Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 14 Latihan Pertama


__ADS_3

Isabella membawa surat yang diberikan Leticia berisi rencana kejatuhan Kaisar Braun. Ia akan menyampaikan penawaran Leticia kepada Gerald. 


Isabella masuk ke ruang kerja Gerald. Gerald sudah berada di meja kerjanya memegang secarik kertas. Isabella segera menempatkan diri di samping Gerald.


Belum sempat Isabella mengeluarkan surat yang dititipkan Leticia kepadanya Gerald bertanya, "Bagaimana pertemuanmu dengan teman lamamu kemarin, Isabella?"


"Cukup baik, Tuan. Saya membawa surat berisi penawaran yang menguntungkan darinya untuk Tuan." Isabella mengeluarkan surat Leticia, menyodorkannya kepada Gerald.


Gerald menerima surat itu, ia mengamatinya sebentar. Lalu membukanya, membaca surat itu. Meskipun raut wajah Gerald tidak berubah sekalipun, Isabella menyadari kebingungan yang dirasakan Tuannya. Gerald menutup surat itu. 


"Teman lamamu cukup gila, Isabella," ujar Gerald.


"Apakah Anda menerima tawarannya, Tuan?" tanya Isabella sedikit takut. 


Gerald terdiam. Menerawang ke pintu. Penawaran yang diberikan Leticia sangat sulit untuk ditolak. Ia ingin balas dendam atas kematian ayahnya kepada keluarga kekaisaran. Ia memang tidak bisa membalasnya langsung kepada mendiang Kaisar, tetapi ia bisa membalasnya kepada anaknya. Hanya saja, ia waspada apabila itu adalah jebakan.


"Apakah dia bisa dipercaya?" tanya Gerald. 


Isabella sedikit ragu. Apakah ia sudah mempercayai Leticia sepenuhnya? Sejujurnya ia masih takut jika Leticia mengkhianatinya. Namun, pertemuan mereka kemarin membuatnya menyadari perasaan Leticia. Leticia sebenarnya bisa membantunya, tetapi Duke Hilbright memutuskan kontak mereka berdua.


"Jika dia berkhianat, hukumlah saya Tuan," jawab Isabella yakin.


Gerald meminta Isabella mengambil kertas kosong dan amplop. Gerald menuliskan sesuatu di kertas itu, melipatnya, lalu memasukkannya ke dalam amplop hitam itu. Ia menutup amplop dengan lilin yang telah dicairkan lalu membubuhkan stempel miliknya.


"Sampaikan padanya bahwa aku menunggunya." Gerald menyerahkan amplop itu kepada Isabella.


"Baik, Tuan."


Isabella menerima surat itu menaruhnya di saku. Ia akan memberikan surat itu kepada putri Leticia saat datang ke kediaman Faust tiga hari lagi. Isabella setuju menjadi guru pedang Judith, tetapi kerjasama untuk menjatuhkan Braun bukanlah wewenangnya. Semua keputusan ada di tangan Gerald.


Meskipun Gerald menolak penawaran Leticia, Isabella tetap akan mengajari anak Leticia. Isabella berharap hubungan dengan sahabat lamanya bisa membaik. Sejujurnya ia tidak sabar bertemu dengan Judith. Ia ingin tahu seperti apa putri Leticia.


***

__ADS_1


Dean berada di kereta kuda yang sama dengan Judith. Ia mendampingi Judith untuk belajar pedang di kediaman Grand Duke Faust. Sekarang ia menjadi pengawal pribadi Judith.


Ingatan kemarin membanjiri kepala Dean.


"Mulai sekarang Anda tidak perlu mengawalku lagi, Sir Dean,"  ujar Leticia.


Dean sontak bersujud. Ia memikirkan kembali segala tindakannya. Mungkinkah telah melakukan kesalahan yang fatal hingga Leticia memecatnya?


"Saya minta maaf Permaisuri apabila saya tidak mengajari Tuan Putri dengan baik. Saya juga minta maaf apabila saya melakukan kesalahan yang tidak saya sadari. Saya akan menebus kesalahan saya dengan cara apapun. Saya mohon biarkanlah saya terus melayani Anda, Permaisuri," pinta Dean menundukkan kepala di hadapan Leticia.


Leticia salah tingkah melihat tindakan Dean. Kata-katanya dapat berarti memecat Dean rupanya. Ia berusaha mengoreksi kata-katanya.


"Aku berharap Anda menjadi pengawal pribadi putriku mulai besok, Sir Dean. Anda tidak perlu mengawalku lagi. Hanya Anda satu-satunya pengawal yang kupercayai untuk melindungi, Judith."


Dean mendongak melihat majikannya. Kegembiraan merasuki hatinya. Ternyata ia tidak dipecat. "Terima kasih, Permaisuri. Namun, bagaimana dengan Anda?" 


"Aku bisa melindungi diriku sendiri, Sir. Aku akan meminta salah satu kesatria kekaisaran lain yang berbakat untuk melindungiku. Sekali lagi ini bukan karena kinerja Anda yang buruk, hanya Anda yang bisa kupercayai mengemban tugas ini," tegas Leticia.


Tidak semua orang di istana bisa dipercaya. Dean juga mengetahui hal itu. Ia merasa banyak ancaman yang akan menyerang majikannya. Kejadian yang menimpa Putri Judith pasti membuat Permaisuri Leticia merasa tidak tenang. 


Dean berasa bangga karena dipercayai oleh majikannya. Ia akan melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh. 


Dean melihat sebuah bangunan yang cukup megah. Mereka sudah sampai. Dean segera turun. Lalu, mengulurkan tangannya kepada Judith untuk membantunya turun dari kereta kuda.


Judith terdiam melihat orang yang ada di depannya. Seorang wanita berambut merah yang Permaisuri Pertama temui beberapa hari yang lalu berdiri di depan gerbang. 


"Perkenalkan saya Isabella mel Wollard. Saya akan menjadi guru berpedang Anda, Tuan Putri," kata Countess Wollard.


"Saya Judith el Houllem," balas Judith.


Judith ragu-ragu mendekati wanita itu. Dean tersenyum, ia ingin memberitahu Judith bahwa Countess Wolard merupakan orang yang bisa dipercaya. Pada awalnya Dean juga tidak mempercayai Countess Wollard, karena reputasi Grand Duke Faust yang kejam. Namun, ia harus mempercayai orang yang dipercayai oleh Permaisuri Pertama. Permaisuri Pertama pasti tahu orang yang pantas menjadi guru berpedang bagi Judith.


Countess Wollard mendekati Judith. Judith bersembunyi di belakang Dean. Sepertinya Judith masih takut karena kejadian guru yang sering menyiksanya. 

__ADS_1


Dean berjongkok, berbicara kepada Judith. "Tidak apa-apa, Tuan Putri. Countess Wollard adalah orang yang bisa dipercaya. Saya juga akan melihat pelatihan Anda, Anda tidak perlu khawatir kalau terjadi sesuatu, Tuan Putri."


Judith mengangguk. Ia mendekati Countess Wolard.


"Saya akan mengantar Anda ke tempat pelatihan, Tuan Putri," kata Countess Wollard ramah.


Judith mengikuti langkah Countess Wollard perlahan. Diikuti oleh Dean berada di belakang mereka.


***


Judith selesai latihan. Tubuhnya dibasahi oleh keringat. Ia beristihat dengan duduk di kursi yang ada di lapangan tempat latihan. Ia diberi handuk oleh guru pedang barunya. Judith menerimanya mengusap wajahnya. Ia mulai mempercyai guru pedang barunya sedikit. Guru barunya sangat tegas dan sedikit menakutkan. Namun, ia memperlakukannya dengan baik. Saat ia melakukan kesalahan, guru pedang barunya tidak memarahinya. Ia mengajari Judith dengan tekun agar menguasai teknik berpedang yang ia ajarkan.


Judith lebih bisa mengikuti apa yang guru barunya ajarkan. Teknik berpedang guru barunya lebih cocok untuk dirinya daripada yang diajarkan oleh Dean. Judith menjadi lebih bersemangat untuk belajar lagi. Ia ingin segera melindungi Kekaisaran. Ia ingin keluarganya hidup dengan harmonis.


"Bolehkah saya tahu alasan apa Anda ingin belajar berpedang, Tuan Putri," tanya gurunya tiba-tiba. Ia duduk di samping Judith.


Judith gelagapan menjawab pertanyaan gurunya, "Saya hanya ingin melindungi Kekaisaran, Guru."


"Begitu... Anda punya tujuan yang mulia, Tuan Putri. Saya punya sesuatu untuk disampaikan kepada Permaisuri Leticia. Saya harap Anda bisa menyampaikannya sendiri." Gurunya mengeluarkan sebuah surat lalu memberinya kepada Judith.


Judith menerimanya. "Baik akan saya sampaikan, Guru."


"Apakah Anda akan pulang, Tuan Putri?"


"Sebenarnya saya tidak ingin pulang. Saya masih ingin belajar. Guru sangat hebat. Saya dapat mengerti dengan mudah apa yang guru ajarkan. Namun, ibu akan khawatir apabila saya pulang terlambat."


Countess Wolard tertawa kecil. Ia tersenyum melihat tingkah muridnya yang lucu.


"Terima kasih atas pujian Anda, Tuan Putri. Saya akan mengantar Anda ke pintu gerbang."


Judith mengangguk. Countess Wollard berdiri. Judith ikut berdiri. Ia menggandeng tangan Countess Wollard. Countess Wollard sedikit terkejut dengan tindakan muridnya. Judith segera melepaskan genggamannya, ia menyadari ketidaknyamanan yang dirasakan gurunya. 


Countess Wollard tersenyum. Ia memegang tangan Judith. Judith menggenggam erat tangan gurunya. Guru pedangnya adalah orang baik. Ia bisa mempercayainya. Ia berharap hari yang damai seperti ini bisa berlangsung seterusnya.

__ADS_1


__ADS_2