
Wajah orang tua Leonard tampak memucat. Keringat dingin terlihat di dahi mereka, tak menyangka akan bertemu dengan anaknya sekali lagi. Mereka tertunduk.
"Maafkan, kami Leonard. Bukan maksud-"
Kata-kata ayah Leonard disela oleh anaknya yang muka.
"Maaf? Kalian pergi meninggalkan utang-utang padaku! Aku bekerja keras membanting tulang tetapi kalian dengan mudahnya berpura-pura mati! Penagih utang selalu mencariku, selama ini aku menderita gara-gara kalian!" Leonard mengacungkan jarinya pada ayah dan ibunya.
Ibunya menggeleng-geleng sambil menangis. Ayah Leonard terus tertunduk tak mampu berkata-kata.
"Kalian menyedihkan dan tidak pantas disebut sebagai orang tua!"
Orang-orang di sekitar sana memandangi keributan yang dibuat oleh keluarga itu, seolah-olah mendapat tontonan bagus. Leonard tak memedulikan pandangan orang lain, terus mengeluarkan kekesalan pada orang tuanya.
Duchess yang menyadari hilangnya Leonard, segera mencari pengawal baru itu. Ia melihat kerumunan orang-orang, lantas mendekati mereka. Begitu teriakan Leonard terdengar ke telinganya, Judith menerobos kerumunan itu.
Tangan Leonard dilayangkan pada ayahnya. Ayah Leonard menerima pukulan anaknya dengan lapang dada. Ia memang pantas diperlakukan kasar oleh anaknya sendiri. Namun, tamparan itu tidak segera mengenainya. Duchess mencengkeram tangan Leonard.
"Apa kamu sudah gila menampar orang di depan umum?!" hardik Judith.
"Jangan ikut campur!" Leonard menepis tangan Judith dengan kasar tak peduli kalau statusnya adalah sebagai bawahan.
"Memang apa masalahnya?!" Judith terus membela kedua orang tua yang ada di belakangnya.
__ADS_1
Ibu Leonard menangkup lengan Duches seraya menitikkan air mata. "Biarkan saja, Nona. Ini salah kami."
"Lihat! Mereka pun juga mengaku!" balas Leonard tersenyum kecut.
Tatapan merendahkan dari orang-orang menusuk kulit kedua orang tua Leonard. Judith pun menyadarinya segera mengedarkan pandangan ke orang-orang yang berkerumun agar mereka pergi. Tak ingin merasakan kemarahan Duchess, orang-orang segera melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing.
"Apa salah kalian Paman, Bibi?" tanya Judith dengan lembut. Ia menenangkan ibu Leonard.
"Berhenti mencampuri urusan keluarga orang lain!" Leonard menyingkirkan tangan Judith dari ibunya.
Mata Judith melebar, secara bergantian menatap Leonard dan pasangan tua itu. Menyadari alasan kemarahan pengawal barunya itu. Namun, pakaian compang-camping dan tubuh yang dipenuhi debu milik pasangan tua itu, tidak membenarkan perbuatan Leonard. Kedua orang tuanya sama-sama menderita.
"Dengarkan dulu penjelasan mereka," saran Judith pada Leonard.
Tahu kata-kata tak mampu menghentikan Leonard, Judith memukul ulu hati pengawalnya. Selagi Leonard mengerang kesakitan, ia memekul tengkuk mantan prajurit bayaran itu sampai pingsan.
Judith tertunduk meminta maaf ke arah pasangan tua itu. "Aku akan mendinginkan kepala pengawalku ini. Paman dan Bibi bisa bertemu dengannya besok. Beristirahatlah di penginapan. Tidak perlu khawatir soal biaya."
Orang tua Leonard menerima kantong uang yang diserahkan Duchess sedikit kebingungan. Mereka menggenggam erat kantong itu seraya berterima kasih pada Duchess itu. Bukan cuma menginap, mereka bisa membeli makanan dan pakaian. Punggung Judith yang membawa anak mereka semakin mengecil. Mereka berharap Leonard bahagia mendapat atasan yang baik seperti Duchess.
***
Leonard mengerjap-erjapkan matanya. Menganggap ia salah lihat. Seharusnya bukan langit-langit ruang kerja Duchess yang ada di depan mata. Cepat-cepat, Leonard bangkit. Ia memegangi tengkuknya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?" tanya Judith yang duduk di seberang Leonard.
Ingatan sebelum Leonard mulai merasuki kepala. Ia mencengkeram kerah Duchess penuh emosi.
"Jangan mencampuri urusanku!"
"Padahal kamu sendiri juga sering mencampuri urusanku." Judith menjauhkan tangan Leonard dengan mudah.
"Jangan menyamakanku dengan dirimu!" Leonard menunjuk Judith dengan amarah di hatinya.
"Kau tidak tahu apa pun! Jangan membela orang yang jelas-jelas bersalah!" lanjut Leonard melepas semua amarahnya.
"Pasti ada alasan kedua orang tuamu meninggalkanmu."
"Kau yang hidup penuh dengan kemewahan tidak akan mengerti penderitaanku! Aku harus bekerja keras demi membayar utang-utang mereka! Sedangkan mereka sendiri melarikan diri! Seharusnya mereka membawaku, bukannya membiarkanku tersiksa oleh bangsawan gila harta!" Seluruh urat leher Leonard terpampang jelas.
Judith hendak membalas perkataan Leonard, tetapi pengawalnya itu tidak membiarkannya.
"Semua bangsawan penuh tipu muslihat, termasuk dirimu! Dari akarnya saja sudah busuk! Ayahmu mempunyai dua istri, ibumu pun mendua menjadikan selingkuhannya menjadi Kaisar, kalian sungguh memuakkan!"
Pukulan melayang ke wajah Leonard. Mantan prajurit bayaran itu tersungkur, menoleh ke orang yang memukulnya. Ajudan Duchess yang berang mengibas-ibaskan tangannya dengan mata berkilat-kilat.
"Biar saya saja yang memberi hukuman pada orang ini, Duchess."
__ADS_1