Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
S2 Bab 4 Akhir Pemberontakan


__ADS_3

Will menatap Leonard tanpa jawaban. Tanpa dijawab pun Leonard sudah tahu jawabannya. Will membelot. Ia melanjutkan serangan-serangannya kepada kesatria. Leonard mulai memahami alasan Will tidak membangunkannya di pagi hari. Will dari awal sudah berniat membelot bersama dengan prajurit bayaran lain. Mereka dibayar lebih besar oleh pemberontak. Mereka berkumpul terlebih dahulu sebelum berangkat menuju perkemahan. Inilah alasan Will tidak sempat membangunkan Leonard. Waktunya pertemuannya dan keberangkatannya sangat berdekatan. 


Duchess menebas prajurit-prajurit bayaran satu per satu yang menyerangnya. Ia melirik ke arah pemberontak. Jebakan yang dipasang Duchess berhasil, tetapi masih ada beberapa yang lolos. Mereka mulai berdatangan ke pasukan Duchess.


Para kesatria dengan sigap melawan pemberintak dan prajurit-prajurit bayaran. Tidak ada satu pun kesatria yang terluka. Prajurit-prajurit bayaran yang membelot mulai kewalahan. Kesatria-kesatria sudah mempersiapkan hal ini terjadi. Mereka sudah diberitahu sebelumnya oleh Duchess tentang prajurit bayaran mungkin membelot. 


Ini berkat pemimpin prajurit bayaran yang memberi daftar kemungkinan prajurit bayaran yang mungkin membelot. Tidak ini berkat pengamatan Duchess Hillbright yang sudah mempertimbangkan semua kemungkinan yang mungkin terjadi.


Leonard bingung berada di pihak yang mana. Ia tidak mampu menyerang temannya. Pada akhirnya ia melampiaskan kekesalannya pada pemberontak. Pedangnya menebas tanpa henti ke arah pemberontak-pemberontak itu. Namun, langkahnya terhenti karena terkena serangan di bahunya. Itu bukanlah serangan pemberontak, melainkan dari Will.


"Kau akan membunuhku juga Will?" tanya Leonard tidak percaya.


"Bukannya kamu pernah bilang bahwa uang lebih penting dari pada kesetiaan, Leon?" sindir Will.


Hubungan pertemanan mereka berakhir. Leonard pun menyerang Will membabi buta karena dikhianati. Serangan-serangan Leonard tanpa rencana sebelumnya dapat ditangkis Will dengan mudah. Serangan balik menghujani Leonard.


Leonard menghindarinya. Ia mencari kesempatan untuk menyerang balik Will. Celah itu muncul. Leonard melukai Will di bagian perutnya. Pembelot satu ini roboh. 


Leonard mengepalkan tangannya dengan erat karena ia telah membunuh salah satu mantan temannya. Pekerjaannya masih masih banyak. Ia pun melanjutkan langkahnya membunuh pemberontak-pemberontak itu.


Mata Duchess Hillbright tertuju pada pemberontak-pemberontak. Aura terkumpul pada pedangnya, lalu ditebaskan pedang itu ke arah pemberontak itu. Serangannya mampu mengalahkan puluhan pemberontak. Ia menerobos ke belakang langsung membunuh pemimpin pemberontakan itu tanpa perlawanan yang berarti. Pasukan pemberontak mulai ketakutan. Beberapa melarikan diri, beberapa masih bertahan. Duchess melancarkan serangan ke arah pemberontak-pemberontak yang masih tersisa. Serangannya hampir mengenai Leonard.


"Jangan menyerang sembarangan," gerutu Leonard sambil menyerang pemberontak.


"Aku sudah memberi perintah kemarin untuk tidak maju ke depan. Apa kamu tidak mendengar perintahku?" teriak Duchess menebas tubuh orang yang menyerangnya. Alasannya karena serangannya terlalu luas hingga mampu melukai pasukannya sendiri. 


Tentunya Leonard tidak tahu, karena ia tidak mendengarkan pidato Duchess. Mereka menghabisi pemberontak yang tersisa. Prajurit bayaran yang membelot pun berhasil ditumpas.

__ADS_1


Pemberontakan sudah berakhir. Prajurit bayaran yang selamat bernapas lega. Kesatria-kesatria berteriak karena meraih kemenangan.


Leonard menjatuhkan diri untuk beristirahat. Ia menatap langit. Ia selamat. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas. Dikarenakan harapan bayarannya akan bertambah karena kekaisaran tidak perlu membayar prajurit bayaran yang membelot. 


Tubuh Leonard bergerak dengan sendirinya. Ada orang yang menarik salah satu kakinya. Ia membuka mata mendapati Duchess menyeretnya.


"Apa yang kau lakukan?" Leonard meronta-ronta.


Duchess tidak mau melepaskan kaki Leonard. Ia masih menyeretnya. "Tidak ada yang menyembuhkanmu bila berada di sana. Aku membawamu ke pendeta."


Upaya Leonard meloloskan diri terhenti. Ia teringat pada ucapan Ariana bahwa Duchess baik hati. 


'Mungkin itu benar, tetapi kenapa dia harus menyeretku?' batin Leonard.


"Kenapa kau menyeretku? Apa tidak bisa dengan cara yang lebih baik?" protes Leonard.


Duchess menghentikan perbuatannya. Ia mencari orang yang terluka untuk membawanya ke pendeta. Ketika Leonard hendak menyatakan keberatannya, Duchess Hillbright terlanjur pergi. Leonard menarik kata-katanya bahwa Duchess Hillbright merupakan orang baik. 


Ariana mendapat bagian menyembuhkan Leonard. Prajurit bayaran satu ini berusaha tersenyum ke arah pendeta yang menyelematkannya lagi.


"Apa ini pertama kalinya kau ikut dalam penumpasan pemberontakan?" tanya Leonard.


Ariana mengangguk. "Benar, bagaimana denganmu, Leonard?"


"Ini juga pertama kalinya bagiku. Biasanya aku mendapat uang dari mengawal atau hal-hal remeh lainnya."


"Sudah selesai. Apa kamu bisa bangun?"

__ADS_1


Leonard bangkit berdiri, menggerak-gerakkan tubuhnya. Tidak ada yang terasa sakit.


"Terima kasih, Ariana. Suatu hari aku pasti akan membalasmu."


"Tidak perlu, aku membantumu dengan senang hati, Leonard."


Ariana mencari orang yang terluka didampingi oleh Leonard. Prajurit bayaran ini berniat melindungi Ariana. Meski tahu kalau sebenarnya pemberontakan berakhir, perasaannya tidak enak.


***


Setelah seluruh anggota pasukan disembuhkan, Duchess menatap medan pertempuran yang telah dilaluinya tadi. Kepalanya tertunduk memberi penghormatan pada prajurit bayaran yang masih mati untuk membela kekaisaran. Penghormatan telah selesai, tangannya terangkat memberikan tanda agar pasukan bisa pulang. 


Pasukannya berjalan ke perkemahan untuk mengemasi barang-barang. Duchess pun berbalik untuk mengikuti mereka. 


Tak disangka-sangka, Will masih hidup. Orang itu menerjang ke arah Ariana yang berada di barisan paling belakang. Ariana berbalik tetapi tidak sempat menghindarinya. Ayunan pedang terarah kepada Ariana.


Dengan sigap Leonard yang berada di dekat sana, membunuh Will dengan menebas punggungnya. Tubuh Will yang tak bernyawa bersandar di Ariana. Darah keluar dari mulut Will. Mata Ariana terbelalak. Napasnya pendek-pendek. Jantungnya berdebar keras. Air matanya mengalir. 


"Ariana apa kau tidak apa-apa?" tanya Leonard mendekati Ariana untuk menyingkirkan mayat Will. 


Ariana tidak menjawabnya masih terguncang.


'Melihat kematian sedekat ini pasti menguncang pikiran Ariana. Dia masih terlalu muda untuk berperang,' batin Leonard.


Tubuh Leonard terdorong ke samping. Duchess mendorongnya lantas meraih mayat Will membuangnya ke belakang. Wajahnya terlihat sangat panik. Ia memeluk Ariana dengan erat. Tangannya terus menerus mengelus kepala Ariana.


"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Kakak ada di sini," ucap Duchess menenangkan Ariana.

__ADS_1


__ADS_2