Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 41 Pedagang Aneh


__ADS_3

Orang lusuh dengan baju yang nyentrik duduk di depan Gerald. Tas yang semula ia bawa di punggungnya diletakkan di bawah. Isabella menatap orang itu dengan bingung. Gerald meski berekspresi dingin juga terlihat bingung. Gerald memberi kode pada Isabella untuk mendekat kepadanya. Isabella menunduk.


Gerald berbisik pada telinga Isabella. "Apa benar orang ini yang dimaksud oleh Permaisuri, Isabella?"


Isabella sebenarnya juga ragu tetapi orang di depan mereka adalah pedagang yang dibicarakan Leticia.


"Benar, Tuan," bisik Isabella.


Isabella kembali ke sikap siapnya. Gerald menoleh ke orang itu lagi. Jangan menilai buku dari sampulnya. Gerald berusaha menerapkan itu pada orang yang ada di depannya.


"Siapa namamu?"


"Saya Jasper, Tuan Grand Duke."


"Jadi barang bagus apa yang bisa kamu tunjukkan kepadaku?"


Jasper cepat-cepat membuka tasnya. Ia meletakkan barang-barangnya di meja.


"Ini adalah akar hitam yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Ini adalah bijih baja yang terkuat di Kekaisaran. Lalu ada-" 


"Cukup," sela Gerald.


Gerald memegang kepalanya. Apa Permaisuri Permaisuri sedang mempermainkannya? Mengapa ia mengirimkan penipu ke tempatnya?


Isabella melihat Jasper dengan kesal mengingatkannya pada seseorang. Satu lagi orang menyebalkan yang hanya bisa bicara.


"Maaf, sepertinya Anda tidak menyukai barang-barang ini. Saya punya satu barang yang akan menarik perhatian Anda, Tuan Grand Duke." Jasper mencari barang itu di dalam tasnya.


Gerald bersendekap, memalingkan wajah dari orang yang hendak menipunya. Isabella menutup matanya erat-erat, berharap orang di depannya tidak menerima amarah Tuannya.


Jasper menemukan barangnya. Ia mengeluarkan kertas berisi bubuk. 


"Ini adalah bubuk yang bisa menyerap aura, Tuan Grand Duke."


Gerald kembali menoleh ke orang itu. Isabella segera membuka matanya. 


"Kalau begitu, apa saya boleh mencobanya?" tanya Isabella. 


"Tentu saja, Countess." Jasper memberikan bubuk itu pada Isabella.


Isabella menerimanya. Ia mengeluarkan auranya dan benar bubuk itu menyerap aura miliknya. Ia mengangguk sekali pada Grand Duke Faust. Lalu, mengembalikan bubuk itu pada Jasper.


"Jadi bagaimana, Tuan Grand Duke?" tanya Jasper sedikit takut.


"Apa kamu juga menjualnya pada Count Landell?" 

__ADS_1


"Benar, Count Landell membeli bubuk ini dalam jumlah yang besar. Bagaimana Anda bisa tahu, Tuan Grand Duke?" Jasper sedikit bingung.


"Count Landell membuat barang dari bubuk itu dan aku memesannya," jawab Gerald jujur.


"Ternyata begitu." 


Jasper merasa kecewa karena tidak ada barang lagi yang bisa ia tunjukkan pada Grand Duke Faust. Barang yang ada di meja sama sekali tidak menarik perhatian calon pelanggannya. Ia harus berberat hati pulang dengan tangan hampa. Lebih baik dibandingkan nyawanya melayang.


"Bijih baja terkuat di Kekaisaran, apa kamu punya produk jadinya?" tanya Gerald.


Gerald mulai mempercayai orang yang ada di depannya. Pedagang ini berbicara jujur. 


"Ah, ada dalam bentuk pelindung lengan. Tunggu sebentar, Tuan." Jasper bersemangat mencari pelindung lengan itu dalam tasnya.


Ia memberikannya pada Isabella. Isabella memeriksa pelindung lengan itu. Lalu memberikannya pada Gerald. Gerald memeriksanya, struktur pelindung lengan itu lebih kuat dari miliknya. Ia mengembalikannya pada Jasper.


"Aku harap kamu menjual bijih baja itu pada Count Landell. Aku akan membeli perlengkapan untuk pasukanku di Count Landell," ujar Gerald.


"Terima kasih, Tuan Grand Duke." Jasper masih terkejut hanya bisa menjawab singkat.


"Apa kamu berteman dengan pedagang yang lain?"


"Tentu saja, Tuan Grand Duke."


"Jika ada informasi barang mencurigakan kamu bisa melaporkannya padaku, aku akan membayarnya. Lalu, jika ada barang yang bagus aku akan membelinya. Satu lagi, jangan bilang pada siapapun bahwa kami ada hubungannya dengan Permaisuri Pertama."


Kegembiraan di hati Jasper tidak bisa ia tutupi. Senyum lebarnya terpampang di wajahnya. Ia bukan hanya bisa pulang ke rumah dengan selamat, tetapi juga mendapat kepercayaan dari Grand Duke Faust. Ia berpamitan sambil bersenandung riang.


Gerald dan Isabella memandang aneh pedagang tadi. Namun, ia dapat dipercaya. Gerald dan Isabella kembali ke ruangan kerja Grand Duke Faust.


"Isabella coba hubungi, Permaisuri. Ada yang ingin aku katakan kepadanya," perintah Gerald.


"Baik, Tuan." 


Isabella menunduk. Ia menyalakan batu sihirnya.


Terdengar suara jauh dari istana. "Sebenarnya saya berniat menghubungi Anda, tetapi Anda yang menghubungi saya duluan. Ada apa, Countess?"


"Apa Anda sedang sibuk, Permaisuri? Ada yang ingin Tuan saya sampaikan," ujar Isabella.


"Tidak, saya tidak sibuk. Sebenarnya saya juga mempunyai informasi baru."


Isabella menyerahkan batu sihirnya kepada Grand Duke Faust.


"Saya baru bisa menghubungi Anda karena sibuk mengurus kasus Count Blaire, Permaisuri. Ada satu barang yang tidak berhubungan dengan kasus itu, tetapi sangat mencurigakan, yaitu perjanjian dengan orang berinisial P. Saya menemukannya di kediaman Blaire. Surat perjanjian itu meminta Count Blaire memberikan uang dalam jumlah yang besar kepada P. Surat itu sama dengan yang saya temukan di kediaman Gremaroft," tutur Gerald.

__ADS_1


"Apa isi surat perjanjian itu cuma meminta uang saja, Grand Duke?" tanya Leticia.


"Benar, tidak ada yang lain."


Leticia terdiam, lalu berkata, "Bisakah saya melihatnya? Saya akan ke sana sekarang."


"Baiklah, Permaisuri. Saya ada di ruang kerja."


Leticia muncul secara tiba-tiba di ruang kerja Grand Duke Faust. Isabella mengambil surat perjanjian yang dimaksud Tuannya, memberikan surat itu pada Leticia. Leticia membacanya. Surat perjanjian itu pasti dibuat oleh orang berinisial P itu, terlihat dari tulisan tangan yang sama. Tidak ada informasi lain yang didapat Leticia. Semuanya sama seperti yang Gerald katakan.


"Apakah saya boleh menyimpan ini satu? Saya akan coba memikirkannya di istana." Tunjuk Leticia pada surat itu.


"Silakan saja. Jadi apa yang ingin Anda sampaikan, Permaisuri?"


Leticia mengambil salah satu surat perjanjian itu, milik Viscount Gremaroft. Viscount tidak lagi membutuhkannya karena berada di penjara. Ia di penjara seumur umur hidup. Sedangkan, nasib Count Blaire berada di alat pancung.


"Saya mendengar bahwa kartu wine itu pernah ada di kuil."


Isabella dan Gerald sedikit terkejut. 


"Artinya ada anggota kuil yang pernah menggunakannya atau masih menggunakan obat itu," timpal Gerald 


"Kemungkinan hal itu sangat besar, Grand Duke." Leticia mengangguk.


"Lalu, Anda meminta kami untuk menyelidiki hal ini?" Gerald mulai memahami jalan pikiran Leticia sedikit demi sedikit.


"Itu benar, kami juga akan menyelidiki kuil. Dan satu lagi, tolong selidiki Marquis Rainster. Saya dengar dia pernah marah tak terkendali kepada Count Blaire. Lalu, buatlah Keluarga Rainster berada di pihak Anda, Grand Duke," ujar Leticia.


"Bukankah Keluarga Rainster sekarang berada di ujung tanduk, Permaisuri?" Meskipun begitu, ia belum memahami sepenuhnya. 


"Memang benar, tetapi putra pertama Marquis Rainster pasti bisa membantu Anda, saya yakin. Kekuatan militer Keluarga Rainster juga dapat membantu dalam melancarkan pemberontakan, Grand Duke," tegas Leticia.


"Baiklah, Permaisuri."


Leticia undur diri lalu segera menghilang dari hadapan Gerald dan Isabella. Gerald menatap lama tempat Leticia berdiri tadi. Isabella mencoba memahami apa yang dipikirkan tuannya, tetapi tidak bisa.


"Kirimkan surat pemberitahuan kedatanganku ke Marquis Rainster, Isabella," perintah Gerald.


"Baik, Tuan. Bagaimana dengan penyelidikan pihak kuil, Tuan?" tanya Isabella sekaligus mengingatkan tentang kuil.


"Aku akan menyelidikinya setelah ke kediaman Rainster."


"Bolehkah saya yang menyelidiki kuil, Tuan?"


"Baiklah, itu juga ide yang bagus."

__ADS_1


"Terima, kasih Tuan."


Penyelidikan Count Blaire pasti membuat Gerald lelah. Isabella ingin mengurangi beban dari tuannya. Selama ini, ia berada di kediaman Faust untuk mengerjakan pekerjaan yang ditinggalkan tuannya saat melakukan penyelidikan. Setidaknya sekarang, ia berharap bisa membantu. Membantu orang yang hanya menganggapnya sebagai ajudan.


__ADS_2