkir teh berterbangan menuju meja di depannya. Teh yang sudah jadi disajikan ke cangkir.


Rose menikmati harum teh itu terlebih dahulu sebelum menyesapnya. Harum teh ini membuatnya sedikit lebih tenang.


Dean ikut menyesap teh ini. Ia merasa harum dan rasa teh ini tidaklah asing. Meskipun disajikan dengan serampangan, rasa teh ini tidak buruk.

__ADS_1


"Apa kau menyukainya?"


"Saya menyukainya, ini seperti teh yang sering disajikan ibu saya."


Rose akhirnya bisa tersenyum, setelah beberapa hari ini ia hanya bisa menggerutu. Minum teh bersama orang lain memang lebih menyenangkan daripada sendirian.


Dean menghabiskan tehnya. Sudah waktunya ia kembali untuk mengawal Putri Judith. Penyihir istana juga sudah beristirahat walaupun hanya sebentar. Ia sudah melaksanakan tugasnya.


"Saya undur diri untuk mengawal Tuan Putri, Pemimpin Penyihir Istana. Tuan Putri pasti sudah selesai belajar." Dale berdiri sambil menundukkan kepala.


"Baiklah, aku akan kembali bekerja. Istirahat sebentar seperti ini saja sudah cukup."


Dale keluar dari ruang kerja Rose. Rose menuju meja kerjanya, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi dengan lebih bersemangat.


***


"Berhasil!"


Dale berteriak kegirangan karena telah menemukan sihir terlarang yang melibatkan anak-anak. Setelah lima hari tidak tidur untuk mencari dan mencari, jerih payahnya membuahkan hasil. 


Dale mencoba menghubungi Leticia, tetapi mengurungkan niatnya karena sudah larut malam. Pada akhirnya, ia menghubungi Rose. 


"Apa kau sudah mendapatkan sesuatu?"


"Masih belum, aku sedang mencari-cari."


Dale tersenyum bangga. Ia menemukan sihir terlarang kuil terlebih dahulu.


"Sudah kuduga kau tidak bisa menemukannya," hina Dale sambil terkekeh.


"Apa kau mengajak berkelahi?" Rose meninggikan suaranya.


"Datanglah ke tempatku aku sudah menemukannya," jawab Dale bangga.


Terdengar jeritan gembira dari Rose sebelum memutus hubungan mereka. Rose dengan cepat datang ke rumah Dale. Ia melihat penampilan Dale yang jauh buruk darinya. Ia mengakui bahwa Dale lebih hebat darinya. Mereka berdua tertawa. Usaha mereka beberapa hari ini tidak sia-sia.


"Jadi sihir terlarang apa yang dilakukan oleh kuil?" tanya Rose.


Dale meraih buku yang berisi sihir terlarang itu, menyodorkannya pada Rose. Rose menerimanya. Dale membuka buku itu tepat pada halaman sihir terlarang yang mengorbankan anak-anak.

__ADS_1


Rose membaca buku itu dengan seksama. Ia terkejut, tetapi dengan cepat mengatasinya. 


"Apa kau sudah memberitahu, Leticia?" tanya Rose.


"Belum, aku tidak ingin mengganggunya,  dia pasti sudah tidur."


"Lebih baik kita tidur dan memberitahunya besok."


Dale mengiyakan Rose. Rose kembali ke rumahnya tidur dengan nyenyak. 


Sebelum menuju ranjangnya ia menatap kembali sihir terlarang yang dilakukan oleh kuil. Informasi ini akan membuat Leticia terkejut. 


***


Leticia kedatangan tamu dua penyihir di kamarnya. Ia menyajikan camilan dan teh untuk mengurangi rasa lelah mereka. Ia langsung menanyakan maksud mereka datang ke sini.


"Jadi apa yang kalian dapatkan?"


"Aku sudah menemukan sihir terlarang yang melibatkan anak-anak," jawab Dale


"Sihir apa itu?"


Dale dan Rose saling berpandangan. Dale mengalihkan pandangannya pada Leticia.


"Sihir untuk hidup abadi. Sihir yang menentang kematian," balas Dale.


Leticia terdiam. Bangsawan-bangsawan itu melakukan perbuatan keji hanya demi ingin berumur panjang. Bahkan rela mengorbankan anak-anak tidak bersalah. Tidak ada ampun bagi mereka. Mereka terkena hukum karma.


Ada dua alasan Paus membantu mereka. Pertama, ia juga ingin hidup abadi. Ia bisa disembah oleh orang-orang karena memiliki berkat yang melimpah, yaitu umur panjang. Tanpa rasa perikemanusiaan mengorbankan dan membohongi semua orang.


Kedua, ingin memiliki kekayaan yang melimpah. Mungkin alasan kedua ini tidak seberapa, tetapi kabarnya Paus dulunya hidup sengsara karena kemiskinan. Begitu mencicipi rasa bergelimpangan harta, ia tergiur untuk mendapatkan lebih dan lebih. 


"Terima kasih, kalian bisa beristirahat. Aku tahu kalian sudah berusaha keras, kerja kalian sangat bagus. Sisanya serahkan padaku dan Grand Duke Faust."


Leticia tersenyum pada mereka berdua. Mereka bernapas lega. Dale pulang terlebih dahulu. Rose kembali ke ruangannya.


Leticia menghubungi Grand Duke Faust, memberitahu sihir terlarang yang dilakukan oleh kuil. Ia juga menceritakan pemikiran yang ada di kepalanya tentang alasan Paus bekerja sama dengan bangsawan-bangsawan itu.


Sudah saatnya untuk menjatuhkan karma bagi Paus.

__ADS_1


__ADS_2