
Leticia meringis kesakitan akibat genggaman pada pergelangan tangannya semakin kuat. Teriakan orang itu membuatnya tersentak. Ada orang yang mengenalinya. Ia sudah menyamar agar tidak dikenali.
Sepasang mata merah saling bertatapan dengan sepasang mata emas. Wajah orang itu hanya berjarak beberapa centi Leticia. Wajah orang itu sangat marah. Ia mengenali orang itu, meskipun warna rambutnya berbeda. Sepasang mata yang menyebabkan dirinya takut, tidak akan pernah bisa ia lupakan.
"Grand Duke Faust?" gumam Leticia.
"Apa Anda ingin lari dari masalah dan berniat membatalkan perjanjian kerja sama kita?!" teriakan Gerald masih terdengar.
"Saya hanya berusaha menyelidiki tempat ini, Grand Duke. Tentunya saya masih menjaga perjanjian kerja sama kita," jawab Leticia berusaha terlihat tenang.
"Jika Anda menyelidiki tempat ini haruskah Anda sampai memakai benda itu?!" Gerald masih meninggikan suaranya.
"Saya minta maaf apabila perbuatan saya tadi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Saya hanya berpura-pura ingin memakainya dan menjatuhkannya. Bisakah Anda melepas tangan saya," pinta Leticia.
Gerald menggertakkan gigi, melepas tangan Leticia. Ia berbalik, memegang kepalanya berusaha menenangkan dirinya.
Leticia memegangi tangannya yang masih terasa sakit. Ia bersyukur memakai sarung tangan, karena mungkin saja pergelangan tangannya memerah dan orang-orang bisa tahu.
Leticia melihat punggung Grand Duke Faust. Ia tidak menyangka orang itu bisa mengenali dirinya. Padahal mereka hanya bertemu beberapa kali. Tidak, ia sendiri bisa mengenali Gerald tadi, bukan hal aneh jika Grand Duke bisa mengenali dirinya.
"Pulanglah, biar saya saja yang menyelidiki tempat ini, Permaisuri," kata Gerald masih memunggungi Leticia.
"Apakah Anda tidak mempercayai saya, Grand Duke?"
Muncul api amarah kecil di hati Leticia. Ia berusaha menahannya agar tidak semakin besar. Ia berusaha memaklumi tindakan kasar Grand Duke Faust yang tadi, karena berusaha membantunya keluar dari situasi berbahaya,tetapi tidak dengan yang ini.
"Saya mempercayai Anda. Hanya saja, ini bukan tempat yang cocok untuk Anda, Permaisuri," kata Gerald dingin sambil melihat Leticia.
Amarah Leticia memuncak, orang yang ada di depannya meremehkan dirinya. Ia memang hanya seorang permaisuri biasa yang tidak mempunyai aura ataupun sihir, tetapi bukan seharusnya Grand Duke Faust menganggapnya sebagai orang lemah.
"Berhentilah menganggap saya sebagai beban, Grand Duke. Saya tahu bahwa saya tidak sekuat Anda atau Isabella. Saya juga tidak menguasai sihir seperti teman-teman saya. Tetapi, saya punya cara tersendiri untuk melindungi diri dan memecahkan masalah!" teriak Leticia.
__ADS_1
Gerald tidak mengatakan apapun, hanya memandang Leticia dari balik topengnya. Ia memalingkan kepalanya. "Lakukan sesuka Anda, Permaisuri."
Leticia keluar dari ruangan itu begitu pula dengan Gerald. Leticia merasa dirinya sedang diikuti.
"Kenapa Anda mengikuti saya, Tuan?" Leticia menolehkan wajahnya. Ia masih kesal meskipun berusaha terlihat tenang. Ia tidak memanggil Grand Duke karena bisa saja ada orang yang mendengar percakapan mereka berdua.
"Saya harus melindungi Anda agar perjanjian kita tidak terganggu. Bisa gawat jika Anda terluka. Ajudan saya dan kedua penyihir yang berteman Anda akan memusuhi saya," kata Gerald tanpa ekspresi.
"Jangan beritahu mereka bahwa saya ke sini, Tuan," pinta Leticia.
"Itu semua tergantung dari tindakan Anda, Nyonya." Wajah Gerald tidak berubah sekalipun.
Leticia melanjutkan perjalannya lagi tanpa menghiraukan Gerald. Apapun yang dikatakannya sepertinya tidak akan mengubah pendirian Grand Duke Faust. Jika pria ini mengadu pada Isabella bisa saja Leticia akan dilarang untuk menyelidiki tempat ini. Namun, ia ingin menyelidiki tempat ini walau sekali saja.
Leticia kembali pada tempatnya tadi. Ia mengambil cerutunya yang jatuh, dengan cepat ia menyembunyikannya di balik gaunnya. Tidak ada seorangpun yang tahu, kecuali Gerald. Ia duduk di tempat asalnya. Untungnya kursi di tempat itu tersisa satu, Gerald duduk dengan santai.
"Maaf, tadi teman saya tiba-tiba membawa saya pergi," kata Leticia pada wanita yang tadi bersamanya.
"Sudah tadi saya menghisapnya dengan teman saya," bohong Leticia.
"Baguslah, kami tidak ingin.... ada satupun yang mengacaukan.... tempat hiburan kami." Ia berbicara semakin lambat.
Gerlad tidak mengatakan apapun. Ia masih mengawasi tindakan Leticia.
"Saya adalah pendatang baru, kalau boleh tahu apakah Count Blaire sering datang ke sini?" tanya Leticia.
"Tidak, dia... tidak pernah datang... ke sini. Ah... sepertinya pernah sekali... saat itu... ada yang mengacau. Dia langsung... mengeluarkan orang itu... dan melarangnya datang... kemari." Wanita itu mulai menerawang ke atas. Ia tidak melihat ke wajah Leticia.
"Apakah cuma benda tadi yang dijual di sini? Saya ingin mencoba yang lain."
"Sebenarnya... ada lagi, efeknya... sangat kuat, bisa... membuat orang... langsung terbang. Hanya orang... yang mau membayar... mahal kepada... Count Blaire... yang akan... mendapatkan benda... itu."
__ADS_1
"Kalau begitu..." Leticia menghentikan perkataannya.
Orang yang diajak bicaranya sudah berada di dunia khalayan. Orang-orang di mejanya sudah mabuk hingga tak sadarkan diri dengan senyum yang mengerikan. Ia menebarkan pandangan pada
Leticia menatap Gerald. "Apa sebaiknya kita pulang, Tuan?"
"Baiklah, lagipula ini sudah terlalu malam, Nyonya."
Mereka berdua berdiri. Leticia melewati orang-orang yang mabuk itu. Ia berjalan di depan sedangkan Gerald mengikuti di belakangnya. Mereka keluar dari Blaire Heaven, mencari teman aman untuk bicara berdua.
"Apa yang Anda dapatkan dari ruang VIP, Grand Duke?"
"Ruang itu sama seperti ruangan biasanya. Informasi yang saya dapatkan, pegawai di sana juga menggunakan benda itu. Mereka berasal dari kalangan rakyat jelata. Karena kehidupan yang sangat sulit mereka menggunakan benda itu."
Leticia memegangi dagunya. Berpikir tentang langkah selanjutnya.
"Haruskah besok saya menggerebek tempat ini?" lanjut Gerald.
"Tidak, jangan besok. Count Blaire tidak berada di sana. Sebaiknya kita besok membuat keributan agar keesokan harinya, Count datang. Sebuah keributan yang bisa membuat tetangga di sekitar Blaire Heaven bangun. Orang-orang itu akan melaporkan kejadian ini. Ini bisa membuat opini publik yang tidak percaya pada bangsawan yang mengamburkan uang demi kenikmatan sesaat. Saya akan memberikan surat penangkapannya besok agar Anda bisa menggunakannya lusa, Grand Duke," jelas Leticia.
"Tunggu dulu, Anda akan datang ke sini lagi besok, Permaisuri?"
"Benar, bukankah membuat kekaucauan berdua lebih baik daripada sendirian? Saya akan membuat kekacauan di luar sedangkan Anda di dalam gedung. Dengan begitu semuanya akan berjalan lancar. Saya akan menyampaikan rencananya besok."
Gerald mengernyitkan dahinya. Meski begitu, ekspresinya masih tidak berubah. Hanya dua ekspresi yang baru dilihat Leticia, marah dan dingin.
"Baiklah, Permaisuri."
"Kalau begitu, sampai besok, Grand Duke."
Leticia mengucapkan salam perpisahan. Ia berteleportasi ke kamarnya. Ia berganti baju. Sarung tangan yang ia pakai dilepas. Ia melihat tangannya. Ternyata memang memerah.
__ADS_1
Ia menjatuhkan dirinya ke kasur. Semua tindakannya tadi memang sangat gegabah. Ia menyadarinya, tetapi bukan alasan yang tepat bagi Grand Duke Faust untuk menyingkirkannya dalam penyelidikan ini. Sebenarnya, ia berniat berterima kasih kepada Gerald karena berusaha menyelamatkannya tadi. Namun, kekesalannya belum hilang. Ia hanya berharap kerja sama mereka bertahan hingga akhir.