Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 23 Dugaan


__ADS_3

Leticia telah sampai di kamarnya. Ia sudah membersihkan diri dan ambruk di kasur. Sungguh hari yang melelahkan.


Ketukan pintu terdengar. Judith mengintip dari balik pintu. Berjalan ke sisi ranjang ibunya. Leticia bangun untuk duduk di sisi kasur.


"Apakah ibu baik-baik saja?" tanya Judith khawatir.


"Ibu baik-baik saja, Sayang. Hanya sedikit lelah." Leticia membelai pipi putrinya. Judith memegang tangan ibunya. Sorot matanya menunjukkan kecemasan.


"Kudengar ibu diserang perampok. Apakah ibu terluka?" 


"Ibu melarikan diri saat perampok itu sibuk bertarung dengan pengawal. Tidak ada yang mengejar ibu. Jadi ibu tidak terluka. Hanya saja kaki ibu sedikit lecet karena berlari terlalu lama."


"Apakah sudah diobati?" Judith berjongkok untuk melihat kaki ibunya. Leticia segera mendirikan anaknya, memeluknya.


"Sudah, tadi ibu meminta dokter istana untuk mengobatinya."


"Aku takut terjadi sesuatu pada Ibu." Judith memeluk Leticia dengan erat.


Bukan hanya Judith yang takut kehilangan. Leticia juga, ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa putrinya. Ia mengingat sosok wanita yang kehilangan putranya tadi. Kesedihan terpancar dari setiap tubuh wanita itu. Leticia tidak ingin merasakan itu.


Ia harus kuat untuk demi putrinya.


"Jangan khawatir, Sayang. Ibu bisa menjaga diri."


"Aku akan belajar pedang lebih giat lagi agar bisa melindungi Ibu."


Tekad Judith semakin kuat untuk belajar pedang. Demi keluarganya ia rela melakukan apapun.


"Terima kasih, Sayang."


Judith melepas pelukan ibunya. Pergi meninggalkannya agar ibunya bisa beristirahat.


Hanya ada dirinya sendirian. Leticia mengambil batu sihir untuk menghubungi Dale. Batu sihir itu sudah bersinar terlebih dahulu. Dale yang menghubunginya terlebih dahulu. Leticia mengaktifkan batu sihir itu.


"Maaf menganggumu, apa kau sudah sendirian Leticia?" bisik Dale. 


"Iya aku sendirian, apa yang kamu dapatkan Dale?" tanya Leticia.


Mendengar Leticia sendirian, suara Dale kembali seperti biasanya. "Ternyata anak hilang di desa itu bukan terjadi sekali saja. Sudah berulang kali hal itu terjadi. Jasad mereka tidak pernah ditemukan, kemungkinan besar diculik."


"Aku juga mendengarnya dari wanita yang membawaku ke kedainya." Leticia membenarkan pernyataan Dale.


"Pihak kuil sudah membantu tetapi tidak ada perkembangan. Viscount Gremaroft juga ikut menangani kasus ini."


"Viscount Gremaroft juga sudah mengambil tindakan, tetapi mengapa tidak ada hasilnya?" Leticia berbicara sendiri, tetapi masih bisa didengar Dale. Ia memegangi dahinya berpikir. 

__ADS_1


"Entahlah, kata penduduk desa Viscount mengunjungi desa setiap kali setelah anak-anak itu hilang." 


Leticia bisa membayangkan Dale sedang mengangkat bahunya. Ia seolah-olah bisa melihat penyihir menara di depannya. Dari nada bicaranya yang santai dan kadang bersemangat membuatnya mudah membayangkannya.


"Ada dua hal yang mengusikku. Mengapa Viscount Gremaroft datang ke pedesaan itu terus? Seharusnya desa itu sudah aman dan tidak terjadi penculikan lagi apabila Viscount benar-benar mengganggap anak-anak yang hilang itu penting," jelas Leticia.


"Sepertinya dia ingin dianggap sebagai penguasa yang peduli kepada desanya meskipun tidak kompeten," cetus Dale. Lalu mengetuk-ngetukkan jarinya.


Seharusnya Gremaroft tidak perlu datang ke desa berkali-kali. Sekali saja cukup apabila ia bersungguh-sungguh menangkap penculik itu. Jika memperketat pengamanan desa pasti tindakan itu tidak terulang lagi.


"Itu salah satu kemungkinan. Atau..."


Dale diam menunggu Leticia melanjutkan kata-katanya.


"Dia ingin membersihkan kejahatan yang telah dilakukannya."


Dale menghentikan ketukkan jarinya.


"Kenapa kau berpikir begitu Leticia?" tanya Dale.


"Sungguh aneh dia harus kembali ke desa berkali-kali. Dari mana ia mendengar kabar anak yang hilang? Menurutku tidak mungkin penduduk desa sampai mengirimkan keluhan kepada Viscount Gremaroft yang kediamannya cukup jauh dari desa," ujar Leticia.


Dale terdiam mendengar penjelasan Leticia.


"Tidakkah sedikit berisiko dia pergi ke desa setiap ada anak yang hilang?" Dale merasa ada celah dalam penjelasan Leticia.


"Benar, tetapi Viscount bisa menyamarkannya dengan ingin mengatasi masalah ini. Dia berpura-pura telah mendengar masalah ini padahal dia sendiri telah yang melakukannya."


Leticia yakin dengan pemikirannya. Sedikit demi sedikit kebenaran telah terungkap.


"Apa yang akan kau lakukan Leticia?" tanya Dale.


"Aku akan menghubungi Grand Duke Faust untuk menyelidiki Viscount Gremaroft. Jika dugaanku benar, kita bisa menguak perbuatan jahat yang dapat meningkatkan reputasi Grand Duke Faust."


"Aku akan menghubungi Rose untuk mengabarinya. Kau istirahat saja."


"Terima kasih."


Batu sihir telah meredup. Leticia mengembalikannya ke laci. Lalu, berbaring di tempat tidurnya. Matanya semakin berat, hingga ia tertidur.


***


Leticia memandangi dirinya dicermin. Para dayang membantunya untuk berbusana dan merias diri. Ia melamun.


Leticia lupa mengatakan sesuatu pada Dale. Seharusnya ia memintanya membuatkan batu sihir lagi untuk berkomunikasi dengan Grand Duke Faust. Ia tidak perlu berteleportasi ke kediaman Grand Duke Faust dan kembali istana. Tindakan itu sangat berisiko. Jika menunggu sampai Judith latihan pedang lagi untuk mengirim pesan, akan memakan waktu yang cukup lama.

__ADS_1


Begitu dayang-dayang itu selesai merias Leticia, mereka undur diri. Leticia menunggu mereka semua keluar kecuali Emilia. Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, seseorang berdiri di depan pintu. 


Leticia tidak menyangka orang itu datang ke sini. Bukankah orang itu sudah tidak peduli kepadanya? Orang yang disebut sebagai suaminya.


"Apakah kamu baik-baik saja, Leticia?" tanya Braun.


Suaminya hanya ingin terlihat sebagai orang yang peduli kepada istri. Jika Braun benar-benar peduli pastinya kemarin ia langsung mengunjungi Leticia. Bukan menunggu hari ini. 


"Saya baik-baik saja, Braun."


Leticia harus bersikap sedikit ketakutan dan bergantung kepadanya agar Braun tidak curiga. 


Emilia menjauh dari Leticia untuk membiarkan majikannya berduaan dengan suaminya.


Braun memeluk Leticia. Leticia terkesiap, lalu berusaha membalasnya. Jika dirinya tidak mengetahui kebenaran mungkin kini Leticia akan merasa senang. Ia akan menjadi Permaisuri bodoh tanpa tahu hidupnya hanyalah kepalsuan. 


Braun melepas pelukannya.


"Aku akan meminta Charlotte mengerjakan tugas Permaisuri bagianmu juga hari ini. Kamu istirahat saja." Braun menatap Leticia dengan lembut.


Dulu Leticia akan merasa meleleh melihat tatapan Braun. Sekarang ia tidak merasakan apapun.


"Terima kasih, Braun." Leticia membenamkan wajahnya ke pelukan Braun lagi.


Braun mengelus-elus punggung Leticia sebentar. Ia melepaskan Leticia, tersenyum tipis. Leticia membalasnya dengan senyuman palsu. Suaminya pergi meninggalkannya. 


Leticia segera mengambil tudung.


"Jika Judith datang ke sini. Bilang saja ibunya sedang istirahat dan minta Judith untuk belajar sendiri. Apabila ibunya merasa baikan, dia akan datang untuk mengajarinya," ujar Leticia.


"Anda akan ke mana Permaisuri? Bukankah Anda masih lelah?"


"Aku butuh udara segar. Maaf aku tidak bisa memberitahumu." Leticia mengambil batu sihir teleportasinya.


"Baik, Permaisuri. Hati-hati." Emilia menunduk. Ia merasa cemas, tetapi percaya kepada Permaisuri Pertama.


Leticia mengaktifkan batu sihir yang berada ditangannya, lalu berpindah tempat ke kediaman Faust dalam sekejap.


Ia berada di depan bangunan utama kediaman Faust. Ia mengendap-endap masuk ke dalam. 


Sebuah pedang mengarah ke lehernya.


"Siapa kau?" teriak seseorang.


Leticia membatu mendengar hal itu.

__ADS_1


__ADS_2