Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 11 Balas Dendam Dimulai


__ADS_3

Leticia terbangun dari tidurnya. Ia merasa lelah beberapa hari ini. Membagi waktu antara Judith dan pekerjaannya sebagai Permaisuri bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi harus mengadakan pertemuan dengan beberapa bangsawan. Tubuhnya merasa letih. Ia memanggil pelayan untuk membantunya mandi dan berpakaian. 


Ia seharusnya memanggil guru baru untuk Judith. Namun, tidak ada orang yang bisa ia percaya. Ia tidak ingin putrinya dipukuli. Apalah gunanya guru yang pintar tetapi kejam. Apalah gunanya guru yang berpengalaman tetapi tidak bisa mengajar. Lebih baik ia mengajari putrinya sendiri.


Leticia mengejarkan tugasnya di ruang kerjanya. Tumpukan kertas yang ada di mejanya seperti tidak berkurang satupun. Yang ada tumpukan itu semakin bertambah tiap hari. Leticia segera mengerjakan tugasnya. 


Berjam-jam ia berkutat dengan dokumen yang ada di depannya. Kepalanya mulai terasa pusing. Matanya berputar-putar. Pandangannya lama-kelamaan semakin gelap.


Leticia membuka matanya. Langit-langit yang ia lihat bukanlah di ruang kerjanya. Ia berada kamarnya. Di sampingnya Judith merasa cemas.


"Ibu tidak apa-apa?" Judith memegang tangan kanan Leticia.


"Ibu tidak apa-apa, Sayang. Hanya kelelahan." Tangan Leticia yang bebas mengelus-elus kepala Judith.


"Apakah ada yang bisa aku bantu Ibu?" Kecemasan masih terlihat di raut wajah Judith.


"Kamu yang ada di sini sudah membuat ibu senang, Sayang."


Genggaman tangan Judith semakin erat, seakan ingin mengatakan sesuatu. 


"Ibu, aku ingin belajar pedang. Aku ingin melindungi ibu," kata Judith ragu-ragu.


Mata Leticia melebar. Putrinya mempunyai kesamaan dengan dirinya. Sama-sama ingin belajar pedang. Ia merasa terharu dengan tekad Judith yang melindunginya. 


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan, Sayang. Kamu bisa berlatih pedang dengan Dean."


"Terima kasih Ibu."


Leticia bangkit untuk duduk. Ia memeluk Judith dengan erat. Leticia berharap semuanya akan baik-baik saja.


Judith membalas pelukan ibunya. Ia berharap bisa melindungi ibunya. Ia juga akan membuat ayahnya bangga kepadanya. Ia akan menjadi pelindung Kekaisaran. Dengan begitu ia dapat menyatukan kembali orang tuanya. Ayahnya akan melihat ibunya kembali. Ayahnya akan mecintai ibunya lagi. Ia akan berbahagia bersama mereka.

__ADS_1


***


Judith telah berlatih pedang bersama Dean selama beberapa hari. Hanya saja, ia kesulitan untuk mengikutinya. Dean bukanlah tipe orang yang bisa mengajari orang. Kemampuan yang ia ajarkan hanya bisa dikuasai oleh laki-laki.


Leticia menyadari Judith yang kesulitan. Sepertinya ia harus memanggil guru pedang wanita untuk Judith. Sebenarnya Leticia bisa mengajarinya, tetapi kemampuan berpedangnya tidak sehebat kesatria. Ia hanya pernah belajar pedang saat kecil. Ia merasa tidak percaya diri mengajari Judith.


Masalahnya, Leticia tidak tahu kesatria wanita hebat yang bisa ia percayai. Leticia sudah menanyakan beberapa kandidat guru pedang Judith kepada Dean. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang bisa ia percayai.


Ia mengenal satu wanita yang hebat dalam berpedang. Namun, ia tidak yakin wanita itu bakal mau mengajari putrinya. Wanita itu membenci Leticia dan keluarganya.


"Ibu, dengar aku tidak?" tanya Judith membuyarkan pikiran Leticia.


"Ibu mendengarmu, Sayang," kata Leticia berusaha tidak terlihat terkejut.


"Kalau begitu jawab pertanyaanku."


Leticia ingat bahwa mereka sedang membicarakan tentang silsilah keluarga kekaisaran. Judith bertanya tentang kematian mendiang Grand Duke Faust.


Namun, kematian mendiang Grand Duke Faust terkesan aneh. Di samping itu, rumor-rumor yang tidak mengenakkan langsung bermunculan setelah Grand Duke Faust yang baru dilantik. Grand Duke Faust terkenal kejam. Seolah-olah ada orang yang sengaja menyebarkan rumor itu agar reputasi Grand Duke Faust jatuh.


"Kalau begitu anaknya yaitu Grand Duke Faust yang sekarang langsung menggantikannya bukan?"


"Benar, gelar dari bangsawan yang meninggal akan diwariskan pada anaknya. Apabila mereka tidak mempunyai anak, biasanya kaisar akan memberikan gelar baru pada anak bangsawan lain yang berbakat."


Judith mengangguk mengerti. Leticia terpikirkan sesuatu. Sesuatu yang mungkin membantu rencana Leticia untuk balas dendam. Ia meminta Judith untuk belajar sendiri sebentar. Ia mencari buku-buku lain yang memuat tentang mendiang Grand Duke Faust. Buku yang berisi tentang mendiang Grand Duke Faust tidaklah banyak. Namun, semuanya hampir menceritakan hal yang sama. Mendiang Grand Duke Faust adalah orang yang hebat dan berperan besar saat perang. Tak ada orang yang bisa mengalahkannya bahkan Kaisar sekalipun. Namun, ia kehilangan nyawanya karena ceroboh saat perang terakhir.


Sungguh aneh orang seperti mendiang Grand Duke Faust meninggal karena kecerobohan. Tidak ada satupun buku yang mengisahkan kecerobohan mendiang Grand Duke Faust. Leticia curiga ada orang dibalik kematian mendiang Grand Duke Faust.


Orang yang akan untung bila mendiang Grand Duke Faust mati adalah mendiang Kaisar. Mendiang Kaisar terpojok karena ia tidak mempunyai kemapuan yang sebanding dengan mendiang Grand Duke Faust. Mendiang Kaisar merasa keberadaan mendiang Grand Duke Faust membuat tahktanya tak aman. Kemungkinan besar mendiang Grand Duke Faust tidak mati karena kecerobohan melainkan ulah mendiang Kaisar. 


Tidak ada bukti yang mendukung dugaan Leticia. Namun, ia yakin kematian mendiang Grand Duke Faust ada hubungannya dengan Kaisar.

__ADS_1


Leticia merasakan ada tangan kecil yang menarik gaunnya. Ia menoleh.


"Ibu aku bosan," kata Judith sambil cemberut.


"Baiklah, kita sudahi saja belajar hari ini."


"Hore!"


Kegembiraan putrinya menular ke Leticia. Leticia mengelus-elus kepala putrinya.


"Apakah kamu masih bersemangat belajar berpedang, Sayang?"


"Tentu saja Ibu, tetapi aku sulit mengikuti cara mengajar Sir Dean."


"Ibu akan usahakan untuk memanggil guru yang baru untukmu."


"Benarkah? Terima kasih Ibu."


Judith tersenyum lebar. Ia semakin bersemangat belajar berpedang. Ia penasaran siapa yang akan menjadi guru barunya.


Leticia memaksakan dirinya untuk tersenyum. Apakah Leticia bisa menemukan guru yang tepat untuk Judith? Ia sebenarnya tahu orang yang bisa mengajari Judith berpedang. Walaupun kemungkinan untuk memanggil guru pedang untuk Judith hanyalah sedikit. Ia akan mengusahakannya. Untuk putrinya ia akan melakukan apapun. 


Ia akan bertemu dengan sahabatnya masa kecil. Sahabat yang membencinya. Sahabat yang menderita karena keluarga Hilbright. Kata maaf tidak akan cukup untuk membuatnya memaafkan Leticia.


Leticia mempunyai kartu as yang akan membuat sahabatnya mau untuk mengajari Judith. Bukan cuma itu, rencana balas dendam Leticia kepada Braun dan Charlotte dapat dimulai dengan bantuan sahabatnya.


Mungkin wanita itu tidak mau melihat wajah Leticia lagi. Namun, Leticia bisa menemuinya. Ia akan memaksanya mau menemuinya. Walaupun wanita itu membencinya, tawaran yang Leticia siapkan tidak mudah untuk ditolak.


Isabella... Leticia akan menemui Isabella mel Wollard. Countess Wollard yang merupakan kaki tangan setia dari Grand Duke Faust. Isabella mempunyai kemampuan berpedang yang hampir sebanding dengan Grand Duke Faust. Tidak diragukan lagi, ia adalah guru yang pantas untuk Judith. Ia adalah orang yang bisa dipercayai Leticia. Meskipun, Isabella mungkin tidak mempercayai Leticia. 


Leticia akan membuat kedua orang itu berada di pihaknya. Untuk rencana balas dendam kepada Braun dan untuk Judith. 

__ADS_1


__ADS_2