
Leonard mengikuti Judith masuk ke hotel. Mereka berhenti di sebuah pintu. Leonard menghela napas, memantapkan hati bertemu dengan ayah dan ibunya.
Pintu kamar hotel terbuka. Kedua orang tua Leonard menatap putranya dengan sendu. Ibu Leonard menangkup kedua tangan Duchess seraya berterima kasih.
Meski Leonard datang ke sana, bukan berarti ayah dan ibunya dimaafkan. Masih ada rasa kesal dan benci, tetapi memberi kesempatan pada orang yang menyayanginya sudah sepatutnya dicoba. Bila alasan yang keluar dari mulut kedua orang itu sangat tidak masuk akal, Leonard akan mengutuk mereka selamanya.
"Duduklah, Duchess. Kamu juga Leon," ajak Ibu Leonard.
Judith tersenyum menolak dengan halus. "Ini adalah pertemuan keluarga, tidak sepatutnya aku berada di sini. Akan kutunggu di luar."
Keluarga Leonard menatap pintu yang tertutup. Hanya ada mereka bertiga. Kecanggunggan mulai merebak, tak ada yang memulai percakapan. Leonard berharap Duchess berada di sini untuk mengatasi keheningan ini. Meski memang Duchess tidak banyak bicara, setidaknya akan ada kata-kata yang keluar dari mulut salah satu orang yang ada di kamar itu, entah keketusan Leonard, atau basa-basi dari Ibu dan Ayah Leonard.
"Kamu hebat sekali bisa jadi pengawal Duchess, Leon," kata ayah Leonard memecah keheningan.
Basa-basi yang tidak disukai Leonard. Jika bukan karena Marquis Loid atau balas dendamnya, ia tidak akan menjadi pengawal Duchess.
"Tidak sehebat itu," balas Leonard singkat.
Kesunyian yang semula bersembunyi kini menampakkan diri kembali. Merasa sia-sia ia datang ke sini, Leonard berbalik menuju pintu. Ibunya menarik lengannya, menghentikan Leonard.
"Kami memang tidak bisa dimaafkan. Jadi kami tidak akan meminta maaf. Kami bahagia melihatmu bahagia, Leon."
Leonard menyibak tangan ibunya. Jari telunjuknya diacungkan pada ibu dan ayahnya. "Bahagia? Kalian tidak tahu bagaimana cara aku hidup setelah dibuang."
"Kami tidak pernah membuangmu, Leon. Kami hanya ingin melindungimu," jelas ayah Leonard.
__ADS_1
"Jika ingin melindungiku, seharusnya kalian membawaku!" teriak Leonard.
Ibu Leonard menitikkan air mata mengingat malam saat suaminya dan dirinya meninggalkan Leonard. Mereka sekeluarga menderita karena keputusan tergesa-gesa itu.
"Malam itu, kami ingin mengembalikan uang yang kami pinjam pada Count Gail karena mendengar bangsawan satu itu seorang penipu. Namun, orang suruhan Count Gail malah menyerang dan menyebarkan kabar kami sudah meninggal. Kami disekap di ruang bawah tanah kediaman Count Gail," tutur ayah Leonard.
Leonard menggertakkan giginya. Ia salah sangka pada orang tuanya. Rasa bencinya tertuju pada orang yang salah. Jika seandainya ia mencari tahu lebih lanjut tentang kebenaran dari kematian ayah dan ibunya, mungkin hubungan mereka tidaka akan berakhir seperti ini.
"Kami baru bisa kabur dua tahun yang lalu, langsung mencarimu di rumah lama kita, tetapi kami tidak menemukan dirinya. Yang kami tahu hanya kabar dirimu yang menjadi prajurit bayaran. Kami kira kamu hidup dengan bahagia tetapi Count Gail malah menagih hutang padamu. Kami berusaha mencari tetapi bersembunyi dari bangsawan itu tidaklah mudah. Kami hanya bisa mencuri untuk bertahan hidup." Ibu Leonard mengusap air matanya.
Air mata Leonard yang tak terbendung lagi. Ia memeluk kedua orang tuanya.
"Aku juga salah. Maaf karena tidak mempercayai kalian."
Mereka bertiga menangis bersama. Leonard berjanji dalam hati akan menebus kesalahannya. Ia akan membahagiakan orang tuanya dengan tangannya sendiri.
'Yang penting mereka tidak tahu, mau ditaruh mana mukaku jika ketahuan,' batin Judith.
Tiba-tiba Leonard keluar. Judith memasang muka datar seolah-olah tidak mendengar apa pun.
"Berapa biaya hotel ini? Biar aku saja yang membayarnya," ujar Leonard tanpa basa-basi.
"Tidak perlu, anggap saja bonus dan sebagai motivasi kerja untukmu." Duches berbalik melambai-lambaikan tangan ke belakang. Merasa keperluannya sudah selesai, ia menuju kereta kuda.
Leonard menghela napas panjang. Uang yang diterimanya dari Duchess sudah terlalu banyak, memang bagi bangsawan itu sekadar uang kecil belaka, tetapi tetap saja uang adalah uang. Leonard menoleh ke arah kedua orang tuanya meminta mereka mencari tempat tinggal yang baru.
__ADS_1
"Belilah rumah baru. Sesekali aku akan datang. Akan kuberikan uangnya besok," ujar Leonard.
Uang yang diberikan Duchess padanya sewaktu pemberontakan dan setelah pertemuan dengan Count Gail, pasti cukup untuk membeli rumah baru. Rumah bobroknya tidak pantas dihuni, diperbaiki pun sia-sia karena Marquis Loid sudah tahu tempat tinggalnya. Ia belum memutuskan berada di pihak yang mana, pastinya anggapannya tentang Duchess sudah membaik.
***
Kamar Duchess yang sepi. Hanya ada Judith dan pekerja di kediamannya. Rasanya menyesakkan tinggal berjauhan dengan keluarganya, tetapi ia harus kuat demi memastikan adiknya akan menduduki tahta dan ayahnya tetap menjadi Kaisar.
Cahaya berkedip-kedip muncul dari meja kerja di kamarnya. Judith mengaktifkan batu itu.
"Ada apa, Flint?"
"Saya sudah mengumpulkan bukti-bukti yang memberatkan Marquis Loid, tetapi masih belum cukup. Beri saya waktu lagi."
Judith pun tahu Marquis satu itu sangat licik. Menjatuhkan Marquis Loid memerlukan kesabaran ekstra, bila ia salah bertindak malah akan menjadi bumerang.
"Baiklah, berjuanglah Flint. Cari tahu kebusukan Marquis itu saat pesta."
"Baik, Duchess."
Batu sihir itu perlahan redup. Cara terbaik mencari informasi adalah saat pesta di kediaman Loid. Pertahanan Marquis Loid akan lengah karena pesta. Flint bisa dengan mudah menyusup ke kediaman Loid menggunakan tudung sihir.
Tiba saatnya membongkar kerjasama antara Marquis Loid dengan Leonard. Namun, ia ragu karena nasib pasangan tua yang ditemuinya tadi bergantung pada pengawal gadungannya.
Mungkin ia tidak tahu bagaimana perasaan orang tua kehilangan anaknya. Hanya saja pasti sangat menyakitkan, dengan melihat raut muka ayah dan ibunya yang harus melerakan dirinya dan Ariana, ia mengira-ngira perasaan orang tua Leonard.
__ADS_1
'Seharusnya kamu memilih tuan yang lebih baik, Leonard. Kamu menempatkanku pada pilihan yang sulit,' batin Judith.