
"Sampaikan pada Marquis Loid kalau aku akan datang ke pestanya, Flint," ujar Judith pada ajudannya.
"Baik, Duchess." Flint menunduk sembari menerima surat dari tuannya. Ia pergi menyampaikan surat itu meninggalkan Judith dan Leonard sendirian.
Judith melirik ke arah Leonard. Tak terlihat kesuraman dan kernyitan yang biasanya menghiasi wajah prajurit bayaran itu seperti kemarin-kemarin. Berbaikan dengan keluarga pasti meningkatkan semangat dari pengawal barunya itu.
"Apa kamu punya baju bagus?" tanya Judith.
"Tidak, mana mungkin rakyat jelata sepertiku punya baju untuk ke pesta bangsawan," balas Leonard ketus.
Judith menaikkan salah satu alisnya. "Aku tidak mengatakan akan mengajakmu ke pesta."
Jantung Leonard mencelus. Ia salah bicara. Dalam hati ia mengutuk mulutnya yang tidak terkontrol.
"Kau berbicara dengan ajudanmu tentang pesta jadi kukira kau akan mengajak pengawalmu satu ini untuk menemanimu," kata Leonard terlihat percaya diri, padahal bersusah payah menutupi ketakutannya.
Duchess bangkit menghampiri Leonard. Tiap langkah Duchess yang semakin mendekat membuat jantung Leonard berdegup kencang. Tatapan menilai dan curiga terpancarkan dari mata Duchess. Jarak di antara mereka hanya tersisa satu langkah saja. Leonard menelan ludahnya.
Duchess melewati Leonard membuka pintu. Ia menoleh ke arah Leonard. "Kenapa kamu diam saja? Tidak ikut mencari baju yang cocok untukmu?"
"Kau membelikanku baju?" tanya Leonard.
"Sudah sepantasnya seorang atasan membelikan baju untuk bawahannya," jawab Judith melanjutkan langkahnya.
Leonard menghela napas lega. Ia mengikuti Duchess sambil bertanya-tanya dalam hati.
'Memangnya ada bangsawan yang membelikan baju pesta untuk rakyat jelata? Entah dia seorang dermawan atau suka menghamburkan uang.'
Tak lama mereka sampai di ibu kota. Duchess dan pengawalnya itu langsung menuju butik terkenal di sana. Tentu saja Leonard tidak tahu tentang hal ini.
__ADS_1
Pemilik butik menunduk ke arah Judith yang baru saja masuk ke tokonya. Kabar kedatangan seorang Duchess yang termasyur ke butiknya akan meningkatkan reputasi miliknya. "Apa yang Anda butuhkan Duchess?"
"Buatkan baju untuk orang ini," tunjuk Judith pada Leonard.
Pemilik butik mengamati Leonard dari atas ke bawah. Seorang rakyat jelata yang tidak tahu cara menjaga diri. Rambut acak-acakan, kantong mata besar, dan bau keringat yang menyengat. Pemilik butik menahan diri agar tidak menutup hidungnya.
"Apa Duchess tidak ingin membuat gaun?" tanya pemilik butik mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin membuatkan baju untuk orang rendahan seperti Leonard.
Tahu apa yang dipikirkan oleh pemilik butik, Judith berbalik. Ia tidak ingin membuang-buang waktu di tempat yang hanya melayani bangsawan. "Jadi tidak bisa ya... kita cari tempat lain saja," ajak Judith pada pengawalnya.
Leonard mengekori Duchess, tanpa memedulikan pemilik butik yang memohon mereka kembali. Ini pertama kalinya seorang bangsawan membela Leonard, walau tidak secara langsung.
'Kenapa dia baik padaku? Padahal jelas-jelas dia mencurigaiku?'
***
Leonard menatap kemeja hitam dan mantel tanpa lengan yang dibelikan oleh Duchess. Setelah keluar dari butik terkenal itu, mereka mencari butik lain. Di sana Leonard dilayani tanpa memandang statusnya. Duchess membayar pemilik butik itu lebih banyak daripada yang ditagihkan. Leonard terkejut dengan harga dari pakaian yang dibelikan oleh Duchess. Harganya setara dengan makan daging selama seminggu. Padahal menurut Duchess itu termasuk murah di antara butik lain. Bagi Leonard pakaian sama saja asal nyaman dipakai. Namun, karena ia harus mendampingi Duchess ke acara resmi, terpaksa ia memakai baju mahal itu.
Leonard bergeming begitu sampai. Matanya terpaku pada gadis dengan rambut pirang terurai itu. Gaun berwarna kuning dan riasan yang terkesan natural, semakin menonjolkan kecantikan dari gadis itu.
"Sudah siap?" tanya gadis itu.
Leonard tidak mengerjapkan matanya sama sekali. Pikirannya kosong. Gadis itu mendekatinya, merapikan baju dan rambut Leonard. Leonard terkesiap lantas berbalik menutupi wajahnya yang memerah.
"Di mana ajudanmu?" tanya Leonard.
"Dia pergi sendiri dari kediamannya. Kita pergi saja sekarang," balas Judith melangkah keluar.
Leonard mengamati punggung dari atasannya selama perjalanan menuju kereta kuda. Ia tak menyangka orang bar-bar dan kuat yang ditemuinya sehari-hari, ternyata bisa secantik itu. Langkah elegan dan berwibawa, seolah-olah menandakan seorang putri kekaisaran, terus menghiasi pandangan Leonard. Leonard bahkan tidak menyadari mereka sudah sampai di kediamam Loid.
__ADS_1
"Kenapa diam saja? Tidak ikut ke dalam?" tanya Judith yang sudah keluar dari kereta kuda.
"Ah, iya," jawab Leonard gelagapan. Ia langsung turun mengikuti Duchess.
Mereka memasuki aula pesta. Para bangsawan mulai mengerumuni Duchess untuk menyapanya. Ia meninggalkan Leonard yang terkagum-kagum dengan pesta bangsawan.
Semuanya terlihat sangat mewah dari dekorasi, sajian bahkan tamu undangan memakai pakaian terbaik mereka. Ia mencoba wine yang terkenal mahal di kalangan bangsawan. Baginya bir lebih enak. Ia memandangi Duchess yang bertegur sapa dengan Marquis Loid. Keduanya saling menyunggingkan senyum palsu.
"Ternyata Duchess bisa memakai gaun juga," cibir seseorang yang terdengar ke telinga Leonard.
Cepat-cepat Leonard menoleh ke sumber suara itu. Gadis-gadis berkumpul tertawa sambil membicarakan Duchess.
"Benar kukira dia cuma bisa bertarung saja."
"Seharusnya dia belajar merajut, bermain piano, atau melukis yang mencerminkan seorang gadis bangsawan."
"Kudengar saat menjadi putri dia lebih sering memakai celana dibandingkan gaun."
"Sangat menyedihkan."
Byur...
Leonard menyiram wine ke gadis-gadis bangsawan itu.
"Apa yang kamu lakukan?!" pekik salah satu dari mereka. Gadis-gadis itu menatap tajam Leonard yang telah menodai gaun dan riasan mereka.
Seluruh pandangan tertuju ke arah keributan itu. Leonard tidak menghiraukannya tersenyum mengejek ke arah gadis-gadis yang membicarakan tuannya.
"Maaf, tanganku tergelincir."
__ADS_1
Leonard menunduk ke gadis-gadis itu, tanpa ada penyesalan di matanya.