Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 25 Penyelidikan Gerald


__ADS_3

Rose bersujud dihadapan Kaisar dan Permaisuri kedua. Seperti biasa ia diminta menghadap Kaisar untuk melaporkan informasi mengenai Permaisuri Pertama. Loyalitas Penyihir Kekaisaran kepada Kaisar merupakan hal yang lumrah.


"Informasi apa yang kamu dapatkan dari Permaisuri Leticia, Penyihir Kekaisaran?" tanya Braun.


"Permaisuri Pertama belum menceritakan sesuatu yang penting kepada saya, Yang Mulia. Saya hanya mendengar beliau pergi ke kuil." Rose masih bersujud dan menundukkan kepala. Sangat lancang apabila ia berani menatap mata Kaisar.


"Bila ada tindakannya yang mencurigakan, laporkanlah padaku," perintah Braun.


"Baik, Yang Mulia."


Rose undur diri. Menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat meyakinkan. Ia menjadi agen ganda yang berpura-pura memata-matai Leticia. Ia melaporkan hal palsu kepada Braun. Braun tahu hubungan antara Leticia dan Braun. Namun, ia tidak tahu seberapa dekat hubungan mereka. Mereka mempercayai satu sama lain. Rose tidak akan mengkhianati Leticia. 


Rose melaporkan gerak-gerik Braun kepada Leticia. Setiap kali ia dipanggil, Rose akan memberitahu Leticia. Mereka sudah lama bekerja sama.


Sudah saatnya Rose menemui Leticia. Menanyakan keadaannya, memberitahunya tentang Braun lalu melaporkan informasi kepada Braun. Rose ingin segera menggulingkan pemerintahan Braun sehingga tidak perlu melakukan hal seperti ini lagi


***


Gerald berdiri di depan bangunan yang cukup megah, tetapi tidak semewah kediaman miliknya. Ia sudah membuat janji dengan pemilik kediaman yang ada di depannya. Rencana yang dibuat oleh Permaisuri Pertama, ia ikuti satu-persatu.


Sebenarnya ia masih belum mempercayai Permaisuri Pertama sepenuhnya. Istri dari musuh ikut membantu memulihkan reputasinya sungguh sulit dipercaya. Tiap kali menjalankan rencana, Gerald lebih berhati-hati untuk mengantisipasi jebakan yang ia buat.


Lalu, kenapa ia menerima tawaran Permaisuri Pertama? Mata emas wanita itu bagaikan cahaya kecil yang berada di dalam kegelapan. Membuat pandangan terlihat lebih jelas yang mampu mendorong seseorang tidak ragu-ragu untuk berjalan.


Sebuah cahaya harapan untuk menyinari kondisi terpuruk, membuat siapapun akan menggapai harapan yang mungkin palsu itu. Gerald ingin menggenggamnya walau mungkin harapan itu akan membawanya menuju kegelapan yang paling terdalam, lalu menghilang, meninggalkannya sendirian.


Jika suatu saat Permaisuri Pertama mengkhianatinya, Gerald akan membuat wanita itu mengalami penderitaan yang sama dengannya. Menyiksanya dengan membunuh orang terdekatnya satu persatu lalu memenggal kepalanya. 


Gerald mengepalkan tangannya. Ia berharap hal itu tidak akan terjadi. 


Kepala pelayan kediaman ini mengantar tamu terkejam di Kekaisaran kepada pemilik kediaman ini. Kaki kepala pelayan itu bergetar, Gerald berusaha tidak melihatnya. Perlakuan seperti ini entah sampai kapan ia harus menerimanya.


Sekarang, ia sudah berhadapan dengan pria yang sedikit gendut dengan kumis tebal. Ia memperhatikan pria yang ada di depannya dengan seksama. Hidup penguasa makmur, sedangkan penduduk di wilayahnya tertimpa kemalangan.  Viscount Gremaroft menyambut Gerald dengan senyum bisnisnya.

__ADS_1


"Jadi ada keperluan apa Anda kemari, Tuan Grand Duke?"


"Saya dengar Anda berdonasi di kuil dalam jumlah besar Viscount," kata Gerald tanpa basa-basi.


Wajah Viscount Gremaroft berubah menjadi tegang. Seolah-olah Gerald telah memergokinya melakukan kesalahan. Apa yang dikatakan Permaisuri Pertama sepertinya benar. Tindakan jahat Viscount Gremaroft ada hubungannya dengan kuil.


"Benar, Tuan Grand Duke. Saya sudah lama berdonasi di kuil." Viscount Gremaroft berusaha menjawab dengan tenang, meskipun masih terlihat ketakutan di matanya.


"Dengan berdonasi apakah reputasimu semakin bagus?" 


Raut muka Viscount lebih rileks daripada sebelumnya. Kewaspadaannya turun. Pertanyaan yang disampaikan Grand Duke Faust bukan menuju ke hal yang ia kira.


"Tentu saja, Tuan Grand Duke. Orang-orang akan melihat saya sebagai orang yang dermawan." Senyum palsu Viscount semakin lebar. Menyadari bahwa dirinya tidak berada dalam bahaya.


"Apakah ada cara lain selain berdonasi untuk meningkatkan reputasi?" 


Pertanyaan Gerald masih berputar-putar pada reputasi. Ini salah satu rencana Leticia agar Viscount tidak bersikap waspada kepada Gerald. Dengan Gerald bertanya tentang reputasi, akan mengakibatkan Viscount Gremaroft berpikir tujuan Grand Duke Faust datang kediamannya adalah untuk memulihkan reputasi. Rumor Gerald datang di kuil pasti sudah menyebar, sehingga Viscount Gremaroft pasti mempercayai Gerald tidak mempunyai niat terselubung selain ingin memulihkan reputasinya.


"Saya dengar Anda sering datang ke desa di dekat kuil. Kenapa Anda ke sana?" 


Viscount Gremaroft mengernyit.


"Beberapa anak di sana hilang. Saya berusaha memecahkan masalah di sana. Meskipun saya sudah mencoba meningkatkan keamanan di sana, penculikan masih terjadi."


Viscount Gremaroft terlihat sedih. Gerald hanya menatapnya dingin. 


"Kalau begitu bagaimana reaksi warga di sana, meskipun Anda tidak bisa memecahkan masalah, Viscount?"


"Mereka masih menyambut saya dengan ramah. Dengan kedatangan saya, keluhan warga di desa akan merasa ditanggapi. Ini juga salah satu cara untuk meningkatkan reputasi, Grand Duke." 


"Begitu ya, sepertinya caramu patut dicoba."


Sandiwara Gerald membuat Viscount Gremaroft semakin bersemangat.

__ADS_1


Pria gendut itu bicara panjang lebar mengenai bisnisnya. Ia ingin Gerald bekerjasama dengannya. Kedatangan Grand Duke Faust merupakan sebuah peluang baginya untuk memajukan bisnisnya. 


Gerald sama sekali tidak memedulikan perkataan pria gendut yang ada di depannya. Lama-kelamaan ia merasa jenuh mendengar omong kosong yang disampaikan pria itu.


"Bagaimana kalau Anda mengajakku berkeliling di kediamanmu, Viscount?" tanya Gerald. Ia ingin menutup mulut pria yang sejak tadi berbicara tanpa henti.


"Tentu saja, Tuan Grand Duke." 


Viscount Gremaroft berdiri dengan cepat untuk memandu Grand Duke Faust. Salah satu tanda Grand Duke Faust akan menerima penawarannya.


Mereka berkeliling melihat kediaman Gremaroft. Mata Gerald tertuju pada sebuah pintu yang terbuat dari kayu tanpa ukiran atau hiasan apapun, berbeda dengan pintu lain di kediaman Gremaroft. Viscount Gremaroft segera mengajak bicara lagi Gerald. Gerald perlahan mengabaikan pintu itu, mengikuti Viscount Gremaroft yang mengajaknya kembali berkeliling.


Gerald menuju ke kereta kuda. Viscount Gremaroft mengantarnya dengan senyum bisnisnya. Gerald tidak membalas senyum pria itu. Ia langsung masuk ke kereta kudanya, lalu segera beranjak dari kediaman Gremaroft. Ia membuat pria gendut itu berangan-angan akan sesuatu yang tidak akan terwujud.


***


Dua orang berbaju serba hitam masuk ke kediaman Gremaroft. Mereka juga memakai penutup wajah berwarna hitam. Pengawal di kediaman itu sudah dibuat pingsan oleh kedua orang itu 


"Saya harus pergi ke sebelah mana, Tuan?" tanya orang bertubuh kecil. Sepertinya seorang perempuan.


"Kamu pergi ke sebelah kiri. Aku akan ke sebelah kanan. Kamu masih ingat denah yang sudah kutunjukkan bukan?" tanya orang bertubuh besar untuk memastikan. Sepertinya seorang laki-laki.


"Tentu saja Tuan."


Orang bertubuh besar itu memberikan tanda untuk melancarkan rencana. Mereka segera berpencar.


Orang bertubuh besar itu sudah menghafal jalan di kediaman Gremaroft. Tadi ia meminta Viscount Gremaroft untuk memandunya berkeliling kediaman agar dapat menghapal jalan di kediaman ini.


Gerald segera menuju pintu kayu tanpa ukiran dan hiasan yang menarik perhatiannya tadi. Firasatnya mengatakan ada sesuatu dibalik pintu itu. Sesuatu yang disembunyikan Viscount Gremaroft. Rahasia yang dapat menjatuhkannya.


Gerald telah sampai di depan pintu itu. Ia  mencoba membuka pintu itu. Dikunci. Ia membukanya dengan paksa tanpa menimbulkan kerusakan menggunakan auranya.


Matanya terbelalak. Ia memastikan apa yang di depannya. Ia tidak percaya melihat hal itu.

__ADS_1


__ADS_2