Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 9 Rencana Jahat


__ADS_3

Charlotte berada di taman istananya. Ia sedang melihat bunga-bunga yang bermekaran. Salah satu bunga berwarna kuning ia cabut. Ia mengepalkan tangannya dengan erat lalu membukanya. Kelopak bunga berguguran di jalan setapak. Ia menginjak bunga yang tak lagi berbentuk itu.


Semua rencananya gagal. Guru-guru Judith telah dipecat Leticia. Ia sudah mengeluarkan banyak uang untuk menyuap guru-guru itu. Ia meminta guru-guru itu mengajar Judith dengan tidak benar dan menghukumnya apabila membangkang. Charlotte tidak ingin putranya disaingi oleh orang lain. Ia perlu memastikan bahwa Judith tidak akan menjadi batu sandungan bagi Louis. Masalah uang bukan hal besar baginya, tetapi Leticia sendirilah yang mengajar putrinya. Tidak ada celah untuk membuat putri Leticia terlihat bodoh. Ia juga tidak bisa mendapatkan simpati dari Judith. Ia ingin menjauhkan Leticia dari putrinya. Dengan begitu Judith lama-kelamaan akan berpihak kepadanya.


Meskipun ia merasa kesal, ia tidak boleh menunjukkannya di depan orang lain. Kekesalan hanya ia tunjukkan saat ia sendirian di kamar. Ia menenangkan pikirannya. Memikirkan cara lain agar tidak ada penghalang baginya dan Louis. 


Waktu Leticia pasti akan terkuras habis karena mendidik Judith. Apalagi ia juga harus melakukan tugasnya sebagai permaisuri. Ia pasti akan mengorbankan salah satunya. Apa pun yang Leticia korbankan, Charlotte akan mendapat keuntungan. Jika ia mengorbankan Judith, maka Charlotte bisa menawarkan diri untuk mengajari putri pertama. Tentu saja tidak benar-benar mengajar. Jika Leticia mengorbankan tugasnya, maka tugas-tugas permaisuri akan dialihkan kepada Charlotte. Charlotte bisa menggiring pendapat publik bahwa Leticia merupakan permaisuri yang tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan benar.


Charlotte kembali ke kamarnya dengan seringai di wajahnya. Ia tidak akan kalah. Semua rencananya pasti berhasil. Leticia tidak akan mampu berbuat apa-apa.


Di istana ini Leticia tidak mempunyai kuasa apapun. Tidak ada siapapun yang akan mendukung Leticia. Charlotte akan membuat Leticia keluar dari istana dengan mudah.


***


Judith berada di perpustakaan sendirian. Ibunya sedang mengerjakan tugas permaisuri. Karena sendirian, ia merasa bosan. Buku yang ada di depannya tidak menarik lagi. Ia mencari buku lain untuk dibaca. Ada beberapa yang menarik perhatiannya. Ia mengambil buku-buku itu lalu menaruhnya di meja. 


Ada orang yang membuka pintu perpustakaan. Judith yang melihat orang itu tersenyum lebar. Ia berjalan mendekati orang itu.


"Ayah sedang apa di perpustakaan?"


Braun tersenyum menggendong Judith. "Ayah hanya ingin bertemu putrinya."


Judith memeluk leher ayahnya. Braun membawanya ke kursi tempat Judith duduk tadi.


"Apa yang kamu pelajari Judith?" tanya Braun. Ia mengelus-elus kepala putrinya.


"Aku belajar tentang sejarah kekaisaran. Lalu... beberapa wilayah di kekasairan, dan di hukum di kekaisaran Ayah," jawab Judith bersemangat.

__ADS_1


"Kamu anak pintar," puji Braun. Ia menarik tangannya dari kepala Judith.


"Tentu saja, ini semua karena didikan ibu." Judith menggenggam tangan Braun. Ia tersenyum lebar hingga semua giginya terlihat. Ia merasa senang karena ayahnya datang. Semua kebosanan yang ia rasakan menghilang digantikan kegembiraan. Ia sudah lama tidak melihat ayahnya selain di meja makan. Ia menantikan saat berdua dengan ayahnya.


"Benar, ibumu orang yang hebat." 


Keheningan terjadi di antara mereka. Judith ingin mengatakan sesuatu tetapi ia menahannya. Braun hanya menatap Judith menunggu putrinya mengatakan apa yanh ada di pikirannya.


"Ayah apa aku boleh bertanya?"


"Tentang apa?"


"Kenapa ayah menikah lagi dengan Permaisuri Charlotte?"


Braun terlihat terkejut mendengar pertanyaan putrinya. Ia menyunggingkan bibir.


Judith terdiam sebentar. Ia meresapi apa yang dikatakan ayahnya. Ia menggenggam erat tangannya.


"Kalau begitu apa Ayah masih mencintai Ibu?"


Braun tidak menjawab pertanyaan Judith, ia hanya tersenyum. 


"Apakah Ayah mencintai Permaisuri Charlotte?" tanya Judith lagi. Ia berharap mendengar jawaban dari ayahnya. Namun, hasilnya nihil.


"Semua itu masa lalu, Judith. Jadi mari bicarakan masa depan. Saat sudah besar apa yang akan kamu lakukan?" Braun mengalihkan pembicaraan.


"Entahlah, aku belum pernah memikirkannya sampai ke sana. Mungkin membantu pekerjaan Ibu dan Ayah."

__ADS_1


"Kamu anak yang hebat, Judith. Ayah bangga padamu. Ayah memang berharap mempunyai anak yang bisa melindungi kekaisaran."


"Aku berjanji akan melindungi kekaisaran Ayah." Judith akan mengabulkan permintaan ayahnya. Ia hanya berharap ayah dan ibunya bisa bersatu kembali. Dengan Judith menjadi pelindung kekaisaran, mungkin ayahnya bisa mencintai ibunya lagi. 


Braun tersenyum, lalu memeluk putrinya. Senyuman merekah di wajah Judith. Walau hanya sebentar ia merasa senang karena bertemu dengan ayahnya sendirian. Braun kemudian meninggalkan Judith. Judith kembali melanjutkan pelajarannya. Tanpa tahu apa yang ada pikiran Braun.


***


"Apa Anda sudah selesai bersandiwara, Yang Mulia?" Seorang wanita sedang menunggu di ruang kerja kaisar. Wanita itu terlihat tersenyum sambil memandang Braun.


"Sungguh melelahkan harus bersandiwara tiap hari." Braun duduk di sebelah wanita itu. Ia merangkul Permaisuri ke dua. Menempatkan kepala Charlotte di bahunya.


"Saya juga lelah, tetapi pasti kita akan mendapat hasil di masa depan," ujar Charlotte sambil membenamkan kepalanya di bahu Braun.


"Kamu benar Sayang. Kita pasti bisa memanfaatkan kedua orang itu." Braun mengelus-ngelus kepala Charlotte. Senyum Charlotte merekah. Waktu mereka berdua ingin ia nikmati selama mungkin.


"Anak itu masih berguna, tetapi berbeda dengan Leticia. Judith mudah dibodohi, tetapi Leticia bisa menghalangi rencana kita." Senyum Charlotte semakin memudar. Ia menatap ke depan dengan tajam. 


"Aku tahu, tetapi aku masih membutuhkan bantuan dari Duke Hilbright. Aku tidak bisa menyingkarkannya dengan mudah." Braun menyadari perasaan Charlotte. Ia mengecup pipi Charlotte untuk menenangkan hatinya. Charlotte membalas tindakan Braun. Ia merangkul leher Braun.


"Jika Duke Hilbright tidak lagi membutuhkan putrinya kita bisa menyingkirkannya," kata Charlotte dingin.


"Benar yang Duke Hilbright butuhkan hanyalah kekuasaan. Dia bisa mendapat dukungan yang kuat dari cucunya. Aku bisa membodohinya dengan memberinya harapan bahwa Judith mengikat perjanjian dengan kerajaan lain," balas Braun.


"Dia tidak pernah mencintai putrinya. Buktinya dia menjual putrinya kepada Anda. Meskipun tahu bahwa Anda hanya berpura-pura mencintai putrinya." Charlotte mulai tertawa kecil. Menyadari keadaan Leticia yang menyedihkan.


"Aku merasa kasihan kepada Leticia. Namun, dia masih berguna bagi kita. Dia hanyalah orang bodoh. Dia hanya bisa pasrah kepada keadaan." Meskipun tampak prihatin, tidak ada rasa peduli dalam nada bicara Braun. 

__ADS_1


Mereka berdua saling tersenyum. Memikirkan rencana mereka di masa depan. Kedua orang itu tenggelam dalam pikirannya. Tenggelam dalam masa depan yang mereka harapkan.


__ADS_2