Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 72 Pengorbanan


__ADS_3

Leticia berada di kamarnya. Menangisi semua perbuatannya. Seandainya ia terus menahan perasaannya bertemu dengan Gerald pasti tidak akan seperti ini. Seandainya ia tidak jatuh cinta pada Gerald pasti tidak akan seperti ini. Seandainya ia tidak merencanakan pemberontakan pasti tidak akan seperti ini. Pada akhirnya ia menghancurkan dirinya sendiri. Leticia terus menyesal dan menyesal. 


Ia mengambil batu sihir kecil untuk teleportasi itu. Apa yang akan ia lakukan dengan ini? Jika ia lari, putrinya terluka. Jika ia tetap di istana tanpa berbuat apapun, ia dan putrinya akan menderita.


Leticia menyeka air matanya. Lalu kenapa Gerald masih belum menyerang istana? Apa karena Leticia sendiri yang memintanya untuk menunggu? Seandainya pun Gerald dapat membunuh Braun dan Charlotte, Judith tetap akan membenci Leticia. Jika Leticia membuat Gerald terus menunggu, maka ia tidak bisa menepati janjinya. Ia akan menjadi kelemahan bagi Gerald.


Mana yang Leticia pilih? Semua pemikiran itu berputar di kepalanya hingga malam hari.


Ia sudah membuat keputusan. Bertemu dengan Gerald untuk terakhir kali lalu kembali ke istana.


Leticia berteleportasi ke kediaman Faust. Ia memunggungi kediaman itu. Belum ingin ke dalam karena mempersiapkan hatinya.


Ada penyesalan di hati Gerald untuk tidak membawa Leticia dan Judith lari saat mereka terpergok. Seharusnya ia langsung mengejar mereka dan membawa pergi dari istana. Tanpa peduli kebencian Judith pada dirinya. Ia bisa mengambil hati Judith saat berada di kediamannya. Namun, semua sudah terlambat. Rasa terkejutnya saat itu membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa.


Isabella masih berada di kediaman Faust karena tidak mendapat kabar dari Leticia. Isabella sudah menghubungi Dale, Leticia juga tidak mengabarinya. Rose yang berada di istana juga tidak dapat bertemu dengan Leticia. Komunikasi mereka terputus.


Sempat terbesit di pikiran mereka untuk langsung melancarkan pemberontakan. Namun, mereka mengurungkannya karena memikirkan perasaan Leticia yang berusaha menyakinkan Judith. 


Isabella melihat ke jendela luar. Ada wanita berambut pirang yang berdiri di depan kediaman. Ia mengabari Gerald lalu segera menuju ke sana.


Isabella sampai terlebih dahulu lalu segera menghampiri Leticia.


"Kami semua khawatir padamu, Leti." Begitu melihat wajah Leticia Isabella terperangah. Benar-benar kacau dan terlihat semakin kurus.


"Apa kamu tahu, rasanya seluruh kebahagiaan yang pernah kurasakan bagai mimpi. Bisa hilang seketika jika terbangun. Apakah aku tidak boleh bahagia?" Tatapan Leticia kosong.


"Tentu saja, kamu boleh bahagia Leti." Isabella memegang pundak Leticia.


"Tapi sumber kebahagiaanku sekarang bahkan tidak mau memanggilku ibu. Dia membenciku sepenuhnya. Sekarang aku merasa sendirian, tak ada orang yang peduli kepadaku." Leticia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memegang wajahnya.


Isabella memeluk Leticia. "Banyak orang yang peduli padamu Leti. Aku, Dale, Rose, dan Tuan semuanya menyayangimu. Kami akan mendukungmu sepenuhnya."

__ADS_1


Leticia menangis di pelukan Isabella. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Hidup saja rasanya menyakitkan. Jika aku mati, Judith akan diperalat oleh Braun, Charlotte dan Duke Hilbright. Jika membunuh Braun dan Charlotte, Judith akan semakin membenciku." 


Isabella menepuk-nepuk punggung Leticia. "Kamu sudah tahu jawabannya dari awal, Leti. Itulah yang menyebabkan dirimu memberanikan diri menghubungi sahabat lamamu yang membencimu. Kamu juga mau bekerja sama dengan orang terkejam di Kekaisaran. Semua itu demi keselamatanmu dan putrimu. Memang Judith akan membencimu tetapi itu lebih baik dibandingkan melihatnya menderita di tangan mereka. Kami akan selalu berada di sisimu saat membutuhkan. Jadi jangan khawatir, Leti."


Leticia sesegukan, sesekali mengerang. Isabella terus menerus menenangkan sahabatnya. Ia juga ikut menangis. Ini pertama kalinya ia melihat Leticia menangis seperti ini.


Setelah tenang, Isabella melepas pelukannya. Leticia melihat orang yang berada di belakang Isabella. Terpancar rasa sakit yang mendalam dari matanya. 


Isabella segera meninggalkan mereka berdua. 


Gerald mengulurkan tangan pada Leticia. "Apa Anda mau berkeliling, Permaisuri?"


Leticia mengangguk, menerima uluran tangan Gerald.


Sepanjang perjalanan mereka tidak berbicara. Mereka sampai di taman.


"Taman ini adalah peninggalan ibuku. Aku masih merawatnya hingga sekarang."


"Indah sekali."


Mereka duduk bersampingan di kursi di tepi taman. 


Gerald menatap mata emas Leticia. "Jika kamu tidak bisa memilih di antara aku atau putrimu. Aku akan membantu memilih. Pergilah mengasingkan diri dari istana bersama putrimu setelah aku menjadi Kaisar."


Leticia mengepal tangannya. Itu bukanlah kalimat untuk mengusir, walau berat Gerald akan melepaskan Leticia demi Judith. Ini pasti sulit baginya. Leticia tahu akan hal itu. Ia terlalu berharap akan bahagia tanpa menyadari kenyataan pahit yang menantinya.


"Ternyata hanya aku yang selama ini terlena hidup dalam mimpi. Kamu dan Isabella selalu hidup di kenyataan walau menyakitkan." Leticia membelai pipi Gerald.


Gerald memegang tangan Leticia yang membelai pipinya. "Selain itu aku akan mencari istri untuk melahirkan pewaris. Pada akhirnya, aku tak ada bedanya dengan orang yang kamu benci."


Leticia tersenyum kecut. "Hubungan kita hanya sebatas perjanjian dan kerja sama saja. Kita tidak bisa melanjutkannya. Tetapi... aku benar-benar bahagia saat bersama denganmu."

__ADS_1


Keduanya tidak ingin berpisah satu sama lain, tetapi mereka tidak bisa bersama. Gerald mendekatkan bibirnya pada Leticia. Ia memberikan kecupan perpisahan. Mungkin ini akan menjadi ciuman terakhir mereka. 


Leticia membuka matanya perlahan. Sebulir air mata menetes di pipinya. Gerald menyekanya.


Permaisuri Pertama menjauhkan diri dari Grand Duke Faust. Ia menatapnya tajam.


"Seranglah istana dalam seminggu, Grand Duke. Kabari juga Pemimpin Penyihir Menara tentang hal ini. Lalu, sampaikan pada Countess Wollard bahwa aku berada di pihaknya. Anda bisa menghadapi Kaisar. Biar saya yang mengurus Permaisuri Kedua," perintah Leticia.


"Baik, Permaisuri." Gerald mengangguk.


Leticia berdiri, mengenggam batu teleportasinya. Ia menghadap Gerald sambil tersenyum.


"Selamat tinggal, Grand Duke."


Gerald membalas senyum Leticia. "Selamat tinggal, Permaisuri."


Senyum Leticia perlahan menghilang bersama dengan tubuhnya. Gerald melihat ke tempat Leticia tadi. Tujuannya menjadi Kaisar akan tercapai. Lalu setelahnya apa? Dulunya ia berharap bisa bersama dengan Leticia. Sekarang ia tidak punya tujuan lagi. 


Ia sudah memikirkannya selama beberapa hari. Namun, tidak menemukan jawaban yang tepat.


Gerald menuju pintu kediamannya. Isabella menunggu di sana. 


"Di mana Permaisuri, Tuan?"


"Dia sudah kembali. Kita akan menyerang istana dalam seminggu. Cepat hubungi Marquis Rainster dan Count Landell, aku membutuhkan bantuan mereka menyerang istana. Lalu, kabarilah Pemimpin Penyihir Menara dan Pemimpin Penyihir Kekaisaran tentang hal ini," perintah Gerald.


"Baik, Tuan." Isabella menunduk.


"Lalu, kamu tidak perlu menahan diri terhadap Duke Hilbright. Permasuri bilang dia berada di pihakmu."


Isabella melebarkan matanya. Ia bisa balas dendam pada Duke Hilbright. Tidak perlu takut untuk melukai Leticia karena telah membunuh ayahnya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Leticia berikan.

__ADS_1


Isabella berterima kasih pada Gerald. Lalu mengambil batu sihir untuk menghubungi Dale.


Sementara Gerald masih merenungkan tujuannya setelah menjadi Kaisar. Ia tahu. Hidupnya masih berguna. Ia akan membuat Judith membencinya karena membunuh Braun. Lalu membuat Judith membunuhnya sehingga menjadi Kaisar berikutnya. Lingkaran balas dendam ini akan berakhir di Judith, karena Gerald tidak berniat menikah dan memiliki anak jika bukan dengan Leticia. Gerald akan menunggu hingga Judith dewasa, lalu menunggu kematiannya dengan damai.


__ADS_2