Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 42 Dampak Sandiwara


__ADS_3

Leticia datang di acara minum teh yang diselenggarakan oleh Charlotte. Tak banyak bangsawan yang datang ke acara ini. Tentunya bangsawan-bangsawan itu mendengar rumor tentang Charlotte yang ada sangkut pautnya dengan Count Blaire. Mereka melindungi nama baik mereka yang mungkin ternodai akibat berhubungan dengan Charlotte.


Leticia akan mengingat orang-orang masih berada di acara minum teh ini. Orang-orang ini adalah pendukung Charlotte yang setia.


"Saya minta maaf baru bisa mengundang Anda sekalian. Kasus Count Blaire membuat kami kewalahan. Benar bukan, Permaisuri Leticia?" Charlotte menebarkan pandangan ke semua orang lalu berakhir pada Leticia.


Leticia mengangguk. "Benar, Permaisuri Charlotte. Akhir-akhir ini banyak sekali kejahatan yang terjadi di Kekaisaran."


Salah satu bangsawan menimpali, "Anda pasti sangat kesulitan karena kasus Count Blaire menyeret nama Anda, Permaisuri Charlotte."


Charlotte memegang salah satu pipinya dengan kepala yang sedikit miring sambil berekspresi sedih. "Itu benar, saya tidak tahu apa-apa tentang bisnis terlarang Count Blaire. Saya hanya berinvestasi saja. Lalu, secara tidak adil saya dianggap sebagai salah satu pemakai dan pengedar obat-obatan itu juga."


Bangsawan yang ada di sana menunjukkan keprihatinan mereka kepada Charlotte. Leticia berpura-pura ikut prihatin. 


"Ngomong-ngomong Anda beruntung sekali Permaisuri Leticia. Saya kira Anda ikut berinvestasi pada bisnis Count Blaire," ujar Charlotte. 


"Sebenarnya saya sedikit tertarik pada bisnis Count Blaire. Namun, saat Countess mengundang saya, dia tidak mau menyebutkan bisnis apa yang dijalankan suaminya. Saya merasa Countess tidak percaya kepada saya, jadi saya tidak jadi berinvestasi," jawab Leticia setengah jujur, setengah berbohong.


"Begitu ya. Bagaimana dengan latihan berpedang Putri Leticia, Permaisuri Leticia?" Charlotte sengaja melontarkan pertanyaan ini di depan banyak bangsawan. Ia ingin Judith dianggap sebagai Putri yang bertindak seenaknya. Tentunya Leticia yang mendidiknya akan dianggap sebagai ibu yang tidak becus mengajari putrinya.


Leticia menyadari serangan Charlotte. Bangsawan-bangsawan itu berbisik satu sama lain. Bisikan mereka sangat keras hingga Leticia bisa mendengar mereka. 


"Putri Kekaisaran belajar pedang, itu adalah hal yang aneh."


"Benar, akan jadi apa Kekaisaran bila Putrinya sendiri bertindak secara tidak hormat."


"Seorang Putri seharusnya bisa membuat teh, berjalan dan berpenampilan anggun. Bukannya menjadi orang yang barbar."


Leticia berusaha menjaga ekspresinya agar tidak terlihat kesal. Ia berusaha tersenyum.


"Putri Judith masih bersemangat dan dapat menerima pelajaran dengan baik, Permaisuri Charlotte. Lalu, belajar berpedang bukanlah tindakan tidak terhormat dan bar-bar. Kalau begitu bagaimana dengan seorang kesatria? Mereka juga menggunakan pedang dan loyal kepada Tuannya. Apa mereka juga disebut tidak terhormat dan bar-bar?" Leticia menatap bangsawan yang menghina putrinya satu persatu.

__ADS_1


Bangsawan-bangsawan itu sontak menunduk. Charlotte sedikit kesal, biasanya Leticia menerima semua pernyataan yang dilontarkan kepadanya. Mungkin karena menyangkut putrinya, Leticia tidak bisa tinggal diam. 


Charlotte tersenyum berusaha mencairkan suasana. "Yang dikatakan Permaisuri Leticia, benar. Tidak ada salahnya belajar berpedang, ke depannya Putri Judith dapat menjadi kesatria yang melindungi Kekaisaran."


Leticia mengendorkan wajahnya yang terlihat keras tadi. Bangsawan-bangsawan di sana terlihat lega. Charlotte membahas hal lain, membuat orang yang ada di sana mulai lupa akan kemarahan Leticia. Mereka mulai berbicara santai lagi.


Leticia mendengar celotehan mereka yang tidak bermakna. Ia menyesap tehnya sambil menatap Charlotte.


***


Leticia membuka laci, mengambil batu sihir yang bersinar kedip-kedip. Ia menyalakan batu sihir itu.


"Kau sedang sendirian, bukan Leticia?" bisik orang yang ada di sebrang sana.


"Benar, ada apa Dale?" tanya Leticia.


"Aku sudah mendengarnya dari Rose kalau kuil ada hubungannya dengan Count Blaire. Apa kau akan menyelidikinya, Leticia?"


"Benar, aku juga meminta bantuan Grand Duke Faust untuk menyelidiki kuil. Grand Duke juga akan pergi ke kediaman Marquis Rainster untuk membuat keluarga Rainster berada di pihak mereka."


"Tidakkah kamu sibuk, Dale? Aku tidak bisa memintamu terus-terusan melakukan penyelidikan." Leticia merasa tidak enak kepada Dale. Ia sudah meminta Dale menyelidiki Count Blaire sebelumnya. Ia tahu bahwa pekerjaan Dale sekarang pasti menumpuk.


"Tidak apa-apa, biar aku saja. Kemarin penyelidikanku tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Kau beristirahat saja di istana dan jalan-jalan saja dengan Judith dan serahkan hal ini kepadaku, Leticia," ujar Dale bersemangat.


Leticia terdiam sejenak. Jika ia sering keluar istana diam-diam akan banyak orang yang curiga. Ide Dale cukup bagus. "Baiklah jika kamu memaksa, Dale. Kamu bisa meminta kartu wine itu pada Rose untuk membantu penyelidikan pada Kuil."


"Aku sudah memintanya tadi."


"Ternyata dari awal kamu memang berniat menyelidiki kuil. Berhati-hatilah, Dale," kata Leticia lirih.


"Tentu saja, Permaisuri."

__ADS_1


Batu sihir Leticia mulai meredup. Ia mengembalikan batu sihir itu ke laci. Ia duduk di kasur, lalu berniat membaringkan badannya.


Tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang masuk. Leticia melihat sosok di depan pintu kamarnya. Ia langsung berdiri dengan mata yang terbuka lebar.


'Kenapa orang itu ke sini? Dia seharusnya tidak datang ke sini.'


Sosok itu tersenyum sambil mendekati Leticia.


"Ini bukan sambutan yang aku inginkan, Sayang."


Leticia terdiam mendengar hal itu. Braun sudah berdiri tepat di depannya hanya berjarak satu langkah. 


"Kenapa kamu ke sini, Braun?" tanya Leticia sambil memalingkan muka.


"Apa aku tidak boleh datang ke kamar istriku?" goda Braun sambil memainkan rambut Leticia.


Leticia menghindarinya, berjalan sedikit menjauh. "Kamu tidak pernah datang ke sini saat malam hari, sejak menikah dengan Charlotte."


"Maafkan aku, Sayang. Aku membutuhkan pewaris takhta dari Charlotte. Dan karena Charlotte dapat memberikannya, aku hanya membalasnya dengan perhatian yang setimpal. Lalu, aku juga sibuk karena masalah di Kekaisaran yang bertubi-tubi." Braun mendekati Leticia yang masih membelakanginya. Ia memeluknya dari belakang.


Leticia merasa jijik dengan pelukan Braun. Ia ingin terhindar dari situasi ini. Namun, jika ia menolak semua perbuatan suaminya, maka Braun akan curiga. 


"Setiap malam aku merindukanmu, Leticia. Maaf, seharusnya aku datang lebih cepat," bisik Braun di telinga Leticia.


Leticia menutup mata sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Semua yang diucapkan oleh pria yang memeluknya ini adalah kebohongan dan ia tahu semua itu. Hanya saja ia harus tetap bersandiwara menjadi Pemaisuri yang tidak tahu akan kebenaran dan terlena pada kepalsuan cinta Kaisar.


Leticia membuka matanya perlahan. Lalu, mengangguk.


Braun menyadari isyarat Leticia. Ia menyibakkan rambut Leticia dengan satu tangan, sedangkan tangan lain masih memegang perut Leticia. Leher mulus Permaisuri Pertama terlihat. Ia menciumi leher Leticia dengan lembut.


Kepalan Leticia semakin erat. Ia harus menahannya agar rencananya berjalan dengan lancar.

__ADS_1


Tangan Braun yang menyibakkan rambut tadi, kini memegang sisi wajah Leticia. Ia mengarahkan wajah istrinya agar melihatnya. Braun tersenyum.


Leticia berusaha tersenyum melihat wajah suami yang kini sudah tidak ia cintai. Braun mendekatkan bibirnya pada bibir Leticia. Leticia menutup matanya, berharap malam panjang ini akan segera berakhir.


__ADS_2