
Pesta yang diselenggarakan untuk Grand Duke Faust cukup megah. Banyak jamuan pesta yang tersaji. Dekorasi pesta juga sangat indah.
Leticia dan Charlotte bertanggung jawab atas pesta kali ini. Braun yang meminta mereka berdua untuk mengatur pesta ini. Leticia tidak ingin pesta untuk merayakan pencapaian Gerald menjadi kacau. Ia mengawasi Charlotte, tetapi tidak ada yang aneh.
Leticia mengingat informasi yang diberikan Rose tadi.
"Pelayan keluarga Nien yang mengetahui rahasia Braun dan Charlotte sudah dibungkam untuk selamanya. Aku mendatangi pelayan yang memberikan informasi padaku dulu, tetapi ia sudah meninggal. Sepertinya, begitu tahu ada pelayan yang membocorkan informasi itu Marquis Nien atau Charlotte membunuh mereka."
Leticia mengepalkan tangannya. Sepertinya rencananya untuk menyakinkan Judith tidak mudah. Namun, Leticia masih punya banyak cara untuk membongkar hubungan Braun dan Charlotte. Obat yang membuatnya mandul bukanlah bukti yang kuat, tetapi setidaknya Judith bisa mempercayai kalau ayahnya berniat buruk pada ibunya.
Tokoh utama dalam pesta ini datang. Pandangan semua orang tertuju padanya. Ada tatapan takut karena tidak ingin perbuatan buruk terungkap, ada juga tatapan ingin menjalin kerja sama dengannya. Ia memakai pakaian pakaian berwarna hitam.
Grand Duke Faust memberikan salam pada Kaisar dan Permaisuri-Permaisuri. Leticia menatapnya sekilas. Ia tidak ingin orang-orang curiga akan hubungan mereka.
Karena tokoh utama dalam pesta sudah datang, Kaisar segera membuka pesta ini. Ia mengangkat gelas wine.
"Mari bersulang atas pencapaian Grand Duke Faust."
Semua bangsawan yang hadir ikut bersulang. Braun bersulang dengan Gerald lalu meminumnya.
Dansa dimulai. Braun berdansa dengan Leticia terlebih dahulu. Gerald yang tidak memiliki pasangan menjauh dari sana dan mengambil beberapa makanan. Ia tidak ingin melihat Braun dan Leticia berdansa. Gerald berharap ialah yang berdansa pertama kali dengan Leticia.
Judith melihat kedua orang tuanya berdansa. Ia ingin menjadi ibunya yang pintar berdansa.
***
Dean berjaga di luar. Rose secara tidak sengaja bertemu dengannya, pada akhirnya menemaninya. Dean melirik pada orang di sebelahnya.
"Anda tidak perlu menemani saya, Pemimpin Penyihir Istana. Nikmatilah pestanya."
"Aku tidak punya kerjaan. Jadi menunggu di sini lebih baik."
Rose merasa dirinya akan lebih berguna di sini. Ia bisa membekukan kaki orang yang mencurigakan dengan mudah, jadi mereka bisa menangkapnya lebih mudah. Ia juga sudah mempersiapkan ilusi untuk membantu Leticia.
Dean menghela napas, tetapi ia tidak merasa terganggu akan keberadaan Rose. Mereka menghabiskan waktu dengan berdiri sambil mengamati orang mencurigakan hingga akhir pesta.
***
__ADS_1
Isabella menuju salah satu balkon. Ia memegang pinggiran balkon sambil mendesah panjang. Ia menghindar dari kerumunan bangsawan laki-laki yang mendekatinya. Sungguh melelahkan datang ke pesta. Ini pertama kalinya ia ke pesta setelah sekian lama.
"Anda terlihat lelah, Countess."
Isabella langsung menoleh ke sumber suara itu. Ia langsung tersenyum.
"Kudengar Pemimpin Penyihir Menara tidak pernah datang ke pesta yang diadakan di istana."
"Itu cerita dulu. Tidak mungkin aku meninggalkanmu sendirian di sini dengan banyak serigala yang menginginkanmu."
Isabella terkekeh. Dale mengulurkan tangannya, mengajak Isabella berdansa. Isabella terkejut, tetapi menerima uluran tangan Dale.
Mereka mulai berdansa dengan diiringi musik yang ada di aula pesta yang terdengar sampai balkon.
"Aku tidak menyangka kamu bisa berdansa," ucap Isabella.
"Tentu saja bisa, karena aku mempelajarinya," jawab Dale bangga.
"Baru-baru ini atau dulu? Karena aku atau Leticia?" tanya Isabella.
"Apa saja yang Rose ceritakan padamu? Dasar orang yang tidak bisa menjaga rahasia," gerutu Dale.
"Aku tidak mau menjawabnya."
Dale memalingkan mukanya. Isabella tersenyum, tahu apa jawabannya.
"Semua persiapan Leticia bertemu dengan Tuan sudah matang bukan?" Isabella mengalihkan pembicaraan.
Dale menatap kembali Isabella dengan senyumannya. "Rose sudah mempersiapkannya. Aku juga sudah memasang sihir lain agar tidak ada orang yang mencurigai mereka."
"Baguslah kalau begitu."
Mereka berdansa hingga akhir. Keduanya saling tertawa dan bercanda. Mereka berharap kedamaian ini bisa berlangsung lama.
***
Kini Charlotte berdansa Braun. Gerald pergi meninggalkan aula. Ada orang yang mengikutinya, orang suruhan Braun dan Charlotte. Gerald pergi ke taman istana untuk melihat-lihat. Orang suruhan itu tetap mengamatinya. Ia akan melaporkan setiap gerak-gerik Gerald pada tuannya.
__ADS_1
Semua itu adalah ilusi yang telah disiapkan oleh Rose. Gerald pergi menuju tempat yang diminta Leticia. Ia menunggu Leticia di balkon, tidak sabar bertemu dengannya.
Leticia meninggalkan pesta tanpa ada yang menyadarinya. Ia pergi menemui Gerald. Rose sudah memasang ilusi seolah-olah Leticia berada di pesta. Leticia merasa aman berkatnya.
Leticia sudah berada di depan balkon membuka pintu kaca. Gerald terkesiap dengan kedatangan Leticia. Leticia menutup pintu itu kembali. Gerald mendekati Leticia.
"Maukah Anda berdansa dengan saya, Permaisuri?"
Gerald mengulurkan tangannya.
"Tentu saja, Grand Duke." Leticia meraihnya sambil mengangguk. Mereka berdua tersenyum.
Leticia menaruh salah satu tangannya di bahu Gerald yang kekar karena sering berlatih. Tangan yang lain menggenggam tangan Gerald. Gerald menaruh tangannya yang bebas pada punggung Leticia.
Mereka berdua berdansa. Menikmati waktu pertemuan mereka yang mungkin hanya berlangsung singkat.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Leticia?"
"Setelah kamu menjadi Kaisar, apakah aku akan menjadi Permaisurimu, Gerald?"
Leticia berputar lalu ditangkap oleh Gerald. Mereka kembali berdansa seperti sedia kala lagi.
"Jika itu yang kamu inginkan. Aku akan mewujudkannya, Leticia. Aku juga akan membuat putrimu menjadi Kaisar berikutnya."
"Bisakah kamu menungguku? Aku akan membuat Judith membenci Braun. Setelah itu, kamu bisa menyerang istana. Aku tidak ingin bila menikah Judith membencimu, karena telah membunuh ayahnya."
Mereka mendekatkan kepala, menyentuhkan dahi mereka. Saling merasakan napas masing-masing.
"Tenang saja, aku akan menunggumu, kapanpun itu, Leticia."
"Terima kasih, Gerald."
Leticia menjauhkan dirinya, lalu Gerald menariknya hingga tubuh mereka berdekatan lagi. Salah satu tangan Gerald memegang pinggang Leticia agar tidak terjatuh. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.
Sebenarnya Gerald ingin mengecup bibir Leticia, tetapi tidak melakukannya karena akan ada bekas lipstick di bibirnya. Ia bisa menyekanya tetapi, lipstick di bibir Leticia akan memudar. Akan ada orang mencurigai mereka.
Leticia menjauhkan wajahnya sedikit. Lalu, memeluk Gerald. Ia memejamkan mata, merasakan detak jantung Gerald. Ia tersenyum. Ternyata Gerald juga berdebar-debar seperti dirinya.
__ADS_1
Leticia merasa bahagia. Kebahagiaan yang ia rasakan sekarang berbeda dengan sebelumnya. Lalu, kebahagiaan ini akan semakin sempurna dengan Judith yang berada di tengah mereka.
Senyum Leticia sirna seketika saat membuka mata. Kengerian dan ketakutan merasukinya. Ia melihat sosok di pintu balkon yang terbuka. Ia ketahuan. Kalaupun seandainya ketahuan ia berharap bukan sosok ini yang mengetahuinya.